Kutuk Bahagia

Agak sulit menghindari Albert Camus, si pemberontak itu, saat kita bicara tentang arti kehidupan. Sudah lebih dari separo abad lalu Camus menyatakan, “Hanya ada satu masalah filsafati yang sungguh-sungguh serius, dan itu adalah bunuh diri.”

Camus melukiskan nasib manusia lewat mitos Sisipus, manusia paling bijaksana yang pernah dihukum dewa karena membocorkan rahasia mereka, dan menyekap Kematian di kloset rumahnya. Sisipus dikutuk untuk mendorong satu batu raksasa ke puncak gunung lewat sebuah lereng yang curam. Tiap menjelang puncak, batu itu selalu menggelinding ke bawah, memaksa Sisipus untuk mendorong dari awal berulang-ulang — untuk selamanya.

Bagi Camus, nasib kita semua sama absurdnya dengan Sisipus. Dengan segala rutinitas harian yang gombal, kita mendorong batu masing-masing ke puncak dunia, hanya untuk menyaksikannya jatuh kembali dan sadar: kita harus mengulang semua dari awal. Tidak ada pilihan. Tidak ada alasan. Tidak ada jalan keluar. Hanya siklus yang telah dijatuhkan dan harus dijalani.

Dari sinilah Camus mengerami persoalannya dengan bunuh diri. Jika seseorang mendapati bahwa hidupnya begitu absurd dan tak berarti, haruskah ia bunuh diri?

Menurut Camus, persoalan bunuh diri mustahil dijawab dengan bunuh diri. Bunuh diri tak lain adalah lari dari persoalan, mangkir dari kenyataan. The pussy way out. Lebih masuk akal bila kita menghadapi persoalan bunuh diri selagi masih hidup.

Satu-satunya jalan, kemudian, adalah turun ke kaki gunung. Menjemput batu masing-masing. Mengulang semua dari awal. Bagaimanapun, dalam setiap perjalanan turun gunung, kita dapat berjumpa pertanyaan-pertanyaan. Misalnya, apakah orang memang terkutuk seperti Sisipus? Apakah orang yang terkutuk seperti Sisipus sadar bahwa dirinya terkutuk? Apakah orang yang terkutuk seperti Sisipus bertindak sebijak Sisipus?

Karena jawaban dari tiap pertanyaan bisa ya dan tidak, maka yang kita dapati adalah kemungkinan-kemungkinan. Misalnya, mungkin saja orang tidak terkutuk, namun merasa dirinya terkutuk. Mungkin saja orang terkutuk, namun tak sadar bahwa dirinya terkutuk. Mungkin saja orang yang terkutuk seperti Sisipus tidak bertindak sebijak Sisipus.

Bagi yang bertanya-tanya, kebijaksanaan Sisipus terletak pada pemberontakannya. Setiap kali tiba di puncak, setiap kali batunya kembali ke bawah, Sisipus menolak godaan menyerah. Setiap kali batunya kembali ke bawah, ia telah mengetahuinya jauh sejak ia di bawah. Ia tahu, ia sadar. Usahanya sia-sia, dan konyol, dan tragis. Namun, bagaimanapun, ini nasib adalah nasibnya. Batu itu adalah batunya. Semua adalah bagian dari kisahnya, sederet tindakan acak di masa lalu yang menjelma sebagai takdirnya — yang diciptakannya sendiri. Karena itu, Camus menyimpulkan, tiap kali Sisipus menolak godaan menyerah dan menyusul batunya ke bawah, ia telah “mengatasi takdirnya sendiri” dan menjadi “lebih cadas dari batunya sendiri”.

Pemberontakan Sisipus itu, yang disebut Camus sebagai “ketaatan lebih tinggi” pada garis takdir yang absurd, telah menihilkan arti dewa-dewa dan memindahkan batu. Maka, jika seseorang mendapati bahwa hidupnya begitu absurd dan tak berarti, haruskah ia bunuh diri? Tidak. Yang harus dilakukannya adalah memberontak — untuk selamanya. Menyadari absurditas hidup bukanlah alasan untuk mengakhiri hidup, tetapi justru memulainya lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Suatu ketika, Bondan “Maknyus” Winarno menemukan sebait kata-kata yang dianggapnya lucu di meja seorang redaktur The New York Times. Begini:

to be is to do (Camus)
to do is to be (Sartre)
do be do be do (Sinatra)

Menurut Camus, arti hidup adalah untuk melakukan sesuatu. Menurut Sartre, melakukan sesuatu itulah yang memberi arti hidup. “Dan Sinatra dengan santai terus menyanyi do be do be do.” Menurut Bondan sendiri, karena kita bukan penyanyi seperti Sinatra, maka yang jadi soal adalah hidup dan melakukan sesuatu itu. “Mutu hidup kita mempengaruhi mutu pekerjaan kita, begitu pula sebaliknya.”

Pertanyaannya, mutu hidup seperti apa yang masih mungkin didapatkan manusia, yang nasibnya seabsurd Sisipus?

Bagi Camus, setiap perjuangan menuju puncak saja sudah cukup untuk membesarkan hati manusia. Dan karena itu, “Orang harus membayangkan Sisipus bahagia.”

Membayangkan Sisipus bahagia, orang dapat tergoda menyimpulkan: barangkali kebahagiaan Sisipus inilah yang selama ini dicari-cari manusia. Kebahagiaan yang lahir dari sebuah pemberontakan, dari sebuah perjuangan, dan lebih jauh lagi: dari sebuah kutukan!

Kabar baiknya, siapa saja dapat mengalami kutukan seperti Sisipus. Atau mungkin sudah, namun belum menyadarinya. Hanya masing-masing yang bisa menjawab, karena bagaimanapun, seperti kata Chairil Anwar — yang juga pemberontak itu — nasib adalah kesunyian masing-masing.

Hokben

Cuma beda satu huruf dari Hotben, tapi kalau nyasar jauh juga. Bayangkan jika langganan kita itu balik nama jadi Hota Hota Bento, makanan apa yang bakal mereka jual? Blasteran Jepang, India, Batak? Tidakkah blasteran Brebes-Kediri di selatan sudah cukup nostalgik bagimu?

Kita makan di Hokben seminggu sekali agar lupa sejenak rasanya masakan Tegal, yang sehari-hari kita makan. Di Hokben tidak ada yang namanya nasi sop bening. Tidak ada yang namanya kecap. Kamu tak bisa mengubah soto menjadi rawon di sana. Dan kamu menikmatinya.

Katamu kita harus berhemat, tapi akhir pekan adalah sedikit pengecualian. Itu sebabnya kita canangkan program lima ribu rupiah sekali makan hanya pada lima hari kerja. Kita taruh sedikit uang di sebuah dompet kecil untuk mengamankan perut yang besar (perutmu! Haha). Aku senang dompet itu tak berlaku Sabtu dan Minggu, tapi sekarang aku merindukannya lebih dari yang kautahu — meski kau tak ‘kan pernah tahu.

Baru kusadari, rinduku bertepuk sebelah tangan. Tapi persetan! Kamu telah mendengar firman: Puncak rindu paling dahsyat itu ketika dua orang tak saling telepon, SMS, BBM, tapi diam-diam keduanya saling mendoakan. Tetapi aku berkata kepadamu: Puncak rindu paling dahsyat itu ketika seseorang sadar rindunya bertepuk sebelah tangan, tapi dengan lantang tetap bilang persetan. Persetan dan persetan. Mungkin seperti puncak lapar paling dahsyat, kita sadar lima ribu rupiah sekali makan, tapi dengan unyu tetap bilang persetan. Itu sebabnya kita makan ketoprak tengah malam, atau Hokben tengah pekan. Lima ribu rupiah sekali makan, pada akhirnya, bertepuk sebelah tangan.

Aku tak tahu, kenapa dari banyak tempat makan, Hokben paling berkesan. Yang kutahu, cuma di Hokben aku bisa makan ayam tanpa terlalu banyak pikiran. Tori no teba. Kamu ingat itu? Sayap ayam yang aneh, seaneh rambut atasmu sesudah smoothing. Tapi persetan, aku sayang!

Mengubah Soto Menjadi Rawon

Aku bahkan tak dapat mengingat kapan kali terakhir kita makan soto. Juga rawon. Seingatku, kamu justru mengucap kalimat itu saat mengguyur sepiring nasi sop bening dengan separo isi botol kecap, “Mengubah soto menjadi rawon.”

Besar kemungkinan, kita malah belum pernah makan soto dan rawon berdua. Kamu selalu pergi makan soto dengan keluargamu, dan aku dengan teman-temanku. Sedangkan rawon itu, hampir selalu kumakan sendiri pada sebuah persinggahan bus di timur.

Tapi sudahkah kamu kuajak makan soto di tempat satu itu? Di belakang pasar sebuah kota yang kecil di kaki gunung (gunungku!). Jangan mati sebelum makan soto di situ. Datanglah ke sana saat pagi masih menggigil dan nafasmu setebal kabut. Kuah soto akan memberi kelegaan padamu.

Tapi rasanya memang belum kuajak kamu ke sana. Mustahil mengambilmu dari rumah ketika hari masih buta. Mapala, Judika bilang. Dan kita hanya bercinta-cintaan sepanjang siang.

Tapi mungkin aku pernah membawamu sekali, ke sebuah warung di tengah sawah, di kaki gunung itu (gunungku!). Di sana dijual soto yang — meski mahal dan tidak terlalu enak — tetaplah soto. Aku yakin mereka punya cukup kecap untuk membuatmu mengucap, “Mengubah soto menjadi rawon.”

Begitukah?

Aku sungguh tak dapat mengingat kapan terakhir kali kita makan soto. Juga rawon. Apakah di Kafe Betawi? Jika soto Betawi yang hendak dimakan, aku ingin membawamu ke Makassar, ke tempat sobet istimiwir di Jalan Veteran. Coto dan pallu basa di kota ini boleh juga mengganti soto dan rawon di sana. Atau marilah ke Jalan Irian antara jam tiga hingga empat pagi. Kuah sop saudara akan memberimu kelegaan.

Fkucing

Seekor kucing tahu, tidak ada gunanya memperoleh seluruh dunia jika ia kehilangan nyawanya. Saat kepergok mengacak-acak sebuah tempat sampah, ia dengan yakin memilih kabur, melesat keluar pagar, lalu lenggang di tengah malam.

Pemuda itu bahkan belum sempat memilih tindakan. Melihat sampah terburai dan kucing yang mengejek, tangannya seolah-olah dibanjiri darah. Tetapi ia tahu, tidak ada gunanya mengejar nyawa si kucing. Ia sendiri telah membuang nyawanya.

Masih dengan tangan berdarah, dibereskannya ulah si kucing di lantai. Kini ia paham kenapa ada orang yang membantai ras kucing. Itu diketahuinya dari Facebook, karena yang bersangkutan memajang foto-foto mayat kucing, lengkap dengan kebanggaannya. Seakan-akan ia algojo dan mayat-mayat itu portofolionya. Satu per satu sampah dipungutinya, lalu dikumpulkannya lagi ke dalam kresek hitam yang semula melapisi tempat sampah. Di situ ia melihat ceceran kulit ayam, yang ditinggalkan si kucing — yang beberapa jam lalu adalah bagian dari makan malamnya.

Sesungguhnya, pemuda itu nyaris tak doyan ayam. Ia akan selalu memilih telur ayam ketimbang dagingnya. Tetapi warung langganannya tidak memberi pilihan malam itu, sehingga ia memaksa diri mengambil satu-satunya lauk yang tersisa di sana: sepotong paha ayam.

Ia makan sendiri di kamar pondokan. Perhatiannya tercurah untuk memisahkan daging ayam dari kulitnya. Kulit adalah bagian yang paling ia benci setelah kepala, ceker, dan brutu. Ia membenci ayam tanpa alasan. Yang terpenting baginya adalah ia membenci ayam, terutama yang tidak digoreng garing.

Selesai makan ia membuang sisa dan bungkusnya di tempat sampah dekat pintu kamar. Tempat sampah itu sudah penuh, namun ia masih merasa malas membuang. Ia jejalkan isi yang baru hingga resmi menjadi sampah, lalu pergi mencuci tangan.

Setelah tangannya bersih, ia memergoki seekor kucing mengacak-acak tempat sampahnya. Sebelum ia sempat memilih tindakan, si kucing melesat keluar pagar, lalu lenggang di tengah malam. Melihat itu, tangannya seolah-olah dibanjiri darah. Namun ia tahu, tidak ada gunanya mengejar nyawa si kucing. Ia sendiri telah membuang nyawanya.

Masih dengan tangan berdarah, dibereskannya ulah si kucing di lantai. Kini ia menyesal tidak segera membuang isi tempat sampah yang sudah penuh tadi. Melihat sampah terburai dan kucing yang mengejek, lengkap sudah makan malamnya.

Pemuda itu tahu, tidak ada gunanya memperoleh seluruh dunia jika ia kehilangan nyawanya. Ia tak lagi tertarik meraih seluruh dunia, karena ia sendiri telah membuang nyawanya.

“Kenapa kaubuang nyawamu sendiri?” tanya si kucing.

“Agar tempat sampahku penuh,” jawab pemuda itu.

“Kau manusia bodoh!” sahut si kucing.

“Kau sudah tidak kubunuh!” timpal si pemuda.

“Kulit ayam itu, kenapa kau tidak memakannya?” tanya si kucing.

“Sudah kukatakan aku membencinya!” jawab si pemuda.

“Dimana bencimu berada, di sanalah nyawamu berada,” timpal si kucing.

“Dan kaupikir aku harus kembali memungutnya?” sahut si pemuda.

“Kau benar-benar manusia bodoh!” jawab si kucing.

Mendapat jawaban itu, kepala si pemuda dibanjiri darah. Ia bersumpah akan membantai ras kucing dan memajang foto setiap mayatnya di Facebook, lengkap dengan kebanggaannya. Namun ia tahu, tidak ada gunanya mengejar nyawa setiap kucing. Ia sendiri telah membuang nyawanya.

“Dimana bencimu berada, di sanalah nyawamu berada,” kata si kucing.

“Kini aku membencimu,” sahut si pemuda.

Dengan penuh keyakinan, si kucing lesat keluar pagar, lalu lenggang di tengah malam.

Surat Cinta No. 112

Gunung Kelud meletus, menyemburkan tagar #PrayForKelud ke puncak trending topic Twitter. Masih ada saja orang mengambil bencana sebagai bahan bercanda. Masih ada juga orang mengingatkan orang lain agar tidak bercanda.

Keduanya lucu. Namun yang paling membuatku tertawa justru bukan mereka yang melucu, tetapi mereka yang mewanti-wanti orang lain agar tidak melucu.

Dalam sebuah percakapan, mereka mempertanyakan kewarasan orang yang melucu di tengah bencana. Seolah-olah mereka lebih waras dari saudaranya. Padahal tidak ada yang lebih gila dari orang yang menyangka dirinya baik-baik saja.

Dan segera, setelah mewanti-wanti orang lain agar tidak melucu di tengah bencana, mereka juga mewanti-wanti agar orang tidak membicarakan hubungan Valentine dengan bencana. Setelah itu mereka membicarakan makanan, memajang foto sate ayam lengkap dengan lontongnya, lengkap dengan coklat batangan nikmat dari rekan kelaminnya. Lalu muncul foto sepatu, baju, tas, dan barang idaman lain sebagainya. Bagiku semua tampak jelas: inilah bencana. Bencana oh bencana.

Kenapa orang-orang begitu tanggap bencana jika ada gunung meletus, jika ada banjir, jika ada tanah longsor? Kenapa tidak begitu tanggap bencana jika kepalanya sendiri bocor? Sinabung tidak meletus dan serta merta disebut bencana. Perlu waktu beberapa lama hingga pemerintah menetapkannya sebagai bencana, dalam hal ini bencana nasional.

Jelas, bencana bukan sesuatu yang ada begitu saja. Bencana adalah hasil ketetapan. Mau pemerintah atau mbahmu yang menetapkan, hasilnya sama-sama ketetapan. Bencana lokal. Bencana nasional. Bencana alam. Bencana kemanusiaan. Semuanya adalah label. Cap kecap. Dan beda mulut tentu beda kecapnya, kecuali sudah melalui proses standarisasi terkini yang melumpuhkan otak.

Hasil proses ini adalah jutaan orang yang berkicau seragam bahwa letusan Kelud adalah bencana hingga menyemburkan tagar #PrayForKelud ke puncak trending topic Twitter. Lalu mereka mewanti-wanti orang yang berusaha melucu di tengah bencana maupun yang membicarakan hubungan Valentine dengan bencana. Setelah itu mereka akan kembali membicarakan makanan, memajang foto sate ayam lengkap dengan lontongnya, lengkap dengan coklat batangan nikmat dari rekan kelaminnya. Pada malam hari mereka akan melahap coklat itu berdua karena ini momen Valentine dan satu-satunya erupsi yang mungkin terjadi adalah lahar panas putih kental yang lebih dikenal sebagai mani (bencana jika terlambat dicabut). Tidak ada bencana lain karena mereka sudah menyemburkannya di Twitter tadi, hingga puncak trending topic pula! Kurang prihatin apa mereka?

Tentu tidak semua keprihatinan berhenti di situ. Akan ada beberapa (mungkin banyak) orang yang tergerak untuk mengadakan penggalangan bantuan, mengunjungi lokasi pengungsian dan sebagainya. Malaikat juga tahu.

Yang malaikat tidak tahu adalah letusan Kelud sesungguhnya bukan bencana. Bencana yang sesungguhnya hadir di depan mata setiap hari dan orang-orang hanya berjalan melewatinya. Ia muncul di televisi, koran, Twitter, dan orang-orang hanya tertawa, menjadikannya bahan lawakan tanpa prihatin setitikpun! Lalu kenapa sekarang orang bercanda diwanti-wanti segala?

Andai benar letusan Kelud dapat membuat orang-orang lebih tanggap bencana, kuharap kita punya gunung berapi di setiap rumah. Agar yang selamat cuma gelandangan.

Mendadak Mendidik

Daripada ngomong sinetron tidak mendidik, mending ngomong sama asbak. Kok bisa sinetron tidak mendidik? Apanya yang tidak mendidik?

Justru sinetron itu sangat mendidik. Mendidik orang untuk cengeng, untuk menikam teman dari belakang, untuk mengada-adakan permusuhan, dan untuk menjalani hidup sebagai drama murahan.

Jangan dikira pendidikan itu yang baik-baik saja. Buktinya, di sekolah dulu saya dapat yang namanya pelajaran MAFIA. Pelajaran ini sangat kejam karena diajarkan secara paksa dan membosankan oleh guru-guru yang kelakuannya mirip pemain sinetron. Rugi orangtua bayarin saya sekolah. Saya sendiri lebih rugi lagi karena harus buang waktu mendekam dalam penjara pikiran. Secara kita akhirnya tahu bahwa kita perlu sekolah supaya kita tahu sekolah tidak diperlukan. Ngehek.

Daripada capek-capek ngomong sinetron tidak mendidik, lebih baik matikan TV, pergi keluar jalan-jalan, pacar-pacaran, tidur-tiduran. Kalau enggak ya itu tadi, ngomong sama asbak. Tidak perlu sampai curhat di koran, apalagi jadi aktivis antisinetron yang ikut gerakan, seperti gerakan “Koin Yang Ditukar” dua tahun lalu. Ngoyoworo. Percuma. Ngehek! Kalau bener ngumpulin koin bisa mengganti gaji pemain sinetron, lha mbok bikin sinetron baru yang tidak ngehek — daripada koinnya cuma dipakai buat menyantuni pemain sinetron yang ngehek. Anies Baswedan saja tahu, daripada mengutuki kegelapan, lebih baik kita nyalakan terang. Bukankah begitu? Bukan.

Sinetron mungkin membawa pengaruh buruk bagi kehidupan orang. Tapi jangan lupa, sinetron juga mungkin cuma cerminan dari kenyataan hidup orang. Orang-orang yang ngomong sinetron tidak mendidik itu, apa hidupnya sudah lebih baik dari cerita sinetron? Kalau sudah, tentu mudah sekali mencari ide cerita baru, supaya cerita sinetron Indonesia tidak itu-itu saja dan mengada-ada.

Tapi dari kelas sinetron sampai film layar lebar, saya belum pernah dapat sinema Indonesia yang bagus beneran. Moralnya membosankan karena dibikin terlalu vulgar. Saya selalu berasa ikut kelas PPKn kalau nonton film Indonesia. Pergulatan nilainya dangkal. Cetek. Masih mending nonton Avengers. Makhluk seperti Hulk saja paham bahwa untuk bisa mengendalikan amarah, dia harus merasakan amarah itu sepanjang waktu. Beda sama film Indonesia yang cuma bisa bilang, “Kamu jangan suka marah-marah. Marah itu enggak baik. Temennya setan. Musuhnya Allah.”

Masyaoloh, Allah aja sampai disuruh ikut main film. Ngehek.

Daripada nonton film Indonesia, mending nonton bokep kalau saya. Nggak usah pusing-pusing, dan lebih mendidik. Pesan utamanya jelas. Make love not war!

Nol Besar

Pernah nonton Enter the Void? Kalau Anda punya pengalaman tenggelam dalam Kehampaan, Kekosongan, “the Void”, lalu berharap film ini sanggup bicara mewakili pengalaman Anda lewat jalan sinema, maka Anda hanya akan kecewa.

Seperti saya.

Saya nyaris tidak peduli visualnya, mungkin karena sejak awal sudah tertambat duluan pada judulnya yang sok nihilistik: “Enter the Void” alias “Memasuki Kehampaan” alias “Memasuki Kekosongan”. Ternyata setelah ditonton-tonton, film ini lebih cocok dijuduli “Enter the Miserable” (karena pajanannya yang panjang dan membosankan tentang kesengsaraan) atau “Enter the Afterlife” (karena sudut pandang ceritanya kebanyakan diambil dari seorang tokoh yang sudah memasuki alam pasca-kehidupan).

Cerita film ini berpendar di sekitar kehidupan dan pasca-kehidupan Oscar, seorang pengedar obat terlarang kelas cupang di Tokyo. Oscar hidup sebatang kara bersama Linda, adiknya yang bekerja sebagai penari telanjang di sebuah klab malam. Mereka yatim-piatu. Ayah dan ibunya mati dalam sebuah kecelakaan mobil waktu mereka masih kecil.

Masing-masing dari mereka menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan yang berbeda. Setelah dewasa, Oscar pindah ke Jepang menjadi gembong narkoba, mengumpulkan cukup uang demi membawa Linda pindah ke Jepang untuk tinggal bersamanya. Tujuan hidup Oscar sederhana, yakni menjaga hidup adik perempuan semata wayangnya.

Suatu malam, Oscar masuk ke sebuah bar bernama The Void untuk mengantar obat pesanan Victor, temannya. Tak disangka, Victor telah berkomplot dengan polisi untuk menjebak Oscar di sana. Malam itu Oscar ditembak mati polisi karena berusaha melarikan diri.

Kenapa Victor tega menjebak Oscar, temannya sendiri? Ternyata karena Victor marah mengetahui hubungan seks Oscar dengan mamanya.

Kematian Oscar membuat hidup Linda kena bencana. Di sinilah garingnya film Enter the Void bermula. Linda sekarang harus berjuang hidup sendiri, tanpa kakak laki-laki yang melindunginya lagi. Hidupnya jadi lebih menderita ketimbang sebelumnya. Sejauh mata menonton, yang ada cuma drama hidup manusia yang sesak oleh nestapa. Mana Hampa-nya, Kosong-nya, “the Void”-nya? Apakah judul “Enter the Void” cuma menunjuk adegan Oscar masuk ke bar yang kebetulan punya nama The Void? Kalau iya, dangkal sekali. Cetek! Kalau film ini tidak punya urusan dengan Kehampaan atau Kekosongan, lebih bagus bar itu tidak dinamai The Void, apalagi sampai dijadikan judulnya.

Duka nestapa sendiri, yang dibeber sepanjang film setelah Oscar mati, tentu beda dengan Kehampaan, Kekosongan, “the Void”. Kalau selama ini kita mengenal suka-duka, baik-buruk, surga-neraka, dan sederet dikotomi lainnya, itu semua hanya pengembangan dari satu pola dasar yang sederhana.

Anggaplah kita menggambar sebuah diagram Kartesius dengan titik-titik dari positif sampai negatif, maka dengan mudah yang suka-suka dan baik-baik kita tempatkan di area positif, sedangkan yang duka-duka dan buruk-buruk di area negatif. Kalau selama ini kita merasa hidup sebagai orang baik-baik, yang konon punya moral dan martabat di mata masyarakat, mungkin kita akan dengan gampang menggolongkan hidup Oscar yang gembong narkoba serta adiknya yang penari telanjang ke dalam area negatif.

Dengan mudah kita akan membaca, kematian Oscar tidak menyeret hidup adik perempuannya dari negatif menuju Nol, Kehampaan, Kekosongan, “the Void”, tetapi dari negatif yang sudah ada menuju negatif yang lebih besar karena hidup Linda jadi lebih keras, sulit, dan kasar daripada sebelum ditinggal mati Oscar. Dengan kata lain, hidup Linda justru menjauh dari Nol, Kehampaan, Kekosongan, “the Void” itu sendiri. Kalau yang dibilang “memasuki kehampaan” adalah hidup Oscar karena dia mati, itu masih bisa diakal. Tetapi hampir semua film punya tokoh mati, dan mereka semua memasuki kehampaan. Jadi, tidak ada yang spesial! Kalau film ini mau bilang drama hidup manusia pada dasarnya kosong dan sia-sia — karena alam pasca-kehidupan ternyata cuma sebuah halusinasi singkat berkat aktivitas otak yang masih berpendar sebentar sebelum benar-benar padam, tidak ada surga dan neraka — itu juga percuma. Tanpa nonton Enter the Void pun manusia sudah paham drama hidupnya kosong dan sia-sia. Pemberitahuan yang diulang-ulang itu membosankan, dan tanpa Enter the Void hidup ini sudah kelewat membosankan!

Mungkin ceritanya akan sedikit lebih menarik kalau tokoh yang “dimatikan” bukan Oscar, tetapi Linda. Karena satu-satunya tujuan hidup Oscar adalah melindungi adiknya, maka saat yang dilindungi sudah mati, Oscar akan segera kehilangan tujuan hidupnya. Mungkin di situ hidup Oscar akan terseret sebentar ke area negatif yang lebih besar — saat tokohnya melampiaskan amarah dengan merusak hidupnya sendiri atau orang lain — sebelum akhirnya terayun menuju Nol, Kehampaan, Kekosongan, “the Void” karena tujuan hidupnya sudah tiada. Bahkan, tokoh seperti itu sangat mungkin tiba di titik Nol hidup-hidup, dan survive dalam Kehampaan, Kekosongan, “the Void” hingga akhir hayatnya. Dengan kata lain, menjalani sisa hidup sebagai Nol Besar! Sama seperti yang nulis, dan mungkin yang baca.

Anjinglah semua.