Akibat Cinta Setitik

Saya lagi suka sama neuromarketing. Cuma kalau ditanya alasan pastinya, saya masih bingung kenapa. Rasanya karena sejak dulu saya selalu penasaran sama isi kepala orang. Dan neuromarketing, menurut penjelasan-penjelasan yang sudah saya baca (dan terjemahkan sebagian) punya kemampuan untuk menjawab rasa penasaran itu secara ilmiah.

Pertama kali saya ketemu istilah “neuromarketing” sekitar dua minggu lalu. Waktu itu saya ubah salah satu akun samaran saya yang kurang produktif di Twitter menjadi @marxeter, untuk membantu saya memusatkan pikiran — yang selama ini tercecer ke sejumlah akun samaran dan klien — kepada pemasaran, bidang yang saya tekuni bersama teman-teman di Adsdictive. Logikanya, saya merasa perlu menghidupkan satu karakter baru untuk merebut jatah pikiran saya sendiri, yang selama ini dikonsumsi karakter-karakter lain yang saya ciptakan. Kalau logika ini cukup aneh buat Anda, ini juga cukup aneh buat saya. Setiap orang aneh memang. Dan kalau kita temukan orang yang keanehannya cocok dengan kita, kita ajak orang itu jatuh dalam satu keanehan bersama yang kita sebut cinta, kata Dr. Seuss.

Sejak menghidupi karakter @marxeter saya merasa perlu berusaha mencintai pemasaran. Sebab, DNA karakter itu sendiri “marketer” alias pemasar. Ini bertolak belakang dengan dorongan alami saya yang menjurus romantis, yang membiarkan kata-kata hidup ringan tanpa memikirkan tujuan — sementara dalam pemasaran, kata-kata dipekerjakan untuk membantu klien mencapai tujuan tertentu, yang biasanya cuma melulu uang.

Di sini saya belajar bahwa hidup tidak bisa melulu romantis. Perlu realistis agar kita tidak berakhir tragis, seperti Neil Perry di cerita Dead Poets Society. Tapi tidak bisa juga melulu realistis, karena itu akan membuat kita berakhir brengsek seperti kepala sekolah Welton, yang merusak puisi dengan otak sampahnya.

Jadi, apapun yang melulu-melulu tidak layak dipakai hidup, dan itu sebabnya saya berusaha mencintai pemasaran. Lho, cinta kok diusahakan? Seharusnya cinta datang tiba-tiba, seperti lagu Marcell — dan dorongan alami saya yang menjurus romantis setuju dengan itu. Tapi yang seharusnya itu belum tentu sama dengan kenyataannya. Ini dasar teori hukum murni, yang bukan sekedar teori. Kalau seharusnya cinta datang tiba-tiba, nyatanya orang Jawa bilang cinta datang karena terbiasa. Nyatanya ada pepatah, “Do what you love and love what you do.” Kemudian saya tambahi, “Just in case you cannot love, hate it.” Kenapa? Pertama, karena cinta tidak bisa dipaksakan. Kedua, karena benci dan cinta pada dasarnya sama saja. Sama-sama energi. Cuma labelnya yang beda. Begitu kita mencintai seseorang, sewaktu-waktu kita bisa jatuh benci padanya. Dan gara-gara benci setitik, rusak cinta sebelanga.

Hal yang sama bisa berlaku sebaliknya. Begitu kita membenci seseorang, kebencian itu cuma butuh sedikit sentuhan agar jatuh menjadi cinta. Karena itu, dulu waktu perempuan yang pernah memacari saya pulang kerja setiap hari sambil ngomel soal teman satu kantornya (laki-laki) yang dia anggap menyebalkan, dari cara ngomelnya saya tahu dia akan jatuh kepada laki-laki itu. Namun tahu saja beda dari tahu banget. Meski sebelumnya sudah punya firasat, waktu saya tahu pacar saya kencan beneran dengan laki-laki itu pada saat-saat saya sedang tidak di tempat, siapa yang tidak patah hati?