Ceramah Berlabel Pelatihan

Para pembicara “ceramah” jurnalisme Perwami DKI Jaya. Dari kiri ke kanan: Bambang Harymurti, Heru B. Arifin, Wina Armada Sukardi.

Saya baru pulang dari Jakarta. Di sana ikut “ceramah” sehari yang dibikin Perwami (Persatuan Wartawan Multimedia Indonesia) DKI Jaya atas kerjasamanya dengan Dewan Pers. Sebenarnya ini “pelatihan,” tapi saya lebih suka menyebutnya “ceramah.” Peserta cuma diceramahi soal jurnalisme. Tak ada praktek. Materinya pun biasa saja. Kalah jauh dengan pelatihan jurnalisme Scientiarum-Imbas.

Saya mendengar informasi tentang “ceramah” Perwami ini dari Geritz Febrianto, salah satu jurnalis Scientiarum, pada 1 April 2008. “Febri” mendapat informasi tersebut dari sebuah posting di mailing list jurnalisme. Penulis posting itu sendiri adalah Heru B. Arifin, Ketua Perwami DKI Jaya.

Dalam posting itu diinformasikan bahwa Perwami DKI Jaya akan mengadakan “pelatihan jurnalistik multimedia” selama dua hari, 21-22 April 2008, bertempat di Gedung Pers Pancasila, Jakarta Pusat. Biaya: gratis. Narasumber yang dihadirkan: Bambang Harymurti, Abdullah Alamudi, Bekti Nugroho, dan Wina Armada Sukardi. Keempatnya adalah anggota Dewan Pers.

Saya tertarik. Saya ingin bertemu secara langsung dengan Bambang Harymurti, yang pemimpin redaksi Tempo itu. Saya juga ingin berkenalan dengan komunitas jurnalis di Jakarta, buka jejaring buat Scientiarum.

Malam itu juga saya dan Febri mengirim email ke Heru B. Arifin. Kami menyatakan ingin ikut dan minta dikirimi surat undangan supaya bisa minta ongkos transportasi dari universitas. Namun keinginan kami ditolak. Kegiatan ini bukan untuk pers mahasiswa, tapi jurnalis profesional. Begitu inti email balasan dari Arifin.

.

Sabtu, 19 April 2008, siang, saya dan Febri kembali dihubungi oleh panitia dari Perwami DKI Jaya. Kali ini via telepon. Kami diminta datang ke Jakarta untuk ikut “ceramah” mereka, Senin, 21 April 2008. Mereka juga memberitahukan bahwa “ceramah” tersebut dipadatkan menjadi satu hari saja.

Pemberitahuan mendadak itu bikin kami senang, sekaligus bingung. Senang karena boleh datang. Bingung karena masalah duit. Ke Jakarta butuh biaya yang tak sedikit untuk ukuran kantong mahasiswa seperti saya. Sedangkan kalau minta ongkos transportasi ke universitas harus dilakukan sejak jauh-jauh hari. Kas Scientiarum sendiri juga tak banyak.

Setelah berkirim SMS kepada Umbu Rauta, Wakil Rektor III UKSW, kami dapat jalan keluar. Kami boleh minta ganti ongkos transportasi sepulang dari Jakarta. Saya pun naik travel ke Jakarta pada Minggu, 20 April 2008, petang bersama Bambang Triyono, editor Scientiarum. Febri tak jadi ikut karena “ada kuliah.”

Dalam perjalanan, Heru B. Arifin sempat menelepon kami dan mengatakan bahwa kegiatan akan dimulai pukul 09.00. Namun saya dan Bambang baru tiba di Gedung Pers Pancasila sekitar pukul 09.30. Kami pikir kami terlambat, ternyata tidak. Kegiatan baru dimulai setelah lewat pukul 10.00.

Kegiatan ini rupanya juga satu paket dengan pelantikan pengurus Perwami DKI Jaya. Seremonial pelantikan dilaksanakan oleh Made Nariana, Ketua Umum Perwami Pusat, sebelum sesi pertama “ceramah” dimulai.

Selepas seremonial, sesi pertama diisi oleh Wina Armada Sukardi yang berbicara tentang delik pers dan kode etik jurnalistik. Sesi ini membosankan. Daripada cuma diceramahi, menurut saya, lebih baik peserta diminta belajar sendiri lewat bacaan, seperti Sembilan Elemen Jurnalisme (untuk kode etik jurnalistik) dan Apakah Wartawan Perlu Dipidanakan? (untuk persoalan delik pers).

Giliran kedua adalah Bambang Harymurti. Ternyata sama saja, Harymurti tampil standar dengan “kiat-kiat” investigasinya. Mending belajar sendiri dengan bacaan Apa Itu Investigative Reporting? dan Kapan Wartawan Mencuri?. Itu lebih efisien.

Tanya jawab untuk sesi pertama dan kedua tak kalah membosankan. Yang ditanyakan oleh para “jurnalis profesional” itu adalah soal byline dan narasumber anonim. Cuma seginikah kelas pertanyaan “jurnalis profesional” itu? Soal narasumber anonim, ada pembahasan yang lebih rinci dan mendalam pada bacaan Tujuh Kriteria Sumber Anonim. Sedangkan isu byline dapat dipahami dengan membaca Byline dan Tagline. Tak perlu pakai ceramah.

Setelah kedua sesi “pembosanan” itu, ada makan siang. Kebosanan saya sedikit terobati.

Setelah itu, sesi ketiga diisi oleh Bekti Nugroho, yang membahas soal tantangan konvergensi media, terutama digitalisasi. Bekti bilang bahwa media cetak akan “punah” sekitar 40 tahun mendatang. Semua akan jadi serba digital. Oleh karena itu, media-media harus melakukan reorientasi dalam hal penguasaan teknologi dan penggunaan bahasa. Bekti membuat dikotomi antara “bahasa cetak” dan “bahasa elektronik.”

Ini bikin saya tergelitik. Saya berencana untuk angkat suara setelah sesi “ceramah” selesai.

“Ceramah” Bekti Nugroho lalu disambung oleh Abdullah Alamudi, yang menjelaskan soal teknik-teknik peliputan di daerah konflik. “Ceramah” inilah yang paling membosankan di antara ketiga “ceramah” sebelumnya. Entahlah, tapi menurut saya, bacaan Bagaimana Meliput Pontianak? jauh lebih enak dipahami ketimbang “ceramah” Alamudi.

Menjelang akhir “ceramah” Alamudi, saya memperhatikan para peserta di sekeliling. Mereka pada manggut-manggut terus sejak awal, seolah-olah materi “ceramah” yang dibawakan oleh keempat anggota Dewan Pers tersebut sangat berbobot dan “benar.” Huh!

Ketika diberi kesempatan bicara, saya memperkenalkan nama dan lembaga asal saya. Bekti Nugroho sedikit kaget ketika tahu saya datang dari Salatiga. Rupanya dulu Bekti pernah kuliah D1 di UKSW, sebelum akhirnya menyelesaikan S1-nya di Universitas Diponegoro, Semarang.

Saya lalu bertanya soal dikotomi “bahasa cetak” dan “bahasa elektronik” yang disebutkan Bekti Nugroho pada sesi “ceramah”-nya. Saya minta diberi definisi yang jelas untuk keduanya, karena Bekti telah berani mendikotomi. Ternyata, Bekti sendiri tak tahu definisi keduanya dengan gamblang. :lol: Saya sendiri maklum dengan ketidaktahuan Bekti, karena sebenarnya memang tak ada yang namanya “bahasa cetak” dan “bahasa elektronik.” Dikotomi Bekti Nugroho itu ngawur saja.

Dialog jadi serius. Bekti Nugroho bilang bahwa berita yang deskriptif, naratif, dan mendetail tak punya tempat di media elektronik. Menurutnya, media elektronik itu hanya cocok diisi dengan berita-berita yang “singkat, padat, dan jelas” (baca: pendek-pendek).

Saya pun mengatakan bahwa saya sangat menikmati naskah-naskah berita yang panjang dan mendetail di internet. Saya senang membaca situs web Pantau dan The New Yorker. Menurut saya, media elektronik juga bisa diisi dengan laporan-laporan panjang, tak hanya berisi breaking news atau straight news saja.

Tak puas, Bekti Nugroho kemudian menimpali dengan pernyataan bahwa media dengan format teks seperti situs Pantau dan The New Yorker bukanlah media elektronik, tapi cetak. Menurutnya (lagi), yang tergolong media elektronik adalah televisi dan radio, serta dotcom yang memuat video bersuara, dan panjang berita pada media elektronik itu maksimal 20 menit saja.

Wong iki tambah ngawur ae (Orang ini tambah ngawur saja),” batin saya.

Mau berbentuk teks, gambar, video, atau suara, yang namanya situs internet ya tetap saja media elektronik dong. Kalau situs web bukan media elektronik, maka seharusnya ia bisa dibaca tanpa perlu pakai listrik. Lucu sekali kalau ada orang bilang situs web bukan media elektronik.

Selain itu, Bekti Nugroho mungkin tak pernah nonton laporan-laporan video National Geographic yang berdurasi cukup panjang (saya pernah tonton laporan video National Geographic tentang asteroid, panjangnya sekitar 45 menit).

“Saya tahu anda pasti belum puas dengan jawaban saya,” kata Bekti Nugroho.

“Ya iyalah, wong kamu ndak bisa jawab pertanyaanku,” kata saya dalam hati.

“Apalagi anda pernah di-training sama Andreas Harsono,” lanjut Bekti.

Saya pun tak mampu menahan senyum.

Rupanya Bekti Nugroho sakti juga. Darimana dia bisa bikin pernyataan seperti itu? Padahal saya tak pernah sebut nama Andreas Harsono dalam “ceramah” itu. Saya hanya bilang, “Saya menikmati membaca situs web Pantau,” bukan “Saya menikmati di-training Andreas Harsono.”

“Mungkin di masa depan pendapat Bung Satria yang bener, tapi untuk sekarang kok sulit rasanya kalo media elektronik ingin memuat laporan yang panjang dan detail,” Bekti Nugroho menutup pembicaraannya dengan saya.

Karepmu!” timpal saya dalam hati.

.

Kegiatan ini memang tak sepenuhnya sia-sia. Meskipun materinya kurang berbobot, tapi saya jadi punya beberapa kenalan baru. Ada Rina Hutajulu dari Concept, Sri Hartati dari Suara Merdeka, Heru B. Arifin dari Bali Post, Aji dari pers mahasiswa di Serang (Banten), Hilda Perbatasari, Abdullah Alamudi, dan Bekti Nugroho sendiri. Bambang Hermawan, redaktur Bisnis Jakarta yang memoderatori “ceramah,” bahkan mendatangi saya (ketika “ceramah” selesai) untuk mengucapkan selamat.

“Selamat atas apa?” tanya saya.

“Selamat atas yang tadi,” jawabnya.