URAT EDARAN ITU tertanggal 4 Maret 2008. Intinya meminta para PKL yang berjualan di depan kampus UKSW dan SMP Stella Matutina, Salatiga, agar “menyesuaikan” diri dengan Perwali Nomor 18 Tahun 2006 (baca: baru mulai berjualan pukul 09.00). Alasannya, “Jalan Diponegoro khususnya depan UKSW dan SMP Stella Matutina sangat padat dan sering terjadi kecelakaan.” Tandatangan Tri Priyo Nugroho, Kepala Dinas Pasar dan PKL Kota Salatiga, terbubuh di akhir surat. Ada cap stempel dinasnya juga.
Kecelakaan? Ah, betulkah?
“Saya sendiri yang waktu itu nolong korbannya,” kata Tri Priyo, bersemangat. “Kalau ndak percaya, silakan tanya sama satpamnya Stella.”
“Selain itu, ini kan juga demi kepentingan kampus (UKSW),” Dalimo menambahi sambil tersenyum, “Kalau depan kampus itu bisa tertib dan rapi, kan wajah kampus jadi enak dipandang.” Dalimo adalah anak buah Tri Priyo. Di Dinas Pasar dan PKL, ia menjabat sebagai Kasie Bina Usaha. Sedangkan di kalangan PKL, ia lebih dikenal sebagai “tukang obrak-obrak.” Dalimo memang sering terjun ke lapangan guna “menertibkan” PKL. PKL yang tidak “tertib” akan “di-obrak.”
“Jadi, biar orang-orang itu punya kesempatan untuk menikmati pemandangan kampus pagi hari,” Tri Priyo menyambung penjelasan Dalimo. Sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.
Para PKL sendiri keberatan dengan surat edaran itu. Mereka mengeluh, karena sebelumnya terbiasa mulai berjualan pagi, sekitar jam 6-an. Mundurnya waktu berjualan ke jam 9 menyebabkan pemasukan mereka menurun. Jika mulai berjualan sedari pagi, mereka masih sempat melayani mahasiswa ataupun pekerja yang hendak sarapan. “Sejujurnya, saya yang merasa paling terpukul karena peraturan itu, karena antara jam 6 sampai jam 9 adalah waktu laris-larisnya,” kata Haryono. “Pak Har” telah berjualan soto bersama istrinya selama 10 tahun. Mereka berjualan tepat di sebelah barat gerbang timur kampus UKSW.
.
AMIS, 27 Maret 2008 pukul 05.36. Jalan Diponegoro yang lebarnya 8 meter itu masih sepi. Mungkin bisa diseberangi dengan mata merem. Trotoar depan kampus sama saja. Belum ada orang lewat. Trotoar itu lebarnya sekitar 3 meter. Sebagian dipaving warna merah muda pucat. Biasanya kalau tenda PKL sudah berdiri, lebar trotoar itu jadi 1 meter saja. Lebar 1 meter ini masih sangat cukup untuk dilewati dua arus pejalan kaki yang berlawanan arah. Sedangkan bibir trotoar lebarnya sekitar setengah meter. Di bibir itu ditaruh bak-bak tanaman yang dibuat dari semen, lalu dicat merah. Tapi sekarang, warna merahnya sudah mbulak.
Gerobak milik Sudariyanto sudah “parkir” di sebelah barat gerobak milik Suwarno. Dari arah barat, Ali datang sambil mendorong gerobak, lalu parkir di sebelah timur Suwarno. Ali sebenarnya bukan warga Salatiga. Rumahnya di Candirejo Permai, sudah termasuk wilayah Kabupaten Semarang. Dari rumahnya, ia naik motor ke Jalan Seruni, tempat ia menitipkan gerobak. Lalu dari Seruni ia mendorong gerobaknya melewati jalan menanjak sekitar 100 meter untuk mencapai depan kampus UKSW.
Sejak surat edaran itu terbit, para PKL hanya memarkir gerobak waktu pagi, tapi tidak segera memasang tenda. Sebenarnya, ini pun masih tidak sesuai dengan kehendak Tri Priyo. Tri Priyo ingin agar gerobak juga jangan dinaikkan sebelum waktu yang ditentukan. Jadi, bukan hanya jadwal pasang tendanya yang mundur, tapi jadwal dorong gerobaknya juga. Tapi PKL nekat. Mereka tetap memarkir gerobak sejak pagi, meski sempat sekali “di-obrak” Dalimo.
Sebelum ada surat edaran, mereka biasa mulai mendorong gerobak pukul 05.30, dan selesai memasang tenda sekitar pukul 06.00. Karena pagi masih sepi, mereka bisa leluasa melakukan persiapan tanpa mengganggu arus pejalan kaki. Tapi kalau mereka baru mendorong gerobak pukul 08.00, 08.30, atau 09.00, maka persiapan (parkir gerobak dan pasang tenda) harus mereka lakukan di tengah arus pejalan kaki. Para pejalan kaki pun ikut terganggu. Jadi, memang lebih baik jika persiapan dilakukan sebelum orang-orang lewat di trotoar.
Totok, Satpam SMP Stella Matutina, mengomentari alasan Tri Priyo soal kecelakaan dengan enteng. “Kecelakaan itu karena ada yang ugal-ugalan aja,” kata Totok, “Kalau gara-gara PKL, ya udah tiap hari ada kecelakaan.”
“Dulu waktu kecelakaan itu memang ada PKL yang jualan di sebelah luar trotoar, jadi makan tempat di jalannya. Itu bisa memperbesar risiko kecelakaan,” lanjut Totok. Tapi itu dulu. Sekarang tidak ada PKL depan kampus UKSW dan SMP Stella Matutina yang berjualan di sebelah luar trotoar. Mereka semua berjualan di sebelah dalam.
Jadi, alasan “sering terjadi kecelakaan” itu cuma omong kosong Tri Priyo sebenarnya. Lalu soal “keindahan” wajah kampus yang diutarakan Dalimo?
“UKSW tidak keberatan PKL berjualan pagi,” kata Kris Herawan Timotius, Rektor UKSW. Tidak ada masalah soal wajah kampus. PKL mau jualan sejak jam 5 pagi pun Kris tidak keberatan. “Saya juga sering makan di depan,” kata Kris, tersenyum.



11 comments