
aya jengkel! Beberapa hari terakhir, media-media penuh dengan berita tentang kondisi Soeharto. Bukannya benci, tapi ini sudah keterlaluan. Saya sudah coba lari ke KCM, SMC, JPO, Detikcom, dan bahkan BIO untuk berburu berita-berita ekonomi yang berkualitas, tapi hasilnya nihil! Media lagi mabuk Soeharto! Padahal, apa Soeharto di sana lagi sekarat beneran?
Berlian Porter (Porter’s diamond) adalah model yang diciptakan oleh Michael Porter untuk membantu kita memahami konsep keunggulan kompetitif (competitive advantage) suatu negara. Konsep ini sangat populer dalam dunia yang mendewa-dewakan kompetisi seperti sekarang.
Berbeda dengan konsep keunggulan komparatif (comparative advantage) yang menyatakan bahwa suatu negara tidak perlu menghasilkan suatu produk apabila produk tersebut telah dihasilkan oleh negara lain dengan lebih baik, unggul, dan efisien secara alami, konsep keunggulan kompetitif adalah sebuah konsep yang menyatakan bahwa kondisi alami tidak perlu dijadikan penghambat karena keunggulan pada dasarnya dapat diperjuangkan dan ditandingkan. Dan keunggulan suatu negara bergantung pada kemampuan perusahaan-perusahaan di dalam negara tersebut untuk berkompetisi dalam menghasilkan produk yang dapat bersaing di pasar.
Kembali ke berlian Porter. Berlian ini terdiri dari empat determinan utama yang membentuk model seperti berlian. Dalam hubungannya, keempat determinan ini saling menguatkan satu sama lain. Keempat determinan tersebut adalah kondisi faktor produksi, kondisi permintaan, industri-industri yang berkaitan dan mendukung, dan strategi, struktur, dan persaingan perusahaan.

Model berlian Porter. (Sumber: Franteractive)
Kondisi faktor produksi dibagi menjadi dua, yaitu yang biasa dan yang terspesialisasi. Yang biasa adalah faktor-faktor produksi yang diwarisi secara alami seperti kekayaan sumber daya alam (SDA), tanah, dan tenaga kerja yang belum terlatih. Sedangkan yang terspesialisasi adalah faktor-faktor produksi yang tidak terdapat secara alami, melainkan harus diciptakan terlebih dahulu. Contoh dari faktor produksi yang terspesialisasi adalah teknologi dan tenaga kerja yang terlatih.
Kondisi faktor produksi dikatakan baik apabila jumlah faktor produksi yang dimiliki ada banyak dan perbandingan antara faktor produksi biasa dengan faktor produksi terspesialisasi adalah proporsional. Semakin baik kondisi faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan di dalam suatu negara, maka akan semakin kompetitif pula negara tersebut.
Kondisi permintaan dikatakan dapat menaikkan kompetitivitas apabila kondisi permintaan tersebut adalah mutakhir (sophisticated). Yang dimaksud dengan permintaan mutakhir di sini adalah kecenderungan untuk selalu menuntut, menuntut, dan menuntut agar produk yang dihasilkan terus diinovasi supaya bisa memuaskan kebutuhan para demander.
Cara kerja kondisi permintaan dalam menaikkan kompetitivitas dapat dianalogikan dengan analogi kusir, cambuk, dan kuda. Produsen/perusahaan di sini diibaratkan sebagai kuda yang harus menghasilkan tenaga kuda, sedangkan demander/konsumen diibaratkan sebagai kusir yang menikmati tenaga kuda yang dihasilkan oleh kuda tersebut. Cambuk adalah perumpamaan untuk kondisi permintaan dari demander/konsumen. Asumsikan bahwa kuda akan semakin kompetitif apabila kuda tersebut dapat menghasilkan tenaga kuda yang semakin besar. Apabila kusir menghendaki tenaga kuda yang lebih besar (agar kuda berlari lebih cepat), maka sang kusir tinggal menggunakan cambuknya untuk memaksa sang kuda menghasilkan tenaga yang lebih besar. Ini bisa disebut “memaksa,” namun juga bisa disebut “merangsang.” Alhasil, kuda akan menghasilkan tenaga yang semakin besar, yang berarti kompetitivitas kuda tersebut juga akan meningkat.
Selanjutnya adalah industri-indsutri yang berkaitan dan mendukung. Kompetitivitas dapat meningkat apabila industri-industri yang berkaitan dan mendukung memusatkan diri mereka dalam satu kawasan. Hal ini akan menghemat biaya komunikasi, ongkos gudang penyimpanan, ongkos transportasi, serta akan meningkatkan arus pertukaran informasi.
Sebagai contoh adalah hubungan antara pabrik tempe dengan petani kedelai. Apabila jarak antara lahan pertanian kedelai dekat dengan pabrik tempe, maka hal ini akan menghemat ongkos transportasi. Ongkos gudang penyimpanan juga dapat direduksi oleh petani kedelai karena hasil panen kedelai tidak perlu disimpan terlebih dahulu di gudang, melainkan dapat langsung dikirim ke pabrik untuk langsung diolah. Dari segi komunikasi, hal ini juga akan menguntungkan karena jarak yang relatif dekat berakibat biaya yang relatif lebih murah. Hal ini akan meningkatkan arus pertukaran informasi di antara petani kedelai dengan pabrik tempe, sehingga akan meningkatkan pengembangan produk masing-masing. Petani kedelai akan mengetahui kedelai macam apa yang paling dibutuhkan oleh pabrik tempe, sedangkan pabrik tempe juga akan mengetahui dan dapat memilih jenis kedelai mana yang paling cocok dengan orientasi produksinya dan bagaimana cara mengolahnya, sehingga kualitas produksi tempe juga dapat menjadi lebih optimal. Berbagai macam keuntungan ini diyakini dapat meningkatkan kompetitivitas perusahaan.
Yang paling akhir adalah strategi, struktur, dan persaingan perusahaan. Strategi dan struktur yang diterapkan perusahaan akan menentukan kompetitivitasnya. Hal ini lebih menyangkut kepada konteks waktu dan budaya dimana perusahaan itu berada. Tidak semua perusahaan cocok menggunakan strategi dan struktur tertentu. Perusahaan dituntut agar dapat menerapkan strategi dan struktur yang paling tepat dengan keadaan yang dialami agar dapat survive terhadap kondisi sekitarnya. Persaingan antarperusahaan juga dapat meningkatkan kompetitivitas karena dengan adanya persaingan, maka dipastikan akan ada usaha ekstra dari perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya agar dapat, sekali lagi, survive dalam kompetisi.
Selain keempat determinan di atas, masih ada dua unsur lagi yang berada di luar berlian, namun memiliki pengaruh pada keempat determinan tersebut. Kedua unsur ini adalah pemerintah dan kesempatan.
Pemerintah dapat memengaruhi keempat determinan di atas lewat kebijakan-kebijakannya. Sebagai contoh adalah pemerintah dapat mengorganisir industri-industri yang saling mendukung dan memiliki keterkaitan dengan memfasilitasi berdirinya kawasan berikat, sentra dagang, sentra kerajinan, dan lain-lain.
Unsur kesempatan juga memberikan dampak yang cukup signifikan pada keempat determinan berlian Porter, meskipun unsur yang satu ini tidak dapat diprediksi dengan tepat keberadaan dan pergerakannya. Sebagai contoh, bencana alam yang tidak terduga seperti banjir lumpur panas di Porong, Sidoarjo mengakibatkan sejumlah industri di sana menjadi lumpuh dan kehilangan kompetitivitasnya.
Dan kebijakan-kebijakan Pak Harto lewat gurita Orde Baru yang represif, otoriter, dan korup cuma membuat bangsa ini menjadi tidak kompetitif! Pak Harto boleh menerima maaf, tapi kasusnya tolong diusut tuntas!





There are 42 comments already. Say something!