
etika takbir berkumandang pada 1 Oktober malam, panggilan Saam Fredy Marpaung, staf Biro Promosi dan Hubungan Luar Universitas Kristen Satya Wacana, masuk ke telepon genggamku. Dia tanya, “Boleh aku kasih nomer (telepon genggam)-mu ke orang?” Ya jelas orang lah, ngapain monyet tanya nomorku? Siapa sih? “Wartawan Solopos,” jawab Saam. Solopos adalah harian umum yang bermarkas di Solo.
Beberapa menit kemudian, ada pesan singkat masuk.
Kur: Mas satria,sy kur wartawan solopos.btw sy membuat profil kamu sbg ka pers kampus.gmana?
Aku: Boleh,silakan.
Kur: Nha,crny gampang.sampeyan kirim foto stengah badan n biodata ke email sy k*o*s*i*3@yahoo.com paling lmbt jam 3 sore bsk.ok?
Aku: Oke,pake wawancara juga nggak?
Kur: Y penting fokus di latarblakang kiprah di media kampus,7anya,suka duka,cita2 dan motto nya ap.dsb.
Esoknya, ketika aku lagi menyunting cerita pendek Kucing Ayah karya Wayan Sunarta, untuk dimuat di Scientiarum, ada pesan singkat masuk lagi.
Kur: Jgn lupa kirim foto dan biodata sampeyan.jgn sore2 ya.
Aku: Sip.Paling telat jam 3 kan?
Kur: Yup.yg lengkap data2nya ya.km tls apa aja sesukamu.
Karena “sibuk”, aku baru sempat menulis biodata sekitar pukul 14.00. Aku menulisnya secara naratif.
Naskah profil untuk Solopos
Nama lengkapku Satria Anandita Nonoputra. Aku kelahiran Semarang, 7 September 1988. Tapi sejak umur dua tahun, keluargaku pindah ke Surabaya. Di kota yang panas itu, aku tumbuh dan mengenyam pendidikan formal hingga bangku sekolah menengah atas. Aku lulus dari SMA Kristen Petra 5 tahun 2006 dan melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Di sini aku ambil jurusan manajemen.
Dulu aku tak suka dengan wartawan. Semasa kecil, aku sering nonton film-film dimana wartawan ditampilkan hanya sebagai tukang catat, jepret, dan warta. Peran kacangan, pikirku. Ada pula adegan dimana wartawan digambarkan sebagai orang yang selalu ingin tahu dan ingin ikut campur urusan orang tanpa tujuan jelas — atau tujuan yang semata-mata untuk kepentingannya pribadi atau perusahaan persnya. Aku punya kesan, wartawan itu oportunis dan licik. Aku sinis dengan wartawan.
Ketika kuliah, aku mulai tertarik menulis. Aku menulis untuk mengungkapkan gagasan, bisa juga perasaan. Maka aku mulai mengelola satu blog pribadi dan menulis apa saja. Aku juga berkenalan dengan beberapa kakak angkatan yang jadi pegiat pers mahasiswa. Mereka pintar-pintar, apalagi soal beretorika dan berwacana. Mereka suka baca buku dan diskusi. Aku jadi tertarik.
Pada Oktober 2007 aku bergabung dengan Scientiarum. Ini salah satu lembaga pers mahasiswa di UKSW. Namanya diambil dari bahasa Latin yang berarti “persekutuan ilmiah”. Waktu itu rapat perdana Scientiarum digelar di Rindang, kafe kampus. Bambang Triyono, pemimpin redaksi waktu itu, mengawali rapat dengan sedikit basa-basi sebelum kemudian mengutarakan pengunduran dirinya. “Sudah saatnya Scientiarum dipimpin orang baru,” katanya. Bambang memang telah memimpin redaksi selama tiga tahun. Rapat lantas menunjuk aku sebagai pengganti Bambang. Aku yang sama sekali baru di dunia pers mahasiswa kaget setengah mati. Tapi, dasar ambisius, akhirnya aku terima juga penunjukan itu, meski dengan takut-takut. Aku adalah anggota Scientiarum termuda waktu itu. Umurku baru 19 tahun. Tapi redaktur yang lain rata-rata empat sampai lima tahun lebih tua dari aku.
Aku akui, aku adalah orang yang angin-anginan. Pada Januari 2008 aku sempat bilang ke Bambang kalau aku mau mundur dari pemimpin redaksi. Aku tak kuat lagi memimpin Scientiarum, karena harus membagi waktu dengan dua pekerjaan lain. Waktu itu aku lagi kerja di Satya Wacana Business Technology Center (inkubator bisnis milik Fakultas Teknologi Informasi UKSW) dan satu proyek pemberdayaan masyarakat bareng British Council.
Tapi Bambang terus meyakinkan aku bahwa aku bisa. Dia bilang, wajar kalau berat saat awal-awal. “Engko suwe-suwe kan biasa,” katanya. Dia juga bilang, sulit cari pengganti kalau aku mundur. Tak tahunya, kontrak kerjaku di SWBTC tak diperpanjang. Ada pergantian direktur dan reorientasi organisasi. Bebanku pun berkurang dan aku bisa tetap di Scientiarum, dengan fokus yang lebih besar malah.
Koran Scientiarum terbit setiap empat bulan sekali. Ini aku pandang sebagai kekurangan besar. Kalau frekuensi terbit serendah itu, kesempatan berlatih menulis juga rendah. Aku sendiri bisa menulis di blog seperti biasa, tapi yang lain? Teknologi blog belum cukup merakyat di UKSW waktu itu. Kampus ini agak ketinggalan soal teknologi informasi.
Terbit cetak lumayan berat. Selain berat di ongkos, mengatur tata letak juga bukan perkara gampang buat Scientiarum. Kami cuma punya satu staf tata letak, yakni Ferdinand Anaboeni — dia mahasiswa teknik informatika, asalnya Sumba. Mungkin, pengaturan tata letak jadi berat karena frekuensi praktiknya juga jarang, empat bulan sekali. Lalu apa akal?
Aku menawari para staf Scientiarum untuk bikin satu situs web. Situs ini, selain bisa jadi portal berita, juga bisa jadi tempat mengarsip berita-berita kami. Format elektronik juga relatif lebih fleksibel. Tak perlu ada batasan panjang artikel. Tak perlu repot mengatur tata letak. Ongkos domain dan hosting juga lebih murah daripada ongkos cetak. Sedangkan jangkauan pembacanya meluas. Tak hanya mahasiswa di dalam kampus yang mengakses berita kami, tapi juga para alumni yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Singkat cerita, Scientiarum akhirnya membangun Scientiarum.com sebagai portal berita onlinenya.
Publikasi online memang relatif lebih mudah, namun dia punya kesulitannya sendiri. Tak mudah untuk mengubah budaya terbit empat bulan sekali menjadi setiap hari. Mulanya aku ingin berita di Scientiarum.com diperbarui setiap hari seperti TheCrimson.com. Situs itu milik The Harvard Crimson, pers mahasiswa di Harvard University, Cambridge, Amerika Serikat. Mereka terbit harian, dari Senin hingga Jumat. Aku selalu mendorong para reporter Scientiarum untuk lebih peka terhadap berita. Aku juga membiasakan penyuntingan begitu hasil reportase selesai dikumpulkan dan ditulis. Namun hingga kini, frekuensi terbit harian masih mimpi di awang-awang. Paling banter, Scientiarum hanya bisa memuat empat artikel baru dalam seminggu. Itu pun tak semuanya berita. Ada opini, cerpen, dan lain-lain.
Scientiarum.com sempat dapat perhatian dari Donny B. U., redaktur Detikcom. Kala itu Donny datang ke UKSW dalam rangka penjurian situs web www.uksw.edu yang dinominasikan sebagai Best Access and Connectivity Indonesia ICT Awards 2008. Donny — bersama Romi Satria Wahono, pendiri IlmuKomputer.com — menjadi juri. Kata Harijono, Wakil Rektor II UKSW yang waktu itu ikut mendampingi para juri, Donny menyebut Scientiarum.com “dahsyat”. “Belum pernah saya lihat yang sedahsyat ini di Indonesia,” kata Harijono, menirukan Donny. Apresiasi Donny adalah salah satu apresiasi terbesar yang aku dapat ketika memimpin Scientiarum. Thanks to him!
Sebenarnya, memimpin redaksi Scientiarum sama saja dengan berkorban, menurutku. Sebagai wartawan mahasiswa yang masih muda, aku lebih suka turun ke lapangan untuk reportase langsung. Umurku sekarang 20 tahun. Aku butuh banyak waktu reportase untuk berlatih. Reportase, reportase, reportase. Bagiku, baca buku dan diskusi saja tak cukup. Reportase dibutuhkan untuk menggali fakta-fakta empirik, langsung dari kenyataan. Hasratku untuk melakukan reportase membuncah terutama setelah Scientiarum mengadakan pelatihan jurnalisme dengan instruktur Andreas Harsono. Andreas minta supaya reporter kurcaci macam aku banyak reportase.
Tapi aku masih duduk di kursi pemimpin redaksi hingga kini. Aku lebih banyak bekerja di belakang meja, menyunting, dan mengritik naskah para reporter, daripada mendapat penugasan untuk turun ke lapangan. Maka aku anggap kursi ini sebagai penugasan tersendiri, hingga waktuku beranjak nanti. Aku ingin tetap setia pada jurnalisme, karena dengan jurnalisme yang baik, aku percaya, mutu masyarakat juga akan jadi baik.
Naskah ini aku kirim pukul 15.14, telat 14 menit dari tenggat. Aku sudah minta maaf pada Kur lewat pesan singkat. Esoknya, Jumat, 3 Oktober 2008, aku cek situs web Solopos. Aku menemukan artikel tentang profilku ditulis dengan “agak serampangan”, menurutku.
Dari benci jadi cinta
Nama lengkapnya Satria Anandita Nonoputra, laki-laki kelahiran Semarang September 20 tahun lalu. Sejak Satria berumur dua tahun, keluarganya pindah ke Surabaya kota yang panas itu. Setelah lulus SMA Kristen Petra 5, Satria melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.
Siapa sangka laki-laki berperawakan tinggi tegap yang saat ini memegang posisi sebagai Pemimpin Redaksi Scientiarum (Salah satu lembaga pers) UKSW itu pada mulanya tak suka dengan wartawan. Semasa kecil, Satria menganggap wartawan adalah peran kacangan–tak prestisius.
Dalam pandangan lain wartawan digambarkan sebagai orang yang selalu ingin tahu atau ikut campur urusan orang lain tanpa tujuan jelas — atau tujuan yang semata-mata untuk kepentingannya pribadi atau perusahaan persnya.
Namun setelah menempuh studi di UKSW tanpa sadar Satria justru mulai tertarik menulis. Dia menulis untuk mengungkapkan gagasan juga perasaan. Satria berkesempatan berkenalan dengan para pekerja pers mahasiswa. Pada Oktober 2007 Satria bergabung dengan Scientiarum. Namanya diambil dari bahasa Latin yang berarti “persekutuan ilmiah.” Dalam sebuah rapat Satria ditunjuk sebagai Pemred Scientiarum. Saat itu dia tercatat sebagai anggota Scientiarum termuda.
Selain aktif di Scientiarum, Satria juga aktif di Satya Wacana Business Technology Center (inkubator bisnis milik Fakultas Teknologi Informasi UKSW) serta proyek pemberdayaan masyarakat bareng British Council. Dengan berbagai pertimbangan, Satria memelopori penggunaan format media elektronik juga lebih fleksibel berupa situs web. Dengan cara ini jangkauan pembaca Scientiarum diperkirakan lebih luas. Singkat cerita, Scientiarum akhirnya membangun Scientiarum.com sebagai portal berita online-nya.
Selama kepemimpinan Satria di Scientiarum ada banyak kendala yang mesti mendapat perhatian kami bersama. Bersyukur semua kendala berhasil dia selesaikan dengan baik. Bagi Satria, memimpin redaksi Scientiarum sama saja dengan berkorban. Sebagai wartawan mahasiswa yang masih muda, dia lebih suka turun ke lapangan untuk melakukan reportase langsung. Dia mengaku butuh banyak waktu reportase untuk berlatih reportase, reportase dan sekali lagi reportase. Menurut Satria baca buku dan diskusi saja tak cukup. Dia ingin tetap setia pada jurnalisme, karena dengan jurnalisme yang baik, dipercaya, mutu masyarakat juga akan jadi baik. - kur
Ada beberapa cacat pada artikel ini.
Kur menulis, “Selain aktif di Scientiarum, Satria juga aktif di Satya Wacana Business Technology Center (inkubator bisnis milik Fakultas Teknologi Informasi UKSW) serta proyek pemberdayaan masyarakat bareng British Council.” Kalimat ini mengesankan aku masih aktif di SWBTC dan proyek itu sampai sekarang.
Padahal, aku sudah menulis di biodataku, “Waktu itu aku lagi kerja di Satya Wacana Business Technology Center (inkubator bisnis milik Fakultas Teknologi Informasi UKSW) dan satu proyek pemberdayaan masyarakat bareng British Council.” Aku pun menambahkan, “Tak tahunya, kontrak kerjaku di SWBTC tak diperpanjang.”
Kur juga menulis, “Selama kepemimpinan Satria di Scientiarum ada banyak kendala yang mesti mendapat perhatian kami bersama.” Kami? Kami siapa yang dimaksud?
Jumat malam itu juga aku langsung mengirim pesan singkat kepada Kur. Aku tanya, kenapa dia tak wawancara aku ketika menulis artikel ini? Namun hingga kini dia tak menjawab.
Tanpa mengurangi rasa hormatku pada Kur, aku punya kesan wartawan ini malas dan tak cerdas. Dia mempersilakan aku menulis biodata sesukaku (sudahkah diverifikasi?). Itu pun dia masih banyak salah mengartikan. Bukankah kalau tak jelas, dia bisa bertanya?





There are 14 comments already. Say something!