Jadi, hikmah apa yang dapat diambil dari rangkaian bencana yang terjadi belakangan di Indonesia, dan tersendatnya proses pemulihan pascabencana? Menurut saya, setidaknya ada dua.
Pertama (dan ini sangat klasik), masyarakat Indonesia ternyata masih harus terus belajar menghargai alamnya. Jelas, alam selalu menuntut keseimbangan. Ketika orang-orang suka seenaknya melakukan tebang liar dan buang sampah sembarangan — yang pada akhirnya menyumbat banyak saluran air, maka konsekuensi logisnya adalah alam juga akan seenaknya “menghadiahi” tanah longsor dan banjir buat orang-orang. Nggak mungkin manusia bisa terus merusak alam, tanpa alam juga merusak manusia. Itu nggak seimbang.
Masalahnya, menghargai alam adalah sebuah kebiasaan (habit), dan orang Indonesia kelihatannya nggak biasa melakukannya. Orang Indonesia lebih terbiasa membuang bungkus nasi di jalan, daripada melipatnya rapi untuk disimpan sementara sampai menemukan tempat sampah. Orang Indonesia juga lebih terbiasa mengambil, tanpa balik memelihara lingkungan. Rasanya orang-orang sendiri nggak berdaya untuk mengubah kebiasaan buruknya. Atau jangan-jangan mereka sendiri nggak merasakan itu sebagai keburukan.
Sebenarnya, sudah ada beberapa kelompok yang menaruh perhatian buat hal ini (kebiasaan menghargai alam), contohnya adalah Yayasan Bintari (tempat Om Didut) dan Pusdakota Universitas Surabaya. Dengan kotak “sakti” yang dinamakan “Takakura,” mereka mengedukasi masyarakat kota Surabaya untuk mengelola sendiri sampahnya.
Tapi yang perlu digarisbawahi adalah meskipun menggunakan kotak sakti, kunci keberhasilan sebenarnya terletak pada aspek edukasi pada waktu pendampingan karena, sekali lagi, ini adalah masalah kebiasaan. Kotak Takakura itu sendiri cuma alat. Kalo orang yang menggunakan alat itu tidak terbiasa, maka hasilnya juga akan percuma. Bukan begitu, Om Didut?
Kedua, aparat-aparat pemerintah sendiri ternyata juga butuh pendampingan untuk mengubah kebiasaannya. Kebiasaan apa? Apalagi kalau bukan korupsi.
Lambatnya penanganan bencana seringkali didasari alasan kurangnya sarana dan prasarana pendukung pelayanan operasional, seperti helikopter, ambulans, dan mobil air bersih. Ini dikatakan sendiri oleh Menko Kesra di berbagai media massa. Kurangnya sarana dan prasarana tersebut dikarenakan tidak adanya sumber dana untuk membeli. Kenapa sampai tidak ada dana?
Ketiadaan dana ini jelas sangat “menggemaskan” kalo ditemukan dengan data dari ICW (Indonesian Corruption Watch), yang menunjukkan estimasi kerugian negara akibat korupsi pada semester pertama tahun 2007 adalah sebesar kira-kira Rp 7,9 triliun. Itu baru yang berhasil diungkap. Yang belum? Hanya Tuhan yang tahu.
Jalan terbaik adalah menumbuhkan kesadaran diri setiap individu aparat pemerintahan. Itu sebabnya tadi saya bilang bahwa para aparat pemerintah sepertinya butuh pendampingan, butuh edukasi. Tapi rasanya, borok korupsi di negeri ini sudah jadi borok yang sistemik, sehingga orang paling sadar sekalipun nggak akan sadar lagi kalo sudah di dalam sistem. Jangankan kesadaran diri, wong hukum aja ikut lembek kalo sudah berurusan dengan kasus korupsi (baca: uang).
Jadi? Mungkin saya salah kalo bilang bahwa pendampingan masih diperlukan di kalangan aparat pemerintah. Menurut saya, hal itu cuma akan memakan waktu yang relatif lama, padahal Indonesia seakan sudah nggak punya waktu lagi kalo korupsi masih ada di republik ini.
Mungkin terapi kejut macam hukuman mati akan lebih efektif. Setiap koruptor yang tertangkap dihukum mati. Hidupnya nggak usah diperlama lagi karena nanti bisa luput lagi. Itu semua karena tingkat korupsi di negeri ini sudah sedemikian gawat. Lagipula, korupsi sudah tidak ada bedanya lagi dengan mengkhianati bangsa sendiri.
14 Comments
Busyet, menambah daftar panjang para pendukung hukuman mati. meski saya tahu, ini adalah pilihan paling mendesak untuk memunculkan efek jera. bukan begitu mas!
Saya jadi pusing mikirin korupsi.. saya mungkinn orang yang kadang merasa utopis dengan pemberantasan korupsi di Indonesia.. hehehehehe
gempur’s latest post: Momentum Pembebasan
@ gempur: Nyatanya, jalan lain juga nggak ada yang memberikan efek jera, Pak.
Kok saya jadi ikut-ikutan pusing yak? :D
kekeke~ jadi ingat hrs posting sesuatu :P
didut’s latest post: The Contract
@ didut: Kalo gitu, berterimakasihlah karena sudah diingatkan. :P
bosen mikirin korupsi
penghukumnya aja masih sungkan2 hukumnya
gimana bisa hilang?
@ rizky: Berarti penghukumnya harus diganti juga. :)
Ngak ada hikmah, wong ngak belajar dari kejadian, kog. Korupis? Apa itu. Korupsi merusak bangsa? Siapa bilang. Kalau merusak masak 230 juta manusia Indonesia membiarkan.
Kalaupun ada, yang ngelakuin pasti yang sedikir … sementara lainnya, membiarkan. Nah, yang membiarkan dong yang paling, salah.
Ersis W. Abbas’s latest post: Testimoni Hadiah
@ Ersis: Saya speechless, Pak. :D
Bung Ersis, menurut saya yang paling bersalah adalah yang ngelakuin bukan yang membiarkan, yang membiarkan itu ikut bersalah. Kalo menurut anda yang membiarkan paling bersalah berarti anda juga paling bersalah.
Yang saya herankan kenapa anda tidak merasa kalo korupsi itu merusak bangsa, apakah anda sudah terbangun atau terbentuk atau apalah… oleh korupsi.
Susah mau memberantas korupsi.
Soalnya para pemberantas korupsi pun juga kadang-
kadang pernah korupsi.
Edi Psw’s latest post: Jatim Park dan Selecta Malang
@ Budi: Komen Pak Ersis itu cuma sindiran.
@ Edi: :lol: Ya.
wus angancik arga sad indriya nandhang duhkita Risang Sungkawa
amulat sakehing punggawa praja dalasan para pandhita
tan bisa bangkit pinilih kinarya tuladha
sedih sangat…
sudah tidak ada yang bisa dijadikan tuntunan & pedoman
aparat tidak..ulama juga tidak..
mungkin korupsi sudah jadi eksistensi diri. Hiks
komennya sekalian translate tulisan saya :D
komen ini sekalian menjawab komen anda Mas
wus angancik arga sad indriya
nandang duhkita Risang Sungkawa
amulat sakehing punggawa praja dalasan para pandhita
tan bisa bangkit pinilih kinarya tuladha
sedih sangat….
tiada lagi yg bisa jadi tuntuna maupun pedoman
aparat tidak…ulama tidak…
mungkinkah korupsi sudah bagian dari eksistensi bangsa & mungkin diri ini? hiks sedih – :D
Nuwun
@ tomy: Hohoho … Kalo gitu, mari kita menuntun diri kita sendiri-sendiri.