“Orangnya terus terang, enak diajak omong, nggak main politik, apa adanya,” kenang Arief Budiman tentang Asmara Nababan. Selebihnya tidak banyak. Arief merasa kekaribannya dengan Asmara lebih cenderung intelektual ketimbang personal.
Arief masih ingat pertemuan pertamanya dengan Asmara, sekitar 40 tahun lalu di Balai Budaya. Waktu itu Arief adalah direktur Yayasan Indonesia. Ia mendapat satu ruangan kecil di situ sebagai kantornya. “Balai Budaya itu menjadi tempat diskusi-diskusi. Jadi di samping demo kita diskusi. Diskusi tentang Taman Mini misalnya. Nah, si Asmara sering datang. Dia tahu kita ada pertemuan-pertemuan, ngumpul, datang pribadi maupun datang kelompok. Kelompok kita nggak resmi. Siapa aja yang datang diterima.”