Di Bumi Seperti di Surga

Konon, dulu sekali ada benua bernama Atlantis. Luasnya kira-kira lebih besar dari Asia Kecil dan Libia digabung jadi satu. Pada Zaman Es puluhan ribu tahun lalu, benua ini adalah surga tropis dengan banyak gunung berapi. Daratannya subur dan makmur.

Karena kondisi alamnya mendukung, Atlantis jadi pusat peradaban dunia waktu itu. Budaya bercocok tanam, metalurgi, dan kota-kota pertama di dunia, katanya, muncul pertama kali di Atlantis.

Tapi masa keemasan itu tidak berlangsung selamanya. Gara-gara kemerosotan moral penduduknya, para dewa menghukum Atlantis dengan letusan-letusan gunung berapi dan air bah mahadahsyat. Benua itu tenggelam, dan cuma sedikit penduduknya yang berhasil selamat.

Kira-kira begitu kisah Atlantis menurut Plato dalam Timaeus dan Critias. Selama berabad-abad, surga Atlantis tetap misterius dan mendorong orang-orang untuk pergi mencari. Ada yang mencarinya di samudra Atlantik, laut Mediterania, sampai tempat-tempat aneh seperti Antartika. Hasil pencarian-pencarian itu masih nihil sampai hari ini, sehingga banyak orang bilang kalau kisah Atlantis cuma dongeng moral karangan Plato.

Nah, Arysio Santos tidak termasuk yang “banyak orang” tadi. Dia termasuk yang percaya bahwa Atlantis memang pernah ada. “Tetapi, temuan-temuan semacam ini hanya akan diperoleh jika kita mulai mencari di titik yang benar, bukan mencari di titik yang salah,” kata Santos. Kata-kata itu dia tulis di bukunya yang berjudul Atlantis: The Lost Continent Finally Found.

Lalu dimana “titik yang benar” menurut Santos? Ternyata di Indonesia. Kesimpulan ini ditarik Santos setelah melakukan penelitian selama kurang lebih 30 tahun. Dangkalan Sunda yang sekarang terendam laut Jawa, selat Malaka, sama laut Cina Selatan itu dulunya membentuk daratan yang luasnya kira-kira sama dengan deskripsi Plato. Tempat itu juga satu-satunya tempat tropis ketika seluruh dunia mengalami Zaman Es. Barisan gunung berapi sepanjang Sumatra dan Jawa adalah penyebab kesuburan daratan Atlantis waktu itu. Saat Krakatau meletus hebat sekitar 11.600 tahun lalu, terjadilah bencana global. Zaman Es berakhir dan permukaan air laut naik sekitar 150 meter, menenggelamkan hampir seluruh wilayah Atlantis. Yang tersisa dari benua itu tinggal wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Asia Tenggara.

Warga Atlantis yang berhasil selamat kemudian menyebar ke belahan bumi lain dan membangun peradaban-peradaban baru. Kenangan tentang surga Atlantis mereka simpan dalam tradisi suci masing-masing berupa legenda kiasan tentang surga yang berubah jadi neraka, tentang penyucian diri menggunakan air dan api, dan sebagainya. Di bukunya, Santos membedah tradisi-tradisi itu, mulai dari tradisi Hindu, Yunani, Yahudi-Kristen, Celtic, sampai Aztec, dan menunjukkan kesamaan-kesamaan yang mengarah pada surga Atlantis di Timur Jauh.

Penjelasan lengkapnya tentu bisa Anda baca sendiri lewat buku Atlantis, yang sudah didedah forum DeBuk minggu lalu. Slamet Haryono dan Evan Adiananta mau berbaik hati mengantar kami menyelami buku Santos yang tebalnya ngalahin Alkitab itu. Slamet cenderung setuju sama Santos, sementara Evan masih skeptis. Siapapun boleh skeptis, kata Evan — termasuk skeptis terhadap skeptisisme itu sendiri.

Sekarang, terlepas dari tepat tidaknya kesimpulan Santos, so what kalau memang situs Atlantis terletak di Indonesia?

Kalau menurut Slamet, hal ini bisa jadi semacam peringatan buat orang-orang Indonesia, bagaimana sebuah peradaban besar bisa runtuh karena kesombongan, ketamakan, dan kemerosotan moral manusia.

Yang kedua — dan ini menurut saya paling menarik — fakta bahwa surga Atlantis berlokasi di Indonesia itu pada dasarnya bisa menantang konsepsi agama-agama yang bilang kalau surga adanya di “atas sana”. Saya ingat beberapa bulan lalu Slamet pernah menulis status Facebook, “Daripada manusia baku bunuh (dengan restu agama) agar naik ke surga, bagaimana kalau kita turunkan surga ke bumi?”

Maksudnya, barangkali, mari kita ciptakan damai surga di bumi. Sesama manusia nggak perlu gontok-gontokan apalagi sampai perang dan baku bunuh cuma gara-gara perbedaan. Bahwa konflik dan polemik bisa jadi dinamika masyarakat yang sehat, itu betul sepanjang emosi tiap orang bisa terkontrol dengan baik.

Tapi, ya, memang agak susah. Kalau Anda baca bukunya Fritjof Capra yang judulnya The Turning Point — terjemahan Indonesia-nya berjudul Titik Balik Peradaban — di situ ada gambaran cukup ringkas soal tren peradaban kita hari ini. “Kita telah menimbun puluhan ribu senjata nuklir, yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunia beberapa kali, dan perlombaan senjata itu pun berlanjut dengan kecepatan yang melaju,” tulis Capra.

Paragraf berikutnya, “Biaya kegilaan nuklir kolektif ini pun mengejutkan. Pada tahun 1978, sebelum terjadinya peningkatan biaya terbaru, pengeluaran militer dunia kira-kira 425 miliar dolar miliar dolar — lebih dari satu miliar dolar setiap harinya. Lebih dari seratus negara, sebagian besar di antaranya berada di Dunia Ketiga, berada dalam bisnis pembelian senjata; penjualan perlengkapan militer baik untuk perang nuklir maupun konvensional lebih besar daripada pendapatan nasional dari semua negara kecuali sepuluh negara di seluruh dunia.”

“Sementara itu lebih dari lima belas juta orang — sebagian besar di antaranya anak-anak — meninggal karena kelaparan setiap tahun; lima ratus juta lainnya kekurangan gizi dengan serius. Hampir empat puluh persen dari penduduk dunia tidak mempunyai peluang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan profesional; namun negara-negara berkembang menghabiskan biaya tiga kali lebih besar untuk persenjataan daripada untuk kesehatan. Tiga puluh lima persen dari seluruh umat manusia kekurangan air minum yang bersih, sementara separuh dari keseluruhan ilmuwan yang ada terlibat dalam teknologi pembuatan senjata.”

Apakah peradaban modern kita juga akan hancur dan jadi neraka, seperti Atlantis dulu? Kalau dulu Atlantis hancur karena gunung berapi dan air bah, bisa saja peradaban modern nanti rusaknya gara-gara ledakan nuklir bikinan manusia. Dan, bisa jadi juga, ledakan itu pemicunya bukan manusia sendiri, tapi bencana alam yang di luar kendali manusia. Gempa, misalnya.

Pembangunan PLTN di Jepara, kan, ditolak salah satunya gara-gara risiko gempa. Pulau Jawa yang punya banyak gunung berapi rawan banget kena gempa vulkanis. Kalau gempa itu sampai bikin reaktor si PLTN bocor dan meledak, siapa yang mau tanggung?

Masalahnya, orang-orang Indonesia susah dibilangin. Mereka merasa yakin tidak akan terjadi apa-apa. Mereka merasa bisa. Ini, kan, mencerminkan sikap sombong yang dulu bikin Atlantis punah? Orang Indonesia ngurus bencana sampah saja belum becus, kok mau ngurus bencana nuklir?

Pemerintah sendiri juga plin-plan. April 2009, SBY bilang nggak setuju sama pembangunan PLTN di Jepara. Tapi Desember 2009, Menristek bilang pembangunan itu tetap lanjut dan PLTN dijadwalkan mulai beroperasi tahun 2016.

Dulu mahasiswa UKSW punya Gerakan Tolak Nuklir yang dimotori sama teman-teman Fakultas Teknik Elektro. Tapi sekarang gerakan itu mati. Sekarang kita cuma bisa bilang Doa Bapa Kami, “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” Padahal, kalau kita mau berusaha sedikit, mungkin kita bisa ciptakan peradaban di bumi seperti di surga.