Ketika tahun akademik 2007/2008 di UKSW dimulai, ada dua orang yang “berbeda pendapat” didamaikan. Mulanya, orang yang pertama ingin berjalan di jalan A. Sedangkan orang kedua lebih memilih jalan B. Akhirnya ditempuh jalan perdamaian yang cukup lebar untuk mengatasi jarak antara jalan A dan B. Sebut saja jalan itu dengan nama “AB.” Dengan jalan AB, orang pertama boleh tetap menempuh jalan A. Begitu pula dengan orang kedua, tidak dilarang untuk menjalani jalan B. Tidak ada masalah, karena masih satu tujuan.
Tapi pada 31 Maret 2008, kedua orang tersebut tiba-tiba jadi goblok. Mereka kembali berdebat soal jalan mana yang paling baik dan benar. Mereka menafikan begitu saja kesepakatan dan perdamaian yang mereka capai di awal tadi. Sangat goblok bukan?
Sarasehan bertajuk “Ada Apa dengan Sistem Perkuliahan UKSW?” yang diselenggarakan BPMU (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) tiga hari yang lalu terjadi bersamaan dengan menggobloknya dua orang tersebut. Atau mungkin, akan lebih tepat jika dikatakan bahwa sarasehan itulah yang memicu bangkitnya kegoblokan kedua orang tadi.
Sarasehan tersebut mengangkat pembahasan tentang sistem kalender akademik yang berlaku di Satya Wacana. Narasumber yang dihadirkan adalah Daniel Daud Kameo, Harijono, dan John Titaley. Kameo dan Harijono diminta berbicara dengan kapasitas sebagai wakil rektor. Sedangkan Titaley sebagai mantan Rektor UKSW, yang sekaligus juga pencetus trimester.
Pada sesi pertama, Kameo, yang WR I (urusan akademik) itu, berbicara panjang lebar tentang penyelenggaraan sistem kalender akademik di Satya Wacana yang mampu “mengakomodir” dua sistem sekaligus, yakni sistem yang dalam setahun menggunakan tiga periode untuk kegiatan kurikuler (lazim disebut “trimester”) dan yang dalam setahun hanya menggunakan dua periode untuk kegiatan kurikuler (lazim disebut “semester” saja). Sistem yang digunakan Satya Wacana sejak 2007/2008 memang mampu ber-“bhinneka tunggal ika.” Tapi sebelum tahun akademik tersebut, trimester lah yang jadi sistem tunggal. Sebagai referensi tambahan, baca juga berita berjudul “Semester atau Trimester: Kado 51 Tahun UKSW” yang diturunkan Scientiarum pada 10 Desember 2007.
Harijono diberikan kesempatan berbicara pada sesi kedua. Dalam kapasitas sebagai WR II (urusan keuangan), ia menjelaskan bagaimana dampak perubahan sistem kalender akademik 2007/2008 terhadap sistem pembayaran kewajiban keuangan mahasiswa. Sebagai catatan, perubahan hanya terjadi untuk fakultas-fakultas yang beralih dari sistem tiga periode kurikuler menuju dua periode kurikuler. Jika sebelumnya (pada sistem trimester/tiga periode kurikuler) besar SPP setahun adalah tiga kali Rp 200 ribu (tiap periode sebesar Rp 200 ribu), maka kini besar SPP per periode adalah tiga kali Rp 200 ribu lalu dibagi dua, sehingga menjadi Rp 300 ribu. Memang jadi lebih mahal, tapi totalnya dalam setahun tetap sama. Hal ini berlaku pula untuk uang layanan mahasiswa. Sedangkan uang SKS tetap dibayar sesuai dengan jumlah SKS yang diambil.
Sampai pada titik ini, sarasehan bersifat memberi pemahaman. Mahasiswa jadi tahu sistem apa yang mereka hadapi dan bagaimana cara menghadapinya. Dualisme (kalau masih mau disebut demikian) sistem tidak dipermasalahkan. Tapi sesi ketiga yang argumentatif dari John Titaley malah membuat provokasi.
Dengan kapasitasnya sebagai mantan rektor yang mencetuskan trimester di UKSW, Titaley kemudian membeberkan apa-apa yang disebutnya “keunggulan trimester dibanding semester.” Trimester memang diprakarsai dan mulai diterapkan ketika Titaley menjabat sebagai Rektor UKSW kelima, tahun 2001-2005.
Jumlah syarat SKS minimal yang harus diselesaikan mahasiswa untuk mencapai S1 adalah 144. Ketentuan Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) menyatakan bahwa dalam satu tahun, mahasiswa hanya diperbolehkan mengambil jumlah SKS maksimum sebanyak 48. Dengan ketentuan ini, seorang mahasiswa yang cerdas dapat mencapai gelar sarjananya dalam waktu paling cepat 3 tahun. Sedangkan yang tingkat kecerdasannya “normal” dapat mencapainya dalam waktu 4 tahun (setahun mengambil 36 SKS).
Apabila beban setahun mahasiswa “normal” ini diselenggarakan dengan dua periode dalam setahun (semester), maka beban untuk masing-masing periode adalah 18 SKS. Sedangkan 1 SKS bernilai 3 jam (1 jam tatap muka, 1 jam terstruktur, dan 1 jam mandiri), berarti 18 SKS setara dengan 54 jam dalam seminggu. Jika jumlah ini dibagi 5 (jumlah hari efektif perkuliahan), mahasiswa harus belajar 10,8 jam dalam sehari.
Berbeda dengan semester, trimester membagi beban 36 SKS menjadi tiga. Tiap periode mendapat jatah 12 SKS. Dengan 12 SKS, mahasiswa akan menghabiskan 36 jam waktu belajar seminggu, dan 7,2 jam sehari (setelah dibagi 5 hari efektif).
Titaley berpendapat bahwa dengan beban belajar yang lebih sedikit, mahasiswa dapat lebih mudah menguasai materi kuliah. Mahasiswa juga jadi punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan keterampilan lain (soft skill).
“Di atas kertas, trimester lebih baik daripada semester,” klaim Titaley, “Dan saya belum pernah diyakinkan dengan alasan-alasan akademis maupun pedagogis untuk kembali ke sistem semester.”
Selain alasan pedagogis, Titaley juga merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 pasal 8 ayat 2 yang menetapkan jumlah minimal periode dalam satu tahun akademik adalah 2, dengan durasi minimal 16 minggu. Ini berarti sistem trimester tidak menyalahi aturan legal-formal.
Sudah filosofisnya bagus, legal pula. Kurang apa lagi?
Harijono rupanya gerah dengan rasionalitas Titaley. Kendati demikian, ia nampak tak mampu mematahkan argumen Titaley, sehingga ia bermaksud melemparkan wacana tandingan sebelum ia keluar dari forum dengan alasan “ada rapat.” Ini tindakan yang pengecut sekali.
“Kalau memang trimester lebih baik dari semester, kenapa (satu tahun akademik) tidak sekalian dibagi 4, 5, 6, dan seterusnya?” tanya Harijono. Suaranya lantang. Forum sarasehan pun dipenuhi tepuk tangan.
Harijono sedikit sial. Titaley keburu menjawab pertanyaan konyol itu sebelum ia sempat bangkit dari kursi pembicara.
“Permasalahannya bukan pada pembagian menjadi 4, 5, 6, dan seterusnya,” jawab Titaley, “Tapi logikanya ada pada jumlah 12 SKS.” Titaley menganggap jumlah ini adalah ideal untuk beban kuliah mahasiswa “normal.”
.
Pihak pertama yang layak disebut “goblok” adalah BPMU, karena telah meminta Titaley berbicara dalam kapasitas sebagai mantan rektor, untuk “mempertanggungjawabkan” (baca: menjelaskan ulang) gagasannya mengenai trimester. Menjelaskan ulang konsep trimester bisa diartikan “mengusik” sistem semester (atau semester-semesteran?) yang sedang dijalankan.
Kenapa bisa dibilang “goblok?” Karena ini adalah langkah yang sia-sia! Keputusan untuk berganti sistem baru saja diambil beberapa bulan yang lalu (belum ada setahun). Sistem yang baru juga belum sepenuhnya diterapkan (WR I mengatakan bahwa tahun ini masih merupakan tahun transisi, implementasi secara penuh baru dilakukan pada tahun akademik 2008/2009 — Red). Singkat kata, aliran manajemen belum sampai pada tahap evaluasi. Padahal, tanpa hasil evaluasi yang meyakinkan, bagaimana mungkin sebuah keputusan/kebijakan akan diubah/direvisi? Hasil sarasehan itu pun jadi mentah, tidak akan memberi efek apa-apa pada kebijakan yang tengah berjalan. Sarasehan ini memang adalah “the right man” (sebagai wadah komunikasi dan aspirasi), tapi ia berada pada tempat dan waktu yang salah.
Jika BPMU benar-benar ingin memberikan kontribusi yang riil untuk penyusunan kebijakan universitas yang lebih baik di masa depan, mestinya BPMU menunggu waktu dan melihat proses, sambil mengumpulkan data untuk evaluasi. Dan selagi menunggu, bukankah masih ada masalah lain yang lebih relevan untuk dikaji (seperti nafas pembelajaran elektronik yang masih tersengal-sengal, akibat dari rendahnya penguasaan teknologi di UKSW)? Pelayanan internet mahasiswa di Posnet juga masih banyak masalah!
Namun, jika BPMU memang hanya ingin mencari sensasi dan apresiasi yang timbul dari hal-hal retorik, maka saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilannya!
Titaley, walau tampil dengan segala rasionalitasnya, tetap saja dapat disebut “goblok,” karena telah memenuhi permintaan “goblok” BPMU. Kenapa dia mau meladeni kesia-siaan macam itu? Demi “tanggungjawab,” atau harga diri? Jika seandainya pada waktu itu trimester memang terbukti lebih baik di atas kertas, lantas perubahan apa yang akan timbul? Ke-“goblok”-an Titaley ini sama saja dengan BPMU. Kurang kerjaan sekali.
Sebenarnya, trimester tidak lebih baik daripada semester, demikian pula sebaliknya, bahkan di atas kertas! Dengan beban yang lebih sedikit, bukankah pelaksanaan trimester dalam setahun hanya menyebarkan selang-seling dalam komposisi waktu belajar dan istirahat? Pada konsep trimester, waktu belajar mahasiswa akan “bercampur” dengan waktu istirahat secara lebih sering. Sedangkan pada semester, dengan beban yang lebih tinggi, selang-seling tersebut tidak ditemui, karena blok-blok waktunya yang lebih ketat. Mahasiswa harus berkonsentrasi penuh pada periode belajar yang panjang, lantas diberi kesempatan istirahat pula dengan waktu libur yang tidak kalah panjang. Itu sebabnya libur antarperiode pada semester lebih panjang daripada trimester.
Perbedaan antara semester dan trimester ini tak ubahnya dengan dua orang yang mengonsumsi sepiring nasi goreng dan segelas es jeruk masing-masing dengan cara berbeda. Yang satu memilih untuk meneguk minumannya setiap kali selesai dengan sesuap nasi. Sedangkan yang satu lagi memilih menghabiskan makanannya lebih dulu, sebelum akhirnya menandaskan minumannya.
Begitu pula dengan mahasiwa. Ada mahasiswa yang lebih bisa memahami materi dengan durasi waktu belajar yang panjang dan penuh, tapi menuntut satu waktu istirahat khusus yang panjang dan penuh pula. Ada juga mahasiswa yang lebih bisa menyerap materi dengan durasi waktu belajar yang pendek-pendek dengan waktu istirahat yang pendek-pendek, tapi sering. Ini cuma masalah selera saja, bukan sesuatu yang prinsipil untuk dipermasalahkan!
Setiap sistem pasti datang dengan membawa kelebihan dan kekurangan. Yang terpenting bukan sistem mana yang paling benar, tapi bagaimana cara yang tepat untuk mengelola kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem.
Selama ini, praktek dari trimester masih belum sesuai dengan idealismenya. Batas maksimum SKS yang 16 per periode itu masih sering dilanggar dengan fakta bahwa ada mahasiswa yang bisa mengambil SKS hingga lebih dari 20! Dengan kenyataan ini, konsep dan idealisme trimester tidak bisa begitu saja dicap jelek, karena masalah ada pada implementasinya.
Begitu pula dengan semester. Ia tidak bisa dengan seenaknya dianggap lebih buruk dari trimester, karena ada fakta historis yang menunjukkan bahwa Satya Wacana pernah mengalami masa kejayaan dengan sistem ini.
Harijono ternyata juga tidak lebih pintar dari BPMU dan Titaley. Sama saja “goblok,” karena masih mau terpancing untuk menanggapi argumen Titaley yang tidak “bergigi.” Jika Titaley berbicara sesukanya waktu itu, apa semester akan langsung berganti dengan trimester lagi? Harijono mestinya diam saja. Itu sudah cukup. Tapi sikap Harijono ketika sarasehan reaktif sekali. Kekanak-kanakan!
Dengan demikian, pihak-pihak yang dapat pula dikatakan “goblok” (selain BPMU, Titaley, dan Harijono), karena ikut andil dalam sarasehan tersebut, adalah Kris Herawan Timotius (Rektor), Daniel Daud Kameo (WR I), dan Rini Darmastuti (Kaprogdi Public Relation Program Profesional). Timotius adalah orang yang menyampaikan sambutan, sekaligus nada dasar. Kameo adalah salah satu pembicara. Sedangkan Darmastuti adalah moderator. Mereka semua membuang waktu untuk kegiatan sia-sia macam sarasehan ini (sia-sia karena tidak memberi kontribusi nyata, tapi hanya bersifat retorik). Wong isinya ya cuma retorika-retorika aja!
Sedangkan saya sendiri? Saya memang membuang waktu dengan mengomentari sarasehan yang sia-sia tersebut. Ini saya lakukan agar Satya Wacana bisa belajar dari kesia-siaan yang telah dibuatnya. Saya tidak ingin Satya Wacana terus melakukan kesia-siaan yang “goblok” seperti ini.
.
Vonis bahwa sivitas akademika Satya Wacana tidak sehati dan kompak, hanya karena ada dua sistem dalam satu kampus, adalah vonis yang mentah. Setiap disiplin ilmu punya pendekatannya masing-masing. Tidak bisa dipaksakan untuk sama satu dengan yang lain. Akan lebih baik jika sistem kalender akademik Satya Wacana dapat mengakomodir perbedaan-perbedaan tersebut.
Fakultas yang merasa lebih cocok dengan tiga periode (trimester), silakan jalan dengan sistemnya. Begitu pula dengan yang hanya dua periode. Selama perbedaan ini masih pada tujuan yang sama (yakni demi kepentingan ilmu pengetahuan), seharusnya tidak perlu ada masalah. Yang harus selalu diingat adalah setiap fakultas wajib bertanggungjawab atas pilihannya masing-masing.
Naskah ini adalah versi asli dari opini yang termuat di Scientiarum dengan judul 31 Maret: Hari Kesia-siaan UKSW. Opini yang termuat di Scientiarum telah mengalami penyuntingan dengan mempertimbangkan kesantunan (dan kasih).
3 Trackbacks
[...] Opini ini baru mengalami penyuntingan pada 4 April 2008 (sehari setelah publikasi). Sebelumnya, opini ini tampil dengan melanggar prosedur publikasi. Dokumen asli masih dapat dibaca di sini. [...]
[...] pemimpin redaksi Scientiarum, saya melakukan intervensi dalam publikasi opini berjudul “31 Maret: Hari Kegoblokan UKSW” (kini berganti judul menjadi “31 Maret: Hari Kesia-siaan UKSW” setelah disunting [...]
[...] pemimpin redaksi Scientiarum, saya melakukan intervensi dalam publikasi opini berjudul “31 Maret: Hari Kegoblokan UKSW” (kini berganti judul menjadi “31 Maret: Hari Kesia-siaan UKSW” setelah disunting [...]