Balada Anak Pertama
Ini foto David, adik saya yang bungsu. Saya ambil foto ini dari akun Twitter @usernameddaann miliknya. Waktu lihat foto ini saya baru sadar kalau David sudah SMA. Terakhir ketemu di Surabaya bulan Mei lalu dia masih SMP.
Lewat telepon saya bilang ke Bapak bahwa tampang David sudah dewasa. Bapak bilang bukan cuma tampangnya. Badannya juga sudah tinggi-besar layaknya orang dewasa. Tapi kelakuannya, ya begitulah. Masih seperti remaja pada umumnya.
Saya bilang lagi ke Bapak bahwa adik-adik sebetulnya lebih dewasa dibandingkan saya saat masih seumuran mereka. Soal itu Bapak setuju dan meminta maaf. Cara Bapak dan Ibu membesarkan saya beda dari cara mereka membesarkan adik-adik saya. Saya anak pertama. Waktu itu mereka belum tahu apa-apa soal menjadi orangtua. Mereka tidak seliberal dan deliberatif seperti sekarang.
Waktu kecil saya lebih banyak dihajar daripada diberi kesempatan bicara. Terakhir dihajar kalau tidak salah SMP. Saya tidak ingat persis. SMA rasanya sudah tidak pernah dihajar karena badan sudah besar dan bisa melawan. Tapi masih banyak aturan kolot yang harus dikenakan. Hidup itu harus berguna bagi bangsa, negara, dan juga agama. Prettt.
Lulus SMA tahun 2006. Saya lulus dengan muka bloon karena tidak tahu mau melanjutkan kemana. Sempat punya pikiran tolol untuk jadi tentara. Alasan resminya karena merasa terpanggil ikut bela negara. Tapi alasan sebenarnya lebih karena ingin bergaya pakai seragam aparat yang ditakuti masyarakat sepanjang masa. Bisa kepikiran begitu karena mungkin ada jiwa sadomasokis laten dalam diri saya. Akhirnya pergi ikut seleksi taruna di ajenrem dan tidak diterima. Sempat galau sebentar sebelum akhirnya terdampar kuliah di Salatiga.
Jauh dari orangtua dan tidak jadi masuk militer, saya merasa belajar banyak soal kebebasan. Kebebasan yang sampai sekarang masih saya raba-raba. Nyatakah adanya?
Waktu TK sampai SMA, saya sering bentrok dengan orangtua. Waktu kuliah, tidak pernah bentrok karena jauh jaraknya. Pembangkangan bisa makin leluasa. Aturan-aturan kolot dibuang total tanpa aturan. Oscar Wilde jadi idola. Hidup terlalu penting untuk dianggap serius, katanya. Jiwa!
Tapi cara saya hidup hampir tak pernah tak serius. Malah cenderung tegang terus. Tegang di atas, tapi lemah di bawah. Belakangan setelah itu baru tahu bahwa ketegangan di atas bisa didistribusikan untuk menambah daya di bawah. Kepala jadi ringan. Hidup melayang-layang. Berdua keenakan.
Tapi cara saya hidup masih juga jauh dari ketenangan. Jiwa ini Pasifik, yang oleh pelaut dikira teduh, padahal mengerikan. Di luar boleh tampak sopan, tapi di dalam sudah memancung orang untuk yang kesekian. Demikian sebuah ungkapan.
Saya bukan binatang jalang. Saya cuma khewan rumahan. Tidak punya potongan jadi penjahat. Tapi jadi orang baik-baik terlalu munafik. Terus? Teruskan sendiri. Sama seperti anak pertama yang hidup mencari-cari bentuknya sendiri. Yang tidak selalu benar, tapi cukup untuk sekarang.
Information
You’re reading “Balada Anak Pertama”
- Published:
- 8 Dec 2012
- Category:
- Notes
- Tags:
- David Adhyaprawira, hidup, keluarga, kuliah, perjalanan, personal, Salatiga, sekolah, Surabaya

7 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]