Aborsi Dalam Andaian

Seandainya hari ini saya punya pacar, dan pacar saya hamil karena saya “celakai”, saya masih belum yakin tindakan apa yang akan saya ambil. Akankah saya “lari dari tanggungjawab”? Ataukah saya akan bertanggungjawab, mengambil status MBA (married by accident) dengan segala konsekuensinya? Atau ada alternatif lain, seperti mengimbau pacar saya untuk aborsi, misalnya?

Saya benar-benar tak tahu. Mungkin saya harus mengalaminya terlebih dahulu, baru bisa memberikan pilihan sikap saya yang riil terhadap situasi demikian. Karena ketidaktahuan inilah, maka pembahasan-pembahasan soal hamil di luar nikah, married by accident, dan aborsi senantiasa terletak di wilayah abu-abu, bagi saya.

Ada dua macam aborsi yang pernah saya dengar. Pertama adalah aborsi sebagai pengguguran kandungan atas dasar alasan medis; biasanya untuk menyelamatkan nyawa ibu atau anak dalam sebuah persalinan yang gawat. Yang kedua, aborsi sebagai pengguguran kandungan karena semata-mata kehadiran si jabang bayi tidak diinginkan. Kehadiran tersebut menjadi tidak diinginkan karena banyak alasan, mulai dari aib sosial (si bayi adalah hasil sebuah “hubungan gelap”) sampai kesulitan finansial (orangtua merasa tidak mampu menanggung biaya-biaya ekonomis pemeliharaan si bayi).

Jelaslah perbedaan antara dua macam aborsi tersebut. Yang pertama bertujuan menyelamatkan nyawa, sedangkan yang kedua bertujuan menyelamatkan muka sampai harta dengan mengorbankan nyawa. Nyawa manusia.

Pada Desember 2009 saya melontarkan sebuah tanya di situs jejaring sosial Facebook, menanyakan pendapat masing-masing orang terhadap aborsi. Dari puluhan jawaban yang masuk, semuanya setuju jika pengguguran kandungan dilakukan semata-mata demi alasan medis. Namun hampir semuanya mengutuk aborsi yang dilakukan atas dasar kenyataan bahwa si jabang bayi adalah hasil persetubuhan di luar nikah, dan orangtuanya enggan bertanggungjawab dengan berbagai macam alasan. Yang salah orangtuanya, kenapa si bayi harus jadi korban? Kira-kira demikian pertanyaan yang banyak dilontarkan untuk mengritik praktik aborsi.

Kritik ini ditanggapi oleh kritikus lain. Melahirkan dan membesarkan anak tidaklah semudah yang dibicarakan orang. Menjadi orangtua perlu kematangan psikis, kemapanan ekonomis, dan dukungan sosial agar orangtua dan bayi yang baru tetap dapat melangsungkan kehidupannya secara cukup manusiawi dan bermartabat. Membiarkan seorang anak hidup dan tumbuh tanpa memiliki orangtua yang matang secara psikis, atau mapan secara ekonomis, dianggap sama kejamnya dengan mengaborsi sebuah janin, dan berpotensi menciptakan masalah sosial baru, jika anak tersebut tumbuh dan berkembang menjadi individu yang bermasalah.

Aborsi bisa menjadi teramat dilematis. Bisa saja, kematangan psikis, kemapanan ekonomis, dan dukungan sosial yang diperlukan datang seiring dengan berjalannya waktu. Namun siapa yang bisa menjamin datangnya ketiga hal itu? Orang yang optimistis tentu akan menjawab pertanyaan ini dengan sikap yang sama sekali berbeda dari orang yang pesimistis. Di sini, tampaknya, perlu ada pertemuan yang harmonis antara idealisme dan pragmatisme. Jangan sampai sebuah optimisme atau pesimisme diambil karena sebuah penilaian yang keliru atas kenyataan. Setiap orang perlu mencermati kasus per kasus untuk kemudian memutuskan apakah sebuah janin harus diaborsi atau tidak, dengan mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung.

Jika sebuah keputusan sudah diambil, ia tak dapat lagi diulang. Hidup adalah sebuah seni menggambar tanpa penghapus, kata seorang bijak.