Fkucing

Seekor kucing tahu, tidak ada gunanya memperoleh seluruh dunia jika ia kehilangan nyawanya. Saat kepergok mengacak-acak sebuah tempat sampah, ia dengan yakin memilih kabur, melesat keluar pagar, lalu lenggang di tengah malam.

Pemuda itu bahkan belum sempat memilih tindakan. Melihat sampah terburai dan kucing yang mengejek, tangannya seolah-olah dibanjiri darah. Tetapi ia tahu, tidak ada gunanya mengejar nyawa si kucing. Ia sendiri telah membuang nyawanya.

Masih dengan tangan berdarah, dibereskannya ulah si kucing di lantai. Kini ia paham kenapa ada orang yang membantai ras kucing. Itu diketahuinya dari Facebook, karena yang bersangkutan memajang foto-foto mayat kucing, lengkap dengan kebanggaannya. Seakan-akan ia algojo dan mayat-mayat itu portofolionya. Satu per satu sampah dipungutinya, lalu dikumpulkannya lagi ke dalam kresek hitam yang semula melapisi tempat sampah. Di situ ia melihat ceceran kulit ayam, yang ditinggalkan si kucing — yang beberapa jam lalu adalah bagian dari makan malamnya.

Sesungguhnya, pemuda itu nyaris tak doyan ayam. Ia akan selalu memilih telur ayam ketimbang dagingnya. Tetapi warung langganannya tidak memberi pilihan malam itu, sehingga ia memaksa diri mengambil satu-satunya lauk yang tersisa di sana: sepotong paha ayam.

Ia makan sendiri di kamar pondokan. Perhatiannya tercurah untuk memisahkan daging ayam dari kulitnya. Kulit adalah bagian yang paling ia benci setelah kepala, ceker, dan brutu. Ia membenci ayam tanpa alasan. Yang terpenting baginya adalah ia membenci ayam, terutama yang tidak digoreng garing.

Selesai makan ia membuang sisa dan bungkusnya di tempat sampah dekat pintu kamar. Tempat sampah itu sudah penuh, namun ia masih merasa malas membuang. Ia jejalkan isi yang baru hingga resmi menjadi sampah, lalu pergi mencuci tangan.

Setelah tangannya bersih, ia memergoki seekor kucing mengacak-acak tempat sampahnya. Sebelum ia sempat memilih tindakan, si kucing melesat keluar pagar, lalu lenggang di tengah malam. Melihat itu, tangannya seolah-olah dibanjiri darah. Namun ia tahu, tidak ada gunanya mengejar nyawa si kucing. Ia sendiri telah membuang nyawanya.

Masih dengan tangan berdarah, dibereskannya ulah si kucing di lantai. Kini ia menyesal tidak segera membuang isi tempat sampah yang sudah penuh tadi. Melihat sampah terburai dan kucing yang mengejek, lengkap sudah makan malamnya.

Pemuda itu tahu, tidak ada gunanya memperoleh seluruh dunia jika ia kehilangan nyawanya. Ia tak lagi tertarik meraih seluruh dunia, karena ia sendiri telah membuang nyawanya.

“Kenapa kaubuang nyawamu sendiri?” tanya si kucing.

“Agar tempat sampahku penuh,” jawab pemuda itu.

“Kau manusia bodoh!” sahut si kucing.

“Kau sudah tidak kubunuh!” timpal si pemuda.

“Kulit ayam itu, kenapa kau tidak memakannya?” tanya si kucing.

“Sudah kukatakan aku membencinya!” jawab si pemuda.

“Dimana bencimu berada, di sanalah nyawamu berada,” timpal si kucing.

“Dan kaupikir aku harus kembali memungutnya?” sahut si pemuda.

“Kau benar-benar manusia bodoh!” jawab si kucing.

Mendapat jawaban itu, kepala si pemuda dibanjiri darah. Ia bersumpah akan membantai ras kucing dan memajang foto setiap mayatnya di Facebook, lengkap dengan kebanggaannya. Namun ia tahu, tidak ada gunanya mengejar nyawa setiap kucing. Ia sendiri telah membuang nyawanya.

“Dimana bencimu berada, di sanalah nyawamu berada,” kata si kucing.

“Kini aku membencimu,” sahut si pemuda.

Dengan penuh keyakinan, si kucing lesat keluar pagar, lalu lenggang di tengah malam.