Personal

Tumpang Tindih Pembangunan

B

angun pukul 06.25 pagi ini membuat saya harus berjuang keras menggapai pintu kamar mandi. Saya sudah membuat janji dengan JT untuk bertemu di depan kantor Bawasda, Salatiga, pukul 06.30. Setelah menang bergulat dengan kemalasan, saya pun bangkit. Salatiga pagi masih (terlalu) dingin buat saya. Niat mandi saya urungkan. Cuci muka dirasa cukup.

HP berbunyi ketika saya sedang mengenakan kemeja. Ketika diangkat, suara JT ada di seberang. Tidak jelas, tapi saya tahu dia bermaksud mengingatkan saya. Saya makin tergesa. JT menelepon lagi ketika saya sedang mencari sepatu. Dia rupanya telah sampai lebih dulu di sana. Saya katakan, “Sebentar lagi.”

Saya ambil Puma putih itu. Berdebu sekali, tapi masih cukup layak pakai. Sudah setahun lebih saya tidak mengenakannya. Selama ini, yang setia di kaki saya adalah sandal gunung. Kemanapun saya pergi, cuma itu yang jadi andalan soal alas kaki.

Selesai bersepatu, saya segera cabut dari kos. Menapaki jalan menanjak dengan Puma itu terasa sedikit aneh, namun mantap juga. Jarak kantor Bawasda dengan kos saya tidak jauh, kira-kira 150 meter. Tapi, memang cukup menanjak …

Sesampainya di sana, tidak ada siapa-siapa. Saya telepon JT. Rupanya dia juga harus mengantar keponakannya yang masih SD, jadi dia bablas dulu ke sekolah karena tadi saya belum siap. Saya menunggu beberapa menit di depan pos satpam kosong. Setelah itu, JT datang naik Panther biru laut. Ada sopir juga. Saya masuk dan duduk di kabin belakang sopir. Di samping kiri saya, ada setumpuk majalah Teknopreneur dan buletin Bistek yang masih disampul. Semuanya edisi terbaru.

Sehari sebelumnya, saya diajak JT (via telepon) menghadiri hajatan FPESD Jawa Tengah di kantor Bappeda provinsi ini. Forum ini adalah gabungan unsur pemerintah, akademisi, dan masyarakat di Jawa Tengah untuk kepentingan pembangunan ekonomi lokal. Katanya, akan ada seminar dan lokakarya yang menghadirkan seluruh perwakilan UKM di Jawa Tengah. Isu pokok yang akan dibahas adalah peran business technology center (BTC) untuk pemberdayaan ekonomi lokal. Yang didapuk untuk jadi pembicara adalah dua pakar BTC dari Inggris, satu orang deputi dari Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) RI, satu orang konsultan BTC dari Jerman, dan JT sendiri, mewakili Bistek, BTC kampus kami.

Saya diajak karena JT ingin mengenalkan saya pada teman-teman UKM dan para fasilitatornya untuk membentuk jejaring. Saya sendiri punya alasan lain: saya butuh “sedikit” jalan-jalan. Inilah yang disarankan Dion ketika minggu lalu dia tahu saya malam mingguan di depan komputer sambil nulis-nulis artikel.

Selama perjalanan, JT bicara panjang lebar soal banyak hal, salah satunya adalah teknologi tepat guna. Menurutnya, selama ini banyak UKM menganggap teknologi adalah barang mahal. Padahal, kalau teknologi yang dipilih benar-benar untuk efisiensi dan efektivitas proses bisnis, itu justru bisa menguntungkan. Pemahaman teknologi sendiri juga sering tidak tepat. Banyak dari para pelaku UKM mencitrakan teknologi sebagai perangkat digital yang “wah” dan hanya ada di kampus atau pusat penelitian yang futuristik. JT sendiri lebih suka menggambarkan teknologi sebagai sebuah cara baru yang dilakukan oleh seorang perajin tempe untuk memangkas proses fermentasi kedelai dari seminggu menjadi sehari.

Setelah itu, JT juga membukakan majalah Swa edisi terbaru dan menunjukkan delapan tren pasar tahun 2008 hasil kajian MarkPlus. Saya tidak ingat semua, hanya bahasan mengenai bloger yang terekam dalam otak ini. Dikatakan bahwa pertumbuhan pesat jumlah bloger di Indonesia menandai tren baru yang harus dibidik dengan cermat oleh para pemasar, khususnya pemasar internet. Para bloger disebut sebagai kaum i-Express karena sifatnya yang suka mengekspresikan diri lewat media blog. Lebih lanjut, kaum i-Express ini dibagi menjadi dua tipe: experiencer dan maker. Tipe experiencer adalah tipe yang suka mengalokasikan pendapatannya untuk menikmati hal-hal baru yang berbau kesenangan dan petualangan, untuk kemudian diceritakan lewat blognya. Sedangkan tipe maker adalah tipe bloger yang bisa disebut “rumahan” dan pecinta keluarga. Bloger ini konon lebih suka menciptakan sendiri pengalamannya melalui pengamatan atas hal-hal yang sudah ada dan berlangsung berulang-ulang. Kontemplatif, kalau boleh saya menyimpulkan.

Oya, ini baru ingat. MarkPlus juga menyebutkan lagi satu tren. Katanya, konsumsi masyarakat luar pulau Jawa juga sedang naik-naiknya. Daya beli masyarakat di sana rata-rata sedang lebih tinggi daripada masyarakat di Jawa, kecuali yang ada di Jakarta. Ini seiring dengan naiknya pendapatan rata-rata masyarakat luar Jawa. Buat teman-teman yang ada di luar pulau Jawa, apakah benar seperti ini keadaannya?

Mobil berhenti sebentar di Ungaran. Opha bergabung dengan kami. Belakangan, Opha inilah dosen yang JT katakan pada saya sebagai calon penggantinya di Bistek nanti. JT memang sudah waktunya “lengser” dari kursi direktur. Dia harus studi lanjut ke luar negeri, paling tidak pertengahan tahun ini.

Ketika mobil melaju lagi, saya sampai pada delapan strategi yang ditawarkan MarkPlus untuk menjawab delapan tren tersebut, tapi saya putuskan untuk berhenti membaca dulu. Kalah dengan rasa mual. Konon, membaca dalam mobil berjalan memang bisa membuat mual. Tidak tahu sebabnya.

Setiba di Semarang, kami berempat (dengan sopir) langsung menjujug Grand Candi Hotel untuk menjemput para pembicara lainnya. Ada Franz Gelbke (Jerman), Kevin Aisbitt dan Ray Jones (Inggris), dan dua orang lagi dari Ristek, yang saya lupa namanya. Ternyata, saya lebih mudah menghafal nama asing para bule itu, daripada nama Indonesia para deputi (tidak nasionalis?). Namun begitu, saya tentu tidak akan lupa dengan Kristina, perempuan Malang yang jadi sekretaris Gelbke. Kristina ini wajahnya manis. Saya memang pernah bertemu dia, ketika BTC Network berkunjung ke Bistek dua bulan lalu, tapi baru kali ini saya menjabat tangannya dan berkenalan. :) Rombongan lalu menuju ke kantor Bappeda Jawa Tengah.

Kira-kira 150 orang hadir di hajatan itu. Sebenarnya, ada satu lagi unit kampus saya yang diundang secara terpisah oleh FPESD, namun entah kenapa mereka tidak datang. Hajatan kemudian dimulai sekitar pukul sepuluh lewat dengan sejumlah protokoler kata sambutan dari beberapa instansi pemerintah yang merasa penting. “Membosankan,” pikir saya. Masalahnya, mereka yang memberi sambutan tidak komunikatif. Bicara dengan membawa teks. Akhirnya banyak menunduk, intonasi tidak pas, dan jarang membalas pandangan mata audiens. Padahal, ini faktor penting menurut saya. Sejak saya masih SMA, saya tidak pernah membawa teks dan selalu berusaha menatap mata audiens dengan merata, sekadar meyakinkan bahwa saya benar-benar sedang berdialog dengan mereka.

Saya baru bisa menikmati ketika sesi-sesi seminar berlangsung. Yang pertama bicara adalah Kepala Bapepam Jawa Tengah, Agus Suryono. Tapi seingat saya, dia bicara bukan sebagai Kepala Bapepam, melainkan Sekretaris FPESD Jawa Tengah. Dia menjelaskan tentang program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengenai sistem klaster dalam pengembangan UKM. Intinya, di tiap-tiap kabupaten/kota di Jawa Tengah akan dibentuk sentra-sentra produksi dengan kekhasan masing-masing daerah dengan dukungan teknologi dari BTC-BTC. Misalnya, di Purbalingga akan dibentuk sentra produksi knalpot dan BTC yang kepakarannya khusus di bidang perknalpotan. Setelah dua buah pertanyaan dari perwakilan UKM, Agus lalu meninggalkan tempat karena ada urusan lagi (katanya).

Giliran kedua adalah deputi Ristek yang tadi saya lupakan namanya. Saya benar-benar tidak ingat karena (sengaja) tidak mencatat. Orang ini mengatakan bahwa sebenarnya semua aspek pengembangan UKM di Indonesia sudah disiapkan. Namun sayang, ada satu kendala yang sangat menghambat: tidak ada pelaksanaan! Semua ide dan konsep tidak terimplementasikan karena tidak tahu kapan dan bagaimana caranya mengimplementasi. Saya paham, mengurusi negara seperti Indonesia memang jauh lebih susah daripada mengurus seorang bayi paling rewel sedunia. Tapi, kalau sampai para ahli di Ristek itu tidak tahu kapan dan bagaimana caranya melakukan implementasi, itu juga agak (sedikit) lucu. Itulah kenapa, saat ini Ristek sedang fokus belajar dari keberhasilan BTC-BTC di Inggris dan memanggil ahli BTC dari Jerman. Ristek juga telah membentuk BTC Network sebagai jejaring BTC yang diharapkan bisa menjadi sinergi demi soliditas BTC-BTC di Indonesia.

Giliran ketiga adalah giliran JT. Dia didaulat untuk menceritakan dan memprofilkan Bistek karena konsep BTC yang ada pada Bistek inilah yang akan dijadikan percontohan nasional oleh Ristek. Apa yang dia sampaikan tidak jauh-jauh dari apa yang pernah saya tuliskan di blog ini beberapa waktu yang lalu.

Setelah JT, ada Kevin Aisbitt dan Ray Jones. Mereka berdua secara berturut-turut menuturkan pengalaman mereka dalam mengelola BTC untuk penguatan UKM di Inggris, tepatnya regional North East England. Ada sebuah garis sejarah menarik dari regional ini. Pada tahun 1970-an, regional ini memiliki industri andalan berupa perkapalan dan logam. Namun sejak pertengahan 80-an, terjadi resesi dan sekitar 200 ribu lapangan pekerjaan lenyap. Kemudian, muncullah peran BTC di sana (tahun tepatnya saya lupa) untuk memulihkan keadaan. Kini, dengan jejaring BTC yang telah dibangun, perekonomian regional ini kembali menggeliat dengan bidang yang sama sekali berbeda, yakni kesenian dan kebudayaan!

Yang terakhir tampil adalah Franz Gelbke, expert BTC dari Jerman, yang sekaligus juga konsultan Ristek untuk BTC Network. Gelbke menceritakan pengalamannya ketika membangun jejaring BTC di salah satu negara bagian Jerman di sebelah utara (perbatasan dengan Denmark — namanya saya lupa). Mungkin karena sudah capai, saya kurang fokus dengan materi Gelbke. Yang saya ingat, Gelbke berpesan agar Indonesia merumuskan sendiri kebutuhannya akan BTC yang sesuai dengan konteks lokal di Indonesia. Menjiplak konsep-konsep yang telah berhasil di Inggris dan Jerman bisa jadi bukan solusi yang baik. Intinya, kontekstualisasi konsep berdasarkan kebutuhan lokal sangatlah penting.

Setelah beberapa pertanyaan dari perwakilan UKM maupun instansi pemerintah terlontar dan terjawab, kegiatan dilanjutkan dengan makan siang. Saya pun bersemangat, tapi karena sesuatu yang lain. Panitia mengumumkan bahwa setelah makan siang akan diadakan diskusi berkelompok. Dan kelompok ini akan dibagi berdasarkan bidang UKM yang hadir: industri, pariwisata, dan pertanian! Seketika itu juga, saya membayangkan akan mendapat banyak informasi dan referensi langsung dari para pemangku kepentingan di bidang pertanian, yang nantinya bisa saya pakai untuk ambil bagian dalam program menulis Bung Gempur. Ternyata saya salah!

Diskusi kelompok pertanian ini dilakukan di lantai lima, kantor Bappeda Jawa Tengah. Yang hadir adalah para petani dari pelosok-pelosok Jawa Tengah, serta para PNS dari dinas-dinas terkait. Diskusi ini dipandu oleh seorang bapak yang biasa dipanggil “Pak Bening.” Dalam diskusi ini dilontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar BTC, mulai dari apa, kapan, bagaimana, mengapa, dimana, dan siapa. Diharapkan, para peserta diskusi akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sesuai dengan latar belakang pertaniannya, sehingga akan terjadi inventarisir kebutuhan dunia pertanian terhadap teknologi.

Pak Bening sendiri bukan orang yang paham konsep BTC dengan tepat, saya kira. Dalam pemahamannya, BTC adalah produsen inovasi yang memosisikan UKM sebagai konsumen dari inovasi tersebut. Padahal, konsep yang telah dan sedang dikembangkan oleh Ristek adalah BTC sebagai pendamping UKM untuk melakukan inovasi sesuai kebutuhannya. Ini kemudian diperparah dengan pandangan seluruh isi ruangan tentang teknologi itu sendiri. Akhirnya, plagiasi saya lakukan. Saya berikan contoh teknologi seperti yang JT katakan pada saya di perjalanan tadi. Bagai orang sok pahlawan pula, saya mencoba “meluruskan” konsep BTC kelompok ini.

Sesuatu yang tidak saya duga muncul. “Kalau begitu, BTC ini sama dengan BDS. Setuju?” seru Pak Bening ke seluruh ruangan. Saya sendiri cuma diam. Belum tahu apa itu BDS. Juga sedikit kecewa. Kelompok ini ternyata tidak merespon pertanyaan sesuai dengan warna taninya. Mereka malah menjawab semua pertanyaan seperti birokrat yang ada di tingkat makro. Memandang semua pada umumnya saja. Saya pun keluar dengan (sedikit) dongkol. “Percuma ini,” batin saya. Apa yang saya cari tidak saya dapat.

Selepas dari diskusi, saya menemui Opha. Saya tanya, “BDS itu apa?” Ternyata singkatan dari business development service. Dan ternyata (lagi) BDS ini adalah bentukan Kementerian Koperasi dan UKM. Kalau dilihat dari namanya yang memuat kata “development,” memang cakupan BDS lebih luas dan umum daripada BTC. Seharusnya, di dalam BDS terdapat BTC untuk penguatan aspek teknologinya. BTC lebih ideal jika diintegrasikan ke dalam BDS. Tapi masalahnya, BDS dan BTC ini sendiri sudah ada di bawah jalur komando kementerian yang berbeda. Secara birokratis, jelas sangat sulit untuk melakukan sinergi di antara keduanya. Hirarki yang harus ditempuh terlalu jauh.

Tumpang tindih rencana pembangunan di Indonesia mungkin sudah lagu lama, tapi ini baru pengalaman pertama saya untuk melihatnya langsung dari jarak dekat. Ada beberapa program yang berkonsep hampir sama, cakupan kerjanya sama, tingkatnya juga sama, tapi dijalankan oleh beberapa departemen/kementerian/dinas yang berbeda secara sendiri-sendiri. Tidak bisa bersinergi karena alasan birokratis. Sekadar informasi tambahan, Bappenas juga memiliki program serupa dengan BTC dan BDS yang dinamakan telecenter.

Seandainya sinergi di Indonesia bukan sekadar mitos, tentu pekerjaan yang berat bisa dibuat jauh lebih mudah. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Konon, koordinasi adalah “barang mahal” di Indonesia.

Posted by STR on Wednesday, 30 January 2008, in his Personal column.

There are 28 comments already. Say something!

JT

Gravatar

Hehehe….ditunggu liputannya di website SW-BTC…..ada salam dari Kristina.

Yup sepakat, KOORDINASI terkadang cuma JARGON saja. Ego institusi masih jadi penghalang utama. Inilah wajah Indonesia!!!!

JT’s latest post: Ampun Deh??.Blog-ku Terbengkalai?!!!

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 9:46 AM.


Pertamax ting2

Raden Mas Angki’s latest post: Berita(i)

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 9:46 AM.


wah kalah cepet :D
Raden Mas Angki’s latest post: Berita(i)

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 9:48 AM.


terima kasih atas kritisinya yang membangun :D wakil deputi menristek Pendayagunaan & Pemasyaraktan Iptek Santosa Yudo Warsono
semua masukan akan kami tampung & kami teruskan ke pihak-pihak yang berwenang :mrgreen:
tomy’s latest post: LAYUNG-LAYUNG JINGGA

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 9:57 AM.


Walah, kali ini kalah lagi, yang namanya koordinasi itu emang sulit dan barang yang mahal, termasuk instansi saya, seringkali pertemuan yang diharapkan menjadi pertemuan yang berkualitas dan menghasilkan segepok keputusan, ternyata seringkali harus menguap ditelan canda dan rumpi hehehehehe…

gempur’s latest post: Belajar Memikirkan Petani: Sekadar Membantu Ide

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 1:05 PM.


mengikuti forum di tingkat provinsi akhirnya mas satria jadi tahu kan seluk-beluk birokrasi yang berlangsung di negeri ini, hehehehehe :lol: kalo konsep UKM aja tumpang tindih kayak begitu, gimana bisa memberdayakan kalangan mayarakat kecil yang bergerak di bidang usaha? Wah, akankah negeri ini akan terus tersaruk-saruk dalam menggerakkan roda perekonomiannya? padahal, justru kunci suksesnya pembangunan ekonomi *halah sok tahu nih* justru terletak pada pemberdayaan UKM-nya.

sawali tuhusetya’s latest post: Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 4:59 PM.


wakakakakakak… jgn Gondok mas, itulah wajah sebenarnya sistem kita. Gak hanya di satu lini lho mas, hampir disemua lini. yg repotnya lagi kalo dana cair semua lini berlomba-lomba mendapatkan bagian, eh ketika kerjaan itu gagal semua mundur perlahan-lahan sembari mencari kambing hitam.

Bangsa ini terlalu menghayati pepatah ” banyak jalan menuju roma” :D
Mbah Sangkil’s latest post: Bill Gates

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 5:46 PM.


memang kalau soal koordinasi harus ada pihak lain yg mendorong :D
didut’s latest post: Review: Losmen Bedhot

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 7:16 PM.


no comment… . masi bingung dengan sistem di indonesia

magma’s latest post: PERBEDAAN SOEKARNO DAN SOEHARTO MENJELANG AJAL

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 9:59 PM.


det

Gravatar

sebenarnya masalah koordinasi ini saya yakin mereka juga bisa lakukan, tapi karena alasan duit duit dan duit jadinya mereka bikin sendiri-sendiri… jalan sendiri-sendiri… dan akhirnya sama-sama tidak sampai pada tujuan! :D
duit bisa lakukan apa aja ternyata!

det’s latest post: Hati-hati mengaktifkan NSP 1212 Telkomsel

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 11:13 PM.


koordinasi menurut saya pada dasarnya perlu niat baik aja.. :D
Siti Jenang’s latest post: Tiap Manusia Pasti Berhasil

Sent on Friday, 01 February 2008, at 12:20 AM.


Babe

Gravatar

Pelajaran yang bagus, kamu bisa melihat sendiri dari dekat bagaimana semrawutnya dunia birokrasi kita.
Itulah bila hanya akal saja yang jalan. Akal dan budi adalah benih-benih yang bila diberdayakan dan dipadukan akan menghasilkan kekuatan yang siap mengadakan transformasi pada saatnya. Kapan?
Kita telah dikaruniai kemampuan untuk memadukan KECERDIKAN seperti ular dan KETULUSAN seperti merpati sebagai rahasia keunggulan manusia, mahkota dari segala ciptaanNya.
Aku bangga dengan kamu biasa melihat dengan jernih, jagalah selalu kejernihan hatimu. Aku selalu berdoa untukmu

Sent on Friday, 01 February 2008, at 10:03 AM.


Kenapa ga balik lagi sat, bilang pak Bening kalau cakupan BDS lebih luas dan umum daripada BTC.

puput’s latest post: Diantara

Sent on Saturday, 02 February 2008, at 7:23 PM.


Ya.. ya.. ya.. ketakutan saya cuman satu, tak usah antar departemen.. dalam satui departemen aja bisa jadi program sama sasaran sama nama berbeda.. HANYA CARI PROYEK DN CARI DUIT.. saya kira masalah kordinasi, saya yakin ada, tapi ego antar bagian dan departemen seringkali mengalahkan efisiensi dan sinergi.. hehehehehe….

gempur’s latest post: Political Will untuk Petani?

Sent on Saturday, 02 February 2008, at 8:05 PM.


dari pada pusing mending ngeblog ngeblog dan ngeblog, kalo bisa semua staf pemerintah ngeblog juga, biar kita tau gimana cara mereka berpikir dan mengambil keputusan..

ridhocyber’s latest post: Info Withdraw PayPal Ke Bank Lokal Indonesia

Sent on Sunday, 03 February 2008, at 6:33 PM.


wah ternyata ya…..wakakakaka!
Yang mereka tahu hanya duit
yang aku tahu hanya ngeblog

nico kurnianto’s latest post: Kalau orang awam berbicara

Sent on Monday, 04 February 2008, at 4:56 PM.


susah bgt masuk blog lo skrg bro//..tiap di click error euy…ya dach skrg akhirnya bisa..pake beda pc …..

anno’’s latest post: Tanah Lot, Bali

Sent on Tuesday, 05 February 2008, at 7:44 AM.


pembangunan di indo memang ruwet. masing2 jalan sendiri krn berfikirnya “proyek”.

Saya pernah bersama pak daniel rosyid dulu membangun jejaring di bidang kelautan & itu pekerjaan yg tdk mudah krn hrs mempertemukan seluruh stake holder di kelautan.

liputan panjenegan ok mas..he..he.
thx

arifaji’s latest post: Marketing Tender

Sent on Tuesday, 05 February 2008, at 9:24 AM.


eh,sat..kpn ke smrng..????

*sengaja ga baca postingan*

Sent on Tuesday, 05 February 2008, at 11:56 AM.


Tumpang tindih rencana pembangunan di Indonesia mungkin sudah lagu lama

sedikit tambahan.. Tumpang tindih rencana pembangunan di Indonesia adalah lagu lama dengan aransemen baru!

ridu’s latest post: Survey Tawa Warga Jakarta

Sent on Tuesday, 05 February 2008, at 2:00 PM.


STR

Gravatar

@ JT: Wah?? Salam balik deh buat Kristina! :D
@ Raden Mas Angki: Kalo cari pertamax, ke pom bensin aja, Om!!!

@ tomy: Jawaban standar birokrat ya, Pak?? :mrgreen:
@ gempur: Berarti SerSan juga udah jadi jargon doang. :D
@ sawali: Ndak salah, Pak. Betul itu. Kunci keberhasilan ekonomi suatu negara yang paling riil memang utamanya ada di pemberdayaan UKM-nya.

Sent on Thursday, 07 February 2008, at 3:21 PM.


STR

Gravatar

@ Mbah Sangkil: :lol: Memang ke-”terlalu”-annya itu yang jadi masalah.

@ didut: Masih suka didorong-dorong paksa memang.

@ magma: No reply kalo gitu! :D
@ det: Ya … Tendensi ke situ memang paling terasa.

@ Siti Jenang: Tepat sekali! Brilian!

Sent on Thursday, 07 February 2008, at 3:26 PM.


STR

Gravatar

@ Babe: Thanks.

@ puput: Udah kadung asik sama pikiranku sendiri, Mbak. Lagipula, apa dampaknya kalo aku ngasih tau hal itu ke Pak Bening lagi?

@ gempur: Lagu lama itu, Pak. :)
@ ridhocyber: Kunjungi blognya Om Yusril aja. Dia orang pemerintah kan?

@ nico: Yang aku tau, malah GoBlog! :D

Sent on Thursday, 07 February 2008, at 3:36 PM.


STR

Gravatar

@ anno’: Mungkin masalah di IP address-nya. :D
@ arifaji: Makasih, Pak. Daniel Rosyid yang dosen ITS itu yak?

@ escoret: Halah! *uncal PDA tribal nang Semarang*

@ ridu: Sayangnya, yang bikin aransemen orang goblok.

Sent on Thursday, 07 February 2008, at 3:39 PM.


[...] yang kecil, namun tetap beraspal baik. Para penumpang masih duduk dengan posisi yang sama seperti kemarin. Hanya bedanya, kali ini adalah Ojohn yang duduk di samping kiri saya, bukan [...]

Sent on Tuesday, 12 February 2008, at 12:05 AM.


Inilah fotret buram negeri bernama Indonesia, konon beradab.

Sent on Wednesday, 20 February 2008, at 1:00 AM.


STR

Gravatar

@ Ibnu: Memang cuma konon … :(

Sent on Wednesday, 20 February 2008, at 10:02 PM.


[...] yang kecil, namun tetap beraspal baik. Para penumpang masih duduk dengan posisi yang sama seperti kemarin. Hanya bedanya, kali ini adalah Ojohn yang duduk di samping kiri saya, bukan [...]

Sent via WordPress 2.5.1 on Saturday, 10 May 2008, at 2:35 AM.


Leave a Comment

Berkuasa dari Liang Kubur · Pentingkah Manajemen?