Desember ini aku datang ke Surabaya dua kali. Yang pertama sekitar tiga minggu lalu. Waktu itu aku sudah janji kepada Ibu untuk datang ke rumahnya, segera setelah urusan penerbitan majalah Scientiarum beres. Penerbitan majalah bulan ini adalah tugas terakhirku sebagai pemimpin redaksi, sehingga ia menempati prioritas pertama.
Sebenarnya aku tak suka sering-sering datang ke Surabaya, apalagi sampai sebulan dua kali. Biasanya cuma tiga, atau malah enam bulan sekali. Tapi karena hari ini teman-teman SMA-ku bikin reuni, dan Eva juga terus mendesakku lewat telepon, SMS, dan Facebook, akhirnya aku terpaksa datang lagi ke kota ini.
Aku turun dari bus seorang diri. Kondekturnya bilang, belakangan ini angkutan mereka lagi sepi penumpang. Dalam hati aku bertanya heran, bagaimana mungkin mereka bisa sepi penumpang di musim liburan? Biasanya jumlah penumpang justru meningkat. Ada banyak orang mudik dan balik.
Aku bergegas mencari taksi. Sinar hangat matahari menimpa wajah. Jam ponsel baru menunjuk pukul 06.36, tanggal 30 Desember 2008. Aku memang selalu berangkat malam dari Salatiga, supaya bisa sampai di Terminal Bungurasih pagi. Tapi pagi ini terasa lebih sejuk dari pagi-pagi lain di kota ini. Angin lebih semilir dan segar. Pagi ini persis dengan pagi di Salatiga.
“Mau kemana Mas?” tanya laki-laki berbaju biru di depanku. Wajahnya menunjukkan umur empat puluhan.
“Aku dipapak,” jawabku, sambil menghindari orang itu. Aku tetap berjalan.
“Tindak pundi Mas?” katanya lagi.
Aku tak menghiraukannya. Aku terus berjalan sambil utak-atik ponsel, mencari nomor Andre. Orang itu terus mengikutiku dari samping.
Ketika aku kembali menatap depan, ada segerombolan orang berbaju biru menghadang. Mereka serempak bertanya, “MAU KEMANA MAS?”
Orang-orang terminal ini mendadak jadi lebih agresif ketimbang tiga minggu yang lalu. Sambil menghindari mereka, aku percepat langkah kaki. Aku belok kanan, ke tempat parkir taksi-taksi, kemudian naik salah satu sedan berwarna jingga. Di pintunya, aku membaca tulisan “ORENZ”. Begitu pintu tertutup, mobil langsung melesat, meninggalkan gerombolan orang berbaju biru yang mengikutiku.
Kondisi taksi ini sangat bagus jika dibandingkan taksi-taksi lain. Sepertinya mobil ini masih baru. Aku duduk di kabin depan. Kepada sopirnya aku tanya, “Kok terminale sepi ngene Pak?”
“Iya Mas. Hari-hari ini sepi terus. Ada penumpang ya baru Sampeyan ini.”
Aku menoleh ke kiri, lalu belakang. Betul kata si sopir. Tak satupun calon penumpang terlihat. Yang ada hanya para pengemudi taksi berbaju biru, para pengemudi angguna dan bison, para sopir bus beserta kondektur dan keneknya, para petugas Dinas Perhubungan, beberapa pengemis dan pengamen, beberapa pedagang asongan, dan beberapa orang gila.
“Ini kemana Mas?” tanya si sopir, menjelang gerbang keluar terminal.
Aku merogoh lagi ponsel yang tadi aku masukkan saku celana. Nomor Andre sudah muncul, tinggal dial.
“Mbing, kon nang ndi?” kataku, begitu panggilan terangkat. Kambing adalah nama panggilan Andre. Dia teman satu sekolah sejak TK sampai SMA.
“Iki wis nang Pertelon. Arek-arek ya wis nang kene. Kon nang ndi saiki?” jawab Andre dari seberang.
“Oo, ya wis. Aku iki wis arep nang Pertelon. Saiki lagi metu saka Bungurasih. Ya wis ya.” Aku memutus panggilan.
“Rungkut Pak,” kataku pada si sopir taksi.
Aku agak heran dengan pilihan tempat untuk reuni SMA ini. Pertelon adalah sebutan untuk sebuah pertigaan dekat Pasar Rungkut, yang menghubungkan kawasan berikat Sier, perumahan Rungkut, serta perumahan Pondok Tjandra Indah. Sebutan “pertelon” adalah adopsi bahasa Jawa. “Pertelon” artinya memang “pertigaan”. Kalau perempatan, ia pasti akan disebut “prapatan”. Di Salatiga, ada warung namanya Prapatan. Letaknya di pinggir perempatan Kemiri II.
Pertelon itu sampingnya kali, agak kumuh. Di sana ada satu pos polisi, beberapa toko, dan lapak-lapak untuk pedagang kaki lima. Rasanya mustahil alumni Petra 5 bikin reuni di tempat seperti itu. Dimana meja prasmanan akan ditaruh?
Pagi dan sore di Pertelon selalu diwarnai kemacetan. Pada jam-jam itu selalu ada polisi yang turun ke jalan. Anak-anak SMP yang naik motor sendiri ke sekolah harus hati-hati kalau berangkat lewat Pertelon. Polisi yang turun ke jalan dengan mudah akan mencegat mereka. Aku dulu juga pernah dicegat.
Setelah meminggirkanku dari jalan, polisi itu tanya kenapa motorku tak berspion kanan. Aku bilang drat spion kananku rusak dan aku belum sempat membetulkan, jadi cuma pakai spion kiri. Dia minta SIM-ku. Aku jelas tak punya, wong umurku baru 15 tahun. Dia lantas mulai menulis surat tilang. Aku coba menawarkan harga “damai” dengan uang Rp 20 ribu. Deal!
Tapi itu dulu, lima tahun yang lalu.
Yang masih sama dari Pertelon hari ini adalah suasananya. Ia tetap ramai dan kumuh. Ketika turun dari taksi, Eva dan Greta menyambutku. Teman-teman yang lain, seperti Fabian “Bogel”, Andre “Kambing”, Ricky “Bogang”, lagi duduk di bangku taman di pinggir kali. Rupanya format acara “reuni” ini cuma kongkow di pinggir kali. Tak ada meja prasmanan. Camilan diedar seperti orang lagi begadang. Aku membatin lagi, siapa yang punya ide aneh ini?
Sambil kongkow, aku kembali merasakan hawa sejuk. Padahal tiga minggu lalu, hawa kota ini tetap saja panas, ongkep, sumpek, hingga aku cuma betah sehari di sini. Udara Surabaya memang kelewat panas. Di sini aku bisa keringatan, bahkan ketika duduk manis di teras rumah!
Tapi karena sekarang hawanya sejuk, aku tak akan keberatan jika Ibu minta aku tinggal di rumahnya beberapa hari. Tapi (lagi) aku tetap tak ingin berlama-lama di sini. “Komunitas intelektual”-ku ada di Salatiga, bukan Surabaya. Aku sukar ngobrol, misalnya tentang politik kebijakan atau “politik alam gaib”, dengan teman-teman di sini. Ronald pasti akan bilang aku sok tahu, dan minta topik pembicaraan diganti. Padahal aku selalu baca koran, buku, dan nonton berita televisi sejak SD. Sekarang aku jarang baca koran dan nonton televisi, tapi tetap baca-baca berita di internet. Jadi bukan asal ngomong. Tapi sejak kelas lima, Ronald sudah bilang aku sok tahu. Dari TK sampai SMA, aku satu sekolah dengan Ronald.
Tiba-tiba aku sadar, dimana Ronald sekarang? Aku belum melihatnya dari tadi. Andre bilang, Ronald kuliah sampai sore. Dia lagi ambil jurusan manajemen di Widya Mandala. Aku sedikit kecewa. Kangen juga aku sama “kingkong” itu. Aku dengar dari Andre, Ronald sekarang banyak berubah, jadi lebih bijak dan berpikir panjang.
Hari makin sore. Bulatan matahari tampak jelas di hadapan. Kian lama, kian rendah. Sambil mendoyongkan badan ke belakang, aku memancal trotoar dengan kedua kakiku, hingga dua kaki depan bangku taman yang aku duduki terangkat, dan tumpuan hanya ada pada kaki-kaki belakang. Aku berusaha menjaga keseimbangan. Ini akrobat biasa yang aku mulai di kantor Scientiarum, kalau lagi bosan. Tapi bangku taman ini mulai terasa berat. Aku menoleh ke kanan. Ternyata ada Antok di ujung lain bangku. Dia menoleh kepadaku, tapi aku tak menyapa. Dia memang teman baikku waktu kelas empat, tapi kami sudah jarang bicara sejak pisah kelas di kelas lima.
Gubrakkk!
Badan Antok yang bongsor berat sekali rupanya. Aku jadi hilang keseimbangan. Kami berdua beserta si bangku jatuh ke belakang. Untung kami tak nyemplung kali. Kepalaku juga tak bocor, meski tertatap tembok pengaman pendek di belakang bangku.
Tanpa rasa sakit sedikitpun aku bangun. Ketika itu Donna sudah berdiri di depanku. Hmmm ….
.

Donna Evita Octaviani Siahaan (dan Viona Grace Natalie Hadrun). Mata Donna yang bêlok — bacanya pakai vokalisasi seperti mêdok — selalu mengingatkan aku pada lirik lagu Iwan Fals, “Mata indah bola pingpong, masihkah kau kosong?”
Donna Evita Octaviani Siahaan adalah masa laluku di SMA. Aku “suka” Donna sejak hari kedua MOS sampai menjelang Ujian Nasional. Cewek ini memel. Aku sendiri memang suka perempuan memel, berambut panjang, dan berkacamata, karena mudah diasosiasikan dengan sosok ibuku. “Setelah besar, kita memang butuh sosok yang mirip ibu. Tapi bukan ibu itu sendiri,” kata Slamet Haryono, salah seorang alumni Scientiarum.
Mulanya, selepas SMP aku ingin sekolah di SMA negeri. Bosan juga dari TK di Petra. Waktu itu aku ingin masuk SMA Negeri 5, yang dianggap punya kualitas akademis terbaik di antara SMA-SMA negeri lain di Surabaya. Orangtuaku juga hanya memberi ijin sekolah di sana, jika aku memang jadi hengkang dari Petra. Dan kebetulan, ada beberapa anak dari SMP-ku yang punya niat sama. Salah dua dari mereka adalah Bagus dan Donna.
Aku sudah kenal Bagus sejak TK. Setelah lulus SMP dia ingin masuk SMA Negeri 16. Suatu sore, dalam sebuah obrolan di rumahnya, Bagus menyinggung niat Donna untuk masuk sekolah negeri yang sama dengan aku. Dia kenal Donna karena mereka sama-sama tinggal di Duku, salah satu kawasan di kompleks perumahan Pocan — sebutan buat Pondok Tjandra Indah.
Tapi waktu itu aku belum kenal Donna. Aku cuma pernah melihatnya sepintas di kelas 3.3, kelasnya dulu. Aku sendiri di kelas 3.2. Aku juga melihat fotonya sekilas di album kenangan SMP kami. Aku baru “melihat Donna dari dekat” saat kami bertukar tanda tangan, pada hari kedua MOS.
Jadwal penerimaan siswa baru sekolah negeri lebih lambat daripada sekolah swasta. Maka aku, Donna, Bagus, dan beberapa anak lain yang hendak masuk negeri mendaftar dulu di Petra. Ini praktik yang biasa sebagai antisipasi, kalau-kalau kami tak diterima di negeri. Akhirnya, kami pun ikut MOS di SMA Kristen Petra 5. Aku masuk kelas 1.5. Donna di kelas 1.1. Bagus di kelas 1.2.
MOS adalah singkatan buat masa orientasi siswa. SMA Kristen Petra 5 menggelar MOS selama empat hari berturut-turut, plus dua hari masa praorientasi. Pada masa praorientasi, kami diajari baris-berbaris macam tentara. Untuk melatih kedisiplinan, katanya. Belakangan setelah kuliah, aku akan geli kalau dengar ada orang yang hendak mengajarkan disiplin lewat “pelajaran baris-berbaris”.
Secara keseluruhan, MOS adalah kegiatan membosankan. Isinya kebanyakan ceramah. Budi pekerti. Ekstrakurikuler. Wiyata mandala. Wawasan nusantara. Meski sudah berusaha menyimak, aku tetap mengantuk kalau diceramahi. Aku tak suka diceramahi.
Buat aku, satu-satunya kegiatan yang berkesan saat MOS adalah makan bersama. Panitia MOS dari OSIS telah menetapkan “menu harian” yang harus kami bawa dan makan di kelas. Mereka juga menentukan cara makan menu itu. Mulai dari jumlah kunyahan, kombinasi kunyahan dengan kobokan, sampai atraksi saat mengunyah, mereka tentukan. Ini seru sekaligus agak menjijikkan. Aku bukan orang yang biasa makan pakai cara “aneh”.
Panitia OSIS juga menyuruh para siswa baru membuat satu buku-bukuan dengan ukuran dan warna tertentu. Kelas 1.5 pakai warna hijau, sedangkan kelas 1.1 warna merah. Buku-bukuan tersebut harus diisi kumpulan tandatangan siswa baru yang lain, “kakak OSIS”, karyawan, dan guru. Mungkin ini maksudnya supaya kami bersosialisasi dengan orang-orang di sekolah. Tandatangan yang terkumpul akan diberi nilai. Siswa yang nilainya tak memenuhi standar akan dihukum.
Meski bukan tipe remaja yang sulit bergaul, aku tak seberapa suka dengan “sesi tandatangan”. Bagiku, cara ini artifisial sekali buat bersosialisasi. Apalagi “kakak-kakak OSIS” itu juga akan menggojlok kami sebelum memberikan tandatangan mereka, dengan dalih “melatih mental”. Aku tahu, tandatangan yang “bernilai” adalah tandatangan kakak-kakak itu. Yang kedua adalah tandatangan guru. Jadi aku malas bertukar buku dengan siswa lain. Buang waktu dan tenaga, pikirku.
Tapi tidak buat Donna. Hehehe ….
Siang itu kelas 1.5 dipersilakan keluar kelas untuk istirahat. Inilah kesempatan untuk sesi tandatangan. Aku keluar, lalu menoleh ke kiri, ke arah ruang guru lantai empat. Di sana aku lihat Donna lagi minta tandatangan seorang guru, sendirian. Aku sudah penasaran dengan perempuan ini sejak pembicaraan dengan Bagus sore itu.
Sedikit ragu, aku lantas memutuskan untuk menyusul Donna ke sana. Mulanya aku pura-pura ikut minta tandatangan ke guru itu, sambil terus memperhatikan Donna. Aku beruntung. Donna berhenti sebentar di ruang itu sambil corat-coret bukunya — mungkin bikin sedikit koreksi. Guru yang aku mintai tandatangan pun cepat memberi. Mungkin karena lagi terburu-buru, guru itu juga cepat meninggalkan ruangan. Donna sudah akan mengikuti jejak sang guru ketika aku berkata, “Donna, katanya kamu mau masuk negeri ya?”
Itulah kata-kata pertamaku kepada Donna. Hanya mereka yang terlintas di kepalaku saat itu. Lumayan ndredheg. Aku tak tahu kapan tepatnya aku mulai naksir Donna. Aku cuma merasakannya begitu saja.
“Iya, kamu juga?” Donna menjawab pertanyaanku.
“Iya, kamu mau masuk negeri berapa?”
“Negeri lima.”
“Wah, sama kalo gitu. Enggg …. Tolong isi bukuku.” Aku sodorkan buku hijau di tanganku.
“Kamu juga, isi di sini,” kata Donna, sambil memberi buku merahnya yang telah terbuka.
“Oya, namaku Satria.” Aku kembalikan buku Donna sambil sodorkan tangan.
“Donna.”
Tangannya bertemu tanganku. Kami bersalaman.
Sorenya, aku langsung telepon Donna. Sebenarnya aku hampir tak pernah menelepon teman perempuan, apalagi dengan tendensi untuk “PDKT”. Paling aku telepon karena urusan sekolahan, biasanya tugas. Tak pernah yang lain. Waktu itu aku tak pernah suka main bareng anak perempuan.
Aku mulai obrolan dengan tanya-tanya soal penerimaan siswa baru sekolah negeri, tapi terus melebar ke pertanyaan, “Kamu lagi apa?” Dan sebagainya. Aku lupa tepatnya obrolan itu. Tapi buatku, itu obrolan yang sangat menyenangkan. Donna tak cuma diam dan menjawab pertanyaan. Dia punya inisiatif bertanya. Dia juga bicara tanpa perlu diminta. Aku punya kesan, Donna cukup terbuka dengan orang baru.
Malamnya aku benar-benar tak bisa tidur. Senang setengah mati. Inilah pertama kalinya aku bisa mengajak bicara dan menelepon perempuan yang aku taksir. Tapi, sepertinya, malam itu perasaanku sudah lebih dari sekadar naksir ….
.
Ada orang pernah bilang, sekolah swasta buka penerimaan siswa baru lebih awal karena mereka ingin lebih segera mulai proses belajar mengajar daripada sekolah negeri. Tapi aku ragu. Menurutku, langkah ini terlalu besar untuk dialaskan hanya pada idealisme pedagogis.
Dari sisi pragmatisme bisnis, ini justru bisa dilihat sebagai “perangkap”. Si penjual jasa (sekolah swasta) dapat menanamkan perasaan settled kepada pelanggannya (siswa), hingga pelanggan tersebut akhirnya enggan pindah ke penjual lain (sekolah negeri).
Perasaan settled bisa timbul karena siswa kadung terlibat cukup jauh dengan sekolah barunya. Sudah urus administrasi, seragam sekolah, buku paket, ikut praorientasi, ikut MOS, ikut PBM. Sudah serangkaian proses dijalani. Ini sedikit banyak akan bikin si murid malas urus sekolah lagi di tempat negeri — tenaga kadung habis, pikiran terlanjur nyaman.
Tes masuk SMA negeri tahun 2003 dilaksanakan sehari setelah penutupan MOS SMA Kristen Petra 5. Donna bilang dia tak jadi masuk negeri. Dia merasa sudah cocok di Petra. Waktu itu aku punya pikiran kalau Donna cuma terpengaruh sahabatnya, Greta. Beberapa hari sebelumnya, Donna sempat cerita ke aku bahwa Greta batal mendaftar di SMA Negeri 2, karena “dapat jawaban doa dari Tuhan” untuk tetap sekolah di Petra. Aku lupa dengan Bagus dan Nirwan, tapi akhirnya mereka juga tetap di Petra.
Kalau soal ini, aku tak peduli-peduli amat dengan Donna. Bodoh kalau ada orang pilih sekolah berdasarkan tempat studi pujaan hati semata. Aku sudah betul-betul bosan di Petra. Aku juga ingin menghindar dari kontrol “mata-mata” ibuku. Aku ingin bisa “bebas jungkir balik” di sekolah. Ibu adalah konselor di SMA Kristen Petra 2. Koleganya di Petra banyak banget.
Jadi aku putuskan tetap ikut tes. Tapi aku juga sudah terlanjur “suka” Donna. Aku ingin tetap berhubungan dengan dia, mengenalnya.
Aku lantas menulis sepucuk surat. Ya, inilah surat cintaku yang pertama. Aku sudah lupa detil surat ini — semoga Donna masih simpan. Tapi intinya, aku bilang bahwa aku senang bisa kenal Donna sejak hari kedua MOS. Aku juga bilang bahwa pembicaraan telepon tempo hari sangat menyenangkan. Jika nanti aku diterima di negeri dan tak satu sekolah lagi dengan dia, aku ingin tetap bisa berhubungan dengan dia, sebagai sahabat, supaya kami bisa bertukar cerita. Surat ini aku kirim lewat perantaraan Bagus.
Saat tes di SMA Negeri 6, aku sedikit kesulitan. Tapi aku tidak ngaya. Belum ada separuh waktu tes, semua soal sudah selesai aku garap. Tinggal matematika yang belum. Ini memang subjek paling membosankan buat aku. Aku coba kerjakan satu nomor, dua nomor …. Di nomor ketiga, aku merasa capek sekali. Aku istirahat sebentar, lalu coba mulai lagi. Tapi aku malas. Aku juga malas nyontek. Akhirnya, keluarlah “jurus bonda-bandi”.
Bonda-bandi, sing kenek dadi ….
Bonda-bandi, sing kenek dadi ….
Soal pilihan ganda cepat banget selesai kalau dikerjakan pakai “metode” ini. :P Dari tiga jam waktu tersedia, aku selesai dalam dua jam saja. Aku orang pertama yang keluar ruangan. Dalam perjalanan pulang aku sudah sadar, bonda-bandi mungkin tak berguna banyak kali ini.
Ternyata betul. Beberapa hari kemudian bapakku memberi kabar. Negeri menolak aku. Dia lihat namaku ada di peringkat pertama murid yang gagal. Nilai matematikaku dapat 2.
.
Waktu kelas satu SMP, aku punya seorang teman yang cukup dominan di kelas. Temanku ini suka memperalat aku untuk “membantu” dia saat ulangan. Dia satu SD dengan aku, dan sejak itu dia tahu nilaiku selalu baik. Badan anak ini lebih besar dari aku. Dia juga salah satu murid “berpengaruh” di SMP Kristen Petra 5. Aku takut dipukul dan dimusuhi. Jadi selama tahun pertama di SMP, aku belajar bagaimana cara memberi contekan dengan baik dan benar.
Usai ulangan, biasanya temanku itu akan memberi uang Rp 5.000. Awalnya pemberian ini aku anggap sebagai “obat penawar rasa sakit”. Hampir tiap jam istirahat di musim ulangan, aku pergi makan ke kantin pakai uang itu, membuang kesal. Aku sebetulnya benci dipaksa, apalagi dipaksa memberi contekan!
Tapi lambat laun, aku menikmati juga hidup sebagai “pemercontek bayaran”. Nyontekin, dibayar. Nyontekin, dibayar. Aku jadi makin “profesional” ketika musim sekolah masuk cawu (caturwulan) kedua. Teman yang aku conteki itu menunjukkan bukti paling “konkret” tentang khasiat contekanku. Dia bisa rangking sembilan di cawu pertama. Aku sendiri dapat rangking dua.
Wali kelas dan guru-guruku tentu kaget, bagaimana anak senakal itu bisa masuk sepuluh besar? Tapi sindikat percontekan kami tertutup. Sindikat kami rahasia dan terlarang. Meski warga kelas cukup banyak yang tahu, mereka tetap tak berani lapor guru karena reputasi “klien”-ku.
Karena success story inilah jumlah klienku makin banyak. Dan sesuai Hukum Permintaan dan Penawaran, “tarif”-ku ikut naik seiring dengan pertambahan jumlah klien. Ini jadi semacam bisnis ilegal kecil, pikirku waktu itu. Tapi setelah kuliah, aku tahu hal ini punya sebutan yang lebih keren.
Pelacuran intelektual!
Pelacuran intelektual itu hanya berlangsung beberapa bulan. Menjelang akhir kelas satu, aku mulai merasa tak nyaman lagi dengan praktik-praktik percontekan.
Salah satu subjek kesukaanku adalah sejarah. Kedua adalah biologi. Bahasa Inggris ada di urutan ketiga. Aku tak suka subjek bahasa Indonesia karena monoton, PPKn dan agama apalagi!
Antusiasmeku, dan akhirnya juga nilaiku, pada ketiga subjek itu bergradasi berturut-turut. Respekku pada guru-guru pengajarnya juga bergradasi mengikuti tingkat antusiasme tersebut. Guru yang paling aku hormati adalah guru yang bisa merespon antusiasmeku dengan sikap antusias pula. Ini membuat semangat belajarku berlipat-lipat.
Sepanjang kelas satu SMP, nilai sejarahku nyaris sempurna. Flawless. Semua ulangan, harian maupun sumatif, aku selesaikan dengan angka 100. Aku baru “jatuh” sekali pada ulangan harian terakhir cawu ketiga. Waktu itu aku cuma dapat nilai 99.
Buat aku, sejarah bukan sekadar hapalan. Ia ibarat pohon kehidupan besar yang terus menjulang sekaligus mengakar. Daripadanya aku bisa belajar, kenapa ranting yang satu beda dengan yang lain — arah, atau ukurannya. Seberapa kuat peradaban manusia telah mengakar? Pernahkah ia ditebang, hingga muncul ketimpangan antara akar dan batang?
I Ketut Tertius juga guru sejarah yang suka diskusi. Dia bukan tipe guru yang suka mendikte catatan atau menghadap papan terus. Dia suka jalan-jalan, sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada murid.
“Siapa di antara kalian yang tahu, untuk apa sih kita belajar sejarah?” tanya Ketut dari depan kelas. Dia mulai keliling, nyengar-nyengir, sambil membelai-belai kumisnya yang tebal. Itulah kelas sejarah perdana kelas 1.4, kelasku. Waktu itu pertengahan tahun 2000.
Suasana hening. Buat anak yang baru lulus SD, pertanyaan itu cukup sukar dijawab. Masalahnya adalah kami tak pernah dilatih berpikir sebagai manusia! Kenapa belajar ini dan itu? Kenapa cara belajarnya begini dan begitu? Kenapa bisa begini dan begitu? Yang kami terima sejak SD adalah, “Kalian harus belajar ini dan itu, caranya begini dan begitu, hasilnya harus begini dan begitu. Titik!” Para guru killer siap menegakkan dogma dengan bentakan, jeweran, cubitan, penggaris, kapur tulis, dan sebagainya, termasuk strap!
Tapi I Ketut Tertius mengajak kami sekelas berpikir analitis, reasoning. Memutar otak yang telah mangkrak berdebu. Menggeliatkan sendi-sendi intuisi yang semula mati terpatri.
Menit-menit telah berlalu. Kelas tetap hening. Aku dengan takut-takut mengacungkan tangan. “Supaya kita tahu masa lalu Pak.” Aku sedikit grogi.
“Oke, tapi kenapa kita harus tahu masa lalu?” Ketut mengejar jawabanku.
“Mungkin, supaya kalo ada yang salah, nggak diulangi lagi,” kataku.
Senyum Ketut mengembang. Dia menyatakan jawabanku benar. Sejak itu aku selalu percaya diri menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Dulu aku bisa habiskan berlembar-lembar kertas ulangan (folio bergaris) untuk cerita soal sejarah Majapahit, Singasari, Kediri, Mataram, dan sebagainya — tentu yang versi “resmi pemerintah”. Usai ulangan, Ketut selalu meninjau ulang tulisanku dan memberi beberapa kritik. “Bagian ini mestinya di sini. Yang ini di sini,” katanya. “Tapi oke, nggak apa-apa. Ini sudah sangat bagus.” I Ketut Tertius adalah salah satu guru menulisku paling awal.
Meski tak punya masalah dengan materi sejarah, aku selalu kesulitan memberi contekan ulangan sejarah. Bagaimana aku bisa memberi contekan sepanjang tiga lembar folio bolak-balik pada klienku? Ketut selalu bikin soal ulangan kami sebagai uraian. Dia minta kami cerita. Ini artinya kami harus menulis. Padahal menulis butuh kreativitas, orisinalitas, gaya. Penulis yang satu tak mungkin sama persis dengan penulis yang lain.
Aku hanya bisa memberi contekan ulangan sejarah pada satu klien saja. Dan klien utama ini adalah temanku yang berpengaruh itu. Bangkunya terletak di sebelah kanan bangkuku. Bangkuku ada di lajur paling kiri, menempel jendela-jendela dinding. Setelah selesai menulis semua ceritaku, kertas-kertas ulangan itu aku taruh di pojok kanan meja. Dan klien utama itu langsung menyalin dengan cepat. “Aja persis plek lho,” bisikku mengingatkan.
Karena ulanganku 100 terus, Ketut selalu mengunjungi bangkuku lebih sering daripada bangku murid lain. Kadang dia malah menungguiku bekerja. Mungkin dia ingin melihat bagaimana aku bisa menulis ceritaku, tanpa melihat buku sama sekali. Belakangan, setelah naik kelas dua, dia menguji pengetahuan sejarahku dengan cara yang lebih ekstrim. Dia minta aku gantikan dia cerita di depan kelas.
Tapi aku juga yakin, sebetulnya Ketut mampir bangkuku untuk mereduksi kesempatan klienku mencontek. Dia juga beberapa kali menyindir kami. “Hayo, yang curang nanti saya kurangi nilainya,” kata Ketut dari depan kelas. Dia menatap mataku.
Sejak itulah aku selalu merasa bersalah. I Ketut Tertius adalah guru yang aku hormati. Dia sering membangga-banggakan aku di depan kelas. Tapi kalau ulangan, aku menipunya terus. Aku merasa hina!
Naik kelas dua, aku “bebas”. Aku dan klien utamaku sudah beda kelas. Tapi aku tetap memberi contekan kepada beberapa teman dekat, yang nilainya ngepres. Ini semata-mata karena kasihan jangka pendek. Aku cuma berniat bikin mereka senang. Jeleknya, di kelas ini aku juga mulai minta contekan ….
Kelas tiga SMP membawa perubahan besar. Wali kelasku seorang guru bahasa Inggris. Dia dan teman-teman mempercayai aku sebagai ketua kelas. Setiap kali mencontek aku akan merasa jadi penipu dan pencuri. Bagaimana aku bisa mengemban kepercayaan tersebut jika terus jadi penipu dan pencuri?
Jadi aku berhenti. Sama sekali.
.
Setelah dua tahun berpisah, aku dan mantan klien utamaku kembali sekelas di SMA. Kami sama-sama di kelas 1.5. Dia minta supaya aku menconteki dia lagi. Dia cerita, dulu papanya membelikan dia satu motor baru karena rangkingnya masuk sepuluh besar.
Aku kaget. Dia dapat motor seharga belasan juta, dan dia hanya memberiku uang Rp 5.000 per ulangan? Itu waktu SMP. Kalau sekarang SMA, jangan-jangan nanti dia dibelikan mobil, dan aku cuma dibayar Rp 10.000? No way!
Aku merenungi pengakuan mantan klienku, dan bertanya-tanya, kenapa ini tak adil? Tapi aku berpikir lagi, adakah keadilan dalam “dunia hitam”? Entahlah. Yang jelas, sekarang aku tak mau dimanfaatkan lagi. Aku juga sudah tak terbiasa dengan praktik percontekan. Aku tak mau terjerumus lagi.
Aku lantas bicara dengan konselor sekolahku, minta supaya aku dipindahkelaskan. Aku minta ibuku ikut melobi konselor tersebut. Untuk meyakinkan mereka, aku ceritakan semua yang aku alami saat kelas satu SMP. Tapi aku minta agar mereka tak konfirmasi pada mantan klienku. Aku minta mereka percaya sepenuhnya kepadaku.
Dan mereka melakukannya.
“Sekarang, seandainya kamu benar-benar pindah kelas, kamu memilih untuk masuk kelas yang mana?” tanya konselor SMA-ku.
“Mungkin kelas 1.1 Pak.”
“Kenapa?”
“Saya lihat anak-anaknya nggak ada yang bermasalah.” Sebenarnya kelas manapun oke saja, tapi kelas 1.1 jadi spesial karena Donna di sana. Hahaha ….
Tapi kali ini aku sedikit gagal. Mereka tak memindahku ke kelas 1.1. Aku dipindah ke kelas 1.3.
Singkat cerita, aku lantas melanjutkan perdjoeangan. Aku dan Donna beberapa kali komunikasi lewat surat. Kami juga saling mengirim SMS. Setiap akhir pekan, aku telepon rumah dia. Ketika OSIS membuka seleksi anggota baru, dan Donna ikut, aku juga ikut. Aku memilih ekstrakurikuler yang sama dengan Donna, kelas pengayaan bahasa Inggris yang diadakan tiap Senin. Kami cepat akrab.
Masalahnya, Donna “hanya” menganggapku sebagai sahabat (seperti permintaanku pada surat pertama), yang beda sama sekali dari sosok pacar. Aku sendiri punya pandangan bahwa sahabat (perempuan) bisa jadi pacar yang baik — karena sahabat bisa saling terbuka, dan komunikasi lancar. Donna selalu cerita ke aku soal masalah-masalahnya dengan laki-laki lain yang mendekatinya, yang sekaligus juga dia “suka”. Cintaku bertepuk sebelah tangan.
Inilah saat-saat dimana aku mulai belajar menghadapi “konflik kepentingan”. Di satu sisi, sebagai sahabat, aku harus memberikan pertimbangan terbaikku secara independen untuk masalah Donna dan laki-laki itu. Di sisi lain, aku ingin memberikan pengaruh agar Donna menjauh dari laki-laki itu dan mendekat padaku sesegera mungkin. Aku tak selalu berhasil menjalankan peran sahabat yang baik. Kadang kalau sudah terlalu jenuh mendengar masalahnya, aku akan bersikap mendorong Donna untuk “keep on going” dengan laki-laki itu. Ini memang agak berat di hati, tapi aku sepakat dengan prinsip yang bilang bahwa jodoh tak mungkin kemana-mana.
Lama-lama aku capek sendiri. Tak mudah untuk terus berhadapan dengan konflik kepentingan ini. Isinya cuma sakit hati. Donna sendiri makin sibuk dengan laki-laki itu. Salah satu teman baikku juga mulai menaruh hati pada Donna. Sebelum keadaan jadi tambah ruwet, aku memilih untuk mundur teratur dari perdjoeangan.
Aku mulai mengalihkan perhatian ke hal-hal lain. Aku kembali menghapal lirik-lirik lagu bahasa Inggris. Aku kembali belajar sejarah dan biologi. Aku menghapal isi atlas. Aku main basket. Aku jalan-jalan. Pokoknya, aku berusaha memperkecil kemungkinan pikiranku melayang pada Donna lagi. Aku berhenti menghubunginya, dan jarak kami merenggang.
Kami sempat dekat lagi di kelas dua SMA, beberapa waktu setelah aku terpilih sebagai ketua OSIS. Waktu itu Andre memberitahu bahwa Donna mulai “menaruh perasaan” padaku, dan aku pun mulai mendekatinya (lagi). Tapi kedekatan ini cuma bertahan beberapa bulan. Setelah itu Donna tak merespon kontak-kontakku lagi. Aku bingung dan coba tanya pada Greta, tapi dia menolak memberi informasi. Hingga kini aku tak pernah tahu pasti alasan Donna “pergi”.
.
Sore ini Donna berhadapan denganku lagi. Sepertinya, dia makin merawat diri. Makin dandan, makin memel. Matanya yang bêlok makin bening. Tapi aku buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Ada sedikit perasaan canggung. Aku send
Salatiga, 11 Januari 2009
Buat orang yang kebetulan tersesat dan membaca naskah ini,
Cerita ini belum selesai, dan mungkin tak perlu selesai. Saya harus selesaikan pekerjaan lain yang lebih penting, daripada terus bercerita tentang mimpi yang nongol bulan lalu. Belakangan ini saya selalu bermimpi, setiap hari.
Tapi singkatnya begini, di mimpi itu saya diminta (secara mendadak) untuk menikah dengan Donna. Saya jelas tak bisa, karena telah ada perempuan lain yang lebih berhak untuk hati ini. Saya juga ragu, apakah Donna yang selama ini saya kenal bisa “mencintai” saya sepenuh hati. Ibu saya sendiri bilang dalam mimpi itu, “Lha wong mencintai kowe iku padha karo mencintai bêdhès!”
Sesingkat itulah mimpi saya sebenarnya. Cuma, mengingat Donna telah membangkitkan lagi beberapa kenangan SMP dan SMA, beserta hasrat untuk menuliskannya. Mimpi itu telah memberi saya sedikit pelajaran. Pertama, jangan menikah dengan orang yang tidak Anda cintai. Kedua, jangan menikah tanpa persiapan lahir, batin, dan … finansial. Hehehe ….
Salah satu guru saya pernah bilang, menikah tak seindah yang dibayangkan. Saya sendiri juga percaya, ia tak seburuk yang dikira orang. Anggapan kita selalu butuh moderasi memang.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Duis placerat turpis quis mi mollis imperdiet. Integer luctus suscipit placerat.
1. Mey
12/01/2009 03:31 pmHa ha ha….
senang baca tulisanmu!
kayak terserap ada juga menyaksikan langsung
beberapa peristiwa2 masa lalumu yang agak bodoh itu.
hweheheehe….
peeAAaaaCCCeeeeeeee!!!!!!!!
2. Ricko
13/01/2009 02:56 pmDuh Sat,
mbayangin Donna-mu yang MEMEL itu koq bikin aku jadi terbayang yang aneh-aneh ya…
Ampuni aku Ndoro GUSTI
(just kidding yang pertama,hehehehehehe…)
Memang indah sekali masa SMA dulu apalagi waktu selalu dekat dengan si Doi. Jadi ingat masa-masaku dulu juga dekat dengan dia (yang adalah cowok, badalah!!! satu komplotan cowok smua…hehehe, just kidding yang kedua).
Sat, pengen jadi sahabatku juga g?? tapi tenang gak ada tendensi untuk pacaran deh (lho,lha,lho…just kidding yang ketiga dan terakhir…mampus aku ntar kamu kepruk!!!)
3. Joy
13/01/2009 06:22 pmCerita yang sangat menyenangkan untuk dibaca.
Sat, sepertinya ada yang salah dalam penulisan kamu, cita2 kamu kan ingin masuk ke SMA N 5, tapi kok kamu tesnya ikut di SMA N 6.
Jujur ya sat, waktu baca tulisan ini aku sambil ketawa-ketawa sendiri. jan tulisanmu iso nggawe aku lali karo masalah-masalah sing lagi tak adepi.
he…..he….
4. James
13/01/2009 08:58 pmkalo aku milih ga nikah aj sat..hahahha
ta ramal ya sat…
menurut primbon kamu ga jodoh sama Donna,kamu cocoknya kerja di air (loh??)
5. STR
14/01/2009 12:55 am@ Joy: Aku memang daftar buat SMA Negeri 5. Tapi dapat jatah tempat tes di SMA Negeri 6. Yang daftar SMA Negeri 6 sendiri juga dapat tempat tes bukan di sekolah itu. Udah ditentukan begitu.
@ James: Nggak nikah? Padahal kemaren udah “orientasi” seminggu di rumah camer kan? Hehehe ….
6. STR
14/01/2009 02:53 amJames, aku barusan baca artikel Wikipedia soal Ramalan Jayabaya. Salah satu ramalannya, “Akeh wong lanang ora duwe bojo.” Tapi terjemahan Indonesia-nya jadi, “Banyak laki-laki tak mau beristri.”
Itu kamu ya? Hahaha ….
7. wit
14/01/2009 04:04 pmBuat aku, sejarah bukan sekadar hapalan. Ia ibarat pohon kehidupan besar yang terus menjulang sekaligus mengakar. Daripadanya aku bisa belajar, kenapa ranting yang satu beda dengan yang lain — arah, atau ukurannya. Seberapa kuat peradaban manusia telah mengakar? Pernahkah ia ditebang, hingga muncul ketimpangan antara akar dan batang?
makanya masih terus teringat Donna, nampaknya sudah “mengakar” juga….
..karena sahabat bisa saling terbuka, dan komunikasi lancar.
wah.. kalau sudah saling terbuka, sudah lebih dari sahabat SAT…., apalagi kalau sudah saling membuka…
8. Xrvel
14/01/2009 06:43 pmWah ada fotonya. Ada fs nya, Sat? :p
9. STR
14/01/2009 11:54 pmAda FS, tapi aku lupa nama sama URL-nya. Yang pasti ada di Facebook. Cari aja namanya. :)
10. DN
15/01/2009 08:11 pmkeep this word man…
“suatu hari tulisan-tulisan ini akan jadi sejarah”
11. Eva "bociL"
16/01/2009 01:41 amealah..
mimpi tho..
udah terlanjur protes duluan..
hahahahahaaaaa…..
habis agak aneh,,
ente pulang 2x ga nengokin diriku sama sekali!
padahal tertera jelas2 bahwa SAYA adalah salah satu alasan Anda akhirnya nengok Surabaya!
dasaaarrrrrrr..
hahahahahaaa..
yah..
aq jg inget Pak Ketut..
hem……….
brati kita SMA kelas 1 tuh satu kelas ya..
heheheee..
kamu duduk blakang tho?
bareng Bogank dll??
hehee..
btw, sapa si Klien?
hem..
anak 1.5 yang besarrr…
hem..
ada sedikit bayangan lah..
hahahahahhaaaaaaaaaaaaaaaaaa….
ok2..
seru2..
kalo diterusin lagi ente bisa buat novel skalian!
hohohohohohohoooo..
~banyak amat ketawanya…hehe~
12. James
16/01/2009 09:36 pmsepertinya ada hubungannya dengan ramalan “Akeh prawan tuwa” :-p
ya sat..aku takut sama ramalan “Akeh wong wadon ora setya marang bojone”
hahahaha
camer??!! udah jadi mertua Sat..iiihaaaa!!
13. LosseR
16/01/2009 09:39 pmhmm,,, cukup lucu sat bayangin kamu PDKT ama Donna hehehe…
liat km yg pendiem gitu,, tapi gag taw juga ya…
aku kan ga terlalu dekat ama kamu Sat..
nongkrong bareng ma km aja bawaan’e nak ngomong wedi rag nyambung (kan aku rag (terlalu) luas wawasan’e..) alhasil diem aja,, haha….
tapi selera sama Sat,, suka wanita memel..
tpi bukan sing memelentung lho… hahaha…
14. det
18/01/2009 11:52 pmwalah dalah.. MEMEL kui artine opo sat? kalo yang akhirannya sebelum huruf terakhir MEMEL itu aku tahu :mrgreen:
MEMEL bayanganku: seger, bodinya bagus, wajahnya putih bening dan ceria, gerakannya gemulai, pinggulnya sexy, dadanya sedikit dilihatkan belahannya..
MEMEL?
15. Andreas Harsono
19/01/2009 02:18 pmDonna, kalau kamu baca karya ini, aku pikir kamu perlu memikirkan hubungan kalian sekali lagi. Tidak banyak orang yang bisa mengungkapkan perasaannya macam Satria. Aku seseorang yang banyak menilai karya orang. Satria salah satu anak muda berbakat yang pernah aku lihat. Mengapa tak mencobanya sekali lagi?
16. cempluk
26/01/2009 01:01 pmlapo cah ra seneng mulih neng suroboyo..neng kene loh enak jeh..:)
knp dikau tak sms saya, kan bisa walking2…
17. STR
26/01/2009 01:16 pmEnak opo, Pluk …. Sing enak mek sego gorenge tok.
HP-ku iki riwil, phonebook-ku ilang. Nomer2 sing biyen tak simpeni wis ilang kabeh.
18. Niff
27/01/2009 11:10 pmpostinganmu kereen sat…
jadi kapan donna km kenalkan kita?
19. mizan
28/01/2009 05:53 amPindah nang kene saiki awakmu…
Salam teko arek-arek Loenpia karo TPC :p
20. Yogie
28/01/2009 08:38 amHalloo bro..
lama ga nongol di milis :)
Eh memel itu apa?
tetangganya memet? atau memey?
21. jolly
28/01/2009 04:26 pmpanjang sat.
manis ya si donna. huehehe ^^.
22. sesy
29/01/2009 03:31 pmmakanya kl suka bilang aja suka, jgn sok2an pengen sahabatan segala
23. ERNA
03/02/2009 11:24 amSeseorang dari masa lalu yg di kagumi…..Hmmm
24. Satria Anandita » Mboh!
04/02/2009 07:20 pm[...] Semua hal nyelonong begitu saja, dan ketika menulisnya, aku bingung menyambung kata. Sejak menulis Berbunga Tidur Donna, tak ada tulisanku yang betul-betul rampung dan sempurna. Semuanya tinggal draf [...]
25. Satria Anandita » Penting dan Menarik
10/02/2009 12:19 pm[...] tak cukup kuat, personal drive tak akan cukup besar untuk menyelesaikannya hingga titik terakhir. Berbunga Tidur Donna contohnya, dan sejak itu, aku tak pernah berhasil selesaikan satu tulisan [...]
26. MCT
18/02/2009 07:56 amuhmmmmmm…baru baca nihhh…
pengen comment aja..kisah ini unik juga.. :)
jadi Donna adalah bunga tidur??
semoga bsa mendapatkan Donna yg bsa dHarapkan ok..
27. niel
26/03/2009 02:21 pmsetitik bayang tentang masa lalu merupakan suatu umpan yang dapat memancing banyak kisah yang telah dilalui….
itulah yang km alami Sat…
kelak suatu saat,masa lalumu akn menjadi cerita yang menarik(apalagi ttg Donna,hehe)untuk diceritakan pada anak-cucu km….
semangat ya..!!!
28. joko
08/07/2009 10:01 pmwah sat…ternyata kmu pny blog yang mengisahkan masa lalu kamu yg indah ni….
haha…aq aja baru taw klo kmu suka ma donna…hehehe….
oke2 semangat n jangan pantang menyerah yo….