Journalism

Berwisata Jurnalisme

Di Poencer

Dari kiri ke kanan: Teddy Delano, aku, Yodie Hardiyan. Kami ikut pelatihan menulis yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi di Puncak, Bogor, 4-6 Juli 2008. (Foto oleh Nandami Mahargina)

D

ari Jakarta, hotel Poencer ada di kiri jalan Raya Puncak, tepatnya di kilometer 77, Cisarua, Bogor. Begitu masuk gerbang, yang tampak menonjol adalah bentuk limas segiempat milik atap restoran hotel bintang tiga itu. Di baliknya ada panorama pegunungan. Cukup indah.

Selama tiga hari aku ada di Poencer, dari tanggal 4 sampai 6 Juli 2008. Aku ikut latihan menulis yang dibikin Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi. Pengajarnya Amarzan Loebis, redaktur senior Tempo.

Selain aku, ada dua mahasiswa lain dari Satya Wacana yang ikut latihan ini: Yodie Hardiyan dan Teddy Delano. Yodie mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2006. Dia pemimpin redaksi E-Time, buletin mahasiswa di Fakultas Ekonomi. Sedangkan Teddy — mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2004 — aktif di Walking With AIDS Salatiga.

Total peserta ada 34 orang. Yang paling jauh datang dari Bali. Panitia menanggung seluruh biaya fasilitas peserta sebanyak itu — mulai dari penginapan, transportasi, hingga konsumsi — dengan sponsor Bank Negeri Indonesia.

Semula aku skeptis dengan latihan ini. Aku pikir ini akan sama dengan ceramah berlabel pelatihan, yang dibikin Persatuan Wartawan Multimedia Indonesia atau Perwami pada April 2008. Tak ada rasa latihannya blas. Padahal, salah satu narasumber waktu itu Bambang Harymurti, mantan pemimpin redaksi Tempo.

Untungnya aku salah. Latihan ini beda dengan bikinan Perwami. Ada sesi ceramah memang, tapi juga ada diskusi dan praktik. Lagipula ceramah Amarzan luwes, sehingga peserta tak bosan. Amarzan orang humoris dan pengetahuannya luas. Telinganya lebar. Kata orang Jawa, telinga lebar pertanda pintar karena banyak mendengar. Amarzan sudah jadi reporter sejak 1961 — ketika masih berumur 20 tahun.

“Kamu darimana? Jakarta ya?” Amarzan menanyakan asalku.

“Bukan pak. Saya dari Salatiga.”

“Waduh, Satya Wacana.” Tak jelas kenapa Amarzan mengaduh.

Amarzan bilang, dia “lumayan sering” ke Salatiga. Terakhir sekitar dua tahun lalu. Main-main saja, katanya.

Satu nasihat Amarzan yang aku suka adalah menulis seperti bicara. Dia bilang, jangan bedakan antara menulis dan bicara. Nulis ya seperti bicara. Enteng saja.

“Karena pekerjaan ini saja sudah berat. Jadi jangan ditambah berat.”

Amarzan suka mengritik penggunaan bahasa yang kaku — yang cuma manut pada pakem kamus.

“Gunakan bahasa yang hidup.”

“Yang pakai kata ‘dangdut‘ pertama kali itu Tempo lho. Waktu itu kata ‘dangdut’ belum ada di kamus. Dan kita kebingungan dengan satu jenis musik yang mulai populer waktu itu. Mau disebut apa musik ini? Karena bunyinya banyak ‘dang’ sama ‘ndut,’ maka muncullah kata ‘dangdut’ untuk sebutannya.”

“Jadi nggak usah takut pakai kata-kata yang belum ada di kamus.”

Pada hari kedua, setelah sesi ceramah Amarzan selesai, peserta dibagi dalam tujuh kelompok untuk praktik liputan lapangan. Aku satu kelompok dengan Supriatna, Eugene Garcia, Gloria Natalia Dolorosa, dan Kristiono. Kelompok kami bikin liputan kesejahteraan karyawan Cimory — singkatan dari Cisarua Mountain Dairy. Cimory ini restoran keluarga sekaligus tempat pengolahan susu sapi. Jaraknya dari Poencer tak sampai 100 meter. Produk utama Cimory adalah susu segar dan susu fermentasi. Aku sendiri sudah coba susu segar dan sosis panggangnya. Rasanya standar. Kesimpulan liputan kami, Cimory belum memperhatikan kesejahteraan karyawan, tak sebanding dengan tuntutan kerjanya.

Malam itu juga laporan liputan setiap kelompok dievaluasi Amarzan. Sesama peserta juga boleh mengevaluasi. Amarzan menyebut kelompokku “rajin, cukup detail.”

Amarzan tak hanya mengevaluasi tulisan peserta. Dia juga minta evaluasi terhadap tulisannya di Tempo — judul tulisan itu “Membrahmana di Jalur Sulinggih.” Dari evaluasi itu, Amarzan mengaku, salah satu kelemahannya dalam menulis adalah terlalu banyak menggunakan tanda kutip.

“Dalam ranah jurnalisme, tak ada penulis kelas satu. Yang ada penulis kelas dua.”

“Tak ada wartawan yang boleh marah kalau tulisannya diedit (atau dikritik) orang lain.”

“Itulah bedanya jurnalisme dengan sastra (yang sangat otonom). Jurnalisme mengembalikan makna kepada kata. Sedangkan sastra membebaskan kata dari makna.”

Orang boleh sesukanya kalau menulis fiksi atau puisi, tapi tidak untuk penulisan fakta bukan?

.

Di kantor Pantau

Aku dan Yodie di kantor Pantau. (Foto oleh Dayu Pratiwi)

D

ari Poencer, aku dan Yodie melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sedangkan Teddy pulang ke Salatiga. Dia bilang, sudah ditunggu teman.

Kami bertemu Pasti Liberti Mappapa, alumnus elektro Satya Wacana angkatan 1999, di depan stasiun Gambir. Pasti bekerja di Jakarta sebagai reporter harian Seputar Indonesia. Ketika masih mahasiswa, dia belajar jurnalisme di Imbas, majalah mahasiswa di fakultasnya. Andreas Harsono, wartawan penerima Nieman Fellowship dari Harvard University, juga pernah belajar jurnalisme di Imbas.

Pasti mengantar aku dan Yodie ke kawasan Cikini, Jakarta Pusat, untuk cari penginapan. Kami beruntung bisa menumpang tidur dua hari di sebuah rumah baru dengan membayar Rp 125 ribu. Mpok Vivi, si pemilik rumah, juga memberikan kunci rumah itu pada kami, supaya kami bebas keluar-masuk kapanpun.

Setelah dapat penginapan, aku, Yodie, dan Pasti jalan kaki ke Taman Ismail Marzuki atau TIM. Kami mampir ke toko buku bekas di sana. Aku beli buku A Pack of Lies dan Kebebasan, Negara, Pembangunan. Kami juga ngobrol sambil lesehan di depan TIM. Dari Pasti, aku tahu kalau harian Jurnal Nasional punya julukan “Korannya SBY.”

Esoknya, Senin, 7 Juli 2008, aku dan Yodie berkunjung ke kantor Pantau. Alamatnya di jalan Kebayoran Lama 18 CD. Perlu “sedikit” usaha untuk menemukan alamat ini. Penomoran tempat di Kebayoran Lama kacau sekali. Setelah 8, 6, lalu 18, 12, 20. Nomor 18 CD jaraknya sekitar dua kilometer dari nomor 18 yang aku temukan. Yodie bahkan bilang, ada beberapa tempat pakai nomor 18. Payah ini Jakarta.

Andreas Harsono sedang tak di kantor Pantau waktu itu. Dia sedang di Makassar, menjadi instruktur penulisan untuk komunitas Panyingkul.com — satu media citizen reporter di Makassar.

Dayu Pratiwi, staf Pantau yang mengurusi training, menemani aku dan Yodie ngobrol. Dayu juga membolehkan kami “merampok” persediaan majalah Pantau yang tersisa di gudang. Meski punya kualitas laporan bagus, majalah ini berhenti terbit pada Maret 2004 karena kesulitan keuangan.

Aku dan Yodie tentu senang. Buat kami, pemberian tersebut ibarat harta karun. Di Salatiga belum tentu ada majalah Pantau. Wong di Indonesia saja, majalah berita macam Pantau tergolong sangat langka. Total ada selusin edisi Pantau yang kami “rampok.” Aku bawa untuk Scientiarum. Yodie untuk E-Time. Setiap edisi kami ambil dua eksemplar, kecuali edisi yang memuat naskah Republik Indonesia Kilometer Nol — karena sisanya banyak, kami ambil sekitar sepuluh eksemplar.

Selain majalah, kami juga dapat beberapa buku dari Pantau. Sebagian gratis, sebagian beli. Ada Sembilan Elemen Jurnalisme, Jurnalisme Sastrawi, Business and Economic Reporting, Covering Oil, Gunung Pi, dan Frank Sinatra Kena Selesma. Aku juga beli dua mug jurnalisme bikinan Pantau. Muatan kami mendadak banyak. :D

“Toklek boyokku,” keluh Yodie.

Sejak dari kantor Pantau sampai Salatiga, dia bawa muatan — yang banyaknya satu kardus — itu sendirian. Aku sudah tawarkan untuk gantian. Tapi dia selalu menolak.

.

S

elasa, 8 Juli 2008, halaman parkir gedung di jalan Proklamasi 72 itu tampak lengang. Baru ada tiga mobil di sana. Chevrolet Aveo biru milik Amarzan Loebis belum tampak. Waktu itu sekitar jam setengah sepuluh pagi. Di kanan atas gedung itu, ada huruf-huruf merah besar: TEMPO.

Aku dan Yodie masuk lewat pintu kaca paling kiri. Kami disambut dua perempuan cantik di meja resepsionis. Ketika aku bilang, aku ingin bertemu Amarzan Loebis, satu dari mereka bilang, “Pak Amarzan-nya belum datang. Sudah bikin janji?”

Jelas sudah dong.

Di Poencer, Amarzan sendiri yang menawari kami untuk ikut rapat evaluasi rutin Tempo. Kata Amarzan, ini bagian dari pendidikan di Tempo. Majalah Tempo yang sudah dicetak dan beredar diteliti lagi untuk dikritik. Ingat, tak ada laporan jurnalisme kelas satu. Selalu ada saja kesalahan.

Salah satu resepsionis mempersilakan kami menunggu di ruang tamu Tempo. Ruang ini interiornya coklat kekayu-kayuan. Di sana ada dua sofa, satu meja kaca, satu gantungan suratkabar, dan satu jam berdiri merek Junghans yang tingginya sekitar 2 meter. Yodie menyambar majalah Tempo terbaru di gantungan suratkabar. Aku ambil buku A Pack of Lies dari dalam tas. Kami tunggu Amarzan sambil membaca.

Sekitar setengah jam kemudian Amarzan datang. Dia sodorkan dua eksemplar majalah Tempo terbaru pada kami. Edisinya sama dengan yang sedang dibaca Yodie. Dia ingin kami baca dulu agar bisa mengikuti pembicaraan evaluasi.

Rapat baru mulai pukul 11.10. Ini forum kritik. Ada banyak kesalahan akan disingkap. Aku pikir suasana akan tegang.

Ternyata tidak.

Berbeda dengan penjara lainnya, untuk bertemu dengan tahanan di Cipinang, pembesuk setidaknya harus melewati lima pintu penjagaan berlapis besi.

~ Tempo edisi 7-13 Juli 2008 halaman 62

“Apanya yang beda? Saya jelek-jelek gini juga pernah masuk penjara. Dan dimana-mana itu ya memang lima pintunya. Standar itu.” Para hadirin tergelak dengar kritik Amarzan. Aku susah bikin deskripsinya, tapi rasanya memang lucu waktu lihat mimik dan dengar suara redaktur tua itu.

Setelah mengobrol, pembesuk lantas menuju sebuah pintu yang terletak di sudut ruang kaca.

~ Tempo edisi 7-13 Juli 2008 halaman 62

“Adakah pintu yang tidak terletak? Sebuah pintu yang tercantum misalnya …. Kenapa nggak langsung aja? Sebuah pintu di sudut ruang kaca. ‘Yang terletak’-nya itu bisa diangkat.”

Kritik Amarzan lebih sering pada teknis penulisan, serta fakta-fakta kecil yang tak prinsip. Ketika rapat selesai dan hadirin lain pergi, aku tanya soal sumber anonim yang sering muncul dalam laporan Tempo. “Kebijakan Tempo untuk sumber anonim seperti apa?”

Amarzan bilang, narasumber punya hak tidak disebut identitasnya.

Iya, memang. Narasumber memang punya hak. Tapi apa kriteria narasumber yang punya hak tersebut? Masalahnya, Tempo sering sekali pakai sumber anonim. Bukankah ini bikin kejelasan berita jadi kurang?

“Biasanya kalau keterangannya eksklusif, baru kita kasih anonim. Kalau nggak eksklusif, ya ngapain?” Jawaban Amarzan dangkal sekali. Pantau saja punya Tujuh Kriteria Sumber Anonim. Lha Tempo?

.

D

ua hari di Jakarta bikin aku tak betah. Suhu Jakarta panas. Polusi banyak. Makanan mahal. Penduduk padat. Nyamuk seliweran kalau malam. Badan dan tenggorokanku juga sudah tak enakan sejak hari pertama di Poencer. Aku mau cepat balik ke Salatiga, istirahat.

Rencana semula, aku dan Yodie akan naik kereta api eksekutif. Kami cari cepat dan nyaman. Tapi rencana itu batal. Bus lalu jadi pertimbangan. Kami dapat uang transportasi pulang dari panitia PWI Reformasi sebesar Rp 230 ribu. Kalau naik bus — harga tiket Rp 100 ribuan, sudah nyaman — kami bisa dapat selisih Rp 130 ribuan. Kan lumayan buat ukuran kantong mahasiswa.

Tapi rencana itu batal juga.

Hardian Asfar — “Aan” panggilannya — mengajak kami pulang bareng naik mobilnya. Rumah orangtua Aan di Salatiga. Dulu dia satu sekolah dengan Yodie di Sekolah Menegah Atas Negeri 1 Salatiga. Satu angkatan juga. Kini Aan kuliah di Bina Nusantara, ambil jurusan teknik informatika.

Aku oke saja. “Tambah ngirit,” pikirku.

Aan menjemput kami di stasiun Gambir, pukul 22.00 lewat. Kami langsung berangkat. Aan menyetir. Yodie di samping Aan. Aku di belakang Yodie.

Sampai di Tegal, Aan menepi dan menghentikan mobil untuk kesekian kali. Dia hendak tidur sebentar, istirahat. Aku lupa persis jam berapa waktu itu, mungkin sekitar jam delapan atau sembilan pagi. Karena sejak dari Jakarta yang menyetir hanya Aan, aku inisiatif menggantikan. Aan mau. Kami pun tukar posisi.

Ketika hendak masuk ke badan jalan, terdengar klakson keras. Mungkin klakson truk atau bus. Yang jelas bukan klakson sepeda motor. Aku hentikan mobil. Aku lihat spion. Ada beberapa sepeda motor. Sedetik kemudian, satu motor yang dikendarai perempuan tak berhelm menyinggung lampu riting kanan mobil Aan.

Prakkk!

Perempuan itu terpisah dari motornya. Keduanya sama-sama terlempar sekitar 6 sampai 7 meter dari mobil Aan. Perempuan itu terguling-guling. Jalan masih ramai.

Untung dia tak terlindas kendaraan.

Soluna AanSingkat cerita, aku dan Aan mengantar perempuan itu ke rumahnya. Yodie mengurus motor. Spion dan pijakan kaki motor itu patah. Pedal persnelingnya terlipat. Sedangkan riting kanan mobil Aan lepas dan bodi sekitar daerah itu penyok. Velgnya tergores.

Nama perempuan itu Astuti Widyawati. Dia ibu rumah tangga. Herman, suaminya, adalah karyawan toko mebel. Rumah Astuti di daerah Pengasinan, masuk kampung. Setibanya di sana, kami jadi tontonan massa. Mereka merubung kami. Aan sempat kuatir massa marah.

Herman minta istrinya dibawa ke rumah sakit — aku lupa nama rumah sakit itu. Di sana, perawat membersihkan luka Astuti, lalu merontgen tangan dan kakinya. Ternyata cuma trauma otot saja. Tulang dan persendiannya tak masalah. Herman memutuskan, istrinya dirawat di rumah.

Aku menanggung biaya perawatan dan rumah sakit Astuti. Herman menanggung kerusakan motor. Aan bilang, aku tak usah mengganti biaya kerusakan mobilnya.

Sepanjang jalan pulang, aku berpikir, “Apa hikmah semua ini?”

Terkait
Kenangan Poencer oleh Yodie Hardiyan
Jurnalisme Sketsa, Sketsa Jurnalis oleh Narliswandi Piliang

Posted by STR on Saturday, 12 July 2008, in his Journalism column.

There are 10 comments already. Say something!

btw, mas B. harymurti sekarang sedang apa?
cuma mo tanya aj :D

pengalaman yang menyenangkan mas, sy jg yakin pasti ada hikmah dari kejadian ini, mungkin yang bisa tau cuma mas sendiri….

slm knl,

Sent via Mozilla Firefox 2.0.0.15 on Tuesday, 15 July 2008, at 12:14 PM.


STR

Gravatar

Hafidzi,

Setahu saya Bambang Harymurti sekarang jadi direktur utama PT Tempo Inti Media Tbk., perusahaan penerbit varian-varian Tempo.

Oke, makasih. :D

Sent via Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Tuesday, 15 July 2008, at 9:17 PM.


[...] Business and Economic Reporting, buku yang aku dapat dari Pantau ketika aku main ke kantornya minggu lalu. Buku ini tipis dan ringkas, hanya 81 [...]

Sent via WordPress 2.5.1 on Thursday, 17 July 2008, at 12:39 AM.


Wow… Inilah kehidupan mahasiswa yang “menyenangkan”. Tidak setiap orang memiliki kesempatan yang kamu miliki, Sat. Setiap kejadian itu ada hikmahnya, tinggal bagaimana menyikapinya.

Salam,

Salmon A. Bintarno

Sent via Netscape Navigator 5.0 on Monday, 04 August 2008, at 6:53 PM.


banyak hikmah dari kejadian itu…

benar sahabat?..

hehe…

sukses selalu…

Sent via Internet Explorer 7.0 on Sunday, 10 August 2008, at 11:13 PM.


Wah bravo mas tulisannya manteb.
Saya lagi nyari buku “seandainya saya wartawan tempo”, bisa dibantu?
Saya ingat sampean arek Suroboyo yang kul di Satya Wacana.

Sent via Internet Explorer 5.01 on Monday, 06 October 2008, at 2:53 PM.


STR

Gravatar

Pak Lukman di Surabaya,

Saya juga ingat Sampeyan. Gimana kabarnya Surabaya? Kebetulan libur Lebaran kemarin saya tak “mudik” ke sana. Keenakan di Salatiga yang udik ini.

Saya belum pernah baca buku itu. Mungkin Sampeyan bisa kontak langsung dengan Institut Studi Arus Informasi perihalnya.

Terima kasih.

Sent via Mozilla Firefox 2.0.0.17 on Monday, 06 October 2008, at 3:20 PM.


[...] dituakan dan berpengalaman, hingga bisa membimbing para wartawan muda. Redaktur senior, sebagaimana aku lihat di majalah Tempo, kerjanya bikin kelas evaluasi publikasi (mingguan) sebagai forum kritik-otokritik redaksi. [...]

Sent via WordPress 2.5.1 on Monday, 27 October 2008, at 1:03 PM.


dedet

Gravatar

halo wartawan!
sweet.. mantap..mantap tulisanmu.
walah, baru tau kalo balik dari jakarta kecelakaan.
tapi malah jadi tulisan yang mantab..
selamat menulis terus sat!

Sent via Mozilla Firefox 2.0.0.17 on Friday, 14 November 2008, at 5:41 PM.


[...] kritik dan evaluasi untuk para staf, supaya mereka bisa belajar. Teladan ini aku ambil dari pengalamanku ikut kelas evaluasi Amarzan Loebis di majalah Tempo. Tapi kinerja Febri aku rasa juga kurang [...]

Sent via WordPress 2.5.1 on Friday, 19 December 2008, at 5:50 PM.


Leave a Comment

Kunjungan Keluarga · Jurnalisme untuk Mahasiswa Ekonomi