Berbagi Tempat

Dalam perjalanan kereta api Solo-Banyuwangi beberapa hari yang lalu, saya duduk satu kabin dengan seorang bapak dan seorang ibu. Si bapak naik dari Klaten dan hendak menuju Jombang, sedang si ibu sudah naik dari Jogja dan bakal turun di Ngawi. Kereta api ekonomi ini sendiri berangkat dari stasiun Solojebres sekitar jam sembilan pagi. Saya pilih kereta ini soalnya murah meriah. Cuma Rp 35 ribu sudah bisa sampai Banyuwangi.

Di Ngawi, si ibu tadi turun. Tinggallah saya berdua sama si bapak di kabin itu. Si bapak langsung angkat kaki ke kursi untuk selonjoran. Tak berapa lama kemudian, datang dua cewek manis hendak duduk bareng kami. Si bapak bukannya turun kaki, malah bilang sama mereka, “Gerbong belakang masih banyak tempat kosong, mbak.”

Dua cewek itu percaya saja. Mereka tidak jadi duduk lalu pindah gerbong. Saat kereta akan berangkat dan gerbong kami sudah agak penuh, ada dua ibu-ibu berjilbab mendatangi kabin kami. Kali ini si bapak tidak bisa mengilah. Dia langsung turun kaki, memberi tempat buat mereka.

Dalam hati saya bilang goblok banget si bapak. Kalau tahu begini, kan, mestinya si bapak kasih aja tempat buat dua cewek tadi. Pakai acara selonjoran lagi. Sudah tahu naiknya kelas ekonomi. Bayar murah kok pengennya enak. Ujung-ujungnya malah dapet pemandangan nggak enak. Tapi, ya, gimana lagi? Saya juga bayarnya murah. Kok pengennya dapet pemandangan enak? Entahlah.

Ketika saya bilang kereta ini “murah meriah”, itu memang betul-betul murah dan meriah dalam arti sebenarnya. Sudah tiketnya murah, isi gerbong juga meriah.

Pertama, jumlah penumpang lebih banyak dari kabin yang tersedia. Jadi, ada banyak yang nggak kebagian tempat dan terpaksa berdiri. Kedua, banyak pedagang asongan seliweran. Dagangannya macam-macam, mulai dari cemilan, mainan, sampai obeng. Kenapa nggak jual dongkrak sekalian?

Suasana gerbong ekonomi sudah biasa sumpek. Dalam suasana nggak enak seperti ini, biasanya orang akan cari yang enak-enak, sampai kadang jadi seenaknya sendiri.

Di Surabaya, kereta singgah agak lama untuk isi bahan bakar. Gerbong kami makin sesak orang. Belum lagi panasnya siang Surabaya. Saya merasa ingin turun dari kereta dan pulang ke rumah.

Dengan gaya cuek, seorang bapak yang baru duduk di kabin sebelah menyalakan rokok. Asapnya mengepul tebal di tengah kesumpekan. Dua ibu berjilbab yang satu kabin sama saya merasa terganggu. Mereka menyindir terang-terangan, sambil mengibas-ngibaskan koran. Seorang penumpang yang satu kabin dengan bapak perokok sampai merasa perlu berdiri dan agak menyingkir untuk menyatakan ketergangguan.

Suasana yang sudah sumpek jadi tambah tegang, dan bapak perokok kita memperbanyak kepulan. Dua ibu berjilbab makin terganggu dan nyinyir, suasana makin tegang. Kepulan rokok si bapak makin kencang. Begitu seterusnya.

Saya diam saja. Saya cuma berpikir, kelakuan orang-orang tua ini bisa jadi bahan tulisan.