Glonggongan

Malam ini aku tidur di Scientiarum lagi. Sudah tiga malam berturut-turut aku tidur sini, malas pulang kos karena telah tengah malam. Meski sudah biasa, tapi belakangan aku jadi malas jalan, malas kedinginan. Lagipula kalau malam, Scientiarum sepi. Aku sendirian, hingga bisa menulis tanpa gangguan.

Tadi siang aku sempat siaran di Radio Republik Indonesia Semarang, jadi narasumber untuk program acara Forum Mahasiswa. Ini program mingguan dimana RRI Semarang mengundang beberapa mahasiswa untuk bicara isu-isu aktual. Kali ini, mereka minta Universitas Kristen Satya Wacana dan Universitas Katolik Soegijapranata mengirim dua mahasiswa masing-masing sebagai perwakilan. UKSW mengirim aku dan Rebecka, Unika mengirim Devi dan Melia. Kami diminta bicara soal peredaran daging glonggongan yang kian marak menjelang Lebaran. Aku bicara dari sisi ekonomi, Becka dari sisi hukum, Devi dan Melia dari sisi teknologi pangan. Pembagian ini sesuai dengan bidang ilmu kami masing-masing di kampus.

Sehari sebelumnya, sebagai persiapan, aku ajak Becka ke Boyolali untuk pengamatan lapangan. Aku ingin kami punya cukup pengetahuan empiris, tak hanya abstrak, ketika bicara di forum itu — supaya tak bikin malu. Kata orang, daging glonggongan banyak dari Boyolali, sentra jagal sapi terbesar se-Jawa Tengah dan tertua di negeri ini.

Di Boyolali, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Rumah Pemotongan Hewan Ampel. Di sini kami bertemu Dhian Mujiwiyati, dokter hewan lulusan Universitas Gadjah Mada, yang bertanggungjawab atas kesehatan ternak sembelihan. Aku punya kesan, perempuan berjilbab ini cenderung hati-hati sekali tiap menjawab pertanyaanku.

Dimana para pengglonggong bisa ditemui?

“Saya nggak berani langsung nuduh gitu ya. Yang jelas kalo di sini (RPH Ampel), sama sekali nggak ada, nggak boleh. Yang ngglonggong itu di luar pasti. Tapi kalo mau infonya, mending langsung aja ke paguyuban jagalnya,” kata Dhian. Belakangan daging glonggongan memang jadi barang “terlarang”. Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa haram pada Februari 2006.

Dhian lantas memberi kami nama Sawarno. Dia ketua Paguyuban Jagal Sapi Nandita, tinggalnya di daerah Bakalan, Ampel. Mantan guru sekolah dasar ini kini, selain menjagal, juga buka usaha toko bangunan. Tokonya berjarak sekitar 200 meter dari RPH Ampel. “Saya kalo enjing sampai jam empat sore di sini (tokonya). Malem baru di rumah,” kata Sawarno, ketika kami temui di tokonya. Paguyuban Jagal Sapi Nandita resmi jadi badan hukum sejak 2006.

“Ini strategi bisnis,” jawab Sawarno, ketika aku tanya alasan kenapa para jagal Boyolali banyak yang mengglonggong sembelihannya. Jika diglonggong, massa daging akan bertambah secara instan, hingga dengan massa sama, harga daging glonggongan bisa lebih murah daripada daging kering. Tapi massa daging glonggongan akan susut lebih banyak daripada daging kering ketika diolah.

“Kalo gitu, merugikan konsumen?” tanyaku. Dalam benak aku membatin, kalau konsumen rugi dan kecewa, maka bisnis tak akan menguntungkan dalam jangka panjang. Bisnis itu, salah satunya, adalah soal kepercayaan.

“Jelas ndak merugikan, malah menguntungkan. Meskipun susutnya banyak, tapi kalo dibandingkan sama selisih harganya, jatuhnya masih lebih murah glonggongan.”

Sawarno pun mulai berhitung. Katanya, 1 kg daging glonggongan, dengan penyusutan 15 persen, harganya Rp 37 ribu. Sedangkan 1 kg daging kering, dengan penyusutan 5 persen, harganya Rp 45 ribu. Maka “harga riil” (pascaolah) daging glonggongan adalah Rp 435 per 0,01 kg. Sedangkan harga riil daging kering adalah Rp 473 per 0,01 kg.

“Lha gizinya Pak? Ada bedanya nggak?”

“Kalo soal gizi, anak saya itu dulu — yang kuliahnya di UGM — skripsinya juga neliti soal ini. Dari hasil penelitiannya itu, kandungan gizi antara yang glonggongan sama yang kering nggak beda. Cuma kelebihannya, yang kering itu bisa tahan lebih lama.” Daging glonggongan memang lebih cepat busuk, karena mengandung banyak air.

Soal haram halal?

“Sapi itu kalo diglonggong, kalo nggak sampai pingsan, nggak haram. Kita nggak makan bangkai.”

“Sapi itu nggak merasa sakit. Kalo untuk kepentingan hidup, menghidupi orang banyak, nggak papa.” Sawarno berpendapat, pengglonggongan boleh dilakukan demi kepentingan manusia.

Aku belum bisa mempercayai kesaksian Sawarno, bahkan ketika dia mendasarkannya pada “hasil penelitian” mahasiswa UGM. Pada 13 Oktober 2006, Suara Merdeka memuat hasil penelitian Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro yang berbeda dengan hasil penelitian anak Sawarno. Salah satu yang dibilang di sana: selain selisih harga dan penyusutan, kandungan nutrisi antara daging glonggongan pun cukup signifikan. Harga nutrisi daging glonggongan lebih mahal daripada daging kering.

Dalam perjalanan pulang ke Salatiga, aku dan Becka sempat mampir pasar Ampel. Kami coba cari daging glonggongan untuk dibandingkan dengan daging kering. Kami ingin menguji sendiri, mungkin dengan minta bantuan teman dari Fakultas Biologi atau Fakultas Pertanian. Namun kami tak berhasil mendapatinya. Sejak ada berbagai larangan dan kecaman, daging glonggongan “entek resik” dari pasar, ujar salah satu pedagang.

.

Arief Budiman tergopoh-gopoh menuruni tangga rumahnya. Meski hari telah petang dan tanpa penerangan memadai, dia tetap bisa mengenali wajah tamunya tanpa berkacamata. Umur Arief 67 tahun sekarang. Dia sudah pensiun dari jabatan guru besar University of Melbourne.

“Ngobrol dimana Pak?” tanyaku.

“Di situ aja.” Arief menunjuk satu tempat di belakangku. Tempat ini terbuka dan berada di kolong rumah kayu Arief. Di sana ada meja dan beberapa kursi kayu. Di belakang satu kursi yang panjang ada bufet yang berisi deretan majalah.

“Ini tadi dari Boyolali?” tanya Arief pada aku dan Becka. Beberapa jam sebelumnya, aku telah menelepon Arief, bikin janji diskusi soal daging glonggongan. Dulu Arief pernah kampanye menolak daging glonggongan. Arief menyebut pengglonggongan sebagai tindakan yang tak “berperikebinatangan”.

“Jadi gimana tadi?” Arief menanyakan hasil “observasi” kami. Aku dan Becka cerita bergantian. Selama mendengarkan, Arief memasang tampang polos, sesekali mengangguk, sikutnya disandarkan pada lengan kursi, dan dua tangannya dipalangkan di depan dadanya. Jemarinya dimainkan seperti orang grogi.

Arief punya beberapa pendekatan untuk melihat daging glonggongan. Dari sisi “kemanusiaan”, dia menilai pengglonggong tak “manusiawi”. Sapi disiksa dua kali, diglonggong terus disembelih. Dari sisi Islam, dia menilai daging glonggongan haram — sekalipun hewan yang diglonggong belum sempat jadi bangkai. “Saya sendiri nggak tahu pasti ayatnya dimana, tapi katanya ada itu (ayat yang melarang penyiksaan hewan). Kalo di Kristen ada nggak? Kalo di Buddha sih pasti nggak boleh.”

“Kalo dari sisi hukum itu gimana? Saya nggak tahu apakah sudah ada peraturan yang khusus soal ini,” kata Arief.

“Mungkin bisa jadi defective product Beck?” Aku menoleh ke Becka. Seingatku, Becka lalu menjelaskan apa yang biasa disebut dengan “product liability“.

Arief sependapat dengan aku soal keuntungan bisnis jangka panjang. “Mereka kan mau cari untung pakai cara cepat. Tapi kalo itu merugikan konsumen, justru malah tidak menguntungkan sebetulnya.”

“Itu kan sesuai sama prinsip ekonomi,” celetuk Becka. Aku spontan menoleh ke arahnya. Aku tanya, prinsip seperti apa yang dimaksud Becka? Dia bilang, prinsip ekonomi adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Aku tak sependapat dengan Becka. Buatku, prinsip yang dikatakan Becka itu prinsip kapitalis, sedangkan ekonomi sendiri tak melulu berisi kapitalisme, ada sosialisme, komunisme. “Kalo menurutku, prinsip ekonomi yang bener itu dengan sumber daya tertentu bisa mendapat hasil yang tertentu juga. Semua serba tertentu,” ujarku.

“Tapi tetap ada efisiensi kan?” Arief ikut nimbrung dalam perdebatan. Sepertinya Arief cenderung setuju dengan Becka. Arief berpendapat, memang seperti itulah perekonomian — sifatnya cenderung kapitalistik. “Lha di ekonomi kan juga ada sosialis kan Pak?” debatku. Maka perdebatan pun melebar ke hal-hal yang ideologis, filosofis.

Untuk mengakhiri pembicaraan yang telah keluar dari topik, aku menanyakan cara memberantas peredaran daging glonggongan. Arief bilang, bikin saja kampanye. Buktikan dulu kalau daging glonggongan memang merugikan konsumen, lalu umumkan itu ke masyarakat. “Kalau bisa kerjasama dengan kalangan Islam lebih bagus,” tambah Arief.

.

Berbekal pengetahuan yang terbangun lewat pengamatan lapangan dan diskusi itulah aku bicara di Forum Mahasiswa RRI Semarang siang ini. Devi dan Melia lebih banyak menyinggung hal-hal teoretis. Becka malah sampai buka-buka buku pasal ketika siaran. Aku sendiri lebih suka menceritakan temuan-temuanku selama sehari kemarin.

Aku percaya pada kekuatan cerita. Pada buku The Prayer of the Frog, Anthony de Mello menulis demikian: “Meskipun hati manusia merindukan kebenaran, tetapi reaksi pertama manusia terhadap kebenaran itu ialah benci dan takut. Ini adalah suatu misteri yang besar. Oleh karena itu banyak guru kerohanian umat manusia seperti Buddha dan Yesus menciptakan sarana untuk menyingkirkan daya tolak dalam diri para pendengarnya, yaitu melalui cerita.”

“Kalo menurut Satria sendiri, gimana sih cara mengantisipasi kehadiran daging glonggongan menjelang Lebaran nanti? Coba, gimana Satria?” tanya sang penyiar ketika waktu tinggal tujuh menit. Sebelumnya, Melia, Devi, dan Becka telah menyodorkan “sosialisasi kepada masyarakat” untuk pertanyaan serupa.

“Cari penggantinya. Misalnya nih, saya belum pernah dengar ada kerbau diglonggong. Nah, mungkin daging kerbau bisa jadi pengganti buat daging sapi,” jawabku.

Bebek glonggongan juga belum ada kan?

Seisi studio tertawa.