Pertama, saya memang tak tertarik untuk membuat satu konsep identitas manusia Satya Wacana secara “umum” karena itu akan jadi “bohong-bohongan” saja. Apanya yang “umum”? Bukankah semuanya penafsiran-reflektif pribadi saja? Atau hanya segelintir orang? Catatan-catatan sumber Notohamidjojo pun hanyalah hasil penafsiran pribadi, tapi kemudian dianggap “umum” dan “sah” untuk komunitas Satya Wacana, semata-mata karena dia adalah “leluhur” kita, lebih dulu ada daripada kita. Pembacaan saya seperti itu. CMIIW.