<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Satria Anandita</title>
	<atom:link href="http://satria.anandita.net/comments/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://satria.anandita.net</link>
	<description>Guy Who Finds No Perfect Tagline for His Blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 20:54:31 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>Comment on Kita Terlahir Sebagai Otodidak Abadi by Rizki</title>
		<link>http://satria.anandita.net/kita-terlahir-sebagai-otodidak-abadi#comment-3430</link>
		<dc:creator>Rizki</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 20:54:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=1378#comment-3430</guid>
		<description>Jujur saya baru tahu sekarang kalau ternyata metode pembelajaran kita saat sekolah dulu sangat tidak efektif unutk perkembangan ke depan. Mengapa demikian, bulan lalu saya mendapatkan sebuah pelajaran tentang metode belajar yang efektif; MIND MAP atau Peta Pikiran, yang menggabungkan kata-kata dengan gambar, dan ternyata saat ini di Indonesia lagi sedang marak-maraknya, seperti yang dilakukan oleh komunikasi.org.
Padahal si pencipta teori Mind Map sudah sejak lama dan penerapannya di Indonesia tergolong lambat. Metode ini pun sudah lama diterpakan di negara tetangga kita yakni australia, sedangkan di Indonesia masih tergolong langka, kalaupun ada pasti mahal. Jadi wajar bila anak-anak kita esok akan semakin mahal untuk menempuh pendidikan formal.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jujur saya baru tahu sekarang kalau ternyata metode pembelajaran kita saat sekolah dulu sangat tidak efektif unutk perkembangan ke depan. Mengapa demikian, bulan lalu saya mendapatkan sebuah pelajaran tentang metode belajar yang efektif; MIND MAP atau Peta Pikiran, yang menggabungkan kata-kata dengan gambar, dan ternyata saat ini di Indonesia lagi sedang marak-maraknya, seperti yang dilakukan oleh komunikasi.org.<br />
Padahal si pencipta teori Mind Map sudah sejak lama dan penerapannya di Indonesia tergolong lambat. Metode ini pun sudah lama diterpakan di negara tetangga kita yakni australia, sedangkan di Indonesia masih tergolong langka, kalaupun ada pasti mahal. Jadi wajar bila anak-anak kita esok akan semakin mahal untuk menempuh pendidikan formal.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Satu Lilin Kecil by Izak Lattu</title>
		<link>http://satria.anandita.net/satu-lilin-kecil#comment-3313</link>
		<dc:creator>Izak Lattu</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 20:19:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=140#comment-3313</guid>
		<description>Secara struktur tulisan ini baik tetapi sebagai pelaku sejarah Scientiarum saya harus mengklarifikasi beberapa informasi yang misleading.

Banyak informasi yang keliru disini Sat. Ide Scientiarum itu berasal dari saya, waktu itu Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa UKSW. Beberapa saksi sejarah yang Satria bisa konformasi adalah Obed Umbu Kabalu, Ketua Senat Mahasiswa UKSW, James Ballo, Ketua Bidang IV Senat Mahasiswa UKSW, dan Inka Maramis, salah satu wartawan pertama Scientiarum. Bahkan nama Scientiarum adalah usulan saya. Waktu itu rapat tentang nama Scientiarum di lakukan di Kantor GMKI Salatiga, sekarang Poliklinik Satya Wacana. Mengapa di GMKI karena waktu itu sebagian pimpinan LK UKSW dan Ferry Roen yang kami minta memimpin Scientiarum pertama tinggal di Asrama Mahasiswa UKSW yang dekat dengan kantor GMKI. Ide dibelakang Scientiarum adalah menjadi media discourse di UKSW dan Salatiga. Ketika saya kuliah di Berkeley, saya menemukan Daily Californian Koran Mahasiswa University of California Berkeley persis seperti ide awal Scientiarum. Media discourse UKSW, Salatiga dan Indonesia.

Scientiarum bukan pengganti Gita Kampus. Sebab Gita Kampus adalah media yang diterbitkan oleh Humas UKSW. Scientiarum adalah media dari mahasiswa untuk UKSW, Salatiga dan Indonesia. Jadi salah kalau Scientiarum diposisikan sebagai pengganti Gita Kampus. Bahwa penerbitan pertama menggunakan dana Gita Kampus yang tidak terpakai iya, tetapi kami tidak bermaksud menjadi media di bawah Humas UKSW.

Scientiarum juga tidak ada hubungan dengan konflik internal UKSW, tetapi Scientiarum adalah anak kandung dari Reformasi 1998. Ketika itu saya dan teman-teman menerbitkan media reformasi UKSW bernama Gelepar. Semangat Gelepar ini yang melahirkan Scientiarum. Bagi saya sebagai penggas Scientiarum, suara mahasiswa penting untuk didengarkan pada aras UKSW, Salatiga, dan Nasional. Pada titik ini Scientiarum menjadi media mahasiswa bersuara.

Struktur tulisan ini tetap bagus, tetapi informasi yang dikandung misleading Sat.

Maaf saya harus melakukan klarifikasi supaya orang tidak keliru memposisikan Scientiarum.

Salam

Izak Lattu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Secara struktur tulisan ini baik tetapi sebagai pelaku sejarah Scientiarum saya harus mengklarifikasi beberapa informasi yang misleading.</p>
<p>Banyak informasi yang keliru disini Sat. Ide Scientiarum itu berasal dari saya, waktu itu Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa UKSW. Beberapa saksi sejarah yang Satria bisa konformasi adalah Obed Umbu Kabalu, Ketua Senat Mahasiswa UKSW, James Ballo, Ketua Bidang IV Senat Mahasiswa UKSW, dan Inka Maramis, salah satu wartawan pertama Scientiarum. Bahkan nama Scientiarum adalah usulan saya. Waktu itu rapat tentang nama Scientiarum di lakukan di Kantor GMKI Salatiga, sekarang Poliklinik Satya Wacana. Mengapa di GMKI karena waktu itu sebagian pimpinan LK UKSW dan Ferry Roen yang kami minta memimpin Scientiarum pertama tinggal di Asrama Mahasiswa UKSW yang dekat dengan kantor GMKI. Ide dibelakang Scientiarum adalah menjadi media discourse di UKSW dan Salatiga. Ketika saya kuliah di Berkeley, saya menemukan Daily Californian Koran Mahasiswa University of California Berkeley persis seperti ide awal Scientiarum. Media discourse UKSW, Salatiga dan Indonesia.</p>
<p>Scientiarum bukan pengganti Gita Kampus. Sebab Gita Kampus adalah media yang diterbitkan oleh Humas UKSW. Scientiarum adalah media dari mahasiswa untuk UKSW, Salatiga dan Indonesia. Jadi salah kalau Scientiarum diposisikan sebagai pengganti Gita Kampus. Bahwa penerbitan pertama menggunakan dana Gita Kampus yang tidak terpakai iya, tetapi kami tidak bermaksud menjadi media di bawah Humas UKSW.</p>
<p>Scientiarum juga tidak ada hubungan dengan konflik internal UKSW, tetapi Scientiarum adalah anak kandung dari Reformasi 1998. Ketika itu saya dan teman-teman menerbitkan media reformasi UKSW bernama Gelepar. Semangat Gelepar ini yang melahirkan Scientiarum. Bagi saya sebagai penggas Scientiarum, suara mahasiswa penting untuk didengarkan pada aras UKSW, Salatiga, dan Nasional. Pada titik ini Scientiarum menjadi media mahasiswa bersuara.</p>
<p>Struktur tulisan ini tetap bagus, tetapi informasi yang dikandung misleading Sat.</p>
<p>Maaf saya harus melakukan klarifikasi supaya orang tidak keliru memposisikan Scientiarum.</p>
<p>Salam</p>
<p>Izak Lattu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Baru Tahun Ini by parman pasanje</title>
		<link>http://satria.anandita.net/baru-tahun-ini#comment-3310</link>
		<dc:creator>parman pasanje</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 02:21:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=312#comment-3310</guid>
		<description>ungkapan kata hati dari seorang blogger/filsuf memang penuh makna,,
semua indah pada waktunya kawan, kalau kemarin tidak indah., akan indah esok, minimal dalam memori</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ungkapan kata hati dari seorang blogger/filsuf memang penuh makna,,<br />
semua indah pada waktunya kawan, kalau kemarin tidak indah., akan indah esok, minimal dalam memori</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Di Rembang by rudy F</title>
		<link>http://satria.anandita.net/di-rembang#comment-3270</link>
		<dc:creator>rudy F</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 08:51:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=450#comment-3270</guid>
		<description>Mas,

Perjalanan yg menarik.
Mengobat rasa keingitahuan saya ttg sejarah Nusantara yg sebenarnya.
Share terus ya Mas.
Suatu saat sy berharap bisa menelusuri jejak nya juga,


RF</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas,</p>
<p>Perjalanan yg menarik.<br />
Mengobat rasa keingitahuan saya ttg sejarah Nusantara yg sebenarnya.<br />
Share terus ya Mas.<br />
Suatu saat sy berharap bisa menelusuri jejak nya juga,</p>
<p>RF</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengelola Bakat PNS: Belajar dari Sumba Timur by SINAMARTIN</title>
		<link>http://satria.anandita.net/mengelola-bakat-pns-belajar-dari-sumba-timur#comment-3246</link>
		<dc:creator>SINAMARTIN</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 09:26:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=926#comment-3246</guid>
		<description>Pendapat diatas mengenai Bapak Umbu Mehang Kunda memang SANGAT BENAR.............saya selaku dari ex. Murid Istrinya di UKRIDA, Jakarta juga merasakan didikan dan bimbingan Beliau....semoga Indonesia memiliki lebih banyak &quot;UMBU MEHANG KUNDA&quot;..........(kalo mau Maju)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pendapat diatas mengenai Bapak Umbu Mehang Kunda memang SANGAT BENAR&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.saya selaku dari ex. Murid Istrinya di UKRIDA, Jakarta juga merasakan didikan dan bimbingan Beliau&#8230;.semoga Indonesia memiliki lebih banyak &#8220;UMBU MEHANG KUNDA&#8221;&#8230;&#8230;&#8230;.(kalo mau Maju)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on PKL Depan Kampus Terusik by Bertemu Bella by Satria Anandita</title>
		<link>http://satria.anandita.net/pkl-depan-kampus-terusik#comment-3235</link>
		<dc:creator>Bertemu Bella by Satria Anandita</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 14:33:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pustaka.orangmuda.com/2008/04/10/pkl-depan-kampus-terusik/#comment-3235</guid>
		<description>[...] laporanku soal konflik pedagang kaki lima depan UKSW dengan petugas lapangan Dinas Pasar dan PKL Salatiga terbit, tak ada protes sama sekali dari kedua belah pihak. Tri Priyo Nugroho, kepala dinas itu, tak [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] laporanku soal konflik pedagang kaki lima depan UKSW dengan petugas lapangan Dinas Pasar dan PKL Salatiga terbit, tak ada protes sama sekali dari kedua belah pihak. Tri Priyo Nugroho, kepala dinas itu, tak [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Tiga Jam di Kolese de Britto by Jessica Permatasari</title>
		<link>http://satria.anandita.net/tiga-jam-di-kolese-de-britto#comment-3234</link>
		<dc:creator>Jessica Permatasari</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 07:07:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=1396#comment-3234</guid>
		<description>I like this post... ^^
SMA John De Britto adalah salah satu Kolese milik Jesuit yang ada di Indonesia. Kolese-kolese yang lain pun menanamkan apa yang ada di SMA JB tersebut, termasuk spiritualitas Ignatian, 3C, dan menjadi &quot;Man for Others&quot;. Kolese-kolese yang lain adalah: SMA Kolese Loyola (Semarang), SMK Kolese PIKA (Semarang), SMA Seminari MErtoyudan (Mertoyudan), SMP dan SMA Kanisius (Jakarta), SMA Kolese Gonzaga (Jakarta), dan SMA Adhi Luhur Le Cocq (Nabire).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>I like this post&#8230; ^^<br />
SMA John De Britto adalah salah satu Kolese milik Jesuit yang ada di Indonesia. Kolese-kolese yang lain pun menanamkan apa yang ada di SMA JB tersebut, termasuk spiritualitas Ignatian, 3C, dan menjadi &#8220;Man for Others&#8221;. Kolese-kolese yang lain adalah: SMA Kolese Loyola (Semarang), SMK Kolese PIKA (Semarang), SMA Seminari MErtoyudan (Mertoyudan), SMP dan SMA Kanisius (Jakarta), SMA Kolese Gonzaga (Jakarta), dan SMA Adhi Luhur Le Cocq (Nabire).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Ulang Tahun di Merbabu by jalf</title>
		<link>http://satria.anandita.net/ulang-tahun-di-merbabu#comment-3232</link>
		<dc:creator>jalf</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 10:33:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=109#comment-3232</guid>
		<description>Saya terharu baca cerita ini. Sialan. Waktu terlalu cepat berlalu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya terharu baca cerita ini. Sialan. Waktu terlalu cepat berlalu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Homo Economicus by Eqha Qaniza Leiber</title>
		<link>http://satria.anandita.net/homo-economicus#comment-3228</link>
		<dc:creator>Eqha Qaniza Leiber</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 02:03:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.edublogs.org/27/#comment-3228</guid>
		<description>ach.! gk jls nih.. ngacoo :p</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ach.! gk jls nih.. ngacoo :p</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kita Terlahir Sebagai Otodidak Abadi by Satria Anandita</title>
		<link>http://satria.anandita.net/kita-terlahir-sebagai-otodidak-abadi#comment-3221</link>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 12:24:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=1378#comment-3221</guid>
		<description>Aku merasa diskusi ini makin kritikal. Haha.

&lt;strong&gt;Voor Tian:&lt;/strong&gt; Trims sob, buat input soal kelakuan anak-anak di SMA-mu dulu, yang kira-kira merupakan kelakuan anak-anak di SMA-ku juga, dulu. Kamu ber-SMA di Bandung, aku di Surabaya. Jadi pikirku, apa yang terjadi di belahan barat dan timur Jawa (dulu) ini bisalah kita anggap sebagai contoh yang cukup representatif untuk kelakuan anak remaja di Jawa (dulu) jika bolos sekolah--bukan tidak sekolah. Dan karena dulunya itu masih beberapa tahun dari sekarang, maka mungkin banget contoh kita masih relevan buat hari ini. Sip?

Kita semua tau bahwa hidup ini nggak sekali jadi. Hidup adalah proses, begitu pula dengan hidup bebas. Orang perlu belajar menggunakan kebebasan agar bisa hidup bebas dengan benar. Kalo orang nggak pernah belajar menggunakan kebebasan, sudah mustahil doi bisa hidup bebas dengan benar. Kalo orang nggak pernah bisa hidup bebas dengan benar, maka yang muncul adalah ekses-ekses negatif kebebasan.

Jadi, kalo kita liat anak-anak SMA yang bolos sekolah kerjanya cuma nongkrong sama ngobrol ngalor-ngidul gak jelas, itu bisa dianggap sebagai ekses negatif kebebasan yang sedang mereka pilih dan jalani. Di sini aku inget kata-kata Romo Joannes Oei Tik Djoen (salah satu tokoh di balik pendidikan bebas de Britto) soal ekses negatif kebebasan. Singkatnya, Romo Oei bilang bahwa ekses negatif adalah &quot;lampu merah yang positif&quot;, yang berguna untuk mengungkap ketidakberesan. Saat ketidakberesan sudah terungkap jelas, maka jalan untuk perbaikan lebih mudah dicari.

Anggaplah bolos dan nongkrong gak jelas adalah pilihan yang salah, negatif, keliru, dan seharusnya tidak dilakukan. Kalo kita mengacu pada Romo Oei lagi, bahwa pilihan yang keliru adalah ekses negatif yang tampak, maka Romo Oei bilang justru ekses itu harus diberi kesempatan untuk menampakkan diri, karena dengan begitu kita bisa tau lebih jelas bahwa ada yang nggak beres, entah itu di lingkungan sekolah atau keluarga maupun masyarakatnya. Jadi, tindakan bolos dan nongkrong gak jelas oleh anak SMA itu sebetulnya hanyalah &quot;produk&quot; ketidakberesan yang lebih besar di lingkungan sosialnya. Misal: lembaga sekolah yang isinya cuman indoktrinasi, robotisasi, dan dehumanisasi; keluarga yang disharmonis dan berantakan; masyarakat yang semakin komunal, irasional, dan melecehkan kebebasan individual.

Dengan dasar itulah aku maklum kenapa banyak anak SMA akhirnya lebih suka bolos dan nongkrong gak jelas. Lha wong sekolahnya sendiri gak beres, keluarganya sendiri gak beres, dan masyarakatnya sendiri gak beres. Pedahal, kita tau bahwa anak SMA yang masih remaja, secara psikologis, perkembangannya juga belom beres. Jadi kalo yang nggak beres-beres itu digabungin jadi satu, jangan harap muncul yang baik-baik saja. No way.

Oleh sebab itu, kalo orang nggak pengen anak-anaknya pada bolos sekolah terus nongkrong gak jelas, menurutku solusinya adalah memperbaiki keluarganya dulu, kemudian sekolahnya, kemudian baru masyarakatnya. Kalo semua sudah oke, jumlah pembolos sekolahan tentu bakal turun dengan sendirinya. Nggak perlu dilarang bolos segala, dan dipaksa sekolah segala. Pemaksaan itu merupakan cara binatang, enggak manusiawi, dan karenanya malah memperkuat praktik dehumanisasi di sekolah, yang justru memperburuk keadaan.

Orang justru perlu kebebasan karena dengan kebebasannya itulah orang belajar bertanggungjawab. Dari ateis macem Sartre, sampai pastor macem Romo Oei, semuanya percaya bahwa kebebasan secara alami sudah terikat dengan tanggungjawab. Orang bebas bertindak, dan kemudian setelah itu mau tidak mau harus mempertanggungjawabkan tindakannya. Orang mau tidak mau memang &quot;konsekuensialis&quot;. Mungkin inilah disiplin yang kamu maksud sebagai pagar kebebasan? Soal kembar siam kebebasan dan tanggungjawab sudah aku coba urai pada tulisanku yang &lt;a href=&quot;http://satria.anandita.net/tiga-jam-di-kolese-de-britto&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Tiga Jam di Kolese de Britto&lt;/a&gt;.

Nah, pertanyaannya sekarang: mungkinkah perbaikan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat itu terjadi?

Aku belom berani menjawab pasti. Pendekatanku sederhana aja. Keluarga, sekolah, dan masyarakat itu lembaga-lembaga sosial yang terdiri dari orang-orang. Karena itu, supaya lembaganya bener, orangnya musti bener dulu. Inilah tanggungjawab pribadi kita sebagai orang: memperbaiki diri kita sendiri dari waktu ke waktu.

Setelah itu belum cukup sampai di situ. Kalo orangnya udah bener, perlu dipikirkan bagaimana komposisi orang tertentu bisa bergabung membentuk lembaga sosial yang sehat dan manusiawi, mulai dari yang terkecil (misalnya keluarga) sampai dengan yang terbesar (misalnya masyarakat). Ukuran &quot;sehat dan manusiawi&quot; bisa macem-macem, yang penting bisa dipertanggungjawabkan kepada sesama manusia (yang sama dasar kemanusiaannya). Yang begini ini aku pikir hanya mungkin terjadi kalo orangnya udah bener duluan.

Komentarku sebelumnya soal perubahan sistem sekolah itu fatalistik. Aku bilang sekolah sudah mutlak nggak diperlukan, dan menutup kemungkinan perbaikan sistem di sana. Nah, sekarang aku membuka kembali diriku terhadap kemungkinan itu. Aku bilang bahwa sistem sekolah (sebagai lembaga sosial) masih mungkin diperbaiki. Persepsi tiap orang tentang tingkat kesulitan perbaikannya tentu beragam. Aku sendiri memandang sistem persekolahan di Indonenong ini udah sedemikian busuk dan parah karena isinya cuman indoktrinasi, robotisasi, dan dehumanisasi. Kalo tiga hal ini saja dihilangkan dari sekolah, aku optimis bahwa sekolah bisa berguna lagi buat kemanusiaan. Yang perlu kita ingat, perubahan sistem tidak gampang karena sistem punya kelembaman yang perlu didobrak dengan energi tinggi plus konstan. Tidak bisa tinggi saja dan tidak bisa konstan saja. Harus tinggi dan konstan. Apalagi kebusukan sistem persekolahan di Indonenong sudah menahun dan direkayasa banyak manusia. Itulah fakta riil yang harus kita hadapi kalo mau bikin perubahan. Tentu tidak mudah, tapi juga mungkin tidak terlalu sulit kalo kita bisa petakan masalah sejelas-jelasnya dan punya strategi pemecahan yang pas. Perlu riset.

Pilihan lain yang tidak kalah susahnya dengan itu adalah keluar saja dari sekolah. Percaya deh. Haha.

Gitu ya sob.

&lt;strong&gt;Voor Yosafat:&lt;/strong&gt; Hello Yos, thank you for liking my few recent articles about education. Your responses towards my articles always have contributions in making my understandings richer, including this one.

Aku udah baca artikel dari Time itu. Menarik banget. Dalem banyak hal aku setuju sama Finlandia. Kalo kamu tau ada informasi lebih lanjut soal eksperimen di Thailand itu, tolong berbagi denganku ya.

Kemudian, aku setuju bahwa pendidikan tidak bisa digeneralisasi. Di sinilah pentingnya kebebasan. Setiap anak (bersama ortunya) musti memilih dengan bebas (tidak terpaksa) model pendidikan yang paling tepat buat si anak. Bisa jadi, model yang tepat tidak ditemukan dalam sekali percobaan. Bisa jadi pula, model yang tepat baru ditemukan setelah percobaan bertahun-tahun dan melewati banyak kali kegagalan. Siapa tau? Setiap orang harus mencari tau untuk dirinya masing-masing. Nggak bisa digeneralisasi. Dalam proses coba-coba itu tentulah keyakinan sangat penting. Sepupumu termasuk yang punya keyakinan itu dan berhasil, menurutku.

Soal website Direktif itu, ntar aku obrolin dulu sama temen-temen di sana. Thanks inputnya nggih.

&lt;strong&gt;Voor James:&lt;/strong&gt; Kamu kurang motivasi apa, bro? Panggil Andrie Wongso ato Tung Desem Waringin aja kalo gitu. Ato harim.

Visimu menarik juga, dan realistik, mungkin karena realitas itu makin dekat ya. Haha. Kalo udah gitu, urusan merangsang ibu-ibu mungkin udah enggak seleluasa jaman dulu--ato justru tambah pakar karena su terbiasa dengan ibu-ibu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aku merasa diskusi ini makin kritikal. Haha.</p>
<p><strong>Voor Tian:</strong> Trims sob, buat input soal kelakuan anak-anak di SMA-mu dulu, yang kira-kira merupakan kelakuan anak-anak di SMA-ku juga, dulu. Kamu ber-SMA di Bandung, aku di Surabaya. Jadi pikirku, apa yang terjadi di belahan barat dan timur Jawa (dulu) ini bisalah kita anggap sebagai contoh yang cukup representatif untuk kelakuan anak remaja di Jawa (dulu) jika bolos sekolah&#8211;bukan tidak sekolah. Dan karena dulunya itu masih beberapa tahun dari sekarang, maka mungkin banget contoh kita masih relevan buat hari ini. Sip?</p>
<p>Kita semua tau bahwa hidup ini nggak sekali jadi. Hidup adalah proses, begitu pula dengan hidup bebas. Orang perlu belajar menggunakan kebebasan agar bisa hidup bebas dengan benar. Kalo orang nggak pernah belajar menggunakan kebebasan, sudah mustahil doi bisa hidup bebas dengan benar. Kalo orang nggak pernah bisa hidup bebas dengan benar, maka yang muncul adalah ekses-ekses negatif kebebasan.</p>
<p>Jadi, kalo kita liat anak-anak SMA yang bolos sekolah kerjanya cuma nongkrong sama ngobrol ngalor-ngidul gak jelas, itu bisa dianggap sebagai ekses negatif kebebasan yang sedang mereka pilih dan jalani. Di sini aku inget kata-kata Romo Joannes Oei Tik Djoen (salah satu tokoh di balik pendidikan bebas de Britto) soal ekses negatif kebebasan. Singkatnya, Romo Oei bilang bahwa ekses negatif adalah &#8220;lampu merah yang positif&#8221;, yang berguna untuk mengungkap ketidakberesan. Saat ketidakberesan sudah terungkap jelas, maka jalan untuk perbaikan lebih mudah dicari.</p>
<p>Anggaplah bolos dan nongkrong gak jelas adalah pilihan yang salah, negatif, keliru, dan seharusnya tidak dilakukan. Kalo kita mengacu pada Romo Oei lagi, bahwa pilihan yang keliru adalah ekses negatif yang tampak, maka Romo Oei bilang justru ekses itu harus diberi kesempatan untuk menampakkan diri, karena dengan begitu kita bisa tau lebih jelas bahwa ada yang nggak beres, entah itu di lingkungan sekolah atau keluarga maupun masyarakatnya. Jadi, tindakan bolos dan nongkrong gak jelas oleh anak SMA itu sebetulnya hanyalah &#8220;produk&#8221; ketidakberesan yang lebih besar di lingkungan sosialnya. Misal: lembaga sekolah yang isinya cuman indoktrinasi, robotisasi, dan dehumanisasi; keluarga yang disharmonis dan berantakan; masyarakat yang semakin komunal, irasional, dan melecehkan kebebasan individual.</p>
<p>Dengan dasar itulah aku maklum kenapa banyak anak SMA akhirnya lebih suka bolos dan nongkrong gak jelas. Lha wong sekolahnya sendiri gak beres, keluarganya sendiri gak beres, dan masyarakatnya sendiri gak beres. Pedahal, kita tau bahwa anak SMA yang masih remaja, secara psikologis, perkembangannya juga belom beres. Jadi kalo yang nggak beres-beres itu digabungin jadi satu, jangan harap muncul yang baik-baik saja. No way.</p>
<p>Oleh sebab itu, kalo orang nggak pengen anak-anaknya pada bolos sekolah terus nongkrong gak jelas, menurutku solusinya adalah memperbaiki keluarganya dulu, kemudian sekolahnya, kemudian baru masyarakatnya. Kalo semua sudah oke, jumlah pembolos sekolahan tentu bakal turun dengan sendirinya. Nggak perlu dilarang bolos segala, dan dipaksa sekolah segala. Pemaksaan itu merupakan cara binatang, enggak manusiawi, dan karenanya malah memperkuat praktik dehumanisasi di sekolah, yang justru memperburuk keadaan.</p>
<p>Orang justru perlu kebebasan karena dengan kebebasannya itulah orang belajar bertanggungjawab. Dari ateis macem Sartre, sampai pastor macem Romo Oei, semuanya percaya bahwa kebebasan secara alami sudah terikat dengan tanggungjawab. Orang bebas bertindak, dan kemudian setelah itu mau tidak mau harus mempertanggungjawabkan tindakannya. Orang mau tidak mau memang &#8220;konsekuensialis&#8221;. Mungkin inilah disiplin yang kamu maksud sebagai pagar kebebasan? Soal kembar siam kebebasan dan tanggungjawab sudah aku coba urai pada tulisanku yang <a href="http://satria.anandita.net/tiga-jam-di-kolese-de-britto" rel="nofollow">Tiga Jam di Kolese de Britto</a>.</p>
<p>Nah, pertanyaannya sekarang: mungkinkah perbaikan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat itu terjadi?</p>
<p>Aku belom berani menjawab pasti. Pendekatanku sederhana aja. Keluarga, sekolah, dan masyarakat itu lembaga-lembaga sosial yang terdiri dari orang-orang. Karena itu, supaya lembaganya bener, orangnya musti bener dulu. Inilah tanggungjawab pribadi kita sebagai orang: memperbaiki diri kita sendiri dari waktu ke waktu.</p>
<p>Setelah itu belum cukup sampai di situ. Kalo orangnya udah bener, perlu dipikirkan bagaimana komposisi orang tertentu bisa bergabung membentuk lembaga sosial yang sehat dan manusiawi, mulai dari yang terkecil (misalnya keluarga) sampai dengan yang terbesar (misalnya masyarakat). Ukuran &#8220;sehat dan manusiawi&#8221; bisa macem-macem, yang penting bisa dipertanggungjawabkan kepada sesama manusia (yang sama dasar kemanusiaannya). Yang begini ini aku pikir hanya mungkin terjadi kalo orangnya udah bener duluan.</p>
<p>Komentarku sebelumnya soal perubahan sistem sekolah itu fatalistik. Aku bilang sekolah sudah mutlak nggak diperlukan, dan menutup kemungkinan perbaikan sistem di sana. Nah, sekarang aku membuka kembali diriku terhadap kemungkinan itu. Aku bilang bahwa sistem sekolah (sebagai lembaga sosial) masih mungkin diperbaiki. Persepsi tiap orang tentang tingkat kesulitan perbaikannya tentu beragam. Aku sendiri memandang sistem persekolahan di Indonenong ini udah sedemikian busuk dan parah karena isinya cuman indoktrinasi, robotisasi, dan dehumanisasi. Kalo tiga hal ini saja dihilangkan dari sekolah, aku optimis bahwa sekolah bisa berguna lagi buat kemanusiaan. Yang perlu kita ingat, perubahan sistem tidak gampang karena sistem punya kelembaman yang perlu didobrak dengan energi tinggi plus konstan. Tidak bisa tinggi saja dan tidak bisa konstan saja. Harus tinggi dan konstan. Apalagi kebusukan sistem persekolahan di Indonenong sudah menahun dan direkayasa banyak manusia. Itulah fakta riil yang harus kita hadapi kalo mau bikin perubahan. Tentu tidak mudah, tapi juga mungkin tidak terlalu sulit kalo kita bisa petakan masalah sejelas-jelasnya dan punya strategi pemecahan yang pas. Perlu riset.</p>
<p>Pilihan lain yang tidak kalah susahnya dengan itu adalah keluar saja dari sekolah. Percaya deh. Haha.</p>
<p>Gitu ya sob.</p>
<p><strong>Voor Yosafat:</strong> Hello Yos, thank you for liking my few recent articles about education. Your responses towards my articles always have contributions in making my understandings richer, including this one.</p>
<p>Aku udah baca artikel dari Time itu. Menarik banget. Dalem banyak hal aku setuju sama Finlandia. Kalo kamu tau ada informasi lebih lanjut soal eksperimen di Thailand itu, tolong berbagi denganku ya.</p>
<p>Kemudian, aku setuju bahwa pendidikan tidak bisa digeneralisasi. Di sinilah pentingnya kebebasan. Setiap anak (bersama ortunya) musti memilih dengan bebas (tidak terpaksa) model pendidikan yang paling tepat buat si anak. Bisa jadi, model yang tepat tidak ditemukan dalam sekali percobaan. Bisa jadi pula, model yang tepat baru ditemukan setelah percobaan bertahun-tahun dan melewati banyak kali kegagalan. Siapa tau? Setiap orang harus mencari tau untuk dirinya masing-masing. Nggak bisa digeneralisasi. Dalam proses coba-coba itu tentulah keyakinan sangat penting. Sepupumu termasuk yang punya keyakinan itu dan berhasil, menurutku.</p>
<p>Soal website Direktif itu, ntar aku obrolin dulu sama temen-temen di sana. Thanks inputnya nggih.</p>
<p><strong>Voor James:</strong> Kamu kurang motivasi apa, bro? Panggil Andrie Wongso ato Tung Desem Waringin aja kalo gitu. Ato harim.</p>
<p>Visimu menarik juga, dan realistik, mungkin karena realitas itu makin dekat ya. Haha. Kalo udah gitu, urusan merangsang ibu-ibu mungkin udah enggak seleluasa jaman dulu&#8211;ato justru tambah pakar karena su terbiasa dengan ibu-ibu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

