Anggur Satu Malam

Kabar bahwa sahabatnya lulus hari ini tidak membuat hatinya senang. Ia sedih karena sejumlah alasan. Pertama mungkin karena sudah sifat manusia untuk lebih gampang menerima kegagalan orang lain daripada kesuksesannya. Orang selalu punya kecenderungan untuk bersaing, entah kenapa. Dan saingan mereka, biasanya, justru didatangkan dari lingkaran terdekat: keluarga, tetangga, teman. Dalam sejumlah hal tampak bahwa saudara bersaing dengan saudara, orangtua dengan orangtua, orangtua dengan anak, tetangga dengan tetangga, dan teman dengan teman; sampai muncul istilah “teman makan teman” untuk menunjuk praktik persaingan tak sehat. Kemenangan diperjuangkan seolah-olah dari persaingan itulah orang mendapatkan eksistensinya. Anak pintar selalu mendapat tempat lebih baik daripada anak bodoh. Dan sejak kepintaran mereka selalu diukur dengan angka, hampir setiap anak berlomba-lomba mendapatkan angka tertinggi, meskipun dengan cara-cara terendah. Dan hampir semua anak begitu. Dikatakan hampir semua karena nyatanya masih ada sejumpil anak yang, entah bagaimana, tahu bahwa kepintaran tidak bisa cuma diukur angka-angka. Apakah sebetulnya kepintaran? Dan bisakah ia diukur dengan angka? Kalau bisa, seberapa bisa? Seberapa tepat angka-angka itu menunjuk kepintaran yang tak berwujud?

Barangkali tak ada yang memuja angka segiat peradaban mereka sekarang. Angka-angka disembah karena mereka dianggap mampu memberi kepastian pada hal-hal yang tak pasti, baik yang berwujud maupun tidak. Ada angka untuk kepintaran dan manusia, ada angka untuk Tuhan, juga setan. Orang merasa butuh kepastian karena mereka membenci ketidakpastian. Diam-diam mereka takut pada kemungkinan-kemungkinan yang disodorkan hidup lewat kehidupan. Tidak semuanya memang. Ada kemungkinan-kemungkinan yang dikejar—bahkan sampai habis-habisan—karena dianggap cocok dengan keinginan orang. Namun hidup ternyata punya aturannya sendiri, yang tidak selalu cocok dengan keinginan orang. Ia terus-menerus menyodorkan—kadang bahkan memaksakan—kemungkinan-kemungkinan yang tak jarang di luar harapan. Maka ada orang-orang yang mulai membenci hidup, dan hidup pun mulai membenci orang-orang. Orang-orang mulai hidup dalam kebencian. Dan yang mereka benci adalah yang dianggap tidak cocok dengan keinginan.

Yang dia inginkan adalah sahabatnya lulus tanpa mendahuluinya. Mereka sama-sama masuk kuliah empat tahun yang lalu dan sebaiknya lulus pula bersama-sama. Tapi ia tahu sendiri bahwa itu tidaklah mungkin. Kuliah yang ia lewati tidak pernah sama dengan sahabatnya, bahkan sejak hari pertama. Sahabatnya cukup bisa dikatakan rajin kuliah. Sedangkan dia, meskipun merasa cukup rajin belajar, hampir tidak pernah kuliah. Bagaimanapun, kadang orang masih menginginkan hal-hal yang diketahuinya mustahil. Jadi apalah artinya belajar tanpa kuliah? Percumalah ia belajar siang-malam kalau tidak dibumbui keresmian kelas kuliah. Belajar atau tidak, mahasiswa harus kuliah. Kuliah untuk mendapat angka. Angka untuk lulus. Dan lulus artinya kemenangan. Kalau belum lulus, berarti belum menang. Memang tidak bisa disamakan dengan kekalahan, tapi ada orang yang masih menganggapnya begitu. Maka dalam sekejap, ia pun merasa jadi orang yang kalah.

Kira-kira demikian perasaannya saat mendapat kabar bahwa sahabatnya lulus hari ini. Untuk merayakannya, akan dilempar sebuah pesta anggur kecil-kecilan di kampus. Tapi untuk apa? Ia merasa bahwa dirinya cuma akan merayakan kekalahan. Dalam setiap perayaan selalu saja ada yang merasa dipecundangi. Dan beberapa orang, ia tahu, sengaja memanfaatkan pesta untuk pamer keberhasilan dan menyebar kedengkian di pihak musuh. Tapi ini perayaan seorang sahabat, bukan musuh! Bagaimanapun juga, ia harus ikut senang atas kebahagiaan sahabatnya. Yang umum mengharuskannya begitu. Namun ia beruntung mengetahui bahwa ia selalu bisa menolak keharusan, sekalipun dari yang umum.

Maka saat malam turun semakin dalam, sahabatnya datang membawa dua botol anggur merah dalam kemasan. Sudah ada beberapa orang menunggu di gedung lembaga kemahasiswaan. Ia bangkit dari kedudukan dan menyambut sahabatnya dengan senyum agak dipaksakan. Bertahun-tahun yang lalu, ia mempelajari senyum itu dari orang-orang yang dianggap baik-baik. Air muka sahabatnya terang dan, sambil menjabat tangan, berkatalah sahabatnya, “Semuanya omong kosong belaka.”

Segera setelah gelas-gelas pertama digilirkan, orang-orang mengisi percakapan dengan cerita-cerita yang mudah dilupakan. Yang dia ingat, sahabatnya itu berbicara kepada salah seorang dari mereka soal metodologi penelitian skripsinya, bahwa ada satu kesalahan yang bisa membuatnya tidak lulus andai para dosen penguji memergokinya. Tapi ia justru merasa inilah omong kosong yang sesungguhnya. Ia tahu bahwa sahabatnya itu tak perlu lagi diuji kelayakannya untuk menjadi sarjana. Tulisan-tulisannya yang masuk koran sudah memperlihatkan intelektualitas di atas rata-rata, melebihi mahasiswa pada umumnya dan—sejak dosen lebih suka mengumpet dalam jurnal-jurnal ilmiah—dosen pada khususnya. Tapi bagaimanapun—sekali lagi bagaimanapun—ujian skripsi diperlukan guna memuaskan formalitas belaka. Tak ada yang lebih penting dari itu. Di mana-mana formalitas disembah karena, seperti angka, ia dianggap mampu memberi kemantapan untuk hal-hal yang rawan kejutan. Janji pernikahan, misalnya, terasa kurang afdol jika hanya diikrarkan berdua di sebuah tempat yang sunyi. Orang butuh nuansa resmi catatan sipil negara ditambah pemberkatan agama yang disaksikan orang banyak. Apakah dengan semua itu pernikahan lantas jadi lebih baik dan langgeng? Tak ada satupun yang tahu. Tapi siapa peduli? Orang rasanya lebih peduli pada tradisi ketimbang pengetahuan. Mereka mengulang-ulang tradisi nyaris tanpa pernah mengetahui apakah itu benar atau salah, bermanfaat atau malah merepotkan. Tak ada yang peduli. Yang mereka pedulikan adalah tradisi diteruskan dan mereka aman. Satu botol anggur terhabiskan.

Saat botol kedua dibuka, mereka sudah pindah ke taman depan gedung lembaga kemahasiswaan. Salah seorang membawa gitar dan mereka menyanyi keras-keras. Semula ia khawatir mereka akan tepergok satpam, tapi kemudian ia berpikir tak ada salahnya minum anggur. Mereka pasti akan menemukan cukup pembelaan seandainya ditegur. Dan pada saat malam telah nyaris beku baginya, sahabatnya menepuk dengkulnya seraya berkata, “Apa kabar? Kenapa mukamu serius begitu?”

Memang sejak kapan mukaku tidak serius begini, ia menggumam dalam hati. Di luar ia tersenyum, lagi-lagi dipaksakan. Ia menelaah kembali kesedihannya dan mengambil kesimpulan bahwa ini bukan semata-mata soal persaingan teman dengan teman. Ini soal kebersamaan. Sekonyong-konyong ia merasa terpencil karena sahabatnya sudah lulus dan sebentar lagi pergi dari kota mereka. Sahabatnya akan mendapat pekerjaan sebagai wartawan dan pergi berkeliling dunia, sementara ia masih harus terkurung beberapa tahun di kampus yang kecil. Jadi benar, ini soal kebersamaan dan bukan persaingan. Lagipula, tak pernah ada yang bilang bahwa mereka bersaing satu sama lain. Memang pernah sekali seorang teman mengatakan padanya bahwa ia dan sahabatnya bersaing tanpa tersuratkan. Tapi itu pendapat perorangan saja. Bukan sesuatu yang resmi. Meskipun demikian, kebenaran pendapat itu tidak berkurang.

Untuk sejenak dipikirkannya kembali perasaannya itu. Apakah sahabatnya merasakan hal yang sama juga selama ini? Belum tentu. Ia tak tahu. Dalam hatinya ia merasa dirinya keterlaluan. Menganggap sahabat sendiri sebagai saingan dan tidak bersukacita untuk kelulusannya. Padahal sahabatnya bukan musuh!

Sejenak kemudian dibuatnya lagi sebuah kesimpulan: barangkali seorang teman adalah juga seorang musuh. Tapi bagaimana mungkin? Ia tak yakin. Kalau memang demikian, maka tentu lebih baik tak berteman. Di dunia yang egois, orang selalu punya kecenderungan untuk menang sendiri. Setiap kekalahan berpotensi melahirkan permusuhan, lantas dendam. Dan dendam senantiasa menuntut pembalasan. Jika orang berteman dengan seseorang, dengan sendirinya orang itu dimusuhi oleh musuh temannya. Padahal ia tahu kenyataannya tak harus seperti itu.

Pernah ia tanpa sengaja berteman dengan orang-orang dari kubu-kubu yang saling menyerang. Sebelumnya tak pernah diketahuinya bahwa ada serang-menyerang semacam itu pada diri teman-temannya. Tak ada yang memberi tahu dan ia sendiri terlalu malas tahu. Kadang ia merasa bahwa konflik sangat konyol dan membosankan, serta tidak membuat umur panjang. Tak ada guna terlibat konflik kalau tak mampu mengendalikan. Dari masa ke masa, ada saja orang-orang yang merasa mampu mengontrol konflik, tapi akhirnya mereka sendiri dimakan. Orang-orang dari kubu-kubu yang saling menyerang sudah terlalu buta untuk merasakan bahwa kerecokan mereka begitu banal dan kekanak-kanakan. Apa sesungguhnya yang mereka perjuangkan? Kebenaran? Kebajikan? Kekayaan? Selangkangan? Pada akhirnya semua akan hilang. Dan orang membayar terlalu mahal untuk beberapa kefanaan. Lantas apa artinya pertemanan? Teman yang satu adalah musuh bagi yang lain. Dan mereka menuntut pemihakan. Jikalau seseorang menolak berpihak, maka pertama-tama ia akan dicurigai sebagai mata-telinga salah satu pihak, kedua dicap sebagai oportunis. Orang-orang dari kubu-kubu yang saling menyerang sudah terlalu buta untuk mengetahui bahwa ada kesenangan lain yang jauh lebih berharga daripada terlibat konflik dan persaingan. Akan tetapi, jika ia sendiri mengetahui hal ini, kenapa ia masih juga merasa bersaing dengan sahabatnya? Hal ini mengganggunya, sementara anggur di botol kedua terhabiskan.

Ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi gedung lembaga kemahasiswaan. Badannya terasa mulai agak melayang. Di taman, orang-orang masih menyanyi dengan genjrengan gitar. Terlalu banyak orang untuk dua botol anggur, ia membatin sambil kencing. Saat kembali, ia mengusulkan untuk tambah minuman. Ia bahkan menyodorkan uang untuk memulai patungan. Ia yang semula merasa akan merayakan kekalahan, ternyata justru ditenggelamkan anggur dalam ketiadaan. Perasaannya menjadi jernih karena kosong. Jadi dia ingin merayakannya.

Untuk mendapatkan anggur tambahan, sahabatnya berangkat dengan seorang teman. Sementara itu, teman yang sedari tadi menggenjreng gitar usul agar mereka pindah ke halte depan kampus. Ia setuju, lantas mendahului berjalan. Angin malam bersliweran, namun anggur memberinya kehangatan. Setibanya di halte yang tertidur itu ia berkata, “Kalau tadi minum di sini, kita tidak perlu khawatir ditegur satpam. Orang bebas minum di ruang publik.”

Setengah tertawalah temannya.

“Harusnya orang tidak dilarang minum anggur,” dia melanjutkan, “karena anggur itu mencerdaskan! Bikin beban pikiran melayang agar orang bisa berpikir lebih kencang dan tenang.”

Air muka temannya memberi persetujuan setengah hampa.

Setahunya, di kampus memang tidak ada larangan menenggak minuman beralkohol. Tapi kenapa orang-orang merasa perlu melakukannya dengan sembunyi-sembunyi? Apakah karena yang umum mengharuskannya demikian? Barangkali memang demikian. Umum selalu punya anggapan kurang baik tentang minum-minuman. Tak ada penjual miras yang mengreseki dagangannya dengan warna putih. Selalu warna hitam agar tidak kelihatan. Ini berbeda dengan toko-toko swalayan yang hampir selalu memakai kresek putih dan agak transparan. Miras agak dijauhi barangkali karena akibatnya. Ratusan orang pernah mati di kota mereka gara-gara miras oplosan. Kalau tidak sampai mati, para pemabuk pun sudah cukup keterlaluan. Dan biasanya orang minum sampai mabuk. Biasanya. Dengan kata lain, tidak selamanya orang minum sampai mabuk. Tidak selamanya orang minum sampai mati. Biar begitu, kebiasaan minum miras sudah cukup untuk mendapatkan cap sebagai pemabuk. Pelabelan selalu saja menjengkelkan. Dan orang terus saja menciptakan kejengkelan demi kejengkelan.

Tanpa tujuan, dirabanya bangku halte yang terbuat dari besi perlahan. Dingin meresap pada telapak tangan. Ia berpikir, kenapa tidak dibuat dari kayu saja agar lebih hangat? Dengan besi sedingin ini, orang yang tertidur pasti masuk angin. Tapi halte ini dibuat memang bukan sebagai tempat tidur. Jadi kenapa dia berpikir untuk tidur di sini? Apakah karena pengaruh alkohol? Dilihatnya temannya yang sedang berbicara kepadanya. Suaranya sama sekali tak kedengaran. Dan malam jadi semakin terang.

“Mana yang lain?” dia bertanya.

“Ada. Mereka ada tunggu di dalam,” temannya menjawab.

Kemudian diam.

Untuk beberapa saat, temannya kembali berbicara tanpa suara. Dan ia sendiri tak mampu mendengar kata-kata apa yang mulutnya ucapkan sebagai penanggap obrolan itu. Pada dasarnya, ia memang sedang tak ingin bicara. Namun di ruang publik, orang tidak selamanya bebas untuk diam. Percakapan-percakapan selalu datang karena banyak orang mengira itulah cara terbaik mengisi kebersamaan. Diam cenderung ditempatkan pada pojok yang sama dengan kemarahan. Padahal tidak juga. Ia sendiri kadang merasa bahwa ada lebih banyak hal untuk dibagi dalam kediaman. Itulah saat-saat dimana kata-kata tidak lagi cukup mewakili perasaan. Itulah saat-saat dimana ia membutuhkan perempuan, yang malam ini tampak sebagai satu kemustahilan.

Seingatnya, sudah ratusan malam ia lewati tanpa perempuan. Ia sudah terbiasa membuang nafsunya dengan onani, hingga pada satu saat ia menjadi tidak berselera lagi. Ia menjadi tidak peduli. Tak ada yang peduli. Dalam pikirannya, cinta hanyalah saput ilusi. Cinta hadir hari ini untuk menghilang besok. Tak ada yang abadi. Oleh sebab itu, yang abadi pasti cuma ketiadaan itu sendiri.

Tak ada yang abadi, termasuk malam ini. Pada saat itulah sahabatnya kembali. Ayo minum di alun-alun kota, ajak sahabatnya itu. Sekarang jam sebelas malam. Alun-alun pasti sudah sepi. Orang bebas minum anggur di ruang publik. Maka mereka menyetujui.

Yang mereka sebut alun-alun kota adalah sebuah persegi berpanjang sisi satu kali salto monyet sakti. Bagian terluarnya dipagari dengan besi dan tanaman, sementara bagian terdalamnya adalah lapangan rumput yang perlahan-lahan dikepung batu cetakan. Pada sisi timur berdiri semacam monumen yang memuat tiga sosok patung yang oleh warga kota itu dianggap sebagai pahlawan. Dalam keseluruhannya, tak ada yang istimewa dari alun-alun kota mereka. Malam telah mengosongkan tempat itu dari kerumunan sehingga ia dan teman-temannya lebih bebas memilih tempat perjamuan. Lalu pilihan mereka jatuh di balik monumen yang cukup aman dari serbuan angin malam.

Kali ini sebuah komputer jinjing dan pengeras suara menggantikan genjrengan gitar. Mereka menyanyi lebih keras. Ada dua peserta tambahan. Dua-duanya adalah temannya satu angkatan. Satu lulus hari ini bersama sahabatnya, satunya lagi sedang menggarap skripsi. Kehadiran mereka membuatnya kembali merasa rendah diri. Ia kembali merasa kalah. Selama ini kedua temannya itu selalu mengatakan bahwa mereka salut atas pencapaian-pencapaiannya di luar kelas. Tetapi dalam hal pencapaian akademik, ia bukan apa-apa jika dibandingkan mereka. Ia sudah terlalu lama meninggalkan kelas dan, saat ia mencoba kembali, muncul penolakan-penolakan besar dari dalam dirinya sendiri. Bagaimanapun, belajar di kelas jauh lebih menjengkelkan ketimbang di luar. Di luar, ia bebas belajar dari apapun, dengan siapapun, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun. Kebebasan itu memberinya kebahagiaan yang megah dalam belajar. Sedangkan di kuliah, mahasiswa digiring masuk ke gedung tinggi-tinggi cuma untuk disuruh membungkuk rendah-rendah di hadapan dosen dan tumpukan teori.

Untuk selamanya, tidak pernah ada dosen yang rela didurhakai. Begitu pula teori. Di kampus, adalah kewajiban fakta untuk menyesuaikan diri dengan teori. Jikalau ada fakta yang tidak sesuai dengan teori, maka itu bukanlah fakta. Saat ada mahasiswa berancang-ancang menentang sebuah teori dengan mengajukan fakta-fakta baru, dosennya berkata, “Memang kamu sudah doktor? Mau bikin teori baru?” Jadi, dosen pun sebenarnya tak lebih dari sekedar hamba teori. Tepatnya, hamba teori-teori usang. Teori-teori usang disembah karena, seperti angka dan formalitas, mereka dianggap mampu memastikan fenomena yang melaju secara tak pasti. Sebenarnya, itu hanyalah cara lain untuk mengatakan bahwa dosen pun pada dasarnya malas belajar. Malas mengetahui hal-hal baru. Padahal, kalau dosennya saja malas, bagaimanakah mereka mengharapkan diri agar tak didurhakai mahasiswanya sendiri? Padahal berpuluh tahun lalu Popper sudah menyatakan bahwa ilmu bukanlah ilmu jika menolak falsifikasi. Ilmu bukanlah ilmu jika menolak didurhakai. Oleh sebab itu, dosen dan teori memang sudah sepantasnya didurhakai. Ilmu membutuhkan falsifikasi karena dengan jalan itulah ilmu-ilmu usang tumbang sementara ilmu-ilmu baru mekar. Dengan jalan itulah ilmu berkembang menyertai laju zaman.

Namun itu semua mustahil terjadi sepanjang dosen dan mahasiswanya masih sibuk diperbudak teori. Teori-teori usang apalagi. Kampus sudah tidak menampakkan perbedaan semangat dari kuil-kuil keagamaan. Kelas-kelas jatuh menjadi altar pemujaan membosankan untuk teori-teori yang dibukukan. Dan buku-buku itu pun naik menjadi kitab suci yang dijunjung ke mana-mana dan diugemi—diklaim tanpa tahu malu sebagai kebenaran tertinggi. Ilmu menjadi agama, dan agama diilmukan. Ada angka untuk manusia, ada angka untuk Tuhan, juga setan. Angka-angka dipercaya dan kemudian dikhianati. Ada banyak orang merasa telah menggunakan angka untuk menerangkan kebenaran, tapi ada lebih banyak lagi yang menggunakannya sebagai sarana penipuan. Dari masa ke masa, orang-orang saling menipu dan memakan. Itulah tradisi panjang kemanusiaan. Tapi siapa peduli? Rasanya orang lebih peduli pada tradisi ketimbang pengetahuan. Mereka mengulang-ulang tradisi tanpa pernah mengetahui apakah itu tepat atau keliru. Yang mereka pedulikan adalah tradisi diteruskan dan mereka merasa aman. Padahal, merasa aman belum tentu aman. Tapi orang merasa bahwa lebih penting merasa kuat daripada menjadi kuat, merasa benar daripada menjadi benar, merasa tahu daripada mengetahui. Inilah tradisi panjang kemanusiaan. Dan karena tradisi inilah mereka berkumpul malam ini di alun-alun kota yang tidak istimewa, menunaikan perjamuan tidak kudus dengan anggur merah dalam kemasan, menyetel musik sambil menyanyi keras-keras di atas rumput umum. Umum mengharuskannya berterimakasih pada tradisi karena, berkat tradisi kampus yang kecil, sahabatnya telah lulus dan mereka berkumpul malam ini di alun-alun kota yang sebentar lagi ditinggalkan sahabatnya untuk bekerja sebagai wartawan yang berkeliling dunia. Untuk sesaat kepalanya serasa mau pecah. Anggur habis. Padahal mereka belum sampai setengah mabuk, dan biasanya mereka minum sampai setengah mabuk. Itulah tradisinya.

Maka demi meneruskan tradisi, ia mengusulkan untuk patungan lagi. Dan mereka menyetujui. Sahabatnya berangkat lagi, sementara dua temannya yang lain pergi mencari makan. Malam tampaknya telah membuat sebagian orang lapar. Kepada dua temannya itu, ia meminta agar dibungkuskan nasi tumpang koyor dengan sayuran. Menu itulah tradisinya bila pergi makan selarut ini.

Maka saat semuanya terkumpul lagi, tak ada yang bisa ia lakukan selain makan yang terbungkus dan minum yang tertuang. Makan dan minum adalah tradisi, walaupun tak resmi. Tapi makan dan minum rasanya jauh lebih penting daripada kuliah yang resmi. Tapi siapa peduli? Sudah menjadi tradisi kampus untuk mengutamakan yang resmi-resmi. Yang resmi diutamakan karena yang resmi dipercaya sebagai benar dari sononya. Padahal apapun yang dipercaya benar—apalagi dari sononya—belum tentu benar. Tuhan belum tentu tiada hanya karena banyak orang percaya bahwa Tuhan tiada dari sononya, pun sebaliknya. Lagipula, apa (atau siapa) yang cukup berkuasa untuk menentukan keberadaan Tuhan? Agama? Ulama? Kitab suci? Dan kenapa pula orang masih percaya bahwa ada kebenaran dari sononya? Ia berpikir bahwa itu mungkin disebabkan oleh kemalasan orang untuk mencari tahu alasan segala sesuatu. Akan tetapi, apakah segala sesuatu memiliki alasan? Apakah segala sesuatu membutuhkan alasan?

Baginya, hidup adalah satu hal yang tidak membutuhkan alasan. Kalau orang butuh alasan untuk hidup, maka orang harus menemukan alasannya sebelum lahir. Tapi bagaimana bisa? Lahir saja belum! Justru orang harus hidup dulu baru bisa mengarang-ngarang alasan. Dan itulah tradisi kemanusiaan: mencari-cari alasan. Orang mencari alasan untuk hidup, alasan untuk mencintai, alasan untuk membenci. Dan saat mereka kehilangan alasan, mereka berhenti mencintai, mereka berhenti hidup, tapi terus saja membenci. Banyak orang mewariskan dendamnya untuk dibalaskan setelah mereka mati, selebihnya mungkin dipendam sendiri. Apakah hidup dari sononya harus begitu? Atau memang sudah begitu? Barangkali McCandless benar: jika kita mengamini bahwa hidup manusia bisa dikontrol oleh alasan, maka semua kemungkinan hidup menjadi hancur. Apapun itu, ia tak melihat alasan apapun bagi keberadaannya malam ini. Ia hanya makan, kemudian minum, dan tanggal sudah lagi berganti. Ia tak tahu apa yang menantinya saat fajar nanti, dan barangkali tidak terlalu peduli. Bukankah ada tertulis bahwa hari-hari memiliki kesusahannya sendiri? Bukan berarti ia hidup tanpa khawatir sama sekali. Ia hanya berusaha tidak terlalu peduli. Sama seperti sekarang ia tidak lagi peduli pada ketertinggalannya dalam hal studi. Ia hanya makan, kemudian minum, dan hari kian mendekati hari tanpa sedikitpun peduli akan hal-hal yang resmi.

Jadi malam ini ia kembali belajar kepada hari: berjalan tanpa peduli pada yang resmi-resmi. Tapi ia tahu bahwa ia tak akan bisa sepenuhnya bersikap masa bodoh. Pada dasarnya ia memang peduli. Ia hanya berusaha agar tidak terlalu peduli. Bagaimanapun, mempertahankan kadar kepedulian yang pas tidaklah sederhana. Barangkali yang membuatnya pelik adalah karena kadar itu tidak terukur oleh angka. Tapi apa jadinya jika kepedulian mulai diukur dengan angka-angka? Justru kepedulian ada barangkali untuk terus mengingatkan orang bahwa selalu ada hal-hal yang bisa dan sebaiknya tidak diukur dengan angka, melainkan rasa. Bahwa selalu ada hal-hal yang bisa dan sebaiknya tidak dimantapkan dengan peresmian, melainkan pengalaman.

Di akhir perjamuan, masing-masing orang pulang dihantar larutnya malam. Dan ia sendiri tahu bahwa racauan batinnya sejak tadi tak ada bedanya dengan mencari-cari alasan. Hal ini mengganggunya, tapi bagaimanapun—sekali lagi bagaimanapun—itulah tradisi kemanusiaan.