Cerawat

Akhirnya, saya bisa menyaksikan sebuah kerusuhan di Makassar secara langsung. Kalau sebelumnya hanya mendapat berita dari teman, atau kicauan monyet di Twitter, kali ini saya menontonnya dari tengah-tengah gerombolan polisi yang seakan ingin mengamankan situasi.

Kerusuhan ini jelas bukan kerusuhan besar. Cuma kaliber kampung. Tapi cukuplah untuk memancing satuan seperti Brimob dan Dalmas turun gunung. Mereka turun membawa bedil (kemungkinan berisi peluru karet atau peluru kosong) serta gas air mata. Sedangkan warga kampung yang rusuh bersenjatakan batu, parang, busur, bom molotov dan, kalau cawet bisa dijadikan senjata, mungkin mereka sudah ramai-ramai melepas celananya.

Di antara para petugas, saya lihat ada beberapa yang membawa senapan berlaras besar, mirip shotgun. Tapi senjata macam shotgun rasanya terlalu mematikan untuk menghadapi massa kampungan. Lagipula, shotgun lebih cocok ditembakkan kepada zombie, atau sesama polisi sendiri.

Kalau bukan shotgun, maka senapan itu pasti sejenis pelontar kembang api yang pernah ditembakkan Tom Hanks di Cast Away saat terdampar di pulau seorang diri. Dalam bahasa Inggris itu disebut “flare”. Terjemahannya saya lupa, dan itulah yang selama kerusuhan terus menghantui benak saya.

Kerusuhan ini sendiri, konon, dipicu pembunuhan yang terjadi minggu lalu. Seorang warga dari kampung A menikam seorang warga dari kampung B. Motifnya karena mereka sama-sama hidup. Tak kurang dan tak lebih. Namun bisa lebih kalau dilebih-lebihkan oleh siapa saja, terutama media massa.

Berkat media massa, Makassar punya reputasi nasional sebagai kota biang kerusuhan. Saat akan bertolak dari Jakarta ke Makassar setahun yang lalu, seorang perempuan mewanti-wanti saya agar berhati-hati. Dari berita yang dia baca selama ini, Makassar itu kasar. “Tapi bandaranya bagus,” katanya. Dia pernah beberapa kali transit sebelum terbang ke beberapa wilayah yang lebih jauh lagi di timur.

Saya sendiri, karena hidup agak terpencil dari berita, lebih terbayang-bayang coto dan konro — yang setelah tiba di Makassar, makin disempurnakan oleh pallu basa dan sop saudara. Jiwa! Untung tak ada warung langganan di sekitar lokasi kerusuhan. Saya berada di sana malam itu karena akan menginap di rumah seorang teman, yang kebetulan satu jalan raya dengan tempat kejadian perkara.

Jalan raya itu saya hapal dalam dan luar kepala, termasuk lorong-lorongnya. Dan ketika gerombolan polisi hanya berdiri-diri menatap kubu warga yang puluhan meter di depan jauhnya, sebagian warga melancarkan serangan tak terduga dari dalam lorong sebelah kanan. Fire in the hole! Gas air mata dilempar. Bedil menyalak. Kembang api dilepaskan. Flare. Apa ya terjemahannya?

Di Twitter pernah saya baca jargon begini: Makassar tidak kasar! Jargon ini dimunculkan (entah oleh siapa) untuk menepis citra Makassar yang moreng berkat media massa. Apakah Makassar itu kasar? Ya dan tidak. Ya, kalau sedang terjadi kerusuhan. Tidak, kalau orangnya sedang ngopi di warkop, makan coto di Gagak, sop saudara di Irian, atau sobet istimiwir di Veteran. Jadi lapar.

Sejam lebih lewat dan tak ada tanda-tanda tontonan seru akan terjadi dalam waktu dekat. Setelah serangan dari dalam lorong dipukul mundur, warga jadi malu-malu kucing untuk maju dan mundur. Sedangkan polisi yang sudah siap tempur masih enggan cepat-cepat balik ke gunung. Saya duluan kalau begitu.

Saya cari kamus dan temukan terjemahan “flare” yang sulit saya ingat: cerawat.

Conversation

  1. Makassar asik. Ada kerusuhan, ada gegap gempita. Rasanya itu baik ketimbang hanya sepi. Saya di Parepare, kota kecil 3 jam dari Makassar. Sepi. Hanya ada angin di sepanjang pantai. Kadang ada cerita kecil. Tapi saya lebih suka tidur daripada mendengar itu.

  2. Ya, saya tahu. Salatiga. Yang selalu ingin kamu bawa kemana-mana. Kalau memang kota bisa diransel, saya pilih Bandung. Tapi saya ingin punya hak pilih: apa bagiannya yang mau saya bawa, apa yang tidak. Jalan ke Parepare, Satria! Travel sudah ada. Lewat Maros, Pangkep, Barru. Di Barru, mampir di jalan provinsi sisi pantai. Segar lihat batu-batu karang di sana. Juga sapi-sapi di sawah di sisi kanannya.

Leave your thought