Ate Amanha

sa-japaz

Aku bingung bagaimana memulai ini. Akhir-akhir ini aku merasa susah sekali konsentrasi saat menulis. Aku duga ini karena work load di Scientiarum (SA) yang sudah melebihi kapasitasku. Kegiatanku memang tak hanya di SA, tapi “ber-SA” adalah kegiatan yang paling banyak makan waktu, pikiran, dan tenaga — kadang juga hati. Sudah setahun lebih aku di sini, sejak Oktober 2007. Dalam kurun waktu tersebut, aku belajar sekaligus jadi reporter, editor, dan pemimpin redaksi.

Emosiku naik-turun kalau bicara soal organisasi ini. Ia bukan tempat aku kenal pertama kali dengan jurnalisme. Sebelumnya, aku telah “kenal” jurnalisme dari media-media yang aku baca, lalu cerita di film-film. Aku juga pernah menulis buat majalah SMA-ku dulu, tapi cuma sekali. Pengalaman-pengalaman tersebut bikin aku sempat muak dengan jurnalisme. Aku merasa ia adalah bidang kacangan untuk orang (yang juga) kacangan.

Aku mulai tertarik lagi dengan penulisan fakta setelah bertemu dengan beberapa aktivis mahasiswa di Satya Wacana. Beberapa dari mereka bergabung dengan lembaga pers mahasiswa macam Imbas dan SA. Mereka menuliskan pemikiran-pemikiran mereka di sana. Salah satu yang menulis buat SA bilang, dia melakukan advokasi lewat tulisannya.

Medio 2007, aku jadi juru penerangan buat Geton (Gerakan Tolak Nuklir), sebuah jaringan aktivis yang didirikan beberapa mahasiswa Fakultas Teknik Satya Wacana. Ia punya tujuan menolak pembangunan pembangkit listrik bertenaga nuklir di Jepara, karena PLTN itu memakai reaktor fisi. Aku sendiri mahasiswa Fakultas Ekonomi, tapi tertarik juga dengan hal-hal berbau teknologi. Aku mengelola situs geton.nedw.org dan sempat menerbitkan kobar (koran selembar) mingguan buat Geton.

Inilah periode dimana aku mulai membiasakan diri untuk berani berasumsi, “memihak”, menghakimi, dan sinis terhadap pendapat yang berseberangan. Aku membaca referensi-referensi antinuklir, juga mereka yang pro nuklir. Tapi sikapku terhadap dua informasi tersebut berbeda. Aku cenderung menutup diri dari argumen-argumen pro nuklir.

Beberapa bulan kemudian, Geton mulai kehilangan nafas. Aktivisnya ada yang lulus, ada juga yang sibuk mempersiapkan skripsi. Mereka memang “angkatan tua”, rata-rata enam tahun lebih tua dari aku. Mereka sering panggil aku dengan sebutan “orang muda”, atau “anak muda”. Blog pribadiku sendiri waktu itu berdomain orangmuda.com. Kelak blog tersebut aku jual kepada seorang India dengan bantuan perantara Dicky Kurniawan.

Menulis di blog pribadi punya peran besar dalam membentuk sikap “memihak”-ku waktu itu. Tapi ia juga bermanfaat positif karena aku jadi terbiasa menyunting tulisan, sebelum tombol “Publish” ditekan. Ia juga memberi aku kesempatan untuk “berolahrasa” dan “berolahpikir” ketika ada orang yang tak setuju, atau bahkan marah, ketika membaca tulisanku.

Aku mulai “kena batunya” ketika bergabung di SA. Semula aku mengira menulis di SA akan sama seperti menulis buat Geton maupun blog pribadi. Kalaupun ada yang beda, beda-beda tipislah, pikirku. Aku tetap melanjutkan gaya menulisku yang sinis bin “memihak”, dengan padanan kata sekenanya. Aku menulis kritik setajam-tajamnya (mungkin lebih tepat “sekasar-kasarnya”). Aku kira kritikku baru akan terdengar jika demikian. Cara begini juga aku anggap sebagai katarsis.

Tapi lama kelamaan persepsiku berubah. Orang-orang banyak memberi kritik. Sekarang, kalau aku baca-baca lagi, aku sadar betapa naif, norak, dan sarkasnya tulisanku dulu.

Salah satu turning point dalam pelajaran menulisku terjadi ketika bertemu Andreas Harsono di Kampoeng Percik, Maret 2008. Andreas ini gelarnya insinyur elektro dari Fakultas Teknik Satya Wacana. Dia juga pernah mengasuh Imbas. Setelah lulus, dia kerja sebagai wartawan di suratkabar The Jakarta Post, The Nation, The Star, sampai mendapat beasiswa untuk belajar jurnalisme di Harvard University. Dari Andreas aku belajar bahwa menulis tak hanya butuh keberanian, tapi juga pengetahuan. Aku mulai tergerak untuk menghormati jurnalisme dengan mengusahakan penerapan prinsip-prinsipnya secara benar.

Sosok Andreas memang cukup menginspirasi aku. Dia orang kritis serta cerdas. Aku punya kesan dia adalah orang berwawasan luas — setidaknya lebih luas dari aku. Kritik-kritik yang dia lancarkan lewat tulisan tajam (bukan kasar). Tapi gaya bicara Andreas kalem saja, tak meledak-ledak seperti banyak aktivis yang aku kenal. Gaya bicaranya mengingatkan aku pada Nick Wiratmoko (seorang staf Percik), Neil Rupidara (dosen Fakultas Ekonomi Satya Wacana), dan Ester Sukarsih (ibuku sendiri). Sama dengan Andreas, Nick dan Neil alumnus Satya Wacana, ibuku juga.

Gaya bicara khas lulusan Satya Wacana? Mungkin. Ibuku pernah cerita, suatu kali dia kenalan dengan seseorang di atas bus. Setelah beberapa lama ngobrol, orang tersebut menebak, “Anda dari Satya Wacana?” Tebakan tersebut dia dasarkan pada gaya bicara ibuku.

Maka aku mulai belajar hati-hati ketika menulis. Jangan salah tangkap, aku berusaha untuk tidak memberanikan diri menerbitkan naskah yang terlalu banyak cacat. Aku berusaha memilah-milah fakta dari fiksi. Aku berusaha membedakan nurani dari emosi. Aku berusaha independen. Aku berusaha menulis sememikat dan seringan mungkin, agar pembaca mudah mengerti.

Tapi namanya usaha, kadang ada gagalnya juga.

Aku masih emosi ketika menulis opini soal perdebatan trimester-semester di Satya Wacana. Aku memakai kata “goblok”. Aku sengaja tak melewatkannya ke tangan Kiko, salah satu redaktur SA, untuk disunting. Ia langsung aku unggah di Scientiarum Online, dan kecaman-kecaman pun datang.

“Jujur saja saya agak miris dengan tulisanmu. Kata ‘goblok’ mungkin terlalu keras menurut saya,” tulis Rudy Latuperissa dalam kolom komentar. Dosen Fakultas Teknologi Informasi Satya Wacana itu dulu juga pernah jadi pengasuh SA. Aku pun sadar, aku telah mempertaruhkan kredibilitasku sebagai seorang wartawan. Aku juga mempertaruhkan wibawa SA sebagai organisasi berita yang “scientiarum” — para saintis seyogyanya tak emosional ketika menulis.

Beberapa bulan setelah itu, dalam sebuah ceramah etika komunikasi, aku mendengar Sutarno (seorang doktor teologi, pendeta emeritus Gereja Kristen Jawa, mantan redaktur Suara Pembaruan, mantan rektor Satya Wacana) mengatakan bahwa orang harus mengasihi lawan bicaranya, menempatkan lawan tersebut pada posisi yang sejajar dengannya. Kalau salah, katakan salah, tapi dengan cara yang wajar, tak perlu sarkasme. Ukuran wajar tidaknya? Tergantung konteks ruang dan waktu, tentukan sendiri pakai nurani. Aku percaya, menulis sama saja dengan bicara, hanya beda cara dan media.

Pelan-pelan, aku mulai punya standar baru untuk SA — belakangan, ketika diterapkan, ia bikin aku capek sendiri. Aku menyusun tujuh poin standarisasi penulisan berita, dan belakangan minta seluruh wartawan SA praktikkan sembilan elemen jurnalisme Kovach dan Rosenstiel. Aku “memperbaiki” naskah mereka lewat penyuntinganku. Aku membuatkan situs scientiarum.com, agar SA tak tergantung pada frekuensi cetak yang empat bulanan. Aku memintakan sambungan internet kepada manajemen kampus, agar pemutakhiran situs dapat dilakukan langsung dari kantor, dan para wartawan SA juga bisa riset internet.

Aku mengusahakan sebuah perpustakaan kecil, agar para wartawan SA dapat memperkaya pemahaman mereka, terutama soal jurnalisme dan pendidikan. Aku mengutus James dan Yoga ke Lampung, menghadiri simposium pers mahasiswa nasional yang dibikin Teknokra Universitas Lampung. Di sana, naskahku soal sejarah SA dianggap terbaik oleh juri. Pagi tadi panitia dari Teknokra mengirim surat elektronik lagi, menjelaskan bahwa naskah tersebut akan dibukukan bulan ini.

Awal bulan ini, aku juga mengantar SA melewati satu kerjasama internasional dengan Jornal Akademika Universidade da Paz (biasa disingkat “Japaz”) dari Timor Leste. Tiga wartawan mereka kerja bareng para staf SA selama tiga hari. Kami menerbitkan sebuah media bersama. Mereka ingin belajar cara produksi ala SA. Rencananya nanti, SA juga akan bantu Japaz membangun situs webnya.

jas-merah-satya-wacanaCukup seru kerja bareng staf Japaz. Mereka suka bercanda, tapi serius sekali kalau kerja. Aku belajar beberapa kosakata Portugis maupun Tetun. “Obrigado” untuk thank you, “ate amanha” untuk see you tomorrow, dan “inanahui” untuk (maaf) motherfucker!

“Puncaknya” adalah ketika majalah perdana SA terbit, tanggal 10 kemarin. Sejak dulu, SA cetak selalu berbentuk koran. Penerbitan majalah kali ini memberi para staf redaksi kepercayaan diri untuk terbit bulanan. Dulu, ketika masih terbit koran, pengerjaannya bisa sebulan lebih. Tapi untuk produksi majalah kali ini — yang notabene lebih berat daripada koran dulu, apalagi di musim tes seperti kemarin — SA mampu mengerjakannya dalam tempo empat minggu saja. Tiga minggu untuk reportase, penyuntingan, dan pengaturan tata letak. Seminggu lainnya habis untuk percetakan. Danie, penata letak SA yang baru, kerjanya cepat sekali. Kendalanya sekarang tinggal soal dana. Tapi persoalan ini berusaha kami atasi dengan penjualan majalah dan pengusahaan iklan. Majalah SA dijual Rp 5.000 per eksemplar. Bank Bukopin jadi sponsor pertama.

.

Secara mental aku lelah. Sambatan ini aku sampaikan pada rapat redaksi sekitar sebulan yang lalu. Aku minta undur diri dari jabatan pemimpin redaksi.

SA memang sebuah tim. Aku dan para staf bekerja sebagai tim. Tapi kadang aku merasa seperti bekerja sendiri. Pernah aku mereportase sendiri, menyunting naskah sendiri, mengunggah naskah sendiri, moderasi komentar sendiri, sampai di kantor juga sendiri. Semuanya betul-betul sendiri. Yang lain? Biasanya mereka sibuk kuliah, tak salah juga. Aku sendiri memang tak kuliah setahun lebih ini.

maria-ozawaKesendirian ini kadang bisa sangat menyakitkan. Aku kurang tahu, mungkin karena aku tak kuliah, rencana kerja organisasi SA yang aku buat jadi bersandar pada asumsi mahasiswa yang tak kuliah — meski aku telah berusaha sedapat mungkin untuk mendekatkan asumsiku pada kenyataan, kondisi para staf lain yang kuliah. Tak ada hal yang lebih menyakitkan daripada melihat asumsi kita gagal, dan ekspektasi kita berhenti terpenuhi di tengah jalan. Akhirnya, dengan kekecewaan, aku selalu berusaha sendiri untuk memenuhi ekspektasi tersebut.

Ketika penyuntingan majalah perdana SA usai, aku jadi sangat lelah. Di satu sisi, aku punya “kewajiban” menulis laporan sepanjang ribuan kata. Di sisi lain, aku juga harus memastikan bahwa naskah-naskah yang hendak dipublikasi sudah tersunting dengan baik.

Sebenarnya aku tak wajib menulis laporan. Resminya, aku bukan reporter. Tugas pemimpin redaksi adalah bertanggungjawab atas segenap publikasi. Tapi sebagai orang yang baru belajar jurnalisme, aku juga harus banyak meliput, menulis. Dengan pengalaman inilah aku baru dapat menjadi pemimpin redaksi yang baik — tahu apa yang ada di lapangan, apa yang ideal, dan bagaimana melakukan kompromi, tanpa mengorbankan hal-hal yang prinsip, sehingga publikasi dapat dipertanggungjawabkan.

Sedihnya, redaktur penyunting andalanku, Kiko, sedang tak di Salatiga. Jadwalnya untuk kerja praktek di Semarang begitu penuh, hingga dia mesti cuti sementara dari SA. Maka aku sendirilah yang menyunting naskah-naskah majalah perdana itu. Aku sengaja tak minta bantuan dari redaktur lain. Aku masih sedikit “trauma” dengan penerbitan koran SA beberapa bulan sebelumnya.

Waktu itu, karena mengikuti pelatihan menulis di Bogor, aku tak bisa berada di Salatiga untuk mengontrol penerbitan. Ketika aku pulang ke Salatiga, aku mendapati naskah-naskah yang terpublikasi belum tersunting dengan baik. Ada beberapa masalah pada konsistensi logika, sudut pandang, ejaan, dan sebagainya. Buat aku ini serius. Tentu ada kritik dan evaluasi, tapi itu saja belumlah cukup buat beranjak ke tempat yang lebih baik (tentu dengan batas-batas toleransi pada standarku). Menyunting memang butuh ketelitian dan kekritisan yang amat sangat. Ia melelahkan.

Dan aku sangat kelelahan.

Aku pikir, aku tak bisa terus-terusan seperti ini. Aku harus cari cara lain, untuk menyelamatkan diriku sendiri, dan juga SA (dari ketergantungannya kepadaku). Semester depan aku harus mulai kuliah lagi, jika masih ingin jadi mahasiswa Satya Wacana dan tetap di SA. Fokusku di SA semester depan tak mungkin lagi bisa sebesar yang sekarang.

Maka aku harus turun dari kursi pemimpin redaksi. Aku merasa lebih “terpanggil” menjalankan “capacity building” untuk para staf SA. Sebenarnya aku telah merancang capacity building ini dengan menunjuk Febri sebagai redaktur senior. Dalam bayanganku, yang juga aku share kepada Febri, redaktur senior kerjanya adalah bikin kelas-kelas kritik dan evaluasi untuk para staf, supaya mereka bisa belajar. Teladan ini aku ambil dari pengalamanku ikut kelas evaluasi Amarzan Loebis di majalah Tempo. Tapi kinerja Febri aku rasa juga kurang optimal. Dia malah belum bikin satu kelas pun hingga sekarang. Mungkin ini karena transfer ide yang kurang efektif, jika hanya lisan. Mungkin juga dia lebih sibuk kuliah. Dengan kelelahan sebagai pemimpin redaksi, aku jadi tak mau tahu lagi. Aku ingin terjun langsung sebagai redaktur senior.

yoga-strAkhirnya, salah satu agenda rapat kemarin adalah pergantian pemimpin redaksi. Aku menyatakan secara terus terang alasan-alasan kemunduranku. Kali ini lebih komprehensif dari yang sebulan lalu. Yosi mengaku kaget dengan kesungguhanku untuk mundur. “Aku pikir waktu itu kamu nggak serius Sat,” katanya.

Sebagai teman, James bilang bahwa dia mengerti kenapa aku ingin mundur. Dan sebaiknya aku memang mundur, kata dia. Mungkin James bisa membaca kelelahanku. “Ini juga pelajaran saya supaya saya nggak tergantung sama Satria,” kata James. Dia bilang, selama ini dia tergantung padaku untuk penulisan caption foto-fotonya.

Nunes menyayangkan kemunduranku. “Yang pertama, Satria punya karisma. Kedua, Satria juga tegas.” Aku agak tertawa ketika mendengar kata “tegas”. Aku pikir, aku selama ini lebih “toleran” daripada menjadi “tegas”.

Ferdi, redaktur pelaksana, punya usul. Aku seharusnya menjabat dua tahun seperti Bambang, pemimpin redaksi sebelumnya. Dia juga bilang, dia merasa nyaman kerja bareng aku. Aku agak kaget dengar pernyataan ini. Selama ini aku sedikit otoriter terhadap Ferdi. Aku beberapa kali bersilang pendapat dengan dia, dengan tak jarang memaksakan kehendak sambil berkata, “Aku yang tanggungjawab.” Tapi dengan hormat, usul Ferdi juga harus aku tolak. Situasi dan kondisi yang SA hadapi pada jaman Bambang dengan jamanku sudah beda. Jika Bambang bisa tahan dua tahun, aku hanya mampu setahun. Cukup.

Bambang, yang kini pemimpin umum, merasa berat dengan kemunduranku. Aku sudah membuktikan bahwa aku bisa membawa perubahan positif buat SA, katanya. Dia bilang hal ini telah sesuai dengan harapannya ketika mundur dari jabatan pemimpin redaksi tahun lalu. Sayang kalau aku harus berhenti pada tahun pertama. Dia merasa sulit cari pengganti yang nantinya bisa menyamai aku, dan melebihi aku. Tapi karena tekadku sudah bulat, dia “terpaksa” menerima.

Rapat lalu memutuskan untuk mengangkat Yoga sebagai pemimpin redaksi baru. Dia akan resmi menggantikan aku per Januari 2009. Yoga adalah seorang reporter muda, setahun lebih tua dari aku. Orangnya penuh semangat. Dia sepertinya akan lebih tegas daripada aku. Dia minta aku tetap di SA, jadi redaktur senior.

Aku ingin SA bisa jadi tempat pembedengan para wartawan yang ilmuwan sekaligus seniman. Ide ini aku dapat dari Marthen nDoen, seorang dosen fakultasku. Dia pernah bilang kepadaku bahwa ada tiga pekerjaan yang punya kedekatan, yakni wartawan, ilmuwan, dan seniman. Wartawan melaporkan apa yang terjadi. Ilmuwan membuat kajian mendalam terhadap sesuatu. Seniman memakai keindahan bahasa dalam menyampaikan maksudnya.

Aku ingin wartawan SA dapat melakukan kajian mendalam terhadap apa yang terjadi, lalu melaporkannya dengan artikulasi yang indah. Jadi semacam laporan yang enak dibaca dan perlu, dan juga mendalam.

sa-ers