Pusat Pendidikan dan Pelatihan Basket FTI UKSW dibentuk pada Oktober 2007. Baru dua bulan terbentuk, para pebasket dari pusdiklat ini langsung memotori tim basket putra UKSW untuk merengkuh juara kedua dalam kejuaraan nasional yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) dan BAPOMI (Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia) Jawa Timur di GOR Kertajaya, Surabaya, Desember 2007.

Prestasi tak berhenti sampai di situ. Mereka juga menjadi juara pertama Surya Pro Basketball Championship 2008 yang dihelat di Solo, Mei 2008.

Prestasi-prestasi tersebut otomatis mengangkat nama UKSW dan FTI.

“Ini memang bagian dari promosi kita (FTI — Red), karena melihat animo anak-anak SMA itu di basket sebagian besar,” kata Yani Rahardja.

Yani adalah wakil dekan FTI, yang sekaligus merangkap manajer Pusdiklat Basket FTI. Gelar sarjana ekonomi didapatnya dari Fakultas Ekonomi UKSW pada tahun 2000. Setahun kemudian, ia juga menyelesaikan studi magister manajemen di Program Pascasarjana UKSW dengan konsentrasi pemasaran internasional.

FTI memang tak main-main menggarap strategi promosinya lewat olahraga basket. Mereka sampai mendatangkan Danny Kosasih, “suhu basket” Indonesia, untuk menjadi pelatih kepala di pusdiklat itu.

“Prestasinya (Danny Kosasih — Red) perak SEA Games,” klaim Yani tentang karir kepelatihan Kosasih.

Para pebasket yang tergabung dalam Pusdiklat Basket FTI direkrut berdasarkan hasil pemanduan bakat (talent scouting) yang dilakukan sendiri oleh Kosasih. Hasil rekrutmen pun beragam asal daerahnya. Ada yang dari Papua, Sulawesi, Sumatera, dan Jawa. Dari kuota sejumlah 15 orang, jumlah pebasket yang telah direkrut baru sebanyak 9 orang.

Kesembilan orang ini lantas diberi beasiswa penuh untuk berkuliah di FTI dan disewakan sebuah pondokan di daerah Kalinyamat, Salatiga, sebagai tempat tinggal. Warga jemaat gereja Bethany Salatiga, secara kolektif, juga urun bantuan berupa makanan sehari-hari. Jemaat Bethany membantu karena kesembilan pebasket tersebut juga bergereja di tempat yang sama.

“Harga sewa pondokan setahun Rp 10 juta. Fakultas juga kasih 3 unit komputer (untuk keperluan belajar — Red),” kata Yani.

Jadi, selain diwajibkan untuk berprestasi dalam bidang basket, para pebasket yang direkrut juga diwajibkan untuk tetap menjaga prestasi dalam bidang akademiknya. Kuliah harus tetap nomor satu, karena akan berguna sebagai bekal di hari tua, demikian penjelasan Yani.

“IP mereka di atas 2,25 semua,” klaim Johan Vilantino Pieter, mahasiswa FTI angkatan 2004, yang juga asisten Yani Rahardja dalam kepengurusan Pusdiklat Basket FTI.

Kenapa FTI begitu serius menggarap strategi promosinya, bahkan sampai bikin pusdiklat basket segala?

“Karena FTI UKSW mau menjaga stabilitas jumlah mahasiswa dan persaingan dengan perguruan tinggi (lain) semakin ketat,” jelas Yani.

“Lha apa dengan adanya pusdiklat basket, FTI UKSW lalu meningkat daya saingnya terhadap perguruan tinggi yang lain?” tanya saya.

“Ya … itu salah satu bagian dari strategi FTI. Tetapi yang paling utama dalam bidang keilmuan, dengan mengirim mahasiswa untuk mengikuti lomba-lomba dalam bidang teknologi informasi,” klaim Yani.

bagaimana cara untuk ikut seleksi/persyaratan agar dapat masuk pusdiklat??saya ingin sekali bisa masuk pusdiklat. .

Post a comment