500 Days of Summer

Sudah empat kali kutonton filem ini. Lama-lama bosan juga meski bagus. Kemarin kutanya Yodie, dia sudah nonton lima kali dan masih mau nonton lagi. Aku tersenyum waktu dengar dia bilang begitu. Aku ingat dia fans berat Zooey Deschanel. Di resensinya soal filem ini Yodie menyisihkan satu paragraf khusus membahas rekam jejak aktris itu.

Zooey memang cantik. Kukagumi matanya yang sebundar bola pingpong karena mengingatkanku pada Donna. Tapi jujur, aku paling suka suaranya. Sekarang setiap kali bertemu perempuan, yang kuperhatikan pertama kali adalah suaranya, entah kenapa. Kebetulan saat berperan sebagai Summer di filem ini ada adegan Zooey menyanyi lagu Sugar Town di karaoke bar. Kusadari cara menyanyi Zooey semanis judul lagu itu. Namun kupikir minat Yodie mungkin bukan pada Zooey saja, tapi kisah filem ini juga. Entahlah, aku belum tanyakan pendapatnya, atau mungkin aku lupa.

Garis besar filem ini berputar di sekitar hubungan Summer dan Tom, rekan sekantornya. Namun sejak awal filem, narator sudah muncul dengan pemberitahuan: ini bukan kisah cinta. Lantas apa?

Tom seorang pemuda melankolis yang percaya bahwa ia tak akan bahagia sebelum bertemu jodohnya, sedangkan Summer adalah perempuan yang cenderung pragmatis dan tak percaya cinta. Cinta itu tak ada, yang ada hanyalah fantasi, katanya. Summer tak ingin pacaran dan ingin hidup sendiri.

“Bagaimana kalau kau jatuh cinta?” tanya Tom.

“Aku pernah pacaran, tapi tak pernah mengalaminya,” jawab Summer.

Pada hari ke-31 Tom dan Summer bertemu di ruang fotokopi kantor. Hanya mereka berdua di sana. Saat menunggu mesin fotokopi selesai mengerjakan perintah, Summer mendekati Tom, dan mencium bibirnya. Tom menanggapi. Mereka berdua jadi agak berantakan. Sejak itu hubungan mereka intim. Mereka jalan-jalan, gandengan, berpelukan, sampai akhirnya bercinta. Tom resmi jatuh cinta, namun Summer tak ingin hubungan mereka serius. Hubungan itu mereka jalani berbulan-bulan tanpa label, tanpa status, tanpa kejelasan. Satu-satunya kejelasan tentang hubungan itu adalah ketidakjelasannya sendiri. “Siapa peduli? Aku bahagia. Apa kau tidak?” kata Summer saat Tom menanyakan status hubungan mereka.

Pada hari ke-259 Tom dan Summer cekcok gara-gara sebuah insiden di bar. Ceritanya, ada satu pria asing datang menggoda Summer saat mereka ngobrol berdua. Summer tak menanggapi, namun pria itu agak memaksa agar Summer mau ditraktir minum. Ketika Summer tegas menolak, pria itu pergi sambil tertawa mengejek Tom. Maka Tom bangkit dan menonjoknya.

“Perbuatanmu tadi tak baik,” kata Summer pada Tom saat mereka pulang.

“Kau marah padaku? Aku babak belur demi kau,” jawab Tom.

“Lain kali jangan, sebab aku tak butuh bantuanmu. Kita hanya teman.”

Malam itu Tom hilang kendali. Ia tak bisa menerima status pertemanan. Menurutnya teman tak berciuman, tak menggandeng tangan, dan tak mandi sambil bercinta, seperti selama ini mereka lakukan. Tapi Summer hanya diam. Tom keluar sambil membanting pintu. Ketika mereka baikan Tom berkata, “Kita tak perlu menamai hubungan kita, tapi aku butuh konsistensi. Aku perlu tahu perasaanmu tidak akan berubah saat bangun esok pagi.”

“Aku tak bisa berikan itu,” jawab Summer. “Tak ada yang bisa.”

Pada akhirnya Summer pergi. Ia mundur dari pekerjaannya di kantor dan tak seorang pun tahu dimana ia berada, termasuk Tom. Kesanku, Summer memang sengaja menghindar dari Tom yang terobsesi padanya. Ketika mereka bertemu lagi di taman tempat nongkrong favorit Tom, Tom sudah tak bekerja lagi. Dan Summer sudah menikah.

“Kau tak mau pacaran, tapi sekarang menikah. Kurasa aku tak akan bisa memahaminya,” kata Tom. “Itu tak masuk akal.”

“Itu terjadi begitu saja,” timpal Summer. “Aku hanya bangun tidur suatu hari dan aku tahu.”

“Tahu apa?”

“Sesuatu yang tak pernah kuyakini saat bersamamu.”

Tom kelu. “Kau tahu, menyebalkan rasanya menyadari semua yang kita yakini hanyalah omong kosong.”

“Apa maksudmu?” tanya Summer.

“Takdir, belahan jiwa, cinta sejati, dan semua dongeng masa kecil. Semuanya tak masuk akal.”

Mungkin Tom benar. Takdir, belahan jiwa, dan cinta sejati memang tak masuk akal. Tapi kupikir ia keliru jika mengira bahwa yang tak masuk akal adalah omong kosong. Yang tak masuk akal adalah tak masuk akal. Ia hanya jadi omong kosong jika kau memaksanya masuk ke dalam akal dan nalar, seperti yang Tom lakukan.

Tom punya banyak argumentasi meyakinkan bahwa Summer adalah jodohnya. Mereka punya banyak kecocokan. Mereka sudah lakukan banyak hal bersama. Mereka sudah bercinta. Jika dilihat lewat kacamata nalar yang linear, hubungan mereka memang tampaknya akan berujung bahagia di pernikahan. Namun adik perempuan Tom yang baru SMP pun memperingatkan, “Hanya karena ada gadis cantik suka hal aneh yang sama denganmu, tak berarti dia belahan jiwamu.” Dan ucapan Rachel, anak perempuan yang masih SMP itu, ternyata benar.

Takdir, belahan jiwa, dan cinta sejati memang tak masuk akal. Summer menikahi seorang pria yang mendatanginya di restoran dan menanyakan novel Dorien Grey yang sedang ia baca, hanya karena ia yakin pada pria itu. “Aku hanya bangun tidur suatu hari dan aku tahu,” kata Summer. Ia tahu lelaki itu layak jadi suaminya.

Bagiku ini terdengar seperti intuisi. Kau bisa tiba-tiba tahu sesuatu tanpa harus menalar atau mengalaminya lebih dulu. Dan intuisi memang bermain di luar batas nalar. Fisikawan seperti Capra sudah berkali-kali mengatakan hal ini sejak puluhan tahun lalu.

Apa yang dirasakan Summer mungkin agak mirip dengan pengalaman seorang dosen teologi di kampusku. Ia bilang padaku bahwa sejak pertama kali bertemu istrinya beberapa tahun yang lalu, ada bisikan di hatinya yang menyatakan, “Inilah jodohmu.” Bisikan tersebut mungkin tak masuk akal saat itu. “Waktu pertama ketemu, dia datang sama pacarnya. Dan aku nembak dia itu sampai enam kali ditolak. Yang ketujuh baru aku diterima,” kata dosen itu. Sekarang mereka telah menikah serta mendapat satu anak. Dan mereka kelihatannya bahagia.

Intuisi. Kau bisa menyebut bisikan hati itu demikian kalau kau tak percaya Tuhan. Dosen teologi itu sendiri lebih suka menganggap bisikan itu sebagai “suara Tuhan”. Sama saja. Kupikir dengan atau tanpa Tuhan, bisikan itu tetap perlu didengar dan dipertimbangkan. Ia meloncat spontan dari lubuk kesadaran kita yang tak berasal, yang tak terjelaskan. Mungkin ia lebih mirip sebuah keajaiban, dengan atau tanpa menyebut-nyebut Tuhan.

Intuisi. Mungkin inilah yang tak dimiliki Tom, yang sepertinya tak mampu bedakan mana intuisi, mana naluri. Ia tertipu naluri, dan jatuh bangun karena tersandung perasaannya sendiri. Ia membiarkan kenangan dan pikirannya sesak oleh sosok Summer, karena ia terus menganggapnya sebagai cewek impian dan tak mungkin hidup bahagia tanpanya. Padahal anggapan belum tentu benar. Anggapan bisa meleset dari kenyataan. Tom tidak seperti sahabatnya, Paul, yang mengatakan, “Secara teknis gadis impianku akan memiliki tubuh yang montok. Mungkin rambutnya lain dan dia suka berolahraga, tapi jujur saja, Robin lebih baik dari gadis impianku.”

“Dia nyata,” tandas Paul.

Nyata, dan maya. Mungkin inilah resep kebahagiaan, yakni dengan menerima kenyataan yang ada. Apa adanya. Tidak semua orang berani menghadapi kenyataan, termasuk Tom. Ia hanya dapat larut dalam kesedihan dan tak berani melangkah keluar, sementara di tempat lain Summer sedang menghadapi pernikahan.