Hokben

Cuma beda satu huruf dari Hotben, tapi kalau nyasar jauh juga. Bayangkan jika langganan kita itu balik nama jadi Hota Hota Bento, makanan apa yang bakal mereka jual? Blasteran Jepang, India, Batak? Tidakkah blasteran Brebes-Kediri di selatan sudah cukup nostalgik bagimu?

Kita makan di Hokben seminggu sekali agar lupa sejenak rasanya masakan Tegal, yang sehari-hari kita makan. Di Hokben tidak ada yang namanya nasi sop bening. Tidak ada yang namanya kecap. Kamu tak bisa mengubah soto menjadi rawon di sana. Dan kamu menikmatinya.

Katamu kita harus berhemat, tapi akhir pekan adalah sedikit pengecualian. Itu sebabnya kita canangkan program lima ribu rupiah sekali makan hanya pada lima hari kerja. Kita taruh sedikit uang di sebuah dompet kecil untuk mengamankan perut yang besar (perutmu! Haha). Aku senang dompet itu tak berlaku Sabtu dan Minggu, tapi sekarang aku merindukannya lebih dari yang kautahu — meski kau tak ‘kan pernah tahu.

Baru kusadari, rinduku bertepuk sebelah tangan. Tapi persetan! Kamu telah mendengar firman: Puncak rindu paling dahsyat itu ketika dua orang tak saling telepon, SMS, BBM, tapi diam-diam keduanya saling mendoakan. Tetapi aku berkata kepadamu: Puncak rindu paling dahsyat itu ketika seseorang sadar rindunya bertepuk sebelah tangan, tapi dengan lantang tetap bilang persetan. Persetan dan persetan. Mungkin seperti puncak lapar paling dahsyat, kita sadar lima ribu rupiah sekali makan, tapi dengan unyu tetap bilang persetan. Itu sebabnya kita makan ketoprak tengah malam, atau Hokben tengah pekan. Lima ribu rupiah sekali makan, pada akhirnya, bertepuk sebelah tangan.

Aku tak tahu, kenapa dari banyak tempat makan, Hokben paling berkesan. Yang kutahu, cuma di Hokben aku bisa makan ayam tanpa terlalu banyak pikiran. Tori no teba. Kamu ingat itu? Sayap ayam yang aneh, seaneh rambut atasmu sesudah smoothing. Tapi persetan, aku sayang!

Mengubah Soto Menjadi Rawon

Aku bahkan tak dapat mengingat kapan kali terakhir kita makan soto. Juga rawon. Seingatku, kamu justru mengucap kalimat itu saat mengguyur sepiring nasi sop bening dengan separo isi botol kecap, “Mengubah soto menjadi rawon.”

Besar kemungkinan, kita malah belum pernah makan soto dan rawon berdua. Kamu selalu pergi makan soto dengan keluargamu, dan aku dengan teman-temanku. Sedangkan rawon itu, hampir selalu kumakan sendiri pada sebuah persinggahan bus di timur.

Tapi sudahkah kamu kuajak makan soto di tempat satu itu? Di belakang pasar sebuah kota yang kecil di kaki gunung (gunungku!). Jangan mati sebelum makan soto di situ. Datanglah ke sana saat pagi masih menggigil dan nafasmu setebal kabut. Kuah soto akan memberi kelegaan padamu.

Tapi rasanya memang belum kuajak kamu ke sana. Mustahil mengambilmu dari rumah ketika hari masih buta. Mapala, Judika bilang. Dan kita hanya bercinta-cintaan sepanjang siang.

Tapi mungkin aku pernah membawamu sekali, ke sebuah warung di tengah sawah, di kaki gunung itu (gunungku!). Di sana dijual soto yang — meski mahal dan tidak terlalu enak — tetaplah soto. Aku yakin mereka punya cukup kecap untuk membuatmu mengucap, “Mengubah soto menjadi rawon.”

Begitukah?

Aku sungguh tak dapat mengingat kapan terakhir kali kita makan soto. Juga rawon. Apakah di Kafe Betawi? Jika soto Betawi yang hendak dimakan, aku ingin membawamu ke Makassar, ke tempat sobet istimiwir di Jalan Veteran. Coto dan pallu basa di kota ini boleh juga mengganti soto dan rawon di sana. Atau marilah ke Jalan Irian antara jam tiga hingga empat pagi. Kuah sop saudara akan memberimu kelegaan.

Fkucing

Seekor kucing tahu, tidak ada gunanya memperoleh seluruh dunia jika ia kehilangan nyawanya. Saat kepergok mengacak-acak sebuah tempat sampah, ia dengan yakin memilih kabur, melesat keluar pagar, lalu lenggang di tengah malam.

Pemuda itu bahkan belum sempat memilih tindakan. Melihat sampah terburai dan kucing yang mengejek, tangannya seolah-olah dibanjiri darah. Tetapi ia tahu, tidak ada gunanya mengejar nyawa si kucing. Ia sendiri telah membuang nyawanya.

Masih dengan tangan berdarah, dibereskannya ulah si kucing di lantai. Kini ia paham kenapa ada orang yang membantai ras kucing. Itu diketahuinya dari Facebook, karena yang bersangkutan memajang foto-foto mayat kucing, lengkap dengan kebanggaannya. Seakan-akan ia algojo dan mayat-mayat itu portofolionya. Satu per satu sampah dipungutinya, lalu dikumpulkannya lagi ke dalam kresek hitam yang semula melapisi tempat sampah. Di situ ia melihat ceceran kulit ayam, yang ditinggalkan si kucing — yang beberapa jam lalu adalah bagian dari makan malamnya.

Sesungguhnya, pemuda itu nyaris tak doyan ayam. Ia akan selalu memilih telur ayam ketimbang dagingnya. Tetapi warung langganannya tidak memberi pilihan malam itu, sehingga ia memaksa diri mengambil satu-satunya lauk yang tersisa di sana: sepotong paha ayam.

Ia makan sendiri di kamar pondokan. Perhatiannya tercurah untuk memisahkan daging ayam dari kulitnya. Kulit adalah bagian yang paling ia benci setelah kepala, ceker, dan brutu. Ia membenci ayam tanpa alasan. Yang terpenting baginya adalah ia membenci ayam, terutama yang tidak digoreng garing.

Selesai makan ia membuang sisa dan bungkusnya di tempat sampah dekat pintu kamar. Tempat sampah itu sudah penuh, namun ia masih merasa malas membuang. Ia jejalkan isi yang baru hingga resmi menjadi sampah, lalu pergi mencuci tangan.

Setelah tangannya bersih, ia memergoki seekor kucing mengacak-acak tempat sampahnya. Sebelum ia sempat memilih tindakan, si kucing melesat keluar pagar, lalu lenggang di tengah malam. Melihat itu, tangannya seolah-olah dibanjiri darah. Namun ia tahu, tidak ada gunanya mengejar nyawa si kucing. Ia sendiri telah membuang nyawanya.

Masih dengan tangan berdarah, dibereskannya ulah si kucing di lantai. Kini ia menyesal tidak segera membuang isi tempat sampah yang sudah penuh tadi. Melihat sampah terburai dan kucing yang mengejek, lengkap sudah makan malamnya.

Pemuda itu tahu, tidak ada gunanya memperoleh seluruh dunia jika ia kehilangan nyawanya. Ia tak lagi tertarik meraih seluruh dunia, karena ia sendiri telah membuang nyawanya.

“Kenapa kaubuang nyawamu sendiri?” tanya si kucing.

“Agar tempat sampahku penuh,” jawab pemuda itu.

“Kau manusia bodoh!” sahut si kucing.

“Kau sudah tidak kubunuh!” timpal si pemuda.

“Kulit ayam itu, kenapa kau tidak memakannya?” tanya si kucing.

“Sudah kukatakan aku membencinya!” jawab si pemuda.

“Dimana bencimu berada, di sanalah nyawamu berada,” timpal si kucing.

“Dan kaupikir aku harus kembali memungutnya?” sahut si pemuda.

“Kau benar-benar manusia bodoh!” jawab si kucing.

Mendapat jawaban itu, kepala si pemuda dibanjiri darah. Ia bersumpah akan membantai ras kucing dan memajang foto setiap mayatnya di Facebook, lengkap dengan kebanggaannya. Namun ia tahu, tidak ada gunanya mengejar nyawa setiap kucing. Ia sendiri telah membuang nyawanya.

“Dimana bencimu berada, di sanalah nyawamu berada,” kata si kucing.

“Kini aku membencimu,” sahut si pemuda.

Dengan penuh keyakinan, si kucing lesat keluar pagar, lalu lenggang di tengah malam.

Surat Cinta No. 112

Gunung Kelud meletus, menyemburkan tagar #PrayForKelud ke puncak trending topic Twitter. Masih ada saja orang mengambil bencana sebagai bahan bercanda. Masih ada juga orang mengingatkan orang lain agar tidak bercanda.

Keduanya lucu. Namun yang paling membuatku tertawa justru bukan mereka yang melucu, tetapi mereka yang mewanti-wanti orang lain agar tidak melucu.

Dalam sebuah percakapan, mereka mempertanyakan kewarasan orang yang melucu di tengah bencana. Seolah-olah mereka lebih waras dari saudaranya. Padahal tidak ada yang lebih gila dari orang yang menyangka dirinya baik-baik saja.

Dan segera, setelah mewanti-wanti orang lain agar tidak melucu di tengah bencana, mereka juga mewanti-wanti agar orang tidak membicarakan hubungan Valentine dengan bencana. Setelah itu mereka membicarakan makanan, memajang foto sate ayam lengkap dengan lontongnya, lengkap dengan coklat batangan nikmat dari rekan kelaminnya. Lalu muncul foto sepatu, baju, tas, dan barang idaman lain sebagainya. Bagiku semua tampak jelas: inilah bencana. Bencana oh bencana.

Kenapa orang-orang begitu tanggap bencana jika ada gunung meletus, jika ada banjir, jika ada tanah longsor? Kenapa tidak begitu tanggap bencana jika kepalanya sendiri bocor? Sinabung tidak meletus dan serta merta disebut bencana. Perlu waktu beberapa lama hingga pemerintah menetapkannya sebagai bencana, dalam hal ini bencana nasional.

Jelas, bencana bukan sesuatu yang ada begitu saja. Bencana adalah hasil ketetapan. Mau pemerintah atau mbahmu yang menetapkan, hasilnya sama-sama ketetapan. Bencana lokal. Bencana nasional. Bencana alam. Bencana kemanusiaan. Semuanya adalah label. Cap kecap. Dan beda mulut tentu beda kecapnya, kecuali sudah melalui proses standarisasi terkini yang melumpuhkan otak.

Hasil proses ini adalah jutaan orang yang berkicau seragam bahwa letusan Kelud adalah bencana hingga menyemburkan tagar #PrayForKelud ke puncak trending topic Twitter. Lalu mereka mewanti-wanti orang yang berusaha melucu di tengah bencana maupun yang membicarakan hubungan Valentine dengan bencana. Setelah itu mereka akan kembali membicarakan makanan, memajang foto sate ayam lengkap dengan lontongnya, lengkap dengan coklat batangan nikmat dari rekan kelaminnya. Pada malam hari mereka akan melahap coklat itu berdua karena ini momen Valentine dan satu-satunya erupsi yang mungkin terjadi adalah lahar panas putih kental yang lebih dikenal sebagai mani (bencana jika terlambat dicabut). Tidak ada bencana lain karena mereka sudah menyemburkannya di Twitter tadi, hingga puncak trending topic pula! Kurang prihatin apa mereka?

Tentu tidak semua keprihatinan berhenti di situ. Akan ada beberapa (mungkin banyak) orang yang tergerak untuk mengadakan penggalangan bantuan, mengunjungi lokasi pengungsian dan sebagainya. Malaikat juga tahu.

Yang malaikat tidak tahu adalah letusan Kelud sesungguhnya bukan bencana. Bencana yang sesungguhnya hadir di depan mata setiap hari dan orang-orang hanya berjalan melewatinya. Ia muncul di televisi, koran, Twitter, dan orang-orang hanya tertawa, menjadikannya bahan lawakan tanpa prihatin setitikpun! Lalu kenapa sekarang orang bercanda diwanti-wanti segala?

Andai benar letusan Kelud dapat membuat orang-orang lebih tanggap bencana, kuharap kita punya gunung berapi di setiap rumah. Agar yang selamat cuma gelandangan.

Mendadak Mendidik

Daripada ngomong sinetron tidak mendidik, mending ngomong sama asbak. Kok bisa sinetron tidak mendidik? Apanya yang tidak mendidik?

Justru sinetron itu sangat mendidik. Mendidik orang untuk cengeng, untuk menikam teman dari belakang, untuk mengada-adakan permusuhan, dan untuk menjalani hidup sebagai drama murahan.

Jangan dikira pendidikan itu yang baik-baik saja. Buktinya, di sekolah dulu saya dapat yang namanya pelajaran MAFIA. Pelajaran ini sangat kejam karena diajarkan secara paksa dan membosankan oleh guru-guru yang kelakuannya mirip pemain sinetron. Rugi orangtua bayarin saya sekolah. Saya sendiri lebih rugi lagi karena harus buang waktu mendekam dalam penjara pikiran. Secara kita akhirnya tahu bahwa kita perlu sekolah supaya kita tahu sekolah tidak diperlukan. Ngehek.

Daripada capek-capek ngomong sinetron tidak mendidik, lebih baik matikan TV, pergi keluar jalan-jalan, pacar-pacaran, tidur-tiduran. Kalau enggak ya itu tadi, ngomong sama asbak. Tidak perlu sampai curhat di koran, apalagi jadi aktivis antisinetron yang ikut gerakan, seperti gerakan “Koin Yang Ditukar” dua tahun lalu. Ngoyoworo. Percuma. Ngehek! Kalau bener ngumpulin koin bisa mengganti gaji pemain sinetron, lha mbok bikin sinetron baru yang tidak ngehek — daripada koinnya cuma dipakai buat menyantuni pemain sinetron yang ngehek. Anies Baswedan saja tahu, daripada mengutuki kegelapan, lebih baik kita nyalakan terang. Bukankah begitu? Bukan.

Sinetron mungkin membawa pengaruh buruk bagi kehidupan orang. Tapi jangan lupa, sinetron juga mungkin cuma cerminan dari kenyataan hidup orang. Orang-orang yang ngomong sinetron tidak mendidik itu, apa hidupnya sudah lebih baik dari cerita sinetron? Kalau sudah, tentu mudah sekali mencari ide cerita baru, supaya cerita sinetron Indonesia tidak itu-itu saja dan mengada-ada.

Tapi dari kelas sinetron sampai film layar lebar, saya belum pernah dapat sinema Indonesia yang bagus beneran. Moralnya membosankan karena dibikin terlalu vulgar. Saya selalu berasa ikut kelas PPKn kalau nonton film Indonesia. Pergulatan nilainya dangkal. Cetek. Masih mending nonton Avengers. Makhluk seperti Hulk saja paham bahwa untuk bisa mengendalikan amarah, dia harus merasakan amarah itu sepanjang waktu. Beda sama film Indonesia yang cuma bisa bilang, “Kamu jangan suka marah-marah. Marah itu enggak baik. Temennya setan. Musuhnya Allah.”

Masyaoloh, Allah aja sampai disuruh ikut main film. Ngehek.

Daripada nonton film Indonesia, mending nonton bokep kalau saya. Nggak usah pusing-pusing, dan lebih mendidik. Pesan utamanya jelas. Make love not war!

Nol Besar

Pernah nonton Enter the Void? Kalau Anda punya pengalaman tenggelam dalam Kehampaan, Kekosongan, “the Void”, lalu berharap film ini sanggup bicara mewakili pengalaman Anda lewat jalan sinema, maka Anda hanya akan kecewa.

Seperti saya.

Saya nyaris tidak peduli visualnya, mungkin karena sejak awal sudah tertambat duluan pada judulnya yang sok nihilistik: “Enter the Void” alias “Memasuki Kehampaan” alias “Memasuki Kekosongan”. Ternyata setelah ditonton-tonton, film ini lebih cocok dijuduli “Enter the Miserable” (karena pajanannya yang panjang dan membosankan tentang kesengsaraan) atau “Enter the Afterlife” (karena sudut pandang ceritanya kebanyakan diambil dari seorang tokoh yang sudah memasuki alam pasca-kehidupan).

Cerita film ini berpendar di sekitar kehidupan dan pasca-kehidupan Oscar, seorang pengedar obat terlarang kelas cupang di Tokyo. Oscar hidup sebatang kara bersama Linda, adiknya yang bekerja sebagai penari telanjang di sebuah klab malam. Mereka yatim-piatu. Ayah dan ibunya mati dalam sebuah kecelakaan mobil waktu mereka masih kecil.

Masing-masing dari mereka menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan yang berbeda. Setelah dewasa, Oscar pindah ke Jepang menjadi gembong narkoba, mengumpulkan cukup uang demi membawa Linda pindah ke Jepang untuk tinggal bersamanya. Tujuan hidup Oscar sederhana, yakni menjaga hidup adik perempuan semata wayangnya.

Suatu malam, Oscar masuk ke sebuah bar bernama The Void untuk mengantar obat pesanan Victor, temannya. Tak disangka, Victor telah berkomplot dengan polisi untuk menjebak Oscar di sana. Malam itu Oscar ditembak mati polisi karena berusaha melarikan diri.

Kenapa Victor tega menjebak Oscar, temannya sendiri? Ternyata karena Victor marah mengetahui hubungan seks Oscar dengan mamanya.

Kematian Oscar membuat hidup Linda kena bencana. Di sinilah garingnya film Enter the Void bermula. Linda sekarang harus berjuang hidup sendiri, tanpa kakak laki-laki yang melindunginya lagi. Hidupnya jadi lebih menderita ketimbang sebelumnya. Sejauh mata menonton, yang ada cuma drama hidup manusia yang sesak oleh nestapa. Mana Hampa-nya, Kosong-nya, “the Void”-nya? Apakah judul “Enter the Void” cuma menunjuk adegan Oscar masuk ke bar yang kebetulan punya nama The Void? Kalau iya, dangkal sekali. Cetek! Kalau film ini tidak punya urusan dengan Kehampaan atau Kekosongan, lebih bagus bar itu tidak dinamai The Void, apalagi sampai dijadikan judulnya.

Duka nestapa sendiri, yang dibeber sepanjang film setelah Oscar mati, tentu beda dengan Kehampaan, Kekosongan, “the Void”. Kalau selama ini kita mengenal suka-duka, baik-buruk, surga-neraka, dan sederet dikotomi lainnya, itu semua hanya pengembangan dari satu pola dasar yang sederhana.

Anggaplah kita menggambar sebuah diagram Kartesius dengan titik-titik dari positif sampai negatif, maka dengan mudah yang suka-suka dan baik-baik kita tempatkan di area positif, sedangkan yang duka-duka dan buruk-buruk di area negatif. Kalau selama ini kita merasa hidup sebagai orang baik-baik, yang konon punya moral dan martabat di mata masyarakat, mungkin kita akan dengan gampang menggolongkan hidup Oscar yang gembong narkoba serta adiknya yang penari telanjang ke dalam area negatif.

Dengan mudah kita akan membaca, kematian Oscar tidak menyeret hidup adik perempuannya dari negatif menuju Nol, Kehampaan, Kekosongan, “the Void”, tetapi dari negatif yang sudah ada menuju negatif yang lebih besar karena hidup Linda jadi lebih keras, sulit, dan kasar daripada sebelum ditinggal mati Oscar. Dengan kata lain, hidup Linda justru menjauh dari Nol, Kehampaan, Kekosongan, “the Void” itu sendiri. Kalau yang dibilang “memasuki kehampaan” adalah hidup Oscar karena dia mati, itu masih bisa diakal. Tetapi hampir semua film punya tokoh mati, dan mereka semua memasuki kehampaan. Jadi, tidak ada yang spesial! Kalau film ini mau bilang drama hidup manusia pada dasarnya kosong dan sia-sia — karena alam pasca-kehidupan ternyata cuma sebuah halusinasi singkat berkat aktivitas otak yang masih berpendar sebentar sebelum benar-benar padam, tidak ada surga dan neraka — itu juga percuma. Tanpa nonton Enter the Void pun manusia sudah paham drama hidupnya kosong dan sia-sia. Pemberitahuan yang diulang-ulang itu membosankan, dan tanpa Enter the Void hidup ini sudah kelewat membosankan!

Mungkin ceritanya akan sedikit lebih menarik kalau tokoh yang “dimatikan” bukan Oscar, tetapi Linda. Karena satu-satunya tujuan hidup Oscar adalah melindungi adiknya, maka saat yang dilindungi sudah mati, Oscar akan segera kehilangan tujuan hidupnya. Mungkin di situ hidup Oscar akan terseret sebentar ke area negatif yang lebih besar — saat tokohnya melampiaskan amarah dengan merusak hidupnya sendiri atau orang lain — sebelum akhirnya terayun menuju Nol, Kehampaan, Kekosongan, “the Void” karena tujuan hidupnya sudah tiada. Bahkan, tokoh seperti itu sangat mungkin tiba di titik Nol hidup-hidup, dan survive dalam Kehampaan, Kekosongan, “the Void” hingga akhir hayatnya. Dengan kata lain, menjalani sisa hidup sebagai Nol Besar! Sama seperti yang nulis, dan mungkin yang baca.

Anjinglah semua.

Akibat Cinta Setitik

Saya lagi suka sama neuromarketing. Cuma kalau ditanya alasan pastinya, saya masih bingung kenapa. Rasanya karena sejak dulu saya selalu penasaran sama isi kepala orang. Dan neuromarketing, menurut penjelasan-penjelasan yang sudah saya baca (dan terjemahkan sebagian) punya kemampuan untuk menjawab rasa penasaran itu secara ilmiah.

Pertama kali saya ketemu istilah “neuromarketing” sekitar dua minggu lalu. Waktu itu saya ubah salah satu akun samaran saya yang kurang produktif di Twitter menjadi @marxeter, untuk membantu saya memusatkan pikiran — yang selama ini tercecer ke sejumlah akun samaran dan klien — kepada pemasaran, bidang yang saya tekuni bersama teman-teman di Adsdictive. Logikanya, saya merasa perlu menghidupkan satu karakter baru untuk merebut jatah pikiran saya sendiri, yang selama ini dikonsumsi karakter-karakter lain yang saya ciptakan. Kalau logika ini cukup aneh buat Anda, ini juga cukup aneh buat saya. Setiap orang aneh memang. Dan kalau kita temukan orang yang keanehannya cocok dengan kita, kita ajak orang itu jatuh dalam satu keanehan bersama yang kita sebut cinta, kata Dr. Seuss.

Sejak menghidupi karakter @marxeter saya merasa perlu berusaha mencintai pemasaran. Sebab, DNA karakter itu sendiri “marketer” alias pemasar. Ini bertolak belakang dengan dorongan alami saya yang menjurus romantis, yang membiarkan kata-kata hidup ringan tanpa memikirkan tujuan — sementara dalam pemasaran, kata-kata dipekerjakan untuk membantu klien mencapai tujuan tertentu, yang biasanya cuma melulu uang.

Di sini saya belajar bahwa hidup tidak bisa melulu romantis. Perlu realistis agar kita tidak berakhir tragis, seperti Neil Perry di cerita Dead Poets Society. Tapi tidak bisa juga melulu realistis, karena itu akan membuat kita berakhir brengsek seperti kepala sekolah Welton, yang merusak puisi dengan otak sampahnya.

Jadi, apapun yang melulu-melulu tidak layak dipakai hidup, dan itu sebabnya saya berusaha mencintai pemasaran. Lho, cinta kok diusahakan? Seharusnya cinta datang tiba-tiba, seperti lagu Marcell — dan dorongan alami saya yang menjurus romantis setuju dengan itu. Tapi yang seharusnya itu belum tentu sama dengan kenyataannya. Ini dasar teori hukum murni, yang bukan sekedar teori. Kalau seharusnya cinta datang tiba-tiba, nyatanya orang Jawa bilang cinta datang karena terbiasa. Nyatanya ada pepatah, “Do what you love and love what you do.” Kemudian saya tambahi, “Just in case you cannot love, hate it.” Kenapa? Pertama, karena cinta tidak bisa dipaksakan. Kedua, karena benci dan cinta pada dasarnya sama saja. Sama-sama energi. Cuma labelnya yang beda. Begitu kita mencintai seseorang, sewaktu-waktu kita bisa jatuh benci padanya. Dan gara-gara benci setitik, rusak cinta sebelanga.

Hal yang sama bisa berlaku sebaliknya. Begitu kita membenci seseorang, kebencian itu cuma butuh sedikit sentuhan agar jatuh menjadi cinta. Karena itu, dulu waktu perempuan yang pernah memacari saya pulang kerja setiap hari sambil ngomel soal teman satu kantornya (laki-laki) yang dia anggap menyebalkan, dari cara ngomelnya saya tahu dia akan jatuh kepada laki-laki itu. Namun tahu saja beda dari tahu banget. Meski sebelumnya sudah punya firasat, waktu saya tahu pacar saya kencan beneran dengan laki-laki itu pada saat-saat saya sedang tidak di tempat, siapa yang tidak patah hati?