Aku Cinta Kamu

Terdiri dari tiga kata: aku, cinta, dan kamu.

Berarti untuk sungguh-sungguh mengucapkan kalimat “aku cinta kamu”, yang perlu orang ketahui pertama kali adalah dirinya sendiri: aku. Cinta dan yang dicintai itu urusan nanti.

Jadi siapakah aku?

Ada cerita. Suatu kali Suryamentaram memanggil bocah bernama Harsono yang hendak pergi ke sekolah. “Har, peganglah aku. Nanti aku beri uang jajan,” kata Suryamentaram.

Harsono pun memegang tangan sang filsuf dan Suryamentaram menjawab, “Itu tanganku.” Kemudian Harsono memegang kepala. “Itu kepalaku,” kata Suryamentaram. Saat Harsono memeluknya Suryamentaram berkata, “Itu badanku.” Akhirnya, karena berpikir bahwa yang mengucapkan “aku” adalah mulut, Harsono menutup mulut Suryamentaram.

“I-tu mu-lut-ku.”

Pagi itu Harsono berangkat sekolah tanpa mengerti maksud Suryamentaram tentang “aku”. Aku bukan tanganku, bukan kepalaku, bukan mulutku, bukan pula badanku. Saya coba pikirkan lebih jauh. Mungkin aku adalah keseluruhan diriku. Ini pun saya mentok karena saya tahu aku bukan diriku. Lalu (si)apakah aku?

Mungkin ini ribet, rumit, riwil, dan apa lagi? Mau bilang “aku cinta kamu” saja banyak syaratnya. Padahal orang bilang cinta tak bersyarat. Orang bilang cinta tak butuh alasan apalagi atasan, dan terlebih lagi bawahan. Orang bilang cinta itu telanjang. Orang? Orang siapa? Semakin banyak tanya, semakin ribet jadinya. Ibarat membelah sehelai rambut jadi tujuh kali tujuh, bikin pusing tujuh keturunan. Padahal orang maunya cuma bercinta, nggak pakai pusing.

Mungkin karena itulah orang suka puisi Sapardi Djoko Damono:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

Banyak orang suka puisi ini meski tahu ini mustahil. Mustahil mencintai “dengan kata yang tak sempat diucapkan”. Lebih mustahil lagi mencintai “dengan isyarat yang tak sempat disampaikan”. Kenapa banyak orang suka hal yang mustahil?

Sama seperti ilmu dan hukum, hari ini cinta menuntut bukti. Bukti lewat kata, tindakan, sampai materi. Padahal semakin diberi bukti, cinta semakin menuntut bukti. Cinta terus menuntut bukti karena satu bukti bukan bukti. Banyak apalagi.

Orang tidak merasa cukup mendapat kata cinta hanya sekali. Ingin berkali-kali sampai akhirnya kata cinta tak lagi berarti, sehingga orang menuntut tindakan sebagai ganti. Tindakan berkali-kali sampai akhirnya juga tidak berarti. Yang terbukti cuma kebenaran kata-kata Sudrijanta dalam Ilusi tentang Cinta bahwa “semakin Anda berjuang untuk membuktikan bahwa Anda mencintai, semakin terbukti bahwa Anda tidak mencintai”.

“Bukankah cinta yang sesungguhnya terungkap dengan sendirinya?” tanya Sudrijanta.

Kenapa jadi seserius ini? Karena orang bilang cinta bukan mainan. Karena bukan mainan, maka cinta bukan untuk anak kecil. Cinta cuma untuk orang dewasa. Begitu kata orangtua. Orangtua yang mana? Yang begitu. Anda tahu.

Kalau begitu, apa ukuran kedewasaan?

Andai saya tahu, Anda tidak akan saya beri tahu. Kalau Anda dewasa, pasti Anda akan mencari tahu sendiri. Tidak tergantung para guru dan pujangga, apalagi pendeta. Paling sedikit, Anda akan mencari tahu (si)apa aku yang ada di diri Anda. Baru setelah itu Anda bisa bilang “aku cinta kamu” secara dewasa. Kalau tidak, jadinya seperti saya.

Saya punya anggapan (belum tentu benar) bahwa orang dewasa adalah orang yang sudah mengetahui dirinya sendiri. Orang dewasa tahu apa yang harus dan ingin dia lakukan, juga apa yang sedang dia lakukan. Saya belum mengetahui diri saya. Saya sering tidak yakin dengan apa yang harus dan ingin saya lakukan, termasuk ketika menulis ini. Tulisan ini iseng saja. Dan iseng adalah pekerjaan anak-anak. Saya tahu saya kekanak-kanakan.

Tapi saya tahu saya punya bakat melantur. Tadi soal aku, kemudian soal cinta. Lalu soal kamu? Apa saya harus melantur juga soal kamu? Saya tidak yakin. Mestinya kamu yang melantur soal kamu. Saya tidak berani melantur soal kamu karena melantur soal aku dan cinta saja belum tentu benar. Namanya juga melantur.

Lalu yang benar seperti apa? Saya tidak tahu. Bukankah banyak orang begitu? Tahu yang salah, tapi tidak tahu yang benar. Tahu yang benar, tapi tidak bisa menjalankan. Orang sering merasa bersalah di jalan yang benar, dan sebaliknya. Saya termasuk orang kebanyakan. Jadi setiap saya bilang “aku cinta kamu” bisa hampir dipastikan saya ngawur. Semoga Anda tidak.

Kalau iya, juga nggak apa-apa. Kita sama. Hahaha.