Ada seorang dosen muda mengumumkan nilai mahasiswa kelas ampuannya lewat Facebook. Apakah ini pantas dilakukan, dengan memperhatikan etika akademis dan norma transparan yang berlaku? Begitu pertanyaan yang masuk ke inbox.
Ada seorang dosen muda mengumumkan nilai mahasiswa kelas ampuannya lewat Facebook. Apakah ini pantas dilakukan, dengan memperhatikan etika akademis dan norma transparan yang berlaku? Begitu pertanyaan yang masuk ke inbox.
Pertama, saya setuju bahwa sejak pendidikan dimassalkan dan diorientasikan pada kebutuhan pembangunan, sejak saat itulah pendidikan menjadi tidak manusiawi. Pertanyaan gampangnya, manusia untuk pembangunan atau pembangunan untuk manusia?
Bakat apa? Yang bagaimana? Yang menghibur? Apa itu hiburan? Siapa yang berhak menentukan bahwa sesuatu itu menghibur atau tidak? Televisi? Bos media? Kita?
Ada teman SMS begini: “Kehidupan adalah puisi. Bisa dibaca, tapi sulit dimengerti. Berbahagialah mereka yang mengerti arti kehidupan.”
Dan kenapa untuk bahagia saja orang harus lebih dulu mengerti arti kehidupan? Apakah kehidupan ini punya arti? Kalau punya, apakah harus dimengerti? Lantas apa itu kebahagiaan? Apa hubungannya dengan arti kehidupan?