
umat malam, 18 Juli 2008, aku ke Surabaya. Jadi setelah makan malam dengan juhu singkah — makanan orang Dayak; juhu adalah kata Dayak yang berarti sayur, sedangkan singkah adalah umbi pohon kelapa sawit — di rumah Risa, aku naik bus ke arah Solo lalu oper bus yang ke Surabaya.
Aku sampai Surabaya sekitar setengah tujuh pagi, 19 Juli 2008. Aku hendak mengambil beberapa buku dari rumah. Dua hari sebelumnya aku telah telepon ibuku dan tanya apakah dia punya buku pendidikan macam Quantum Learning dan Sekolah Para Juara. Dia bilang punya. Aku memang lagi butuh buku-buku itu supaya bisa menulis resensi Dunia Tanpa Sekolah karangan Muhammad Izza Ahsin Sidqi. Tempo hari aku sudah wawancara Izza di rumahnya di daerah Kecandran, Salatiga.
Selain ambil buku, aku juga ada janji dengan Stevanie, teman SMA yang kini studi di Jerman. Stevanie libur sampai Agustus dan pulang ke Surabaya. Karena dia jarang pulang, aku ingin bertemu dengannya. Aku akrab dengan dia sejak dia pacaran dengan sahabatku, Andre. Keduanya sudah aku anggap saudara sendiri.
Mulanya aku dan Stevanie janji untuk pergi nonton bareng di Galaxy Mall, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya Timur. Kami akan pergi siang hari dengan beberapa teman, seperti Reza dan Kevyn. Tapi rupanya ibuku sedang sakit dan sendirian di rumah. Adik-adikku belum pulang sekolah. Bapakku sedang ke Cilacap, katanya. Aku komunikasikan ini ke Stevanie dan tawarkan untuk bertemu malam saja di rumahnya. Stevanie tak bisa. Dia akan pergi lagi dengan teman-teman perempuannya malam itu. Apa boleh buat, aku tidur saja. Toh, aku sendiri juga capek di perjalanan. Padahal cuma delapan jam ….
Sore harinya aku main ke rumah Eva “Bocil.” Aku hendak ambil buku Men Are from Mars, Women Are from Venus karangan John Gray, yang dia pinjam sejak 2006. Aku ingin bawa buku ini ke Salatiga. Aku pikir ada beberapa teman yang membutuhkannya sekarang.
Bocil adalah teman sekolah aku sejak TK sampai SMA. TK Kristen Petra 13, SD Kristen Petra 13, SMP Kristen Petra 5, SMA Kristen Petra 5. Salah satu masa paling berkesan dalam pertemanan kami adalah ketika kelas 3 SMP. Aku dan Eva bersaing dalam perebutan peringkat kelas. Semester pertama aku peringkat 4.1, Eva 4.2. Semester kedua giliran Eva yang dapat peringkat 4.1. Sepanjang sejarah pendidikan formalku, itulah masa-masa dimana semangat belajarku di kelas begitu menggebu.
Malam hari, sebelum aku pulang ke Salatiga, aku sempat keliling kompleks Pondok Tjandra Indah. Aku kaget melihat jalan layang tol Tambak Sumur telah “menindih” jalan Raya Taman Asri.
Jalan Raya Taman Asri adalah jalan kembar. Masing-masing ruas lebarnya sekitar 10 meter. Di tengah kedua ruas ada satu pembatas selebar hampir sama dengan ruas jalan. Pada pembatas itu terhampar rumput hijau, serta beberapa tanam-tanaman. Jalan itu juga relatif sepi kendaraan. Pokoknya enak buat jalan-jalan sore. Dulu, masa-masa aku SD sampai SMA, aku sering jalan-jalan di sana.
Sekarang pembatas jalan yang ijo royo-royo itu sudah mati, terpancangi kaki-kaki tol Tambak Sumur. Aku jadi merasa kehilangan satu aset masa lalu.
Dini hari ini aku pulang naik bus ke Salatiga. Telepon genggamku sudah menunjukkan pukul 00.59.





There are 5 comments already. Say something!