Analogi PPMA Tidak Realistis

Menanggapi analogi Dr. Ferdy Rondonuwu — yang bertugas mengomandani Pusat Penjaminan Mutu Akademik (PPMA) — tentang penjaminan mutu lulusan berorientasi proses, yang dimuat di Scientiarum Nomor 11/Tahun XI Maret 2007, maka dengan ini kita harus melihat kembali realita yang terjadi di Satya Wacana.

Dalam tulisan tersebut dinyatakan bahwa Satya Wacana sebenarnya dapat membatasi input dengan menerima siswa yang mempunyai prestasi belajar tinggi, seperti pada kebanyakan perguruan tinggi negeri yang sangat memperhatikan inputnya untuk meningkatkan mutu lulusannya. Namun justru model ini tidak dipakai oleh Satya Wacana karena menurut Dr. Ferdy hal ini tidak “menantang”. Dr. Ferdy berpendapat bahwa akan menjadi suatu “tantangan” ketika kita memasukkan batu dalam sebuah proses, kemudian keluar dalam bentuk berlian, dan ketika kita memasukkan berlian, maka akan dihasilkan berlian yang lebih berkilap.

Apabila dilihat dari kondisi Satya Wacana saat ini, jelas hanya merupakan sebuah slogan kosong alias bualan pejabat kampus belaka. Memangnya teknologi apa yang dimiliki Satya Wacana sehingga bisa menyulap batu menjadi berlian?

Seharusnya kita menyadari akan keterbatasan SDM pengajar — yang dalam hal ini merupakan salah satu unsur penting dari sebuah proses pendidikan — yang mempunyai tanggungjawab besar dalam merangsang kemajuan keilmuan mahasiswa. Kita harus mengakui bahwa hanya ada segelintir dosen yang memiliki tangan dingin dan berdedikasi tinggi dalam proses “membidani” lahirnya ilmu baru dari kepala-kepala mahasiswa. Sebagian besar dosen malahan hanya orang-orang bertitel yang berorientasi uang/proyek dan menjadikan mahasiswanya sebagai objek pembelajaran.

Kondisi ini diperparah dengan sebagian besar (sekali) mahasiswa yang miskin akan kesadaran diri tentang pentingnya belajar dan kegiatan-kegiatan ilmiah yang berwawasan masyarakat, sehingga mahasiswa juga tanpa sadar telah membuat dosen terpaksa menjadikan mahasiswanya sebagai objek dari perkuliahan, bukan sebagai partisipan aktif. Sebagian besar (sekali) mahasiswa Satya Wacana saat ini hanyalah anak-anak muda hedonis yang berorientasi pada konsekuensi logis kuliah, yaitu nilai dan gelar kesarjanaan, daripada kesejatian kuliah yang merupakan suatu proses penggalian ilmu dengan kerja keras dalam rangka membentuk karakter, membuka wawasan berpikir, dan berlatih melakukan analisis dengan kritis untuk dapat menyumbangkan sesuatu untuk kemajuan bangsa dan negara.

Kondisi tersebut menandakan bahwa analogi yang disampaikan Dr. Ferdy sangat tidak masuk akal untuk diterapkan di Satya Wacana. Apalagi ketika Dr. Ferdy mengungkapkan persoalan “menantang”. Menurut saya, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk membuat sebuah “tantangan”. Namun yang seharusnya dilakukan adalah mengusahakan kemajuan Satya Wacana dengan serius, bukannya malah bermain dengan “tantangan”!

Apabila dinyatakan dengan membatasi input pada mahasiswa berprestasi saja Satya Wacana akan dapat meningkatkan mutu lulusannya, mengapa tidak segera saja dilakukan hal ini? Menurut saya, justru hal inilah yang sangat penting mengingat urgensi Satya Wacana yang harus segera bangkit dari keterpurukannya pasca-Kemelut 93-97. Hal ini menjadi sangat mendesak apabila kita melihat kondisi bangsa dan negara kita saat ini. Negara sedang membutuhkan generasi-generasi muda yang trengginas, dan Satya Wacana dihadapkan kepada tuntutan untuk dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang berkompetensi tinggi agar dapat mendukung pembangunan, bukannya malah menambah beban negara dan pembangunan, dengan menghasilkan lulusan-lulusan yang tidak mempunyai kompetensi seperti yang saat ini terjadi. Perlu diketahui bahwa Satya Wacana pada saat ini tidak masuk dalam peringkat 100 besar perguruan tinggi di Asia Tenggara. Sebuah kenyataan yang memalukan apabila kita melihat masa lalu Satya Wacana yang merupakan salah satu perguruan tinggi terkemuka di level Asia, dan bahkan dunia!

Penjaringan input tentu membawa banyak konsekuensi bagi Satya Wacana. Secara langsung, jumlah mahasiswa baru akan berkurang, berarti akan mengurangi pemasukan universitas. Akan tetapi, hal ini seharusnya tidak perlu menjadi masalah karena mahasiswa baru yang terpilih dari segi mutu dan kesiapan belajar akan dapat mengangkat derajat Satya Wacana di masa depan, yang berarti pula akan menaikkan nilai jual Satya Wacana, dan, tentu saja, pemasukan Satya Wacana di masa depan.

Selain itu, apabila mahasiswa yang benar-benar ingin belajar dipisahkan dari mahasiswa yang hedonis yang sekadar mengejar nilai dan gelar, tentu saja hal ini akan menciptakan suasana pembelajaran yang lebih kondusif daripada yang terjadi sekarang. Ingat ada pepatah, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Atau karena Satya Wacana adalah kampus Kristen, maka ingatlah pada ajaran Alkitab, “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan baik.” Oleh karena itu, selain diperlukan sistem seleksi yang lebih ketat, kualitas SDM yang ada saat ini juga diperbaiki supaya proses seleksi yang ada jauh dari praktik-praktik KKN yang sudah menjadi cerita rakyat negeri ini.

Sekiranya perlu juga dilakukan peningkatan dosen. Tidak hanya meningkatkan gelar dosen dengan menyekolahkan ke strata yang lebih tinggi, namun juga perlu dilakukan kaderisasi dari dosen-dosen yang berkualitas dan mempunyai semangat serta dedikasi tinggi kepada dosen-dosen muda. Pertanyaannya sekarang adalah, siapa yang dimaksud dengan “dosen-dosen berkualitas dan mempunyai semangat serta dedikasi tinggi”? Adalah tugas PPMA untuk mencari tahu dan mendata keberadaan mereka dan mulai memberi perhatian lebih pada aspirasi-aspirasi yang hidup dari mereka dalam rangka menghimpun masukan untuk menyusun kerangka penjaminan mutu lulusan yang lebih realistis. Mumpung segelintir dosen berdedikasi itu masih ada di Satya Wacana!

Satria Anandita
Mahasiswa Fakultas Ekonomi

Opini ini ditulis untuk majalah mahasiswa Scientiarum.

Leave a Comment




  • Recently Written

    • Indonesia Mencari BakatBakat apa? Yang bagaimana? Yang menghibur? Apa itu hiburan? Siapa yang berhak menentukan bahwa sesuatu...
    • Mencoba MengertiKehidupan adalah puisi. Bisa dibaca, tapi sulit dimengerti. Berbahagialah mereka yang mengerti arti kehidupan.
    • Penangkal DosaAndai waktu itu Hawa lakukan itu, mungkin dia tidak akan sampai termakan bujukan ular dan...