Monthly Archive for May, 2010

Semua Tergantung Orangnya

Kejadian ini sudah agak lama. Habis nonton filem Avatar di bioskop, teman-teman pada bilang kalau Stallon baru saja lulus sarjana. Wah, bagaimana rasanya? Enak? Enak, kata Stallon.

“Apanya yang enak?” tanya saya.

“Enak gak bayar uang kuliah lagi,” jawabnya.

Read the rest »

Pengganti Kerja Keras

Ada seorang penulis yang memulai novelnya dengan sebuah akhir. All endings are also beginnings. We just don’t know it at the time.

Saya ada pada posisi semacam itu kemarin lusa, ketika Willi mengakhiri ceramahnya, dan pergi dari kampus yang senja. Saya bingung. Tidak tahu apa yang mau ditulis dari ceramah seorang Willi Toisuta.

Read the rest »

Buku, Pesta, Cinta

Forum perdana DeBuk, Jumat minggu lalu, mendedah buku Soe Hok-gie …sekali lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya. Setelah puluhan tahun kematiannya di puncak Semeru, sosok Soe Hok-gie ternyata masih menarik minat mahasiswa jaman sekarang. Yodie Hardiyan dan James Anthony, keduanya mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis, mau berbaik hati menjadi pengantar rendezvous antargenerasi itu.

Read the rest »

Yang Penting Enak

Suatu siang Hasyim Muzadi mampir di kampus. Oleh Campus Ministry, ia diminta bicara soal peluang dan tantangan pluralitas agama di Indonesia.

Hasyim bilang, untuk menyangga kerukunan antarumat beragama yang plural diperlukan adanya moderasi sikap dan pemikiran. Ia tidak menganjurkan liberalisme yang cenderung mengorbankan prinsip-prinsip keagamaan demi toleransi, ataupun fundamentalisme yang menaruh toleransi dan kemanusiaan di bawah kepentingan agamis. “Moderat itu natural, apa adanya saja,” kata mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu.

Read the rest »

Lagu Kesayanganku

Aku pernah mendengar bahwa jika ada bagian tubuhmu diamputasi, kau akan tetap merasakannya ada di tempat semula selama beberapa waktu. Kupikir itu agak aneh, namun kemarin lusa aku membuktikan kebenarannya.

Sejak beberapa hari lalu aku memakai headset kemanapun, dan nyaris kapanpun. Kuputar lagu Bibo No Aozora milik Ryuichi Sakamoto nonstop. Ini kebiasaan baru bagiku, dan aku merasa agak tak nyaman. Selama ini aku sendiri selalu beranggapan bahwa orang yang suka pakai headset sambil jalan itu norak dan individualis. Aku tak mau jadi salah satu dari mereka. Tapi setelah mempertimbangkan ulang, rasanya tak semua orang punya anggapan sepertiku. Mungkin mereka hanya akan cuek. Maka headset kupasang terus, meski sedang diskusi di kelas kuliah.

Read the rest »