Balada Tempat Sampah

Saya paling jengkel kalau lihat perempuan nangis sesenggukan sampai mukanya bengkak. Lebih jengkel lagi kalau nangisnya gara-gara masalah cinta. Tambah jengkel pula kalau sambil nangis dia membodoh-bodohkan diri sendiri karena membiarkan dirinya disakiti terus menerus sama cowoknya, dan setiap kali cowoknya minta maaf, dia selalu kasih maaf untuk kemudian disakiti lagi lain kali.

Teorinya, saya tidak usah lihat dan dengar kalau memang tidak suka, dan saya berhak untuk begitu. Tapi teori itu tidak berlaku kalau orangnya lagi curhat sama saya. Kan aneh kalau orang lagi curhat kita malah tolah-toleh sendiri, atau ngeluyur pergi?

Bukan berarti perempuan-perempuan tidak boleh curhat soal cinta sambil nangis sesenggukan sampai mukanya bengkak. Silakan curhat sebebas-bebasnya sampai puas. Paling saya cuma bisa diam. Kalau tidak bisa memperbaiki keadaan, reaksi terbaik adalah diam.

Tidak gregetan? Tentu saja gregetan. Tadi sudah dibilang kalau saya jengkel. Sekarang ditambah gregetan, dan saya tidak boleh memperlihatkan itu pada si perempuan. Naluri saya memang selalu tergoda untuk potong omongan yang ngelantur, menganalisis masalah, dan kasih saran paling manjur sedunia. Saya lakukan itu kalau mulai bosan mendengar, dan tiap kali begitu, biasanya si perempuan malah tambah emosional—kalau diteruskan, bisa-bisa malah kita yang ganti diperkarakan—sehingga ujung-ujungnya saya bakal kembali diam, dan bosan.

Buat mengalihkan kebosanan, saya biasa mengamati gerak-gerik si perempuan dengan seksama. Di situ, wajah secantik apapun pasti akan terlihat tidak cantik, dan sebagus apapun suasana hati saya hari itu, pasti akan hancur berantakan. Rasanya tidak enak, dan jika saya berpikir bahwa saya tidak harus merasakan ketidakenakan ini karena itu bukan masalah saya, saya malah semakin tertekan. Biar tidak menambah penderitaan, saya akan berpikir bahwa ketidakenakan ini harus saya rasakan karena orang itu sudah terlanjur curhat sama saya. Dan kenapa harus saya?

Mungkin karena saya sial. Sialan. Saya orang yang salah, di tempat yang salah, pada waktu yang salah. Dan saya selalu tahu bahwa kesialan maupun kesalahan adalah bagian dari hidup; menolak mereka sama artinya dengan menolak hidup. Dan karena saya tidak mau mati selagi masih hidup, saya harus terima kesialan dan kesalahan itu meski tidak dengan hati senang.

Pengalaman-pengalaman curhat itu mengajari saya bahwa cinta—atau hubungan-hubungan interpersonal berdasarkan cinta—tidak seindah yang dibayangkan orang. Cinta bisa sangat menyenangkan dan, di lain waktu, sangat menyedihkan. Ini klise. Semua orang sudah tahu. Dan kalau semua orang sudah tahu, kenapa masih ada yang mau mencintai dalam kesengsaraan?

Jadi perempuan itu harus bisa tegas. Kalau lembek, pasti terus-terusan kalah sama laki-laki. Mau ditinggal selingkuh berapa kali pun, mau dipukul sesering apapun, pasti dimaafkan. Dan si laki-laki tetep aja nggak bener.

Ini bodoh namanya. Tidak perlu membodoh-bodohkan diri karena memang sudah bodoh. Kalau masih membodoh-bodohkan diri, itu artinya secara tidak sadar Anda masih menganggap diri Anda pintar sehingga perlu dibodoh-bodohkan. Menganggap diri pintar itu sama dengan sok pintar, dan sok pintar itu berarti bodoh. Buktinya, Anda masih mau memaafkan cowok Anda sebejat apapun dia.

Kalau Anda sudah tahu Anda bodoh, tobat dong! Kasih tinggal. Cari cowok lain. Paling-paling Anda akan merana seminggu atau sebulan, tapi setelah itu Anda bisa temukan cowok lain yang lebih baik (kalau tidak lebih buruk, tergantung pintar-pintarnya Anda memilih). Kalau nanti ternyata cowok yang baru masih kurang baik juga, Anda masih bisa cari yang lain. Ngapain pusing?

Anda akan terus pusing kalau terlalu banyak yang dikuatirkan. Kuatir tidak ada cowok lain sebaik dia—padahal Anda sendiri tahu kalau dia tidak baik. Kuatir tidak ada cowok lain yang tertarik—padahal Anda harus tertarik pada diri Anda dulu baru orang lain bisa tertarik pada Anda. Minder karena Anda sudah tidak perawan—padahal kita tahu bahwa keperawanan itu cuma konsep agama-agama patriarkal buat mendiskriminasi perempuan secara seksual. Dan lain sebagainya.

Kalau Anda terus menerus kuatir, Anda tidak akan bergerak kemanapun. Anda akan terus sengsara di dalam cinta. Kalau sudah begitu, apa artinya cinta? Anda cuma akan menyiksa diri sendiri dan menyusahkan orang lain dengan curhat Anda. Plis deh.