<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Aku Tukang Bohong</title>
	<atom:link href="http://satria.anandita.net/aku-tukang-bohong.str/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://satria.anandita.net/aku-tukang-bohong.str</link>
	<description>I&#039;m going nowhere</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 09:48:58 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: James</title>
		<link>http://satria.anandita.net/aku-tukang-bohong.str#comment-2318</link>
		<dc:creator>James</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 08:30:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=185#comment-2318</guid>
		<description>pacarku(yang dulu) pernah nanya ke aku &quot;seberapa besar cintamu?&quot;

 aku: &quot;tidak bisa diukurlah. aneh.&quot;

 pacar (yang dulu): &quot;harus bisa&quot; (dengan memaksa dan sedikit gigitan :)))

 aku: &quot;hmm..sebesar ruangan ini&quot; (ruang tidurku :-p)

 pacar (yang dulu): &quot;masa cuma sekecil itu?&quot; (bertanya sambil liat ke daerah perut ke ......)

 aku: &quot;sebesar bumi ini deh&quot;

  pacar (yang dulu): &quot;cuma segitu?&quot; (dengan nafas yang memburu)

 aku: &quot;ya sudah, sebesar bima sakti deh&quot;

  pacar (yang dulu): (senyum, sepertinya dia puas) 

saat itu aku tau kalo aku bohong, hati-ku sebesar kepalan tanganku, bandingkan saja sama bima sakti. terus bagaimana? 

aku coba membuat kata cinta sebagai definiendum, dan mencari-cari genus proximum dan diferentia specifica-nya.

tga ngaruh.

kalo tidak mau bohong, tidak usah bilang &quot;aku cinta padamu&quot;
tapi kalo tidak bilang &quot;aku cinta padamu&quot;, bagaimana?

aku tidak tau ini lagi nulis apa. 
tiba2 aku jadi ingat sama si doi :-p gara2 dialog kami itu.

belum selesai.

 pacar (yang dulu): &quot;bisa lebih besar lagi?&quot;

 aku: (senyum)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pacarku(yang dulu) pernah nanya ke aku &#8220;seberapa besar cintamu?&#8221;</p>
<p> aku: &#8220;tidak bisa diukurlah. aneh.&#8221;</p>
<p> pacar (yang dulu): &#8220;harus bisa&#8221; (dengan memaksa dan sedikit gigitan :)))</p>
<p> aku: &#8220;hmm..sebesar ruangan ini&#8221; (ruang tidurku :-p)</p>
<p> pacar (yang dulu): &#8220;masa cuma sekecil itu?&#8221; (bertanya sambil liat ke daerah perut ke &#8230;&#8230;)</p>
<p> aku: &#8220;sebesar bumi ini deh&#8221;</p>
<p>  pacar (yang dulu): &#8220;cuma segitu?&#8221; (dengan nafas yang memburu)</p>
<p> aku: &#8220;ya sudah, sebesar bima sakti deh&#8221;</p>
<p>  pacar (yang dulu): (senyum, sepertinya dia puas) </p>
<p>saat itu aku tau kalo aku bohong, hati-ku sebesar kepalan tanganku, bandingkan saja sama bima sakti. terus bagaimana? </p>
<p>aku coba membuat kata cinta sebagai definiendum, dan mencari-cari genus proximum dan diferentia specifica-nya.</p>
<p>tga ngaruh.</p>
<p>kalo tidak mau bohong, tidak usah bilang &#8220;aku cinta padamu&#8221;<br />
tapi kalo tidak bilang &#8220;aku cinta padamu&#8221;, bagaimana?</p>
<p>aku tidak tau ini lagi nulis apa.<br />
tiba2 aku jadi ingat sama si doi :-p gara2 dialog kami itu.</p>
<p>belum selesai.</p>
<p> pacar (yang dulu): &#8220;bisa lebih besar lagi?&#8221;</p>
<p> aku: (senyum)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Belajar ‘tentang’ : P(etrus) WIJAYANTO&#8217;s Page</title>
		<link>http://satria.anandita.net/aku-tukang-bohong.str#comment-2132</link>
		<dc:creator>Belajar ‘tentang’ : P(etrus) WIJAYANTO&#8217;s Page</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 02:07:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=185#comment-2132</guid>
		<description>[...] Orang bisa membaca dengan teliti tulisanku, boleh mendengar dengan cermat yang aku ucapkan, tapi tidak bisa mengetahui (semua) isi pikiranku yang sebenarnya. Ketika menulis aku bisa saja bercanda, atau pura-pura, dan kalau aku sedang bercanda atau pura-pura, bukankah tulisan itu semua adalah kebohongan? (baca tulisan STR: Aku tukang bohong) [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Orang bisa membaca dengan teliti tulisanku, boleh mendengar dengan cermat yang aku ucapkan, tapi tidak bisa mengetahui (semua) isi pikiranku yang sebenarnya. Ketika menulis aku bisa saja bercanda, atau pura-pura, dan kalau aku sedang bercanda atau pura-pura, bukankah tulisan itu semua adalah kebohongan? (baca tulisan STR: Aku tukang bohong) [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Katanya : P(etrus) WIJAYANTO&#8217;s Page</title>
		<link>http://satria.anandita.net/aku-tukang-bohong.str#comment-2041</link>
		<dc:creator>Katanya : P(etrus) WIJAYANTO&#8217;s Page</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 05:25:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=185#comment-2041</guid>
		<description>[...] Aku tidak ingin membahas lagu, tapi itu satu-satunya lagu yang aku ingat ada kata ”katanya”, ketika hendak menulis tentang ”katanya”, yang sudah lama pernah muncul di salah satu sudut otakku, dan menjadi semakin jelas setelah membaca tulisan STR berjudul ”Aku tukang bohong”. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Aku tidak ingin membahas lagu, tapi itu satu-satunya lagu yang aku ingat ada kata ”katanya”, ketika hendak menulis tentang ”katanya”, yang sudah lama pernah muncul di salah satu sudut otakku, dan menjadi semakin jelas setelah membaca tulisan STR berjudul ”Aku tukang bohong”. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pwijayanto</title>
		<link>http://satria.anandita.net/aku-tukang-bohong.str#comment-1978</link>
		<dc:creator>pwijayanto</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 01:48:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=185#comment-1978</guid>
		<description>Tidak semua hal harus ditulis, tetapi cukup diperbincangkan (dengan bahasa yang seringkali terbatas - tak selalu menjelaskan yang sebenarnya) dan dicatat dalam hati (ini mungkin salah satu contoh menulis &lt;i&gt;tanpa papan&lt;/i&gt;):

Kitab (yang dianggap) Suci-pun sudah memberi petunjuk, antara lain:  &quot;Terimalah apa yang diajarkan mulut-Nya, dan taruhlah firman-Nya dalam hatimu.&quot; (Ayub  22:22).

Bahkan, walau tidak semua harus ditulis, menulis tetap tidak akan pernah selesai:
 &quot;Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.&quot; (Pengkhotbah  12:12)

&lt;i&gt;Oleh karena itu, mengejar pengenalan akan diri sendiri bisa jadi merupakan salah satu bentuk upaya memahami kebenaran, dan juga Tuhan.&lt;/i&gt;

Hm.. jadi ingat hakikat pendidikan dari Ki Ageng Suryamentaram, yang kurang lebih: &lt;i&gt;pendidikan adalah upaya pendidik terhadap yang dididik, agar memahami dirinya sendiri&lt;/i&gt; -- ya lanjutannya, ketika seseorang paham bahwa dirinya belum paham, maka akan terus mencari tahu...terus belajar.. dan yang terjadi adalah belajar seumur hidup.

Juga jadi ingat tulisan  &quot;Kebenaran sesungguhnya tidak pernah dikotbahkan oleh Sang Buddha, sebab seseorang harus menyadarinya didalam dirinya sendiri&quot; (Lamkara Sutra)

&lt;i&gt;Kini pun aku sedang berbohong karena menuliskan pergumulan yang tak sebenarnya. Pergumulan yang sebenarnya adanya di sini, di dalam diriku. &lt;/i&gt;

Benar.. semua tulisan adalah kebohongan, jika definisi kebohongan adalah menyatakan yang tidak sebenarnya, karena tulisan itu bukan yang ditulis.  Ketika ditulis &quot;aku cinta kamu&quot;, maka itu bukanlah keseluruhan dari cinta, melainkan hanya sebagian dari ekspresi &#039;cinta&#039; yang ada dalam hati dan pikiran, bahkan ketika seseorang sebenarnya sedang mencintai orang lain dapat dengan meyakinkan menulis &quot;aku cinta padamu&quot; pada seseorang.

Ketika &#039;gembira&#039; diungkapkan melalui tulisan, maka tulisan itu hanyalah &quot;catatan&#039; tentang (rasa) gembira yang (sudah) terjadi, atau bahkan dari sebuah imajinasi (rasa) gembira yang tidak pernah benar-benar terjadi.  Catatan bukanlah yang dicatat.

Jadi, walau didalam tulisan dan kata-kata (bahasa) ada keterbatasan ketika digunakan untuk menyampaikan yang ada &quot;di dalam diri ini&quot;, masih lebih baik menulis dan berkata-kata dengan risiko disalah mengerti, daripada diam saja.  Diam tak selamanya emas, kadang cuma kuning belaka (dan... bau lagi..).
Beranikah kita menanggung risiko disalahmengerti ketika mengungkapkan sesuatu melalui kata-kata dan tulisan.

Pengalaman saya, ketika mengungkapkan melalui tulisan bahwa saya percaya pada Tuhan YHWH dan bukan kepada Tuhan Allah, maka banyak yang salah mengerti, dianggap Saksi Yehova-lah, dianggap  &quot;tauhid&quot;-lah, dianggap bukan Kristen-lah, dianggap &#039;pemuja nama&#039;-lah.. dan bahkan dianggap bodoh, bebal dan sesat, oleh beberapa orang yang MERASA paling benar.  Mereka sebenarnya tidak mengerti, namun merasa mengerti tentang saya, dan memberi penilaian tertentu, bahkan ada orang yang tidak mau berdiskusi tentang hal ini, dengan yakin menyatakan &lt;i&gt;&quot;aku sudah tahu mas Wit kok..&quot;&lt;/i&gt; he he he..bisa dibayangkan jika kita berdiskusi dengan orang-orang yang &#039;sudah (merasa) tahu&#039;.

Setelah membaca keseluruhan tulisan diatas, saya juga tidak tahu sebenarnya &#039;perasaan&#039; apa yang ada dalam dirimu ketika melihat &#039;taman&#039; di pantai Siung.  Mungkin dapat sedikit tahu ketika saya juga berada disana, melihat apa yang kamu lihat.  Tetapi saya-pun ragu, karena apa yang saya lihat, belum tentu sama dengan yang kamu lihat, apa yang kamu rasakan belum tentu sama dengan yang aku rasakan. 

Apalagi jika waktunya sudah berganti, penglihatan dan perasaanpun akan berubah, sebab kemarin adalah kenangan, dan esok adalah harapan/imajinasi, di sana adalah cerita, yang nyata hanya kini, disini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak semua hal harus ditulis, tetapi cukup diperbincangkan (dengan bahasa yang seringkali terbatas &#8211; tak selalu menjelaskan yang sebenarnya) dan dicatat dalam hati (ini mungkin salah satu contoh menulis <i>tanpa papan</i>):</p>
<p>Kitab (yang dianggap) Suci-pun sudah memberi petunjuk, antara lain:  &#8220;Terimalah apa yang diajarkan mulut-Nya, dan taruhlah firman-Nya dalam hatimu.&#8221; (Ayub  22:22).</p>
<p>Bahkan, walau tidak semua harus ditulis, menulis tetap tidak akan pernah selesai:<br />
 &#8220;Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.&#8221; (Pengkhotbah  12:12)</p>
<p><i>Oleh karena itu, mengejar pengenalan akan diri sendiri bisa jadi merupakan salah satu bentuk upaya memahami kebenaran, dan juga Tuhan.</i></p>
<p>Hm.. jadi ingat hakikat pendidikan dari Ki Ageng Suryamentaram, yang kurang lebih: <i>pendidikan adalah upaya pendidik terhadap yang dididik, agar memahami dirinya sendiri</i> &#8212; ya lanjutannya, ketika seseorang paham bahwa dirinya belum paham, maka akan terus mencari tahu&#8230;terus belajar.. dan yang terjadi adalah belajar seumur hidup.</p>
<p>Juga jadi ingat tulisan  &#8220;Kebenaran sesungguhnya tidak pernah dikotbahkan oleh Sang Buddha, sebab seseorang harus menyadarinya didalam dirinya sendiri&#8221; (Lamkara Sutra)</p>
<p><i>Kini pun aku sedang berbohong karena menuliskan pergumulan yang tak sebenarnya. Pergumulan yang sebenarnya adanya di sini, di dalam diriku. </i></p>
<p>Benar.. semua tulisan adalah kebohongan, jika definisi kebohongan adalah menyatakan yang tidak sebenarnya, karena tulisan itu bukan yang ditulis.  Ketika ditulis &#8220;aku cinta kamu&#8221;, maka itu bukanlah keseluruhan dari cinta, melainkan hanya sebagian dari ekspresi &#8216;cinta&#8217; yang ada dalam hati dan pikiran, bahkan ketika seseorang sebenarnya sedang mencintai orang lain dapat dengan meyakinkan menulis &#8220;aku cinta padamu&#8221; pada seseorang.</p>
<p>Ketika &#8216;gembira&#8217; diungkapkan melalui tulisan, maka tulisan itu hanyalah &#8220;catatan&#8217; tentang (rasa) gembira yang (sudah) terjadi, atau bahkan dari sebuah imajinasi (rasa) gembira yang tidak pernah benar-benar terjadi.  Catatan bukanlah yang dicatat.</p>
<p>Jadi, walau didalam tulisan dan kata-kata (bahasa) ada keterbatasan ketika digunakan untuk menyampaikan yang ada &#8220;di dalam diri ini&#8221;, masih lebih baik menulis dan berkata-kata dengan risiko disalah mengerti, daripada diam saja.  Diam tak selamanya emas, kadang cuma kuning belaka (dan&#8230; bau lagi..).<br />
Beranikah kita menanggung risiko disalahmengerti ketika mengungkapkan sesuatu melalui kata-kata dan tulisan.</p>
<p>Pengalaman saya, ketika mengungkapkan melalui tulisan bahwa saya percaya pada Tuhan YHWH dan bukan kepada Tuhan Allah, maka banyak yang salah mengerti, dianggap Saksi Yehova-lah, dianggap  &#8220;tauhid&#8221;-lah, dianggap bukan Kristen-lah, dianggap &#8216;pemuja nama&#8217;-lah.. dan bahkan dianggap bodoh, bebal dan sesat, oleh beberapa orang yang MERASA paling benar.  Mereka sebenarnya tidak mengerti, namun merasa mengerti tentang saya, dan memberi penilaian tertentu, bahkan ada orang yang tidak mau berdiskusi tentang hal ini, dengan yakin menyatakan <i>&#8220;aku sudah tahu mas Wit kok..&#8221;</i> he he he..bisa dibayangkan jika kita berdiskusi dengan orang-orang yang &#8217;sudah (merasa) tahu&#8217;.</p>
<p>Setelah membaca keseluruhan tulisan diatas, saya juga tidak tahu sebenarnya &#8216;perasaan&#8217; apa yang ada dalam dirimu ketika melihat &#8216;taman&#8217; di pantai Siung.  Mungkin dapat sedikit tahu ketika saya juga berada disana, melihat apa yang kamu lihat.  Tetapi saya-pun ragu, karena apa yang saya lihat, belum tentu sama dengan yang kamu lihat, apa yang kamu rasakan belum tentu sama dengan yang aku rasakan. </p>
<p>Apalagi jika waktunya sudah berganti, penglihatan dan perasaanpun akan berubah, sebab kemarin adalah kenangan, dan esok adalah harapan/imajinasi, di sana adalah cerita, yang nyata hanya kini, disini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
