Br0,ada idE t0pik bisnis?mksdnya bisnis apa gt bwt d bhas,, Thx y0..
~ Eva Tarida, mahasiswi UK Petra, Surabaya
Jika dijawab menurut situasi saat ini, dimana era berbasis pengetahuan (knowledge based era) tengah berlangsung, maka bisnis yang paling menarik dibahas adalah bisnis konten.
Pernah baca koran, majalah, tabloid, atau situs web? Kalau tak pernah, mati saja (guyon). :P Kalau pernah, apa yang membuat anda membaca media-media tersebut? Karena nganggur, tak ada kerjaan. Karena iseng. Karena dipaksa baca. Ada sejuta alasan. Tapi yang paling rasional adalah karena isinya yang informatif.
Isi atau konten yang informatif merupakan komoditas bisnis yang berharga. Makin informatif konten yang disuguhkan media, makin banyak pembaca. Oplah dan harga iklan pun makin tinggi didapat. Maka uang datang pun makin banyak. Tak lupa, masyarakat pun dapat ditingkatkan kesejahteraannya, karena keputusan-keputusan diambil berdasarkan informasi yang benar.
Lalu bagaimana bikin konten yang informatif itu? Milikilah pengetahuan, dan budaya mengelola pengetahuan.
Pengetahuan dipakai untuk membangun konten. Makin besar dan luas pengetahuan, makin kaya dan informatif konten yang dapat dibangun. Di sinilah budaya mengelola pengetahuan menemukan momentumnya sebagai budaya yang bermanfaat.
Mengelola pengetahuan dapat dilakukan dengan sebuah konsep yang disebut-sebut sebagai manajemen pengetahuan. Manajemen pengetahuan sendiri berbicara tentang usaha-usaha untuk mengendalikan perputaran spiral pengetahuan, yang meliputi internalisasi (contoh: membaca), sosialisasi (contoh: berdiskusi), eksternalisasi (contoh: menulis), dan kombinasi (contoh: mereferensi). Dengan berputarnya spiral inilah pengetahuan berkembang dan dapat digunakan untuk memperkaya konten.
Dengan dasar-dasar di atas, saya kemudian menyimpulkan bahwa bisnis konten (baca: bisnis media) telah dan sedang menjadi primadona untuk era berbasis pengetahuan seperti saat ini. Dan dasar-dasar tersebut pula yang menjadi alasan kenapa saya ingin dan sedang mengembangkan Scientiarum (salah satu lembaga pers mahasiswa di kampus saya) secara serius.
Bisnis konten membawa dampak positif secara finansial, sosial, dan intelektual. Sementara dampak negatifnya belum saya temukan. Terima kasih.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Duis placerat turpis quis mi mollis imperdiet. Integer luctus suscipit placerat.
1. JT
21/04/2008 10:54 pmWow….kayaknya konsep SECI Nonaka dan Takeuchi udah semakin mantabsss di Satria ya. Mgk ada tambahan satu lagi selain konsep “Content is The King” .. yaitu “We Are The Website or We Are The Machine”.
Kalo dampak “negatifnya” mgk karena konten yang semakin banyak maka bisa terjadi adalah overload information..!! Puyeng juga.. kalo terlalu banyak informasi, bingung mau pilih yang mana? Makanya perlu skala prioritas kali ya.
Oh ya ada lomba penulisan blog alias Blogging Competition yang diselenggarakan oleh British Council…. infonya ada di web aku.. Ikutan SAT…!!!
JT’s latest post: British Council Blogging Competition 2008 – BC Now 60
2. Niff
22/04/2008 03:17 pmsaya pebisnis konten sat. berat sat bisnis konten, banyak koran yang sebenarnya merugi. :D
Niff’s latest post: Kisah Gagal Kampanye Anti Cinta
3. STR
23/04/2008 05:05 am@ JT: Bukankah masalah overload information itu bisa diatasi pakai algoritma pencarian Google (yang bisa menampilkan konten terrelevan dan terpenting di urutan atas)?
@ Niff: Iya. Makanya jangan bikin koran cetak. Online aja. ;)
4. maze
24/04/2008 10:44 amyup, kalo menurut saya sih, bisnis yang tidak ada matinya.. hee. liat aja berita infontainmen, selama masih banyak artis dengan tingkah polahnya konten untuk media tersebut ga bakal ada habisnya hee …