Ateis

Aku seorang ateis. Ada yang bilang, ateisme dan agama adalah kebodohan yang sama dengan nama berbeda. Sebabnya karena mereka sama-sama tak berdasar dan berbukti—aku setuju. Aku memang bodoh karena mau percaya pada hal yang tak berdasar dan berbukti. Dan sebodoh-bodohnya aku, masih lebih bodoh orang yang mau baca tulisanku setelah tahu aku ini bodoh. Haha!

Sebagai ateis, aku bukan tidak percaya Tuhan. Aku cuma percaya Tuhan tidak ada. Tuhan adalah omong kosong. Dan karena cuma omong kosong, orang bisa omong apa saja soal Tuhan sementara Tuhan sendiri cuma diam. Yang cerewet adalah muka-muka agama yang sejak purbakala selalu khotbah bahwa Tuhan adalah ini dan itu, begini dan begitu.

Sering aku dengar orang bertanya, “Tuhan, agamamu apa?”

Dan Tuhan diam.

Kemudian mereka bertanya lagi, “Apakah Tuhan menciptakan agama?”

Tuhan tetap diam.

Barangkali, diamnya Tuhan adalah diam sejuta bahasa. Barangkali (lagi), dalam bahasanya yang sejuta (mungkin lebih?) itu Tuhan sebetulnya ingin bilang bahwa orang sebaiknya berhenti ngoceh soal Tuhan. Selama orang masih ngoceh, barangkali selama itulah orang terus gagal mengenal Tuhan. Sebabnya barangkali—sekali lagi barangkali—Tuhan yang diam mustahil dipahami oleh manusia yang cerewet.

Yang sudah tahu diam, demikian sebuah ungkapan.

Tapi aku tidak mungkin diam—tidak untuk sekarang. Sekarang aku harus menulis. Aku harus ngoceh. Apakah dengan ini semua akhirnya aku gagal mengenal Tuhan, itu tak jadi soal. Sebagai ateis, aku memang tak pernah mengenal Tuhan. Aku tak pernah mengetahui Tuhan. Aku cuma percaya Tuhan tiada—sama dengan orang-orang agama, yang percaya Tuhan ada. Orang cuma percaya, tanpa tahu Tuhan ada atau tiada.

Tapi apa sebetulnya tahu? Apa sebetulnya percaya?

Temanku pernah mengirim SMS begini: Hidup ini seperti puisi. Bisa dibaca tapi sulit dimengerti. Berbahagialah orang yang mengerti arti kehidupan.

Apa percaya sama dengan mengerti?

Kalau percaya sama dengan mengerti, maka aku bisa bikin SMS baru: Hidup ini seperti puisi. Bisa dibaca tapi sulit dipercaya. Berbahagialah orang yang percaya arti kehidupan.

Tapi kalau percaya tidak sama dengan mengerti, berarti orang yang percaya Tuhan tidak sama dengan orang yang mengerti Tuhan. Orang yang percaya Tuhan tidak sama dengan orang yang tahu Tuhan.

Jadi apa sebetulnya percaya? Apa sebetulnya tahu?

Aku tahu aku pernah pergi ke pantai bersama satu perempuan.

“Aku tidak perlu percaya karena aku tahu,” kataku.

“Jadi maksudmu orang percaya karena tidak tahu?” tanya perempuan itu.

“Kupikir begitu. Ada banyak orang percaya pada sorga dan neraka tanpa tahu faktanya. Mereka tak bisa membuktikan bahwa sorga dan neraka itu ada. Mereka tak pernah ke sana. Dan mereka percaya.”

“Tapi ada juga orang yang percaya justru karena tahu,” kata perempuan itu sambil senyum.

“Tidak mungkin,” jawabku.

“Aku percaya padamu karena aku tahu dirimu. Itu sebabnya aku tak keberatan menempuh ratusan kilometer ke pantai ini bersamamu,” balas perempuan itu.

“Kita baru kenal seminggu. Kau tak mungkin tahu siapa aku,” kataku.

Dan perempuan itu menjawab, “Setidaknya, aku tahu kau mengingini aku.”

Lalu matanya yang coklat terang menggodaku.

Menggoda?

Sementara aku belum yakin apakah aku tergoda atau tidak, perempuan itu sudah menyatakan dirinya seorang agnostik. Dan agnostik artinya “tidak tahu”. Agnostik tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak. Ungkapannya mengatakan, kadang jawaban terbaik adalah kita tidak (atau belum) tahu. Ini menarik. Aku memang cenderung tertarik pada perempuan agnostik.

Dan mungkin juga … tergoda.

Tapi musim terbagi-bagi dan kecenderungan bisa berganti. Aku juga pernah tergoda pada seorang pelayan gereja—entah kenapa. Pada satu malam yang sudah terlupakan, aku pergi makan bersamanya.

“Kok nggak berdoa dulu sih?” sergah perempuan itu, saat aku mulai makan.

“Sudah,” jawabku spontan.

“Mana buktinya? Kok nggak kelihatan?” sergah perempuan itu lagi. Roman mukanya penuh keheranan.

Aku lebih heran lagi. Dalam hati aku bilang bahwa berdoa tidak harus kelihatan, tapi di luar aku cuma senyum.

Si perempuan malah tersipu. Atau semacam itu.

Malam itu aku buka Facebook dan tuliskan percakapan itu. Andai aku jahat, aku pasti sudah balik tanya. Kok Tuhan nggak ada sih? Mana buktinya? Kok nggak kelihatan? Tapi aku bukan orang jahat, juga bukan orang baik. Aku orang yang biasa-biasa. Biasa jahat, biasa baik. Tergantung suasana hati. Kalau suasana hati lagi jelek, aku biasa main Facebook. Tapi belakangan, main Facebook justru bikin suasana hati jadi jelek.

Di Facebook, aku pernah mendapati seseorang menulis demikian: Tuhan maha tahu, sedangkan manusia cuma sok tahu. Dan setelah merenung-renung, aku kira tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Manusia bisa bilang Tuhan maha tahu justru karena manusia sok tahu.

Tuhan maha tahu? Mana buktinya? Kok nggak kelihatan?

Maka jempol aku berikan. Manusia memang sok tahu.

Sok tahu kira-kira berarti “tidak tahu, tapi merasa tahu”. Hanya merasa. Aku pikir orang bisa merasa benar, tapi nyatanya salah. Merasa tahu, tapi nyatanya tidak tahu. Toh namanya juga perasaan. Perasaan bisa keliru. Ateis merasa Tuhan tidak ada. Teis merasa Tuhan ada. Apa bedanya? Hanya merasa, hanya percaya, tanpa mengerti, tanpa tahu. Agnostik juga “tidak tahu”. Hidup ternyata cuma habis di tengah-tengah ketidaktahuan. Ketidaktahuan akan Tuhan, akan arti kehidupan.

Tapi manusia adalah makhluk paling keras kepala. Mereka mencoba berontak dari ketidaktahuan dengan beraneka cara. Mereka merasa tahu bahwa dengan metode tertentu mereka bisa membebaskan diri dari ketidaktahuan.

Namanya juga sok tahu.

Maka mereka mulai melembagakan fantasi naif yang disebut “pengetahuan”. Muncul yang namanya teori pengetahuan—teori-teori kebenaran. Dan di atas teori-teori ini (korespondensi, koherensi, konsensus, koramil, ko mati sudah) mereka mulai membangun fantasi mereka soal Tuhan. Mereka terpaksa melakukan ini karena mereka merasa tidak puas “beriman secara buta”. Iman harus disertai (pembenaran) pengetahuan, kata mereka, tapi kalau tidak juga tidak masalah. Toh iman adalah meyakini yang tidak kelihatan, yang tidak diketahui. Jadi ngapain masih repot pakai (pembenaran) pengetahuan?

Jawabannya: agar bisa gaya-gayaan.

Karena dengan (pembenaran) pengetahuan itu, manusia jadi merasa punya lebih banyak alasan untuk berkhotbah. Mereka jadi merasa punya lebih banyak hak untuk ngoceh soal Tuhan.

Orang-orang agama menyatakan bahwa Tuhan ada, karena kitab (yang dianggap) suci menyatakan bahwa Tuhan ada. Pengetahuan mereka bersumber dari ocehan buku, kata-kata, catatan sejarah ribuan tahun yang lalu. Padahal koran zaman sekarang yang lebih canggih saja bisa keliru mencatat sejarah hari ini. Lalu bagaimana orang bisa jamin jurnalisme (atau propaganda?) purbakala tidak keliru mencatat kisah-kisah tentang Tuhan?

Kitab (yang dianggap) suci, kata mereka, tidak bisa salah karena itu asalnya dari Tuhan. Tuhan adalah maha segalanya. Maha benar tapi tidak maha salah. Maka ada yang bilang kitab itu jatuh gedebuk dari langit, ada yang bilang kitab itu ditulis (dan diedit) oleh sejumlah manusia yang kerasukan roh Tuhan.

Ya, namanya juga sok tahu.

Orang agama yang agak lebih terpelajar menyatakan bahwa belakangan muncul “bukti eksternal” yang mendukung kesaksian kitab (yang dianggap) suci. Bukti itu muncul berkat ketekunan para arkeologiwan kurang kerjaan yang menggali fosil-fosil artefak masa lalu sebagai bukti bahwa Tuhan (pernah) ada. O, ternyata membuktikan Tuhan itu sama dengan membuktikan dinosaurus!

Tidak apa-apa. Namanya juga sok tahu.

Muncul orang-orang ateis seperti aku. Kami nyatakan bahwa Tuhan tidak ada karena keberadaannya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Tidak bisa dibuktikan secara ilmiah sebab tidak dapat ditangkap pancaindra. Tapi apa pancaindra tidak bisa salah?

Pertanyaan gampang: bakteri ada atau tidak?

Kalau kutanyakan ini pada ilmuwan, paling-paling aku akan dibawa ke laboratorium dan disuruh mengintip bakteri lewat mikroskop. Dan kenapa harus mikroskop? Karena mata telanjang kita terbatas. Dan karena mata telanjang kita terbatas, orang tidak bisa melihat bakteri sebelum mikroskop ditemukan. Apa itu berarti bakteri tidak ada sebelum mikroskop ditemukan?

Mikroskop adalah pembantu penglihatan. Membuat yang tak terlihat menjadi terlihat. Kalau alat bantunya kian dicanggihkan, ada kemungkinan orang akan bisa melihat Tuhan. Siapa tahu?

Namanya juga sok tahu.

Dan karena ateis sok tahu, kami menolak dibilang sok tahu. Kami katakan bahwa seterbatas apapun pancaindra, ia layak dipercaya karena itulah peralatan alami manusia (yang diberikan Tuhan?) untuk mengetahui. Kalau tidak percaya indra, mau percaya apa lagi? Intuisi? Zaman sekarang intuisi sudah campur aduk sama emosi. Nurani sudah baur dengan naluri. Omong kosong semua ini.

Banyak orang tidak mau percaya indra mereka karena tidak percaya diri. Takut salah. Padahal takut salah sendiri sudah salah. Takut sesat, sudah sesat.

Orang merasa lebih nyaman percaya kata buku dan orang lain. Mereka ugemi kitab (yang dianggap) suci dan ensiklopedi. Mereka patuhi fatwa guru besar dan kyai. Sebabnya karena mereka tidak berani memilih untuk diri mereka sendiri. Takut salah. Takut sesat. Takut sendiri. Mereka lebih suka menggerombol, karena mereka pengecut! Kalau mereka salah, maka yang disalahkan adalah orang lain—bahkan Tuhan! Padahal orang hidup dan mati harus dengan berani. Kalau keberanian tidak ada—mungkin Pram benar—itulah sebabnya bangsa asing bisa jajah kita.

Dan terbukti. Jangankan ekonomi dan demokrasi, spiritualitas saja masih dijajah kanan-kiri. Repotnya lagi, yang dijajah sendiri tidak merasa diri mereka terjajah. Mereka malah merasa bertemu Tuhan.

Ya, namanya juga sok tahu.

Siapa bisa melarang orang jadi sok tahu? Tuhan?

Inilah ujung pemberontakan manusia terhadap ketidaktahuan. Mereka hanya berakhir pada kesoktahuan. Dan sesama sok tahu pasti saling menyalahkan. Toh itu tetap tidak membuktikan Tuhan ada atau tiada. Orang tetap percaya Tuhan ada, dan orang tetap percaya Tuhan tiada.

Tapi apa sebetulnya ada? Apa sebetulnya tiada?

Aku berpikir maka aku ada, demikian sebuah ungkapan. Kalimat lengkapnya: Aku meragu, maka aku berpikir, maka aku ada.

Benarkah itu?

Aku sering ragu, tapi itu tidak serta-merta membuatku berpikir. Kalau aku berpikir, itu artinya aku tidak ragu untuk berpikir. Aku justru lebih sering ragu untuk tidak berpikir. Toh, bagaimanapun juga, pada saat-saat tertentu, aku berhasil tidak berpikir. Dan aku tetap ada.

Jadi apa sebetulnya tiada? Apa sebetulnya ada?

Apakah ketiadaan itu ada?

Orang biasa dianggap tiada setelah mati. Dan orang bisa mati. Maka kematian ada.

Tapi kematian juga tiada. Kematian adalah ketiadaan hidup. Karena kematian ada, ketiadaan (hidup) juga ada. Dan karena kehidupan juga ada, ketiadaan (mati) pun ada. Kehidupan ternyata adalah juga ketiadaan.

Jadi—sekali lagi—apa sebetulnya ada? Dan apa sebetulnya tiada?

Aku jadi merasa bodoh di muka pertanyaanku sendiri. Barangkali aku tak akan pernah bisa membedakan ada dan tiada. Barangkali yang ada itu tiada, dan yang tiada itu ada. Tapi bagaimana mungkin?

Dengan batin terbungkus kebingungan aku menyebrang ke dalam ketiadaan. Dan bagaimana caranya aku menyebrang? Mungkin justru ketiadaan itulah yang menyebrang ke dalamku. Aku menjadi ada dalam tiada, dan tiada ada dalamku. Begitu?

Dan apa lagi yang harus kuceritakan? Tiada yang bisa kuceritakan.

Tiada yang bisa?

Bagaimana bisa yang tiada diceritakan? Bukankah itu mengada-ada? Kalau aku bercerita tentang yang tiada, apa bedaku dari antek agama yang bercerita tentang Tuhan? Apa bedaku dari antek agama yang bercerita tentang sorga dan neraka? Apa bedaku, dan apa samaku?

Aku seorang ateis yang percaya bahwa Tuhan tiada. Dan karena aku ada dalam tiada dan tiada ada dalamku, maka aku ada dalam Tuhan dan Tuhan ada dalamku.

Ah, mengada-ada.

Mungkin aku sendirilah Tuhan.

Tidak mungkin.

Kenapa tidak?

Aku merasa tidak menciptakan semesta. Aku merasa tidak tinggal di sorga. Aku merasa tidak menulis kitab-kitab (yang dianggap) suci. Aku merasa tidak memilih umat yang rasis dan ekstrimis. Aku merasa tidak …

Aku?

Siapa aku?

Aku adalah aku, kata Tuhan orang Yahudi. Kalimat lengkapnya: Aku ada yang aku ada. Dan aku memang ada. Tapi siapa aku?

Aku ada di tengah-tengah kamu, tetapi kamu tidak mengenal aku.

Siapa aku? Siapa kamu?

Aku adalah kamu.

Kamu? Siapa kamu?

Aku.

Tidak mungkin.

Kenapa tidak?

Aku tidak kenal kamu.

Memang. Baca baik-baik: Aku ada di tengah-tengah kamu, tetapi kamu tidak mengenal aku.

Jadi?

Sekali lagi, dengan batin terbungkus kebingungan aku menyebrang ke dalam ketiadaan. Dan apa lagi yang harus kuceritakan? Dalam ketiadaan, tiada yang bisa kuceritakan. Aku harus diam.

Tapi aku tidak mungkin diam—tidak untuk sekarang. Sekarang aku harus menulis. Aku harus ngoceh. Dan kenapa harus? Karena aku harus mengisi halaman majalah ini penuh-penuh agar tidak kosong. Kenapa harus tidak kosong? Apakah yang kosong itu jahat? Apakah yang kosong pasti lebih jelek dari yang isi?

Apa sebetulnya kosong? Apa sebetulnya isi?

Kosong adalah isi dan isi adalah kosong, demikian sebuah ungkapan.

Dan kenapa harus ada ungkapan? Apa sebetulnya yang diungkapkan? Apakah ungkapan termasuk kosong, atau isi?

Apa sebetulnya isi? Apa sebetulnya kosong?

Sebetulnya?

Apa yang tidak sebetulnya?

Kosong?

Isi?

Atau isi yang kosong?

Kenapa harus ada “atau”? Kenapa harus ada “tapi”? Dan kenapa harus ada “kenapa”?

Kenapa harus ada harus? (Si)apa yang mengharuskan?

Tidak ada.

Bagaimana mungkin yang tiada bisa mengharuskan yang ada?

Karena yang tiada itu ada.

Jadi Tuhan ada?

Ada.

Mana buktinya?

Tiada.

Kok lucu?

Biar hidup nggak spaneng-spaneng amat. Dapatkah kespanengan menambah umurmu barang sehari?

Jadi sekali lagi—sekali lagi sekali lagi—aku seorang ateis. Ada yang bilang, ateisme dan agama adalah kebodohan yang sama dengan nama berbeda. Sebabnya karena mereka sama-sama tak berdasar dan berbukti—aku setuju. Aku memang bodoh karena mau percaya pada hal yang tak berdasar dan berbukti. Dan sebodoh-bodohnya aku, masih lebih bodoh orang yang mau baca tulisanku setelah tahu aku ini bodoh—apalagi sampai habis. Haha!