Buah Rekor Surabaya

Ini hari keempatku di Surabaya — sebuah rekor baru, karena biasanya aku cuma sehari-dua (atau malah kurang) di sini. Setelah mendapat akses internet di Jess Net, sebuah warung internet di Jalan Urip Sumoharjo, dekat Pasar Keputran yang “legendaris” itu, aku putuskan menulisi blog ini sambil menunggu bus jurusan Surabaya-Yogyakarta, yang akan berangkat tengah malam nanti. Aku hendak menumpang sampai Solo, lalu mencari bus ke arah Salatiga.

Aku mula-mula sampai di Surabaya hari Kamis, 26 Maret, dengan niat menonton seminar Scripture and Nature di Universitas Kristen Petra. Hestin sudah membelikan aku tiket masuk, jadi sungkan juga kalau tidak datang. Lagipula, ini seminar yang bermutu menurutku, meski premis besarnya sudah cukup klise: Tuhan adalah pencipta alam semesta, karena Tuhan adalah “Yang Ada”. Alam semesta yang kini ada tidak mungkin berasal dari yang tidak ada. Dan manusia yang personal, tidak mungkin tercipta dengan sendirinya oleh alam yang impersonal. Hanya Tuhan yang personal yang mampu mencipta alam yang impersonal dan manusia yang personal. Aku pribadi, untuk sementara, setuju dengan penjelasan ini.

Sesi paling menarik dari Scripture and Nature adalah sesi keempat. Inswasti Cahyani, biolog berwajah manis yang jadi pembicara sesi, banyak memutar gambar bergerak yang mendepiksi cara kerja tubuh manusia, khususnya di bagian sel. Dengan menunjukkan kerumitan-kerumitan teratur nan menawan yang menyertai setiap kerja sel, seperti proses duplikasi asam deoksiribo nukleat (DNA), Ninin berpendapat bahwa kesemuanya ini sulit dipahami sebagai ciptaan yang tak punya tujuan dan “kecerdasan perancang”. Ninin adalah panggilan akrab Cahyani.

Malamnya, setelah makan bakso di daerah Siwalankerto, aku ngobrol berdua dengan Hestin di Kolam Jodoh. Ini sebutan buat sebuah area melingkar di lantai dasar gedung “W” kampus Petra. Mungkin ini salah satu “arena sosialisasi” mahasiswa yang paling populer di Petra, kalau ditilik dari bentuk dan lokasinya yang lumayan “strategis”. Ada beberapa mahasiswa lain malam itu. Kebanyakan menyalakan laptop. Mungkin memanfaatkan fasilitas wireless fidelity yang langsung tersambung dengan internet. Aku sempat keluarkan laptop juga, tapi akhirnya aku tutup karena ingin fokus mendengarkan Hestin.

Hestin ingin tahu cerita soal keluargaku. Dia tahu dari beberapa kali kesempatan chat bahwa aku punya keengganan untuk pulang ke rumah dan bertemu keluarga, khususnya orangtua. Dia kesulitan memahami sikapku karena pengalaman pribadinya menunjukkan hal yang berkebalikan.

Obrolan santai itu pun berubah sejenak jadi semacam konseling, dengan Hestin sebagai konselornya. Ternyata ada beberapa kesulitan bagiku untuk bercerita secara lengkap karena terlibatnya sejumlah ingatan “prasadar”, dan mungkin juga yang “tak sadar”. Hestin memancingku dengan cerita pengalamannya sendiri. Intinya, aku bilang pada Hestin bahwa sikap menjauhku dari orangtua banyak disebabkan karena mereka terlalu banyak mengatur dan memperhatikan aku — meski jika mau dibuat perbandingan, orangtuaku mungkin masih lebih “demokratis” dan “liberal”, ketimbang orangtua teman-teman lain yang aku sempat lihat.

Tapi, entah bagaimana, “konseling” itu pun lantas berubah lagi jadi “pendalaman Alkitab”, dengan sebagian intinya menyoal relevansi hukum-hukum Perjanjian Lama untuk kehidupan umat Kristen di masa kini. Hestin berpendapat, orang Kristen tak perlu mengekor ketentuan Taurat lagi karena mereka “telah mati bagi Taurat”. Aku sendiri melontar pendapat bahwa orang Kristen sebaiknya tetap menaati Taurat — tentu saja, dengan berbagai penafsiran ulang, agar relevan dengan konteks jaman — karena Yesus sendiri berkata bahwa Kristus datang bukan untuk meniadakan satu iota pun dari Taurat, melainkan menggenapinya. Itu artinya, Taurat tetap berlaku.

Meski dipisahkan perbedaan pendapat untuk sementara waktu, kami tak lantas meradang, dan membangun “benteng permusuhan”. Jauh dari itu, kami menyambung obrolan dengan berbagai topik lain, sampai akhirnya Hestin pamit pulang karena harus persiapan untuk terbang ke Jakarta esok paginya, menghadiri upacara wisuda kakaknya hari Sabtu. Sebelum pulang, Hestin mengajak aku berdoa bersama, dan itulah saat-saat dimana aku merasa nyaman sekali malam itu. Seusai doa, mataku mengikuti setiap gerak Hestin yang menjauh, terdorong hatiku yang seperti berat melepas kepergiannya. Waktu itu sudah pukul 22.00 lewat. Aku ingin mengantar, tapi apa nanti tidak terlihat “berlebihan”? Dasarnya memang aku suka gengsian.

Malam hari kedua, sebelum pulang ke rumah Ibu, aku menemui teman-teman SMA-ku. Kami berkumpul di rumah Fabian “Bogel”, di kompleks Rambutan, Pondok Tjandra. Ada Indra “Cempluk”, Indra “Cuki”, Ricky “Bogang”, Yudha, Sanjaya, Teddy, Andre “Kambing”, Kevin “Kembon”, Dennis … (sapa sing durung disebut?). Kami ngobrol sedikit soal politik dan pendidikan, sebelum akhirnya melenceng kesana-kemari macam suempak, kata Cuki. Kami ketawa-ketiwi ….

Hari ketiga, rencananya aku mau berkunjung ke sinagog di Jalan Kayon. Tapi kebetulan mood baca buku lagi tinggi. Seharian itu aku larut dalam Identitas Manusia dan mengulang bab-bab yang telah aku baca, untuk memperdalam pemahaman. Aku menemukan sosok Carl Jung sebagai psikiatris berwawasan luas, melewati batas-batas kebudayaan. Dia memperhitungkan mitos Indian Amerika Tengah yang menggambarkan matahari sebagai lambang “kesuburan”, ketika menganalisis seorang pasien yang melihat “bayangan” alat kelamin laki-laki di langit, yang terbentuk dari bola matahari. Jung akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa mungkin ada “universalitas” dalam kehidupan psikis manusia, dan mungkin pula psikiatri Barat menderita “prasangka kultural” — kalau yang digunakan adalah psikoanalisis Freud, pasien Jung tadi pastilah kena cap “psikotis”.

Begitulah, hingga hari beranjak petang pun aku masih tetap setia nongkrong di rumah. Tapi aku ingat Eva dan ingin dolan ke rumahnya. Sampai di rumah Eva, ternyata William pun datang. Klop. William banyak ngoceh soal kondisi OSIS almamater kami bertiga. Intinya, William berpendapat ada “penurunan kualitas” pada generasi OSIS di bawah kami, seraya tetap mengakui ada kelebihan-kelebihan di bidang tertentu. Ya, mungkin semua punya jamannya sendiri-sendiri, batinku. Dan kalaupun hal itu dirasa merisaukan dan perlu disikapi serius, hal pertama yang mesti dilakukan adalah analisis yang jauh dari serampangan. Ini fenomena sosial — kompleksitasnya tinggi!

Setelah lewat tengah malam, adikku Evan mengantar aku ke Terminal Purabaya, karena memang telah kuputuskan untuk pulang malam itu. Tapi sesampainya di depan ruang tunggu bus antarkota, aku berhenti melangkah. Aku merasa harus tetap ke sinagog Kayon itu — aku penasaran sekali dengan pergerakan politik, ekonomi, dan kebudayaan bangsa “pilihan” yang satu ini. Evan sudah balik ke rumah. Jadi, aku menelepon Cuki, dan tanya apakah dia bisa mengantar aku ke Kayon siang ini. Kalau bisa, aku akan menginap di kosnya semalam lagi.

Siang tadi, Indra menurunkan aku di depan Plaza Surabaya, yang letaknya di samping Monumen Kapal Selam. Aku jalan beberapa puluh meter dari sana dan menemukan sinagog yang aku cari. Ia ada dalam sebuah kompleks sederhana dengan halaman depan yang agak luas. Pagar depannya yang bercat hitam dipasangi papan “AWAS! ADA ANJING GALAK” … dan memang “galak”. Ketika aku berjalan di samping sinagog itu, hendak mencari seseorang bernama Narmi, yang oleh Okezone.com sempat dijadikan narasumber, beberapa anjing kecil dan satu anjing tanggung langsung menyerbuku dengan gonggongan dan hampir menggigit.

Rumah keluarga Narmi ada di belakang sinagog. Aku tahu itu dari seorang laki-laki paruh baya yang sedang membabat rumput di samping sinagog. Di belakang sinagog itu terhampar sebuah lapangan plesteran yang tak begitu luas. Sepeda motor tua warna merah, yang oleh pembabat rumput tadi disebut sebagai milik Narmi, terparkir di depan sebuah pintu kayu.

Aku ketuk pintu itu. Lama. Baru sekitar lima menit kemudian, seorang remaja perempuan muncul dari baliknya. Aku menanyakan keberadaan Narmi, setelah menjelaskan identitas dan maksud kedatanganku. Aku menggunakan embel-embel mahasiswa Satya Wacana yang hendak menggali sejarah sinagog itu.

Perempuan itu, yang mengaku bernama Desi dan mengaku anak Bu Narmi, mengatakan bahwa ibunya sedang tidak berada di rumah. “Lagi keluar,” cuma itu katanya.

Tapi mukanya serasa tak mantap. Aku coba mengorek lagi. Kemana? Sudah lama? Kapan kembalinya? Desi akhirnya memberi aku nomor yang dia klaim sebagai nomor telepon genggam ibunya.

Ketika hendak meninggalkan rumah Bu Narmi, aku menoleh ke arah rumah kecil di samping sinagog, yang juga sempat aku perhatikan sekilas waktu bicara dengan pembabat rumput tadi. Aku lihat ada seorang pria gendut berhidung bengkok, berkulit putih, agak botak, keluar dengan menyandang handuk. Rambutnya basah seperti orang baru selesai mandi. Desi mengatakan bahwa pria itu bernama Yosef. Dia seorang Yahudi.

“Yosef Aron?” tanyaku spontan, karena teringat nama orang Yahudi yang ditulis Okezone.com sebagai pemilik sinagog Kayon, namun telah mati 12 tahun lalu.

Desi membukankan, seraya berkata bahwa dia cuma tahu sedikit tentang pria itu.

“Bisa bahasa Indonesia?” Kali ini Desi mengiyakan.

Aku kembali berjalan melintasi lapangan, mendekat ke rumah itu, dan bicara dengan si pembabat rumput. Aku tanya-tanya perihal pria bernama Yosef itu.

Si Yosef rupanya mendengar pembicaraan kami, dan keluar. Sekali lagi, aku menyebutkan identitas dan maksud kedatanganku. Lebih jelas lagi, aku menyatakan ingin menulis makalah soal sejarah sinagog Kayon, dan ingin mewawancara dirinya. Tapi pria itu menerangkan dengan ketus bahwa dia tak tahu apa-apa soal sinagog itu. Sinagog itu, kata dia, selalu tertutup dan hanya dibuka bila ada “sembahyangan”. Aku tanya, kapan kira-kira ada orang sembahyang. Yosef mengaku tak tahu. Logatnya terdengar cadel ala bule.

“Sejak kapan Anda tinggal di sini?” aku coba-coba mengorek identitas Yosef. Seorang perempuan dengan wajah yang “tak kalah Yahudi” dari Yosef keluar dari pintu rumah, bersama anjing-anjing yang menggonggongi aku tadi.

“Buat apa Anda tanya itu?” Yosef balik bertanya, nada ketusnya naik. Kali ini aku mati kutu.

“Sinagog ini sudah ditutup,” kata Yosef, seakan memutus pembicaraan. Aku merasa diusir secara halus. Aku pun pamit dengan sesopan-sopannya.

Usai “diusir”, aku berjalan ke halaman depan sinagog itu, lalu membuka pagar dan masuk ke terasnya. Lantainya yang terbuat dari marmer berdebu sekali. Apa benar sudah ditutup, batinku. Sinagog, yang menurut Surabaya Post, bernama Beth Hashem ini memang sempat disegel Majelis Ulama Indonesia dan Massa Anti-Israel, Januari lalu. Alasannya apa lagi kalau bukan gara-gara konflik Israel-Palestina.

Tapi, bukankah tadi Yosef sendiri bilang bahwa masih ada orang sembahyang? Kalau Yosef benar seorang Yahudi, apakah dia tidak memakai sinagog ini? Tak adakah Yahudi lain yang sembahyang di sini? Aku makin bingung. Kata-kata Yosef terasa kontradiktif, dan cenderung bohong. Berita Okezone.com juga tak menyebutkan adanya orang Yahudi bernama Yosef yang mukim di samping sinagog ini. Apakah reporternya tak bertemu Yosef?

Aku menyesal tak punya kamera. Ada huruf-huruf Yahudi tertera di “gebyok” pintu masuk sinagog, yang katanya dibangun tahun 1913, itu. Akhirnya huruf-huruf itu aku gambar dengan bolpen di kertas catatanku. Hasilnya acak-acakan.

Saat asyik menggambar, aku lihat Yosef menuntun skuter bututnya mendekati pagar. Dia hendak keluar. Helmnya yang agak kebesaran seolah menutupi matanya, hingga menonjolkan hidung bengkoknya. Bentuk wajah itu mengingatkan aku pada karakter Yahudi-Jerman yang beberapa kali muncul di serial novel detektif “STOP” — akronim dari nama tokoh-tokoh utamanya: Sporty, Thomas, Oscar, dan Petra. Serial bergambar itu merupakan favoritku semasa SD.

Yosef melihatku sekilas, dan bersikap tak acuh. Seiring dengan menjauhnya skuter Yosef dari kompleks sinagog, diam-diam aku merasa jengkel kepadanya. Aku mencoba memaklumi ketertutupan dan kecurigaannya padaku. Hidup sebagai Yahudi di negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia mungkin terasa seperti pelanduk di cerang rimba … tapi sikapnya tadi tengik sekali! Aku sempat berpikir bahwa kesombongan Yosef berasal dari doktrin Talmud yang memang terkenal rasis bin chauvinis — misalnya traktat Baba Kamma 113a, yang mengatakan bahwa orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan terhadap orang non-Yahudi. Tapi aku cepat sadar, ini semua baru dugaan. Yosef juga belum tentu Yahudi. Dia bisa saja seorang asing yang “kebetulan” tinggal di sini. Siapa tahu? Dia sendiri tak mau memberi tahu.

Aku duduk bersila di atas marmer berdebu itu, mengontak nomor pemberian Desi. Suara perempuan paruh baya, yang mengaku sebagai Bu Narmi, menyahut di seberang ketika panggilan tersambung. Ada latar suara seperti mesin-mesin lewat di jalanan.

Untuk ketiga kalinya, aku menerangkan siapa aku dan apa maksudku datang ke sinagog Kayon. Aku menjelaskan bahwa Desi-lah yang memberi nomor tersebut. Narmi berkata bahwa dia tak seberapa tahu seluk-beluk Beth Hashem. Narmi merekomendasikan aku untuk menghubungi orang bernama Jusran. “Kadang ya di Kayon, kadang ya di rumahnya,” jawab Narmi, saat aku tanya dimana Jusran berada. Dimana rumahnya? Itu yang tak dijawab Narmi. Dia hanya memberi nomor telepon genggam Jusran.

Jusran yang dimaksud Narmi kemungkinan besar adalah Yusran Sambah, orang yang disebut-sebut koran Surya sebagai “juru kunci” Beth Hashem. Orang Makassar, kata Narmi. Aku hanya mengirim pesan singkat padanya, karena baterai HP-ku sudah drop, tak bisa dipakai menelepon.

Menit-menit berlalu, namun Pak Jusran tak juga membalas. Setelah sejam lebih menunggu, aku putuskan untuk jengjeng ke Plaza Surabaya dulu. Sudah lama sekali rasanya aku tak main ke sana. Dulu, waktu masih sekolah di Surabaya, aku memang tak seberapa suka main ke mal. Membosankan, bagiku.

Sambil menunggu SMS balasan, aku mengunjungi Toko Gunung Agung dan membeli beberapa buku soal kebudayaan. Aku meniatkan diri untuk “puasa” selama beberapa hari ke depan, karena uang habis aku belanjakan buku-buku ini. Toh, biasanya Eyang tetap memberi makan jika aku ngendon seharian di kos.

Dua jam telah berlalu dan balasan Jusran tak kunjung datang. Sedikit putus asa, aku kembali mengontak Bu Narmi, dan menanyakan jam kepulangannya ke Kayon. Tapi Narmi menjawab bahwa dia baru selesai jualan jam sembilan malam, itu pun langsung njujug pasar lagi, belanja kebutuhan dagang — entah apa dagangan Narmi. Aku pun mengurungkan niat bertemu dengannya malam ini. Mungkin kapan-kapan saja, kalau ke Surabaya lagi, begitu kataku dalam pesan singkat.

Sudah hampir jam lima sore. Aku menyusuri Jalan Kayon dengan berjalan kaki ke arah Hotel Brantas. Di sebelah kiri jalan, ada deretan bakul kembang. Dulu aku pernah blusukan di daerah ini, mencari kembang, tapi lupa buat siapa, dan dalam rangka apa. Itu masa-masa SMA.

Aku juga melewati bangunan yang dulu pernah ditempati Wapo, restoran tempat launching TuguPahlawan.com, sebuah komunitas bloger Surabaya yang aku dirikan tahun 2007, bareng Andi “Cempluk” Bagus. Cempluk adalah mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Komunitas bloger ini masih ada hingga sekarang, meski aku sudah tak lagi terlibat di dalamnya.

Sampai di Jalan Karimun Jawa, aku belok kanan dan mampir di Hotel Sonokembang. Aku makan nasi goreng merah di sana. Aku kangen rasa nasi goreng Surabaya.

Hotel itu aku tinggalkan sekitar jam delapan malam, setelah aku selesaikan membaca salah satu buku yang baru aku beli di mal tadi. Salah satu pelayannya bilang ada satu warung internet di Jalan Urip Sumoharjo, sehingga aku bisa sampai di sini dan menulis kata-kata ini saat ini. Busku akan berangkat beberapa saat lagi.