Bukan Film Cinta

“Amin?” tanya film itu. Dan hati masing-masing penonton pun menjawab.

Tampaknya itulah penutup yang adil untuk film seperti Cin(t)a, yang mencoba berbicara tentang cinta dan Tuhan, dua hal yang belum — mungkin tak akan — pernah selesai diperbincangkan. Pada satu titik tertentu dalam persoalan cinta, juga Tuhan, manusia akan menyadari keberadaan realitas yang transenden, yang belum — mungkin juga tak akan — pernah bisa terengkuh masuk sepenuhnya ke dalam alam sadar.

Entah kenapa, ketidakmampuan manusia memahami realitas secara utuh hampir selalu berujung pada kegelisahan, dan juga terkadang, kesedihan. Dalam beberapa kali pengalaman pribadi, kegelisahan dan kesedihan itu muncul atas dorongan rasa ingin tahu yang terlampau besar. Ketika keingin(tahu)an itu tidak terpuaskan, rasa-rasanya, kesedihan telah menjadi konsekuensi yang wajar.

Hidup manusia senantiasa bergerak di antara rasa cuek dan penasaran. Mungkin itu sudah menjadi semacam kodrat bagi kita. Dengan cuek, pemborosan waktu dan pikiran untuk hal-hal yang tak penting dapat dihindarkan — meski kadang mengabaikan sesuatu pun membuat kita jatuh dalam penyesalan. Di sini manusia butuh kearifan: kapan harus cuek dan kapan perlu penasaran. Kapan sesuatu menjadi penting, dan kapan tidak. Sayangnya, saya tak tahu apa dan bagaimanakah kearifan itu. Yang saya tahu, rasa penasaran akan mendorong orang mencari pengetahuan, dan pengetahuan akan memberi kecenderungan untuk penguasaan. Seperti kata-kata Bacon, pengetahuan adalah kekuasaan.

Karena dengan mengetahui seluk-beluk, katakanlah sebuah mobil, saya akan mampu mengendarainya ke tempat tujuan, sesuai kepentingan yang telah ditentukan. Dan memang seperti itulah motivasi pengetahuan di jaman modern setelah Francis Bacon, si penganjur empirisisme yang getol itu. Makin tinggi dan kokoh menara pengetahuan tentang dunia, manusia jadi merasa semakin bertahta, dan berlagak menjadi raja.

Raja tega.

Tega terhadap alam adalah hal yang pertama. Dan buktinya adalah kerusakan lingkungan di mana-mana. Tega terhadap sesama adalah yang kedua. Dan kita telah memulainya di ranah gender lewat sebuah masyarakat yang kelewat patriarkal, yang mengerdilkan emansipasi wanita. Kini situasinya memburuk dengan meluasnya konflik di ranah SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

Mungkin memang begitulah wujud pengetahuan tanpa perimbangan kewaskitaan, dan kekuasaan tanpa pengawasan — power tends to corrupt, kata Lord Acton. Padahal sebenarnya, pada hakikatnya, kekuasaan tidaklah melulu bicara soal dominasi dan eksploitasi. Kekuasaan juga perlu memperhitungkan konservasi. Pemeliharaan. Integrasi dan kolaborasi. Ingatlah dinamika Tao yang terkenal itu: antara yin dan yang, antara yang feminin dan maskulin, antara integrasi dan dominasi. Maka wajar kiranya jika beberapa puluh tahun yang lalu, seorang futuris-cum-posmodernis seperti Capra menyatakan bahwa gerakan ekologi dan feminisme akan menggeliat lebih liat hari-hari ini, sebagai penyeimbang ketegaan-ketegaan manusia maskulin. Namun, bagi saya sendiri, ada satu penyeimbang lagi: gerakan pluralisme yang kolaboratif. Tidak hanya dalam hal kesukuan maupun keagamaan (atau SARA). Pada tingkat yang lebih esensial, kita memerlukan kemajemukan informasi dan gagasan.

Termasuk gagasan tentang cinta, dan Tuhan.

Itulah kenapa kita butuh film seperti Cin(t)a. Bukan untuk mendapat sesuap jawaban. Sesungguhnya, dalam suatu diskusi di sebuah kampus Kristen di Salatiga, Sammaria Simanjuntak (sang sutradara) telah berterus-terang, ia sendiri tak pernah tahu apa dan bagaimana itu Tuhan. Keyakinan pribadinya berkata bahwa Tuhan adalah sutradara. Namun keyakinan tidaklah sama dengan pengetahuan. Justru dengan pemutaran film dan diskusi-diskusi kecil macam inilah, katanya, operasi pencarian jawab tersebut dilancarkan. Dari ruang hati orang ke orang.

Persoalan cinta dan Tuhan memang selalu menyisakan secuil ruang, yang belum — mungkin tak akan — pernah terlalu sesak untuk menampung jawab ribuan orang.

Mungkin nanti — entah kapan — kita akan menemukan cinta sebagai rasa yang tak cukup terceploskan hanya dalam sepotong kata “cinta”. Hingga akhirnya kita tak lagi mencintai dengan kata-kata, melainkan tindakan. Dan mungkin nanti, kita akan mengetahui Tuhan sebagai Yang Maha Tak Diketahui. Hingga akhirnya kita ikhlas melepas-Nya dari belenggu kuasa manusia (dan agama), yang selama ini telah membuat-Nya tampak sebagai maskot semata.

Amin?

Leave a Comment




  • Recently Written

    • Mendidik Manusia - Tentu berbeda dari mendidik kambing. Kambing bukan manusia dan manusia bukan kambing, dan sebangsanya.
    • Kreativitas Bertanggungjawab - Kalau manusia destruktif terhadap alam, itu artinya manusia sudah destruktif terhadap dirinya sendiri.
    • Kurikulum Berbasis Ketakutan - Apa gunanya punya gelar sarjana kalau dapatnya cuma gara-gara takut nggak bisa kerja? Apa gunanya...