Aku Tukang Bohong

Salah satu wejangan Pramoedya Ananta Toer yang paling aku ingat — selain “menulis adalah bekerja untuk keabadian” — adalah “semua harus ditulis”. Tulis, tulis, dan tulis, suatu saat pasti berguna! Konon begitu kata Pram dalam novel Rumah Kaca-nya.

Entahlah, aku sendiri belum pernah membaca novel itu. Belum ada dorongan dari dalam diriku untuk melakukannya, karena sejak dulu aku memang tak merasa tertarik dengan Pram. Tetapi mungkin kini, setelah aku renung-renungkan lagi, justru di situlah sebetulnya kemalanganku terletak.

Dalam ketidaktahuanku terhadap konteks wejangan Pram, aku memiliki anggapan bahwa semua hal memang harus ditulis. Jika sesuatu (gagasan, pemikiran, atau pengalaman) dilewatkan begitu saja tanpa dicatat (secara tertulis), ia akan mubazir, dan mungkin, menjadi mudarat. Anggapan ini, kini, setelah aku sadari dan lihat ke belakang, tampak sebagai penyebab mengapa aku selama ini selalu terpacu untuk menulis, tapi juga selalu tertekan.

Detik demi detik kehidupan berasa seperti pertarungan antara yang maslahat dan mudarat. Jika aku berhasil menuliskannya, maka aku mencapai maslahat. Jika sebaliknya, berarti aku cuma pembuat mudarat. Dan jika musim “paceklik” tulisan tiba, aku bisa merasa diri sebagai orang paling tak berguna sedunia. Harga diriku jatuh, ada rasa minder, dan — ini yang paling jelek — muncul berbagai mekanisme untuk menonjolkan diri, berpretensi untuk menutupi (apa yang aku sangka sebagai) kekuranganku. Namun setelah “paceklik” itu lewat, aku malah cenderung sombong.

Tapi benarkah wejangan Pram itu? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, benarkah penafsiranku terhadap wejangan Pram itu? Haruskah semua ditulis dengan pena dan kertas dalam bahasa, lengkap dengan berbagai nomina, verba, dan gramatikanya? Haruskah?

Aku ingat pembicaraanku dengan Slamet beberapa bulan yang lalu. Waktu itu Slamet yang baru saja bekerja untuk Institut Pluralisme Indonesia datang ke Salatiga, dan antusias bercerita tentang perkenalannya dengan seorang spiritualis di Rembang. Mereka telah bicara banyak soal sejarah Lasem, dan sepertinya, Slamet mendapat banyak wejangan di sela-sela tuturan sejarah sang spiritualis. Salah satunya adalah wejangan yang mengatakan bahwa “orang pintar bisa membaca dan menulis tanpa papan”. Apa maksudnya?

Kata “papan” bisa dimaknai secara sempit sebagai “sebuah bidang ‘datar’ yang lazim terpampang di kelas, tempat guru dan murid menuliskan sesuatu yang ‘umum’ bagi seluruh penghuni kelas, seperti soal ulangan atau diktat pelajaran”. Tapi dalam bahasa Jawa — bahasa-ibu sang spiritualis — kata papan memiliki arti yang lebih luas, yakni “tempat”. Dan berbekal batasan baru ini, batasan “papan” yang dimaksud bisa diperluas hingga ke “lembaran buku”, “ruang perpustakaan”, “lingkungan kampus”, dan bahkan “dunia”.

Di sinilah kebingungan bermula. Membaca dan menulis tanpa buku sangat mudah dilakukan. Aku bisa membaca situasi (di rumah/kampung/kota/negara/dunia), misalnya, dan mengambil sebuah tindakan. Dan sebuah tindakan bisa disebut berbicara lebih keras daripada seribu kata-kata terucap, atau berbekas lebih jelas daripada seribu kata-kata tertulis. Tindakan seseorang dapat tercatat/teringat/tertulis dalam pikiran orang lain (juga pikirannya sendiri) — dan catatan itu dapat dituangkan dalam bentuk tulisan (buku/berita/esai/sajak) maupun lisan (gosip/diskusi/kuliah/wawancara). Maka benarlah pepatah yang mengatakan bahwa semua orang sedang “menulis” sejarahnya masing-masing. Tapi, apakah itu berarti semua orang sudah pintar? Kata “pintar” akan kehilangan maknanya jika demikian, karena yang “pintar” itu baru ada jika terdapat pula yang “tidak pintar” atau “bodoh”. Lagipula, bukan itu “pintar” yang dimaksud sang spiritualis. Orang pintar adalah orang yang bisa membaca dan menulis tanpa papan. Tapi bagaimana caranya membaca dan menulis tanpa “dunia”? Atau, agar lebih jelas, bagaimana caranya membaca dan menulis di luar “dunia”?

Ini sesuatu yang mustahil. Memangnya dimensi luar “dunia” itu ada?

Ketika mengingat kembali masa-masa “paceklik”, dimana aku bisa hampir putus asa karena nyaris sebulan penuh tak bisa (atau kesusahan) menulis, aku memandang ke dalam diriku sendiri dan mengajukan pertanyaan “kenapa”. Apakah aku memang orang tak berguna? Jujur saja, ini bukan pertanyaan yang gampang dijawab secara hitam-putih, ya atau tidak.

Aku bisa saja merupakan seorang yang tiada guna. Kalau memang demikian adanya, lantas buat apa aku hidup? Atau lahir? Apakah hidup ini tak berguna? Apa ia hanyalah sebuah jeda singkat di antara kematian? Di antara ketiadaan (hidup)? Tapi kalaupun benar demikian, kenapa jeda itu sampai ada? Untuk apa? Jika kehidupan berasal dari ketiadaan dan bergerak menuju ketiadaan pula, kenapa prosesnya tak dipercepat hari ini? Dan kenapa aku harus mengusahakan kehidupan yang “baik dan benar”?

….

….

Aku tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanku sendiri.

Aku mulai benar-benar menyadari, ada banyak hal yang ternyata tak bisa diceploskan lewat kata-kata. Dalam sebuah diskusi, Yulius Yusak Ranimpi, seorang dosen psikologi, mengatakan padaku bahwa bahasa merupakan sebentuk keterbatasan manusia. Liek Wilardjo, guru besar fisika yang juga disebut-sebut sebagai ahli bahasa, mengungkapkan hal ini lebih jelas ketika dia menjelaskan kata “paradigma”. Arti kata “paradigma” dapat dimengerti secara tacit, kata Liek, namun sulit sekali diceploskan dalam takrif berpola terminus definiendum = genus proximum + differentia specifica. Liek mengutip pendapat Satjipto Rahardjo, seorang guru besar sosiologi hukum, bahwa “paradigma”, jika diremas ke dalam suatu rumusan, justru akan mrojol selaning driji (keluar dari genggaman melalui sela-sela jemari).

Itu baru kata “paradigma”. Bagaimana dengan yang lain? Hampir dua puluh tahun yang lalu, Liek juga pernah menjelaskan bahwa istilah-istilah teknis biasanya dirumuskan dengan ketat untuk memperkecil kemungkinan disalahtafsirkan. Jika penakrifan genus-differentia tak cukup, ia masih pula dilengkapi dengan ilustrasi, contoh, lambang, rumus matematika, dan sebagainya. Kendati demikian, hasil penakrifan itu pun lambat laun bisa “mengalah”, karena makna suatu kata dapat bergeser, meluas, ataupun menyempit.

Contoh lain yang kiranya baik juga untuk diutarakan di sini adalah kata “cinta”. Siapa tahu makna kata ini sebenarnya? Aku jelas tidak. Aku justru yang sedang bingung. Orang dapat melakukan dua perbuatan yang saling berlawanan, namun sama-sama mengatasnamakan cinta. Orang yang mengaku jatuh cinta dapat menjadi posesif dan memperlakukan manusia layaknya barang — ini memberi peyorasi pada kata “cinta”. Di tempat lain, ada orang yang melakukan sesuatu tanpa pamrih bagi orang lain karena cintanya. Jadi bagaimana memaknai cinta yang sebenar-benarnya? Ah, aku jadi ingat transkrip wawancara dengan Tuhan di buku God on God. Di sana Tuhan menyatakan dirinya sebagai Roh Kasih (Spirit of Love), sembari menegaskan bahwa dirinya tak dapat dibatasi secara rapi (can’t be defined neatly). Apakah ini memberi penjelasan mengapa cinta juga tak dapat didefinisikan secara rapi? Lucunya, kontradiksi yang dialami kata “cinta” dan “Tuhan” ternyata mengambil bentuk serupa. Ada banyak orang menumpahkan darah manusia atas nama Tuhan. Ada pula yang mengusahakan perdamaian atas nama Tuhan. Pertanyaannya, Tuhan yang mana? Dan apakah “restu ilahi” untuk perbuatan-perbuatan semacam itu benar-benar ada?

Ketika mendatangi sebuah “taman rahasia” di antara tebing-tebing Siung awal April lalu, ada sebuah nuansa “janggal” yang aku dapatkan. Ia sangat “menggembirakan”, “menenteramkan”, dan begitu “luhur”, sehingga aku ingin membaginya pada orang lain melalui tulisan. Tapi aku malah sampai pada kebingungan yang menyedihkan. Aku tak bisa menemukan kata yang benar-benar tepat untuk membahasakan realitas yang aku alami waktu itu. Bahwa sekarang aku mendepiksinya dengan kata-kata “menggembirakan”, “menenteramkan”, dan “luhur”, itu sendiri belumlah cukup untuk menyatakan realitas tersebut seutuhnya. Dan ketika deretan kata tersebut dipandang sebagai realitas itu sendiri, makna sebenarnya akan kian tereduksi dan menjadi hambar.

Padahal, mungkin, penampakan fisik yang aku alami biasa saja. James, yang waktu itu berdiri beberapa meter di belakangku, mungkin tahu itu. Istilah “taman” bahkan bisa dibilang terlalu “wah” untuk tempat itu. Ia hanyalah sepetak tanah yang dikelilingi tiga blok tebing karang, yang agak terpencil dari bibir pantai karang Siung — pantai yang, dengan segala kemolekannya, telah membuat James berikrar untuk mengambil foto-foto pranikahnya di sana.

Di atas tanah itu berdiri sebuah gardu panggung kayu yang dulu masih cukup kokoh sebagai tempat tidur beberapa orang, namun kini langsung reyot begitu kaki menjejak alasnya. Tumbuh-tumbuhan liar tumbuh di sekeliling tanah itu, dan menyisakan sedikit ruang kosong di bagian tengah. Secara aneh, sebagian ruang kosong itu tertanami beberapa tumbuhan yang teratur jaraknya, yang seingatku, belum ada saat kedatangan pertama kami dulu — tahun 2007. Jalan setapak menuju tempat itu sendiri telah membelukar lebat, sehingga mungkin sekali ia telah dilupakan orang. Aku hanya berdiri terpaku di tengah ruang kosong itu, menatap tebing karang yang beku.

Secara visual, tak ada yang spesial. Secara audible pun sepi (atau hening?), dan yang ada hanyalah suara ombak Samudera Hindia mendebur dari balik karang, serta beberapa serangga dan burung laut. Aku merasa seperti berada di tengah-tengah altar alam, sedang “berdialog” dengan “seseorang” dalam “bahasa” yang tak mampu aku nalar, namun membawa “ketenteraman” dalam setiap “verba”-nya. Aku merasa begitu “tenang” dan “jernih”, sehingga apapun yang ada dalam pikiranku waktu itu dapat aku lihat hakikat ultimanya.

Dengan begitu saja, aku mengetahui bahwa Tuhan memang ada. Setiap orang yang menolak (keberadaan) Tuhan, sebenarnya sama saja dengan menolak kebenaran. Dan jika penyangkalan terhadap (keberadaan) Tuhan sama dengan penolakan terhadap kebenaran, maka kebenaran itu sendiri adalah Tuhan. Dan Tuhan adalah kebenaran. Jika selama ini manusia tak dapat mengetahui keberadaan Tuhan dengan rasio, maupun inderanya, itu tidak berarti Tuhan tidak ada. Apa sing ora diweruhi kuwi dudu sing ora ana, mung manungsane sing ora weruh, kata Ki Wagiman Danu Rusanto. Dan manusia seringkali “sengaja” menaifkan diri dengan mencoba melihat sesuatu yang rohaniah dengan mata jasmaniah. Padahal kemampuan mata jasmaniah itu sendiri — bahkan di alam fisik — amat sangat terbatas. Pengamatan terhadap alam metafisik (atau spiritual?) dengan mata jasmaniah manusia, sesungguhnya, merupakan dosa epistemik yang serius.

Kisah wayang Bima dalam lakon Dewa Ruci juga mungkin ada benarnya. Ketika manusia manunggal dengan Tuhan, ada sebuah perasaan tenteram tak terperi, tiada tara. Dalam istilah Jawa, ini disebut manunggaling kawula lan Gusti. Dalam teologi Kristen, ia diceploskan dalam kalimat “kamu di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu”. Simbol Yudaisme untuk kemanunggalan ini adalah Bintang Daud (Star of David) — persatuan antara dua segitiga sebangun yang saling merefleksi. Lantas apakah ini berarti manusia adalah Tuhan itu sendiri? Tidak, bukan seperti itu. Manusia memang memiliki setitik cahaya ilahi dalam dirinya, tetapi dia tidak mungkin ilahi dalam dirinya sendiri.

Pencarian terhadap kebenaran yang sejati, sebenarnya sama saja dengan pencarian terhadap Tuhan, dan pencarian terhadap diri sendiri. Maka benarlah jika ada orang yang mengatakan bahwa kebenaran sebetulnya sudah ada dalam diri setiap manusia. Namun, sekali lagi, manusia hanya memiliki setitik cahaya kebenaran itu dalam dirinya, dan dia tidak menjadi benar absolut dalam dirinya sendiri.

Oleh karena itu, mengejar pengenalan akan diri sendiri bisa jadi merupakan salah satu bentuk upaya memahami kebenaran, dan juga Tuhan. Di sini, lagi-lagi, terdapat kesejajaran antara ketiga hal tersebut, dalam hal titik akhirnya.

Tuhan sebagai sosok yang transenden, yang tak terjangkau sepenuhnya oleh penalaran manusia, sudah diamini oleh para agamawan. Hal ini sejajar dengan apa yang terjadi di dunia ilmu, dimana para ilmuwan juga mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang transenden, yang titik akhir pencariannya ada di luar jangkauan manusia. Manusia selalu resah. Dia selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul pengetahuan-pengetahuan baru, tanpa henti. Dan dengan filsafat, manusia kembali mempersoalkan jawaban atas pertanyaan itu, hingga muncul jawaban baru. Keresahan seperti ini, kata Nathanael Daldjoeni, bertalian erat dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia, keberadaban manusia yang transenden!

Kenyataan ini seyogyanya turut menyadarkan manusia, bahwa dirinya sendiri bukanlah “objek” yang bisa usai terselami, bahkan oleh dirinya sendiri. Kadang aku melakukan (atau memikirkan) hal-hal yang aku sendiri tak pernah sangka akan aku lakukan (atau pikirkan). Kadang aku bertindak sangat tidak rasional, dan mengandalkan sepenuhnya “intuisi”. Namun aku juga masih sering bergelora dalam “saintisme”. Aku masih terus belajar mengenali diriku, sadar bahwa Satria yang kemarin bukanlah Satria hari ini. Satria sedetik yang lalu, bukanlah Satria saat ini. Dan barangkali, sebuah sajak Iqbal dalam Bang-I-Dara, yang aku baca lewat Goenawan Mohamad, bisa memperjelas situasi.

“Iqbal ini”, kata sang mullah kepada seorang kenalan,
“adalah seekor merpati di pohon kesusastraan.
Tapi bagaimana ketentuan teguh agama bisa sesuai
Dengan orang ini, yang alahkan Kalim dalam puisi?
Katanya ia menganggap seorang Hindu bukan kafir,
Itu ‘kan pendapat yang tak pakai dipikir

……

Ah, apa sebenarnya kawan ini, aku tak bisa mengerti
Mungkin dia sedang bikin Islam model sendiri?
Jawab Iqbal terhadap teguran sang mullah sangat sabar. Ketika sang penyair bertemu dengan ulama itu, ia menjelaskan:
“Jika sifat dasarku tak dapat Anda urai,
Jangan takut Anda akan tak lagi disebut serba piawai. Sebab bagiku sendiri diriku tetap teka-teki,
Laut pikiranku tak kunjung dapat kuarungi.
Aku pun ingin mengenal Iqbal yang sebenarnya ini…

Menurut GM, menjelang akhir sajak tersebut sang penyair berkata, “Tentang Iqbal, Si Iqbal ini tahu hanya sedikit….”

Jika tentang Satria saja Satria tahu hanya sedikit, maka betapa bodohnya Satria ini. Dia mestinya tak punya hak untuk berkoar “Aku (paling) tahu siapa aku” … apalagi “Aku (paling) tahu siapa kamu”. Tapi Evan, adiknya yang baru lulus SMA, sepertinya lebih memahami duduk perkara ini ketimbang dirinya.

Evan berencana masuk Fakultas Psikologi UKSW tahun ini. Dia menyampaikan pertimbangannya kepada Ibu, bahwa belajar psikologi akan membantunya untuk lebih bisa mengerti dirinya sendiri. Pikiran seperti ini tak pernah aku punyai dulu. Tapi benarkah psikologi bisa membantu?

Kalau manusia selama ini dianggap terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, kenapa tidak? Bukankah psikologi — terlihat dari namanya saja — mempelajari kejiwaan?

Masih ingat film Tokyo Drift? Suatu malam, di atas sebuah gedung pencakar langit di Tokyo, Shawn Boswell mendapat wejangan dari mentor balapnya, Han. Who you choose to be around you lets you know who you are, begitu kata Han. Tak lama setelah itu, mereka terlibat dalam sebuah aksi kebut jalanan dengan DK dan anak buahnya. Dalam kecelakaannya, mobil Han terpelanting dan meledak di tempat.

Wejangan Han itu, agaknya, sesuai dengan teori William Schutz, psikolog Freudian dari Amerika, yang membagi kebutuhan antarpribadi manusia menjadi tiga: inklusi, kontrol, dan afeksi. Kebutuhan akan inklusi (ketermasukan) menyatakan bahwa setiap orang ingin memiliki hubungan antarpribadi yang menyangkut interaksi dan asosiasi dengan pribadi yang lain. Setiap orang butuh sense of belonging. Mereka ingin “termasuk” dalam golongan tertentu, agar dapat merasa dikenali sebagai orang yang memiliki identitas.

Masalah cinta juga bisa dibicarakan kembali di sini, dengan menyoal jenis kebutuhan yang disebut terakhir. Kebutuhan akan afeksi secara khusus dibedakan dari dua kebutuhan lainnya, dalam hal jumlah orang yang terlibat. Jika inklusi dan kontrol biasanya adalah kebutuhan satu individu dengan (agak) banyak orang, maka afeksi biasanya adalah kebutuhan satu individu dengan (hanya) satu individu lain — bersifat “dyadic”.

Psikologi analitis Carl Jung bisa memperjelas ini dengan konsep anima/animus. Jung membagi hidup psikis manusia ke dalam bagian yang sadar dan taksadar. Bagian taksadar kemudian dibagi lagi menjadi taksadar pribadi dan taksadar kolektif. Katanya, yang taksadar kolektif ini mengandung hal-hal yang tidak disadari orang, namun umum pada masyarakat secara universal, melintasi batas-batas kebudayaan — tidak berdasarkan riwayat hidup individu itu sendiri. Ia memang dapat mengalami modifikasi berdasarkan riwayat hidup masing-masing, namun tidak bersumber dari riwayat hidup itu, catat John Verhaar tentang ketaksadaran kolektif.

Anima dan animus adalah salah dua unsur dari yang taksadar kolektif itu. Anima adalah unsur feminin pada laki-laki, sedangkan animus adalah unsur maskulin pada perempuan. Tesis ini punya dukungan dari ilmu kedokteran, dimana sudah umum diketahui bahwa laki-laki memiliki hormon-hormon feminin, dan perempuan memunyai hormon-hormon maskulin. Anima dalam diri laki-laki — sebagaimana animus dalam diri perempuan — adalah khayalan ideal tentang pasangan hidupnya, perempuan idamannya. Seperti kata Verhaar, khayalan ini bisa mengalami modifikasi dari berbagai pengalaman historis masing-masing individu — biasanya, dan terutama, oleh figur ibunya.

Meskipun istilah “anima” dan “animus” dipinjam Jung dari bahasa Latin yang berarti “jiwa”, namun dalam ajaran Jungian mereka “tereduksi” menjadi salah dua unsur dari jiwa itu sendiri. Mungkin inilah sebabnya, ketika seorang laki-laki menemukan pasangan hidup yang sesuai dengan animanya, dia dikatakan telah “menemukan” belahan jiwanya.

Ajaran psikologi Barat ini memiliki paralelitasnya dalam khazanah Jawa. Sudah sejak lama masyarakat Jawa menggunakan istilah garwa untuk “pasangan hidup”. Garwa sendiri adalah gabungan kata sigaraning (artinya “belahan”) dan nyawa (“jiwa”). Dan menemukan sigaraning nyawa itu, belahan jiwa itu, semestinya bisa membantu seseorang dalam membangun pemahaman yang lebih utuh tentang jiwanya, dan juga, pada akhirnya, dirinya. Kira-kira begitu.

Namun catatan ini aku pikir tak cukup untuk mewakili nuansa yang aku alami di Siung — kata-kata yang aku cetak tebal hanyalah catatan “buah pemikiran” yang aku dapat ketika berada dalam nuansa itu (selebihnya merupakan penjelasan yang aku ketik saat ini, atau sempat aku rumuskan secara lisan kepada James waktu itu). Nuansa itu sendiri tetap akan luput, kurang sreg, dan akan tereduksi jika aku “memperkosanya” masuk ke dalam tulisan. Nuansa itu, realitas itu, berhenti pada pemahaman tacit belaka.

Untungnya, aku bukanlah satu-satunya orang yang berhadapan dengan problem semacam ini. Di buku The Tao of Physics, fisikawan Fritjof Capra menerangkan bagaimana paradoks realitas subatomik telah membuat para fisikawan kebingungan untuk memahaminya, dan juga membahasakannya! Capra mengutip kata-kata fisikawan Werner Heisenberg, “Berbagai persoalan bahasa di sini sungguh serius. Kita berharap bisa berbicara dalam suatu cara mengenai struktur atom-atom …. Tetapi kita tidak bisa berbicara tentang atom-atom dalam bahasa biasa.” Baru setelah paradoks itu terpahami, Heisenberg berkata, “Entah bagaimana mereka sampai juga pada semangat teori kuantum,” dan akhirnya mereka menemukan formulasi matematis yang tepat serta konsisten untuk teori itu.

Catatan The Tao of Physics tentang kebingungan mistikus Timur menghadapi realitas mistis mungkin bisa lebih relevan dengan kebingunganku. Realitas ini disebut melampaui pemikiran nalar, sekaligus persepsi inderawi. Bagian kitab Weda yang berisi intisari pesan spiritual Hinduisme, yakni Upanishad, memuat pernyataan atas hal ini: “Tak bersuara, tak tersentuh, tak berbentuk, tak termusnahkan, tak berasa, tak bergeming, tak tercium, tanpa awal, tanpa akhir, lebih agung dari yang agung, tak berubah — dengan mengenali-Nya, orang terbebas dari mulut kematian.”

Orang Buddhis menyebut pengetahuan yang berasal dari pengalaman atas realitas tersebut sebagai “pengetahuan mutlak”. Ia tak terdiskriminasi, tak terabstraksi, dan tak terklasifikasi nalar yang selalu relatif dan kira-kira. Orang Buddhis berpendapat bahwa pengalaman ini adalah pengalaman langsung “kesedemikianan” yang tak terdiferensiasi, tak terpisahkan, tak terbatas, karena realitas itu sendiri tak akan pernah bisa dideskripsikan secara memadai melalui kata-kata dan konsep, yang turun dari wilayah inderawi dan nalar. Upanishad juga menegaskan:

Ke sana mata tak sampai,
Perkataan tak sampai, begitu juga pikiran.
Kita tak tahu, kita tak paham
Bagaimana orang akan mengajarkannya.

Chuang Tzu, seorang guru Taois, mengatakan, “Jika bisa dibicarakan, setiap orang pasti akan memberitahu saudaranya.” Namun kata-kata ini tidaklah bermaksud agar setiap orang merahasiakannya dari saudaranya. Sebaliknya, realitas-realitas mistis tersebut boleh dialami oleh setiap orang, yang memang benar-benar mau mengalaminya secara langsung. Mungkin inilah yang disebut orang Jawa sebagai laku dalam ngelmu, bahwa ngelmu kuwi tinemune kanthi laku. Jika seseorang belum nglakoni sendiri, pengetahuannya belumlah “lengkap”, karena hanya didasarkan pada penalaran biasa, dan katanya. Padahal, “Tao yang terucap bukanlah Tao yang abadi,” ungkap Lao Tzu.

Namun guru-guru Buddhisme Zen memiliki cara menarik untuk “mengajarkan” realitas ini lewat kata-kata. Jika Werner Heisenberg akhirnya “berhasil” mengungkapkan paradoks realitas subatomik lewat bentuk matematis prinsip ketidakpastian, dan Hinduisme India membungkus ajaran-ajaran filsafatnya dalam mitos dewa-dewi, maka guru-guru Zen mengungkapkan “kesedemikianan” realitas dalam bentuk koan, yang oleh Capra disebut sebagai teka-teki tak masuk akal, “yang persis dirancang untuk menghentikan proses berpikir dan karena itu membuat sang murid siap untuk pengalaman realitas nonverbal”. Karena berbentuk teka-teki (“Kau bisa membuat bunyi dua tangan bertepuk. Sekarang seperti apa suara dari satu tangan?”), para murid didorong untuk memunculkan jawabannya sendiri dari kesadaran intuitif masing-masing. Dan ketika solusinya didapat, menurut Capra, koan tak lagi paradoks dan menjadi pernyataan bermakna mendalam. Mungkin inilah perbedaan antara ajaran spiritual Timur dengan agama-agama “langit” yang dogmatis dari Timur Tengah — meskipun mereka juga sama-sama tergolong ke dalam pengetahuan esoterik.

Problem kebahasaan dalam “transfer makna” ternyata sudah cukup klasik. Jika di dunia fisik saja ada banyak realitas yang sulit (atau tak bisa) dibahasakan, apalagi di dunia metafisik mistisisme. Tapi rasa-rasanya, realitas-realitas tersebut memang tak selalu harus (dan tak selalu perlu) dibahasakan (apalagi diceploskan secara tertulis), karena akan mereduksi maknanya — dan mungkin inilah arti wejangan sang spiritualis kepada Slamet, bahwa ada realitas di luar dunia (fisik material) yang hanya bisa dibaca dan ditulis dalam “bahasa” nonverbal.

Ketika aku berkata pada seorang perempuan, “Aku cinta padamu,” bukan itulah (realitas) cinta yang sebenarnya. Cinta yang sebenarnya ya ada di sini, di dalam “hati” ini, dan ia hanya bisa dirasakan langsung, bukan dengan kata-kata. Dan ketika aku mengucapkan (atau menuliskan) sesuatu yang bukan sebenarnya, apa bedanya aku dengan pembohong?

Kini pun aku sedang berbohong karena menuliskan pergumulan yang tak sebenarnya. Pergumulan yang sebenarnya adanya di sini, di dalam diriku. Tulisan ini hanyalah catatan tentang pergumulan itu. Dan tulisan ini, kebohongan ini, bisa dianggap jujur kalau ia berkaitan dengan realitas yang terjadi di dalam diriku. Tapi kalau tidak, berarti kebohongan ini tidak jujur.

5 Comments

  1. Tidak semua hal harus ditulis, tetapi cukup diperbincangkan (dengan bahasa yang seringkali terbatas – tak selalu menjelaskan yang sebenarnya) dan dicatat dalam hati (ini mungkin salah satu contoh menulis tanpa papan):

    Kitab (yang dianggap) Suci-pun sudah memberi petunjuk, antara lain: “Terimalah apa yang diajarkan mulut-Nya, dan taruhlah firman-Nya dalam hatimu.” (Ayub 22:22).

    Bahkan, walau tidak semua harus ditulis, menulis tetap tidak akan pernah selesai:
    “Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.” (Pengkhotbah 12:12)

    Oleh karena itu, mengejar pengenalan akan diri sendiri bisa jadi merupakan salah satu bentuk upaya memahami kebenaran, dan juga Tuhan.

    Hm.. jadi ingat hakikat pendidikan dari Ki Ageng Suryamentaram, yang kurang lebih: pendidikan adalah upaya pendidik terhadap yang dididik, agar memahami dirinya sendiri — ya lanjutannya, ketika seseorang paham bahwa dirinya belum paham, maka akan terus mencari tahu…terus belajar.. dan yang terjadi adalah belajar seumur hidup.

    Juga jadi ingat tulisan “Kebenaran sesungguhnya tidak pernah dikotbahkan oleh Sang Buddha, sebab seseorang harus menyadarinya didalam dirinya sendiri” (Lamkara Sutra)

    Kini pun aku sedang berbohong karena menuliskan pergumulan yang tak sebenarnya. Pergumulan yang sebenarnya adanya di sini, di dalam diriku.

    Benar.. semua tulisan adalah kebohongan, jika definisi kebohongan adalah menyatakan yang tidak sebenarnya, karena tulisan itu bukan yang ditulis. Ketika ditulis “aku cinta kamu”, maka itu bukanlah keseluruhan dari cinta, melainkan hanya sebagian dari ekspresi ‘cinta’ yang ada dalam hati dan pikiran, bahkan ketika seseorang sebenarnya sedang mencintai orang lain dapat dengan meyakinkan menulis “aku cinta padamu” pada seseorang.

    Ketika ‘gembira’ diungkapkan melalui tulisan, maka tulisan itu hanyalah “catatan’ tentang (rasa) gembira yang (sudah) terjadi, atau bahkan dari sebuah imajinasi (rasa) gembira yang tidak pernah benar-benar terjadi. Catatan bukanlah yang dicatat.

    Jadi, walau didalam tulisan dan kata-kata (bahasa) ada keterbatasan ketika digunakan untuk menyampaikan yang ada “di dalam diri ini”, masih lebih baik menulis dan berkata-kata dengan risiko disalah mengerti, daripada diam saja. Diam tak selamanya emas, kadang cuma kuning belaka (dan… bau lagi..).
    Beranikah kita menanggung risiko disalahmengerti ketika mengungkapkan sesuatu melalui kata-kata dan tulisan.

    Pengalaman saya, ketika mengungkapkan melalui tulisan bahwa saya percaya pada Tuhan YHWH dan bukan kepada Tuhan Allah, maka banyak yang salah mengerti, dianggap Saksi Yehova-lah, dianggap “tauhid”-lah, dianggap bukan Kristen-lah, dianggap ‘pemuja nama’-lah.. dan bahkan dianggap bodoh, bebal dan sesat, oleh beberapa orang yang MERASA paling benar. Mereka sebenarnya tidak mengerti, namun merasa mengerti tentang saya, dan memberi penilaian tertentu, bahkan ada orang yang tidak mau berdiskusi tentang hal ini, dengan yakin menyatakan “aku sudah tahu mas Wit kok..” he he he..bisa dibayangkan jika kita berdiskusi dengan orang-orang yang ’sudah (merasa) tahu’.

    Setelah membaca keseluruhan tulisan diatas, saya juga tidak tahu sebenarnya ‘perasaan’ apa yang ada dalam dirimu ketika melihat ‘taman’ di pantai Siung. Mungkin dapat sedikit tahu ketika saya juga berada disana, melihat apa yang kamu lihat. Tetapi saya-pun ragu, karena apa yang saya lihat, belum tentu sama dengan yang kamu lihat, apa yang kamu rasakan belum tentu sama dengan yang aku rasakan.

    Apalagi jika waktunya sudah berganti, penglihatan dan perasaanpun akan berubah, sebab kemarin adalah kenangan, dan esok adalah harapan/imajinasi, di sana adalah cerita, yang nyata hanya kini, disini.

  2. pacarku(yang dulu) pernah nanya ke aku “seberapa besar cintamu?”

    aku: “tidak bisa diukurlah. aneh.”

    pacar (yang dulu): “harus bisa” (dengan memaksa dan sedikit gigitan :)))

    aku: “hmm..sebesar ruangan ini” (ruang tidurku :-p)

    pacar (yang dulu): “masa cuma sekecil itu?” (bertanya sambil liat ke daerah perut ke ……)

    aku: “sebesar bumi ini deh”

    pacar (yang dulu): “cuma segitu?” (dengan nafas yang memburu)

    aku: “ya sudah, sebesar bima sakti deh”

    pacar (yang dulu): (senyum, sepertinya dia puas)

    saat itu aku tau kalo aku bohong, hati-ku sebesar kepalan tanganku, bandingkan saja sama bima sakti. terus bagaimana?

    aku coba membuat kata cinta sebagai definiendum, dan mencari-cari genus proximum dan diferentia specifica-nya.

    tga ngaruh.

    kalo tidak mau bohong, tidak usah bilang “aku cinta padamu”
    tapi kalo tidak bilang “aku cinta padamu”, bagaimana?

    aku tidak tau ini lagi nulis apa.
    tiba2 aku jadi ingat sama si doi :-p gara2 dialog kami itu.

    belum selesai.

    pacar (yang dulu): “bisa lebih besar lagi?”

    aku: (senyum)

  3. bole mnt contoh cerpen ttg teori anima n animus gag??

    msh bgung sm teori itu

Trackbacks

  1. [...] Aku tidak ingin membahas lagu, tapi itu satu-satunya lagu yang aku ingat ada kata ”katanya”, ketika hendak menulis tentang ”katanya”, yang sudah lama pernah muncul di salah satu sudut otakku, dan menjadi semakin jelas setelah membaca tulisan STR berjudul ”Aku tukang bohong”. [...]

  2. [...] Orang bisa membaca dengan teliti tulisanku, boleh mendengar dengan cermat yang aku ucapkan, tapi tidak bisa mengetahui (semua) isi pikiranku yang sebenarnya. Ketika menulis aku bisa saja bercanda, atau pura-pura, dan kalau aku sedang bercanda atau pura-pura, bukankah tulisan itu semua adalah kebohongan? (baca tulisan STR: Aku tukang bohong) [...]

Leave a Comment




  • Recently Written

    • Mencoba MengertiKehidupan adalah puisi. Bisa dibaca, tapi sulit dimengerti. Berbahagialah mereka yang mengerti arti kehidupan.
    • Penangkal DosaAndai waktu itu Hawa lakukan itu, mungkin dia tidak akan sampai termakan bujukan ular dan...
    • Balada Tempat SampahSaya paling jengkel kalau lihat perempuan nangis sesenggukan sampai mukanya bengkak.