Bocor Bocor Bocor

Aku baru saja pulang dari Jogja. Setelah mandi dan menjemur handuk di teras belakang kos, aku mencium bau keras bensin, yang ternyata menetes dari tangki motorku, yang terparkir beberapa meter jauhnya dari tempat itu.

Semua bermula dari rencanaku pergi ke Pantai Siung bersama James minggu ini, yang kemudian batal dan diganti dengan rencana ke Gereja Ganjuran di Bantul, dan sebuah perpustakaan Jawa di Jogja yang dirujuk Sinuhun Tedjowoelan (Pakubuwono XIII) dalam wawancaranya dengan tabloid Gloria. Tapi pagi tadi James mengirim pesan singkat, dia tak bisa pergi karena ada rapat. Maka setelah lewat tengah hari, aku putuskan untuk ke Jogja bersama Arya.

Kami naik motor lewat Magelang. Aku menyetir dan ngebut sedikit — kecepatan tertinggi cuma 100 kilometer per jam lewat. Pada beberapa tikungan, motor agak tidak stabil. Mungkin karena peredam kejutnya yang terlalu empuk, dual, dinaiki dua orang gendut pula — bobotku dan Arya, kalau dijumlah, sekitar 170 kilogram.

Karena sore telah beranjak petang saat kami masuk Jogja, aku putuskan untuk tidak ke Bantul dan perpustakaan itu. Aku ingat rencanaku mencari buku Menelusuri Jejak Capra terbitan Kanisius. Beberapa hari sebelumnya, aku hampir membeli buku itu via internet, tapi urung karena biaya pengirimannya yang, menurutku, kelewat mahal. Selama ini aku sudah cukup banyak memboroskan uang untuk biaya pengiriman, jadi aku sengaja menunggu waktu, kalau-kalau aku sedang di Jogja, dan bisa mampir langsung ke kantor penerbitan Katolik itu.

Begitu memasuki Ring Road Utara, aku belok kiri, lalu kanan, melewati Jalan Monjali hingga tiba di Tugu Jogja, dan mengubah arah ke timur. Setelah masuk kompleks kampus Gadjah Mada, aku agak bingung mencari wilayah Deresan. Namun dengan bertanya pada beberapa orang, sampailah kami di daerah yang ternyata ada di belakang Universitas Negeri Yogyakarta itu.

Penerbit Kanisius beralamat di Jalan Cempaka. Ia menempati areal yang, sepertinya, cukup luas dan rindang. Aku tak bisa memastikan karena hari telah petang dan aku malas berputar-putar. Aku langsung ke toko bukunya yang benderang, melakukan pencarian pustaka dengan komputer yang terletak tepat setelah pintu masuk, dan menemukan buku yang aku cari di rak filsafat.

Menelusuri Jejak Capra adalah buku tentang pemikiran Fritjof Capra, fisikawan asal Austria yang banyak bicara soal teori sistem, ekologi, sustainability, dan kawan-kawannya. Dialah penulis serial buku laris, mulai dari The Tao of Physics, The Turning Point, sampai The Hidden Connections. Ilmuwan satu ini — menghubung-hubungkan paradoks realitas subatomik dengan paradoks realitas mistis — berpendapat bahwa terdapat kesejajaran antara mistisisme Timur dengan fisika modern, dan karenanya, mistisisme tersebut dapat menyediakan kerangka filosofis yang tepat bagi fisika modern. “Para mistikus memahami akar Tao namun tidak cabangnya; para ilmuwan memahami cabangnya namun tidak akarnya,” tulis Capra. Dia jugalah yang meramalkan bahwa peradaban “Abad Ilmiah” saat ini sedang mencapai titik balik. Di masa depan, perspektif ekologis, feminis, dan spiritualis akan membimbing umat manusia pada perubahan mendasar struktur budaya dan politik. Jujur saja, aku merasa sangat tertinggal sekali ketika mengetahui bahwa pemikiran-pemikiran Capra telah ditulis puluhan tahun lalu — The Tao of Physics pertama kali terbit tahun 1975. Menelusuri Jejak Capra sendiri terbit lima tahun yang lalu, ditulis oleh beberapa ilmuwan lokal. Seandainya aku baca Capra lebih awal, mungkin aku tak perlu lama-lama berkubang dalam “saintisme”, dan memulai pencarian spiritualku lebih awal.

Ketika membayar di kasir, aku baru tahu kalau Menelusuri Jejak Capra dirabat setengah harga. Kata kasirnya, buku ini sudah berhenti cetak dan sedang “dibersihkan dari gudang”. Jadi aku hanya membayar Rp 23.000 untuk buku (yang sepertinya bagus) ini. Dan ketika kembali ke tempat parkir, aku melihat ada bekas tetesan bensin, tepat di bawah mesin motorku.

Kalau aku hitung-hitung, ini sudah ketiga kalinya tangki motor ini bocor. Yang pertama sekitar sebulan yang lalu. Waktu itu James tanya lewat Facebook, “Mau pemilu dimana kita?” Dia lantas merumuskan sebuah persamaan: pemilu = liburan = jalan-jalan, dan kami pun sepakat untuk jalan-jalan ke Dataran Tinggi Dieng, dan menginap di rumah Surya di Wonosobo.

Eitsss, sebentar, jadi aku golput? Jelas. Untuk yang satu ini aku sepakat dengan Meq: memilih tidak akan (banyak) mengubah hidupku. Apa artinya satu suaraku dibanding dengan jutaan pemilih? Atau, sekalipun jagoku — kalau ada — menang, seberapa bisa dia memperjuangkan aspirasiku di tengah “himpitan-himpitan” yang ada? Negara, kata Teori Negara-nya Arief Budiman, “merupakan pakta dominasi dari satu atau beberapa kelompok masyarakat untuk suatu tujuan tertentu.” Namun dalam hati kecil aku percaya, konotasi frasa “banyak sekali” lebih tepat ketimbang kata “beberapa”. Pengaruh satu suara itu super duper sangat kecil sekali. Lalu bagaimana dengan persoalan etis, seperti kata Yesaya, bahwa orang yang tidak memilih juga tidak punya hak untuk menuntut sesuatu dari pemerintahan yang terbentuk? Hmm …. Aku tidak pernah memilih Budiono dan Ester Sukarsih untuk menjadi orangtuaku, tapi apakah itu berarti aku tidak boleh menuntut sesuatu dari mereka, seperti kebebasanku misalnya? Lagipula, sejauh yang aku tahu, undang-undang dasar republik ini tidak pernah menyatakan partisipasi dalam pemilu sebagai prasyarat untuk mendapat penghidupan yang layak sebagai warganegara. Jadi, aku memilih untuk tidak memilih dan berangkat ke Wonosobo.

Kami berangkat dengan dua motor dari Salatiga. James berboncengan dengan Arya, dan aku dengan Slamet. Perjalanan ini “naik”, karena Wonosobo memang terletak pada tempat yang lebih tinggi dari Salatiga. Aku ngebut, dan baru jalan cukup pelan di wilayah Temanggung, karena pemandangan baru mulai indah di sana. Sewaktu tinggal beberapa kilometer dari Reco, desa asal Slamet, aku heran melihat jarum indikator bensin yang turun cepat sekali. Ketahuanlah kalau ternyata bensin sedang mengucur cukup deras dari tangki motorku.

Ketika mampir di rumah Slamet, kami berempat membuat bengkel dadakan di pelataran rumahnya. Arya paling bersemangat mencopoti bodi motorku. Slamet mendempul tangki. Sayangnya, karena hari itu telah beranjak petang, dan kabut turun cukup tebal, tak ada cukup waktu untuk mengeringkan dempulan itu. Slamet juga terlalu tebal mendempul sekaligus. Padahal dempulan yang baik adalah yang tipis, tapi diulang-ulang begitu dempulan sebelumnya kering. Cakep-cakep begini aku juga pernah belajar mendempul waktu SMP dulu.

Dengan dempulan seadanya, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Surya, yang kira-kira 15 kilometer jauhnya dari tempat Slamet. Bensin tak lagi mengucur, tapi merembes.

Keesokan paginya, pagi-pagi benar, kami sudah meluncur ke Dieng. Aku hanya mengisi bensin sedikit, berpikir bahwa jika tangki terlalu banyak diisi, rembesan akan makin kencang karena tekanan volume yang makin besar. Perjalanan ke Dieng lebih “naik” lagi, memboroskan bahan bakar.

Dieng adalah tempat wisata yang cukup indah — dan sayangnya, sepertinya hanya itu. Aku sama sekali tidak menangkap aura spiritual-religius di tempat ini, mungkin karena terlalu ramai pengunjung. Aku juga tak paham benar sejarah tempat ini. Aku cuma ingat bahwa di buku The History of Java, Thomas Stamford Raffles mencatat Dieng sebagai tempat yang lebih penting (secara spiritual) dan lebih menarik daripada Borobudur. Tempat bersemayamnya dewa-dewi dan benda-benda yang dipuja, tulis Raffles dalam buku itu. Nama “Dieng” sendiri berasal dari kata “di” (yang artinya “tempat”) dan “Hyang” (yang artinya “Dewa”).

Kami mengawali hari di puncak Gunung Sikunir (2.263 MDPL) yang langsung membuat aku sadar bahwa kami telah melakukan kesalahan. Pemandangan matahari terbit dari puncak ini jelas tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pemandangan dari atas Merbabu. Mestinya kami menyambut pagi di kompleks candi, supaya bisa menyaksikan efek dramatis sinar matahari dan selimut kabut pada candi-candi itu. James pasti akan mendapat objek foto yang lebih bagus seandainya begitu. Tapi ya sudahlah, aku tak bisa menarik matahari kembali ke peraduannya, tapi aku bisa kembali lagi kapan-kapan.

Setelah sarapan mi kuah panas di sebuah warung dekat Telaga Warna, kami berjalan kaki mengitari telaga itu. Kami mendapat bypass gratis dari penjaganya, yang ternyata masih mengenali Surya. Ayahnya dulu memang kepala dinas pariwisata Wonosobo. Sewaktu di pintu masuk aku melihat-lihat termometer yang menempel di dinding: 15 derajat Celcius. Kata si penjaga, pada bulan Agustus suhu daerah ini malah bisa turun sampai nol derajat. “Daun-daun tumbuhan itu pada layu semua, soalnya pada ketumpukan es di atasnya.”

Telaga Warna adalah telaga belerang. Airnya berwarna hijau, mendidih pelan, berbau … ya begitulah. Ia secara ajaib berdampingan dengan Telaga Pengilon, telaga biasa tempat banyak penduduk setempat memancing ikan. Kedua telaga itu hanya dipisahkan sejengkal tanah yang lebarnya mungkin cuma 10 meter, tapi airnya tak saling bercampur. Sambil jalan, aku iseng berpikir bahwa tempat ini mungkin cocok untuk “penetrasi” dan “penembakan”. Rute keliling telaga jauh sekali. Suasananya tenang. Pemandangannya indah. Cukuplah untuk memulai percakapan, rayuan, dan tembungan. Huahaha ….

Kami baru tiba di kompleks Candi Arjuna siang hari, dan Kawah Sikidang menjelang sore hari. Telaga Menjer (yang bagusnya betulan) kami kitari dengan perahu motor keesokan harinya. Tapi kenikmatan tempat-tempat itu terkurangi dengan kecemasanku akan persediaan bensin di tangki motor.

Di Wonosobo, aku menambalkan tangki motorku di tukang las radiator di dekat warung mi ongklok enak di … (jalan apa aku lupa). Orang bilang, kalau dilas biasa, tangki bisa getas. Tapi tambalan ini cuma bertahan beberapa hari. Di Salatiga, rembesan mulai mengalir lagi, dan aku menambalkannya pada salah satu bengkel di Jalan Diponegoro. Kali ini tak hanya dilapisi timah, tapi juga ditempeli lempeng kuningan, supaya lebih kuat. “Tangki saiki tipis-tipis e, Mas,” kata si tukang tambal.

Ketika kemarin lusa malam aku “naik” lagi ke Wonosobo, untuk mengantar Slamet mengambil motor barunya, tak ada masalah. Tapi rupanya batas ketahanan tambalan itu terlewati hari ini.

Motor Megapro ini mungkin bisa dikatakan sebagai motor hasil miskomunikasi antara aku dan Bapak. Aku tak pernah minta dibelikan motor, tapi Bapak selalu menawari, dan aku selalu mengelak. Bapak selalu menawari ini dan itu, tapi aku selalu menolak. Tak jelas juga alasanku menolak, aku cuma merasa sudah cukup dengan apa yang aku miliki sebelumnya. Aku masih punya kamar kos dan buku. Koneksi internet banyak di kampus. Telepon genggam, meskipun butut, tapi masih bisa dipakai telepon dan kirim pesan singkat. Uangku cukup untuk naik kendaraan umum, atau mengisikan bensin kalau pinjam motor teman — selebihnya jalan kaki. Kalau barang makin banyak, makin banyak pula tanggunganku jadinya.

Tahun lalu, Bapak dan Ibu intensif menawari laptop, hingga akhirnya mereka tanya, “Kamu mau beli sendiri atau dibelikan?” Aku bilang aku akan cari sendiri, dan mereka transfer uang dari Surabaya. Tapi uang itu tak segera aku belanjakan. Aku pakai sebagian untuk melunasi uang kuliah, sebagian yang lain aku lupa rincian pengeluarannya — pokoknya berkisar di antara makan enak, buku bagus, dan operasional Scientiarum. Huehehe …. Tapi begitu tahu aku belum juga membeli laptop, Bapak suatu pagi muncul di depan kantor Scientiarum. Dia menenteng satu kardus kecil berisi laptop Compaq yang aku pakai mengetik sekarang.

Megapro ini juga begitu. Setelah hampir dua tahun tak pernah berkunjung ke rumah Simbah di Grobogan, aku main-main ke sana. Sehari sebelum aku pulang ke Salatiga, Mbak Herna, kakak sepupuku, memberi aku STNK dan kunci motornya. Ternyata sudah dibayar Bapak.

Menyesal? Mungkin. Seandainya aku tahu Bapak akan tetap ngeyel membelikan aku motor, aku mungkin tidak akan membiarkan dia memboroskan uangnya untuk sebuah Megapro bekas. Aku akan minta Vixion, yang berharga sama, tapi jauh lebih canggih, stabil, cepat, bertenaga, dan — ini yang terpenting — irit bensin. Jadi aku suka kebut-kebutan? Ya, memang. Aku suka ngebut kalau perjalanan luar kota. Aku berkali-kali bilang pada James, aku benci (sekali) diasapi solar oleh bus, truk, dan kawan-kawannya.

Tapi mungkin ada dimensi (positif) lain dari Megapro ini. Belakangan aku tahu dari Ibu, kalau sebetulnya kakak sepupuku itulah yang meminta Bapak membeli motornya. Dia sedang butuh uang untuk keperluan lain. Ya sudahlah, berarti besok aku memang harus menambalkan tangki motor ini lagi. Sekarang aku mau tidur dulu. Kepalaku sakit!