Buku, Pesta, Cinta

Forum perdana DeBuk, Jumat minggu lalu, mendedah buku Soe Hok-gie …sekali lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya. Setelah puluhan tahun kematiannya di puncak Semeru, sosok Soe Hok-gie ternyata masih menarik minat mahasiswa jaman sekarang. Yodie Hardiyan dan James Anthony, keduanya mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis, mau berbaik hati menjadi pengantar rendezvous antargenerasi itu.

Tapi sebelumnya perkenalkan dulu. DeBuk adalah satu dari sekian forum yang dibikin sebagai ajang kumpul-kumpul di kampus. Cuma, bedanya dari yang lain, forum ini khusus buat obrolan soal buku. Kalau obrolan soal kuliner atau fesyen, tentu bukan di sini tempatnya. Baru ada kompromi kalau buku yang didedah adalah buku soal kuliner atau fesyen. Menurut Yodie yang kasih nama, DeBuk itu singkatan dari Dedah Buku. Dedah itu maknanya kira-kira hampir sama dengan bedah.

Kembali ke buku soal Soe Hok-gie. Buku ini (mestinya) bukan sesuatu yang asing buat orang UKSW. Pertama, karena nama UKSW sendiri beberapa kali disebut di sini. Memang ada urusan apa Hok-gie sama UKSW? Hok-gie, kan, mahasiswa UI?

Hok-gie memang mahasiswa UI, tapi kakaknya, Arief Budiman alias Soe Hok-djin, adalah bekas dosen UKSW. Arief melamar di UKSW setelah dapat gelar doktor dari Harvard. Dia jadi dosen sejak awal tahun 80-an dan dipecat dengan tidak hormat sekitar tahun 1994. Setelah dipecat dari UKSW, Arief diangkat sebagai profesor di Universitas Melbourne. Dan di buku ini, ada beberapa kisah soal Arief dan Hok-gie. Itu pertama.

Yang kedua, di bagian cerita soal gerakan mahasiswa tahun 80-an, ada beberapa potong kisah tentang beberapa bekas mahasiswa UKSW, seperti Stanley Yosep Adi Prasetyo, Buntomi Janto, dan beberapa lagi. Kayaknya, UKSW dan Salatiga punya posisi lumayan penting buat gerakan mahasiswa nasional waktu itu. Yah, meskipun itu tinggal kenangan masa lalu, tapi kata Slank, terlalu manis untuk dilupakan. Khusus Stanley, yang sekarang jadi wakil ketua Komnas HAM, dia disebut-sebut sebagai “reinkarnasi” Hok-gie oleh Aris Santoso, salah satu penulis buku ini. Kenapa? Karena seperti Hok-gie, Stanley dulu juga aktivis gerakan mahasiswa dan pecinta alam. Hok-gie dan Stanley juga sama-sama peranakan Cina.

Kalau sekarang, entah apakah masih ada mahasiswa peranakan Cina yang punya sepak terjang seperti Hok-gie. Kutu buku, suka jalan-jalan, dan gaul. Makanya tidak heran kalau dulu lirik lagu Genderang UI memuat jargon legendaris “buku, pesta dan cinta”.

s’mangat lincah gembira
buku, pesta dan cinta
itulah hidup kami
mahasiswa…

Tapi itu dulu. Sekarang jargon itu sudah hilang dari lirik lagu manapun. Mungkin karena memang sudah tidak relevan. Kalau soal cinta, mungkin masih. Hampir semua mahasiswa hari ini masih bercinta. Tapi berpesta? Buat makan harian saja ngutang. Paling-paling, pesta itu kalau ada lulusan wisuda saja, karena para orangtua biasanya mau berbaik hati menraktir si winisuda dan teman-temannya. Tapi setelah itu, ya lagu Mahasiswa Rantau-nya PHB kembali diputar.

Nah, kalau soal buku, jangan ditanya. Mahasiswa mana sih yang nggak baca buku? Dibaca saja, tapi tetap tidak mengerti. Mungkin karena suplai nutrisi ke otaknya kurang gara-gara susah makan, tapi biasanya lebih banyak karena malas. Malas juga bisa terjadi karena lapar. Orang bilang, logika tanpa logistik tidak jalan. Tapi, kalau mahasiswa sudah kenyang, biasanya malah ketiduran. Hehehe.

Itu juga yang disorot Yodie dalam dedahannya. Meski bukan komunis, Hok-gie membaca buku Marx dan Lenin. “Bukankah ini bisa jadi semacam peringatan keras bagi mahasiswa sok kiri era SBY: pernahkah membaca buku Marx atau Lenin?” tanyanya. Mungkin itu sebabnya kenapa sampai ada sebutan ABM alias Anak Baru Marxis. Kalau saya sendiri, lebih suka ABM yang lain, Anything But Monday.

Mungkin, dunia mahasiswa jaman Hok-gie dan kita memang sudah jauh beda. Jadi, betul kalau buku ini diberi subjudul “Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya”. Hok-gie sudah mengambil peran pada era dan semangat jamannya. Dia sudah jadi sosok ikonik ideal di alam bangsanya. Dan kini, tiba giliran kita membukupestacintakan alam bangsa kita. Sulit? Mungkin itu karena nggak ada yang bilang gampang.