Bertemu Bella

Dulu aku pernah bilang ke Yosi dan Febri kalau aku alergi urusan cinta. Aku lebih suka jadi solitarian yang tak butuh orang lain. Tuhan adalah satu-satunya oknum yang tahu rahasia-rahasiaku. Ini karena urusan cinta aku anggap (secara subjektif) bisa lebih riskan daripada urusan duit di pasar saham. Bagaimana kalau sampai patah hati (lagi)?

Tapi kenyataan sekarang beda dengan dulu. Aku tak mau lagi jadi solitarian. Aku ingin punya satu orang yang bisa mengerti aku dan aku mengerti, agar aku tak sendirian. Dan aku bersedia menanggung apapun risiko yang mungkin timbul karena keinginanku ini.

Ketika aku memutuskan untuk ikut panitia Latihan Lanjutan Kepemimpinan Mahasiswa (LLKM) ke Bina Darma minggu lalu, aku sebenarnya cuma ingin melepas kebosanan. Aku sudah katakan, aku bosan di kampus, juga di kosku sendiri. Mau keluar dari Salatiga? Tak mungkin. Aku tak punya cukup waktu dan uang untuk jalan-jalan sekarang.

Dalam kondisi yang demikian, Bina Darma jadi alternatif yang cukup menarik. Lokasinya di daerah Bugel, Salatiga, terletak di perbukitan yang cukup tinggi, sehingga jarak pandang bisa jauh. Pemandangannya juga ijo royo-royo. Cocok lah buat mengistirahatkan mata. Di sana, sambil istirahat, aku juga bisa mempelajari dokumen-dokumen korupsi yang hasilnya akan dipakai Masyarakat Transparansi Peradilan Salatiga untuk mengadu ke Komisi Ombudsman Nasional.

Pilihanku tepat. Bina Darma memang tempat yang nyaman buat belajar. Aku lebih suka belajar di sana daripada di kampus. Kampus Satya Wacana yang sekarang sudah terlalu padat dan ramai. Student body yang sekitar 11.000 orang itu jelas kebesaran buat luas kampus yang cuma sekitar 8 hektar. Menurut Sutarno, rektor Satya Wacana kedua, student body yang ideal untuk Satya Wacana hanyalah sekitar 4.000 orang. Manusia butuh space tertentu untuk belajar dengan nyaman. Itulah yang tak ada di Satya Wacana sejak komersialisasi pada era rektor John Ihalauw.

Di Bina Darma, aku hampir setiap hari tak tidur malam. Aku begadang sampai pagi atau siang untuk mengebut penyusunan kronologi kasus korupsi buku Balai Pustaka.

“Sat, coba senyum dulu.”

Kata-kata itu memecah konsentrasiku.

Bella, salah seorang panitia LLKM, duduk di seberang meja tempat aku belajar. Dia melihat aku sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak apa-apa,” jawab Bella.

Agak dongkol juga dapat jawaban itu. Dia bikin konsentrasiku buyar tanpa tujuan jelas.

Bella adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW. Dia angkatan 2005, setahun lebih tua dari aku. Kata beberapa teman, dia orang Sangihe. Ada juga yang bilang Ambon. Aku sendiri belum pernah tanya langsung ke Bella soal itu.

Pertemuan pertamaku dengan Bella terjadi pada 2006. Waktu itu aku masih mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi UKSW dan baru saja masuk di Badan Perwakilan Mahasiswa FE. Di awal periode, Victor Gunawan, ketua BPM FE waktu itu, bikin acara sharing antarfungsionaris. Victor ingin para fungsionarisnya mendapat pengetahuan tentang bagaimana mengenali kepribadian sendiri dan orang lain. Katanya, ini untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi.

Materi sharing dibawakan oleh dua mahasiswa Fakultas Psikologi, Bella dan Diana. Waktu itu mereka membawakan materi soal empat macam temperamen: sanguinis, plegmatis, melankolis, dan koleris. Kalau tak salah, kami diminta mengikuti beberapa petunjuk yang hasil akhirnya bisa menunjukkan temperamen dominan masing-masing. Aku dapat melankolis-koleris.

Selepas acara sharing itu, aku tahu Bella hanya sebatas posisinya sebagai ketua Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi.

Tapi belakangan ini aku makin sering bertemu Bella karena dia juga sering datang ke gedung Lembaga Kemahasiswaan. Dia terlibat dalam kepanitiaan Latihan Menengah Kepemimpinan Mahasiswa (LMKM) dan, yang barusan selesai, LLKM.

bellaBella mulai terlihat spesial ketika aku ngobrol berdua dengan dia di ruang transit Bina Darma.

Karena listrik padam dan aku lelah belajar, aku mengalihkan perhatian kepada Bella, yang waktu itu sedang belajar di balik meja besar yang biasa aku gunakan waktu begadang. Kebetulan, laptop Bella sedang ada masalah dengan baterai, sehingga tak bisa nyala tanpa bantuan listrik langsung.

Dari pembicaraan sebelumnya, aku tahu kalau Bella pernah sekolah di SD Kristen Petra 9 dan SMP Kristen Petra 5. SMP Kristen Petra 5 adalah almamaterku di Surabaya. Bella hanya setahun di sana, sehingga kami tak sempat satu sekolah. Ketika akan naik ke kelas 2, Bella pindah ke Depok. Sedangkan aku baru lulus SD waktu itu. :D

Karena sama-sama pernah di Petra, kami jadi lumayan nyambung. Ada beberapa teman Bella yang juga aku kenal. Dwi Puguh, misalnya, adalah rekan satu tim basket dengan aku waktu SMA. Aku juga pernah satu kepengurusan OSIS dengan Gloria Lady Leony di SMA. Leony ini sudah aku anggap kakakku sendiri. Kini Leony kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra Surabaya.

Selama ngobrol berdua, aku sama sekali tak merasa tak nyaman dengan Bella. Ini berbeda dengan kebiasaanku yang selalu merasa tak nyaman ketika ngobrol dengan perempuan lain yang usianya sebaya atau lebih muda.

Aku melihat Bella sebagai perempuan yang punya semangat belajar. Ketika aku duduk di sebelahnya pada saat sesi presentasi, aku mendapati dia mencatat cara setiap juru bicara kelompok peserta berpresentasi. Di bagian awal catatannya tertulis, “lagi pengen belajar aja.”

Aku tanya Bella, buat apa dicatat? Dia jawab, selama ini dia lemah di konsep soal presentasi. Dia mengatakan dirinya tipe orang aplikatif yang bisa melakukan tapi tak tahu konsep. Aku bilang pada Bella bahwa sebetulnya dia bukannya lemah secara konsep, tapi hanya belum bisa mengodifikasi konsep tersebut dari bentuk tasit ke bentuk eksplisit. Pengetahuan tasit tersimpan di dalam kepala dalam bentuk know how yang susah dikomunikasikan. Itulah sebabnya, Bella selama ini bisa melakukan presentasi kendati mengaku “lemah di konsep.”

Pengubahan bentuk pengetahuan dari tasit ke eksplisit diperlukan untuk pengomunikasian pengetahuan kepada orang lain. Karena dengan demikian, pengetahuan tersebut akan dapat direfleksikan kembali secara bersama-sama untuk disempurnakan. Dan proses ini akan berlangsung terus sampai pengetahuan yang ada mencapai kesempurnaan. Nyatanya, tak ada satupun yang sempurna di dunia.

Bella juga berkata bahwa bahasanya selama ini kurang ilmiah. Wah, ini bikin aku sedikit geli. Aku pikir, tak perlu ngomong pakai bahasa ilmiah yang muluk-muluk. Asal basis logikanya ada dan kuat, itu sudah cukup, menurutku. “Keilmiahan” bahasa itu kan cuma term, yang bisa diganti-ganti padanannya. Justru kalau seorang ilmuwan bisa mendaratkan bahasa ilmiahnya ke dalam bahasa yang lebih merakyat, ilmu pengetahuan akan jadi lebih berguna, karena dapat dipahami masyarakat luas yang awam.

Ketika malam terakhir LLKM, aku sedang membuka-buka data laptop panitia LLKM di ruang transit. Aku bermaksud mengopi foto Bella pada hari pertama pelatihan, yang aku pernah lihat di laptop itu saat malam pertama di Bina Darma. Namun aku tak berhasil mendapat foto tersebut. Tiba-tiba Bella masuk dan kami mulai ngobrol soal pendidikan. Dia bertanya-tanya soal fenomena pendidikan jaman sekarang yang lebih cenderung membodohkan daripada mencerdaskan. Aku sendiri suka dengan topik ini karena aku menganggap pendidikan sebagai komponen vital yang manunggal dalam kemanusiaan. Aku tanyakan pada Bella, apakah dia pernah main-main ke komunitas belajar Qaryah Thayyibah? Dia bilang ingin sekali ke sana.

Komunitas belajar Qaryah Thayyibah didirikan pada 2003 oleh Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah, sebuah organisasi massa tani yang berpusat di daerah Kalibening, Salatiga. Pendidikan yang diselenggarakan komunitas ini tergolong nonformal, tapi prestasi peserta didiknya jauh melampaui peserta didik di sekolah formal. Para siswa di sana bisa merancang dan membangun gedung sekolahnya sendiri, bikin peta elektronik tiga dimensi untuk wilayah Kalibening, bikin film, bikin buku, lancar berbahasa Inggris, macam-macam lah.

Prestasi-prestasi tersebut, katanya, dicapai karena para peserta didik Qaryah Thayyibah sama sekali tak dikekang untuk belajar. Mereka dibebaskan.

Ada satu kelemahan Bella: gampang terprovokasi.

Ketika obrolan sedang mengalir, tiba-tiba Tiwi, salah seorang panitia LLKM, masuk ke ruang transit. Tiwi ikut nimbrung di obrolan aku dan Bella. Merusak suasana nih …. :P

Aku tak ingat jelas runtutan pembicaraan waktu itu, tapi Tiwi yang mahasiswa komunikasi FISIPOL UKSW itu sempat membuat pernyataan bahwa media massa hanya bersifat provokatif saat ada konflik. Media massa sering memutarbalikkan fakta demi mencari sensasi. Begitu kira-kira inti generalisasi Tiwi.

Pertama-tama, Tiwi mencontohkan pemberitaan media massa soal pembangunan hotel Quality di Salatiga. Dia bilang apa yang dikatakan media massa, bahwa pemerintah kota Salatiga pro kapitalisme dalam pembangunan Quality, tidak sesuai dengan pendapat orang-orang di pemerintahan sendiri. Ya mana ada orang maling terus ngaku terang-terangan mbak?

Bukannya meremehkan keterangan para pejabat pemerintah, tapi keterangan mereka juga harus diverifikasi. Caranya? Susunlah kronologi pembangunan hotel Quality, mulai dari tahap perencanaan hingga selesai pembangunannya. Dari sana akan tampak apakah pembangunan itu mengandung anomali atau tidak. Begitu dulu, baru ambil kesimpulan. Jangan cuma tanya orang pemerintahan atau “ahli sejarah” yang (mungkin) dibayar pemerintah untuk bicara.

Dalam kasus korupsi pengadaan buku Balai Pustaka di Salatiga dan pengusutannya, semua pejabat juga mendadak “innocent.” Pemerintah Kota Salatiga bilang mereka sudah jalan sesuai prosedur yang ada. DPRD Salatiga bilang mereka nggak tahu apa-apa karena, menurut mereka, proyek itu ada atas inisiatif eksekutif. Kepolisian Resort Salatiga juga bilang mereka sudah “berusaha maksimal” untuk bisa menyidangkan para tersangka. Kejaksaan Negeri Salatiga juga padha wae.

Setelah aku coba susun kronologinya, ternyata omongan para pejabat itu ngawur semua. Penunjukan langsung Balai Pustaka dalam proyek pengadaan buku ajar di Salatiga jelas menyalahi Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pengadaan Barang dan Jasa. DPRD Salatiga juga tak bisa cuci tangan, karena merekalah yang mengetuk palu persetujuan anggaran. Kepolisian dan kejaksaan ternyata selama ini hanya “main pingpong” dengan BAP kedua tersangka. BAP sudah tiga kali bolak-balik dari kepolisian dan kejaksaan tanpa alasan yang jelas, sehingga persidangan pun tak kunjung dilaksanakan.

Kedua, Tiwi mengklaim dirinya tahu duduk perkara yang sebenarnya atas sengketa tanah Salib Putih. Sudah “investigasi” begitulah. Dan duduk perkara yang sebenarnya sangat jauh dari apa yang diberitakan koran-koran selama ini. Itu kata Tiwi.

Tapi, ketika aku coba tanyakan duduk perkara tersebut, Tiwi menolak menjawab dengan alasan keselamatan para mahasiswa FISIPOL yang melakukan investigasi akan menjadi taruhan jika kebenaran diungkap ke publik.

Aku jadi sedikit panas. Kecewa juga. Kenapa bisa ada mahasiswa komunikasi macam Tiwi?

Jika hasil investigasi yang diklaim benar memang duduk perkara yang sebenarnya, mestinya tak perlu takut untuk dipublikasikan. Ketidakberanian untuk memublikasi sebuah laporan investigasi justru mengundang kecurigaan, jangan-jangan laporan tersebut banyak cacatnya sehingga malah bisa memperkeruh suasana.

“Konflik adalah tambang bagi reportase naratif. Konflik apapun, apalagi konflik etnis dan agama seperti di Indonesia. Reportase naratif pula yang bisa mendinginkan konflik yang sedang panas,” kata Ardyansyah Wirawan, wartawan yang juga kontributor Pantau.

Reportase yang baik tidak akan menimbulkan kemarahan banyak orang.

Ketika laporanku soal konflik pedagang kaki lima depan UKSW dengan petugas lapangan Dinas Pasar dan PKL Salatiga terbit, tak ada protes sama sekali dari kedua belah pihak. Tri Priyo Nugroho, kepala dinas itu, tak marah. Para PKL juga senang karena mereka tak lagi diusik dengan seenaknya. Dalimo, petugas lapangan yang getol mengusik PKL, juga malah baik dengan aku. Dia bilang aku seperti Arief Budiman, kemana-mana jalan kaki, pakai sandal, dan bawa tas ransel. Jadi GR nih …. Arief Budiman coy! Kalau laporanku tak berkenan di mata para pejabat itu, apa susahnya protes? Toh, Scientiarum hanyalah organisasi kecil. Kekuatan kami jelas kalah jika dibandingkan Dinas Pasar dan PKL Salatiga.

Tapi aku mencoba menahan diri. Aku pikir akan percuma ngomong dengan orang macam Tiwi, yang merasa diri pintar dengan segala pengetahuannya. Kebenaran tak perlu pembelaan. Lagipula, aku sudah janji pada diriku sendiri untuk belajar mengendalikan emosi. Aku tak akan berdebat di semua forum, terutama forum dimana ada orang yang merasa diri pintar.

“Kalau gitu, media massa itu ya ujung-ujungnya duit,” kata Bella.

Aku jadi patah hati. :(