Kabar bahwa sahabatnya lulus hari ini tidak membuat hatinya senang. Ia sedih karena sejumlah alasan. Pertama mungkin karena sudah sifat manusia untuk lebih gampang menerima kegagalan orang lain daripada kesuksesannya. Orang selalu punya kecenderungan untuk bersaing, entah kenapa. Dan saingan mereka, biasanya, justru didatangkan dari lingkaran terdekat: keluarga, tetangga, teman. Dalam sejumlah hal tampak bahwa saudara bersaing dengan saudara, orangtua dengan orangtua, orangtua dengan anak, tetangga dengan tetangga, dan teman dengan teman; sampai muncul istilah “teman makan teman” untuk menunjuk praktik persaingan tak sehat. Kemenangan diperjuangkan seolah-olah dari persaingan itulah orang mendapatkan eksistensinya. Anak pintar selalu mendapat tempat lebih baik daripada anak bodoh. Dan sejak kepintaran mereka selalu diukur dengan angka, hampir setiap anak berlomba-lomba mendapatkan angka tertinggi, meskipun dengan cara-cara terendah. Dan hampir semua anak begitu. Dikatakan hampir semua karena nyatanya masih ada sejumpil anak yang, entah bagaimana, tahu bahwa kepintaran tidak bisa cuma diukur angka-angka. Apakah sebetulnya kepintaran? Dan bisakah ia diukur dengan angka? Kalau bisa, seberapa bisa? Seberapa tepat angka-angka itu menunjuk kepintaran yang tak berwujud?