Kini doktor psikologi itu menenteng buku-bukunya sambil melangkah dengan wajah murung, meninggalkan kompleks kampusnya melalui pintu belakang yang sempit. Cuaca hangat sore itu tak juga membuatnya terhibur sepanjang perjalanan pulang. Dia tenggelam begitu dalam dalam parit pikirannya yang dangkal dan sempit, berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengusiknya sejak beberapa tahun terakhir.
Mengapa hampir seluruh mahasiswaku tak menunjukkan kegairahan terhadap psikologi? Mengapa diskusi kelas hampir selalu lesu, dan bernafas klise? Mengapa paper mahasiswaku hampir tak ada yang “orisinal”, hanya sekadar menyalin dan menyadur sana-sini, tanpa alur pemikiran yang jelas pula?! Apakah mereka benar-benar menyukai psikologi? Apakah psikologi membosankan? Ataukah cara mengajarku sendiri yang tak menarik?
Kini doktor itu berbelok kanan, mengambil sebuah gang sempit yang cukup menghemat jarak ke rumahnya, yang hanya sekitar satu setengah kilometer dari kampus. Di sana dia bertemu dengan seorang pemuda, berkemeja biru, berjalan ke arah berlawanan sambil menenteng kresek putih. Walau sedang tak berkacamata, doktor itu mampu langsung mengenali potongan si pemuda yang gundul. Si pemuda melempar senyum terlebih dahulu. Mereka berpapasan, berjabat tangan, bicara sebentar, dan sama-sama kembali meneruskan perjalanan. Si pemuda mengatakan bahwa dirinya hendak ke kampus.
Kini doktor itu memasukkan bayangan pemuda tadi dalam adonan pergumulannya. Dia mengenal pemuda tersebut sebagai mahasiswa yang terdaftar di fakultas ekonomi, namun (hampir) tak pernah kuliah. Umurnya belum lagi 21. Si pemuda memilih cuti kuliah dan lalai administrasi secara bergantian, untuk menghindari perkuliahan sambil tetap mempertahankan status mahasiswanya. Si pemuda memilih untuk bergabung dengan salah satu lembaga pers mahasiswa di kampus dan belajar (membaca serta menulis) secara mandiri di sana. Doktor itu punya kesan bahwa si pemuda cukup keras kepala hingga, kadang-kadang, menunjukkan sikap kurang mawas diri dan waton sulaya.
Kini doktor itu mengingat-ingat beberapa tulisan pemuda tadi yang pernah dibacanya. Tak banyak selain berita-berita kampus biasa, dan beberapa opini sarkas ala revolusi orde pertama. Hanya belakangan saja dia menulis dengan lebih santun, entah dapat wejangan darimana.
Kini doktor itu ingat blog si pemuda. Dia beberapa kali membacanya. Isinya, selain arsip tulisannya, juga beberapa cerita pribadi, curahan hatinya. Doktor itu agak tak suka dengan cara si pemuda menulis, yang kadang mengutip “nama-nama besar” tidak pada tempatnya, dan tergelincir dari konteks semula. Dia pernah mengungkapkan ketidaksenangannya ini lewat surat elektronik kepada si pemuda. Mungkin anak itu punya bakat jadi pseudo-intellectual, pikirnya.
Kini doktor itu ingat beberapa nama besar yang pernah dikutip si pemuda. Fritjof Capra, Pram(oedya), Arief Budiman, Liek Wilardjo, Mankiw, Orwell, Andreas Harsono, Bill Kovach, Lord Acton, John Verhaar, Adler, William Schutz, Carl Jung, … Freud! Meski agak-agak meleset, tapi mendinglah ketimbang mahasiswaku. Setidaknya anak itu bisa menunjukkan inherensi teori psikolog-psikolog itu dengan cerita kehidupan sehari-hari, katanya dalam hati. Setidaknya anak itu menunjukkan kegairahan pada psikologi.
Kini doktor itu mendapat pertanyaan baru. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa fakultas ekonomi yang gagal kuliahnya bisa lebih bergairah terhadap psikologi, dan menulis naskah berbumbu studi kejiwaan secara lebih apik dari sebagian besar mahasiswa fakultas psikologi? Ah, jawabnya sendiri, sambil membuka pagar kecil rumahnya, mungkin itu cuma soal preferensi pribadi. Mungkin anak itu memang salah jurusan telah masuk fakultas ekonomi. Mungkin. Tapi apakah itu berarti sebagian besar mahasiswa fakultas psikologi — yang tak menggairahi psikologi — juga salah jurusan?
Kini doktor itu mengenang pengalamannya menjuri sebuah lomba karya ilmiah remaja tingkat SMA di provinsi. Dalam blog pribadinya, dia menaruh salut untuk kemampuan para peserta itu dalam menyorot isu dan berargumentasi. Dia juga menuliskan sebuah uapan lamunan, andai saja semua mahasiswaku bisa seperti anak-anak SMA itu ….
Kini doktor itu pusing tujuh triliun keliling lapangan sepakbola.
Kini doktor itu menghibur diri dengan buku anti-Kristus karangan seorang Jerman. Badannya terasa segar sehabis mandi, makan nasi, dan mencium istri tadi.
Kini doktor itu dan kantuk saling menggempuri.
Kini doktor itu mengeloni istri, sampai pagi.
Kini doktor itu menuju kampus lagi, masuk kelas lagi, mengajar lagi, mengajak diskusi, hingga akhirnya … lesu lagi. Kegelisahannya kemarin muncul lagi.
Kini doktor itu berkata (dengan kesal) pada mahasiswanya, “Saya punya satu tugas saja buat kalian. Coba pikirkan selama seminggu ini, pikirkan saja. Coba kalian tanya diri kalian sendiri, bagaimana bisa ada seorang mahasiswa di fakultas ekonomi sana, yang kuliahnya gagal pula, tapi menunjukkan kegairahan terhadap psikologi lebih besar ketimbang sebagian besar kalian yang kuliah di fakultas ini? Ngacalah kalian!”
Kini mahasiswa doktor itu terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama — yang jumlahnya paling banyak — tak menggubris nada kesal doktor itu, dan melewatkan hari-hari kuliah sebagaimana biasanya: patuh pada jadwal kuliah rutin (dengan optimalisasi penggunaan “jatah” untuk tak masuk kelas), menjalani momen-momen kuliah yang klise demi kuliah itu sendiri (dan nilai, tentu saja), mendengarkan “curahan hati” doktor-doktor lain di kelas, mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan tiga gaya (aras-arasan atau kelabakan, atau keduanya), dan segenap “pernak-pernik kehidupan (akademik) mahasiswa” lainnya.
Kini kelompok kedua — yang jumlahnya hampir sama banyak dengan kelompok ketiga — mencoba-coba komando doktor itu, namun segera mendapati kebuntuan pada menit-menit awal, dan memutuskan untuk berhenti.
Kini kelompok ketiga mencoba-coba komando doktor itu, dan mereka “beruntung”. Diri mereka menjawab! Dan mereka menikmati percakapan tacit itu, berminggu-minggu. Mungkin mereka tak lagi belajar tentang psikologi sekarang, tapi mereka telah (dan sedang) belajar psikologi. Berpsikologi (ria).
Buat orang yang kebetulan tersesat dan membaca naskah ini,
Naskah ini (tidak) murni fiktif. Saya cuma sedang belajar menulis fiksi, yang (katanya) bisa membantu orang meningkatkan daya imajinasi. Jikalau ada kemiripan antara cerita di atas dengan kejadian-kejadian faktual, kemungkinan adalah “kebetulan” semata, atau sekadar kesengajaan saya yang mencomotnya (dengan konteks yang bisa jadi berbeda). Untuk seterusnya, saya akan beri label “fiksi” pada naskah-naskah fiktif di blog ini.
Oya, penulisan judul naskah ini tidak salah. Lebih sedap rasa spiku daripada plain, betul? Penggemar plain pasti bilang “salah”. Tak masalah.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Duis placerat turpis quis mi mollis imperdiet. Integer luctus suscipit placerat.
1. wit
19/06/2009 04:12 pmdoktore sapa Sat?
2. Satria Anandita
21/06/2009 04:35 pmCuman tokoh seperempat fiksi.