Beberapa hari terakhir, saya sangat terusik dengan komentar Pak Edi di posting Siwi tentang sekolah gratis. Dalam komentarnya, Pak Edi mengatakan demikian: “Sekolah gratisan berarti gurunya dibayar dengan gratisan pula.” Sebuah kalimat yang mengesankan bahwa pendapatan seorang guru hanya ditentukan oleh belas kasihan murid-muridnya. Nelangsa banget kelihatannya.

Dulu, sewaktu blog ini belum saya restart, saya pernah menuliskan uneg-uneg saya tentang pendidikan, yang pada umumnya cuma berisi teori, teori, dan teori melulu. Padahal, apabila ada praktek nyata dalam sebuah proses pembelajaran, kompetensi para peserta didik di bidangnya akan naik pesat, sehingga dapat diberdayakan untuk mengganti ongkos pendidikan itu sendiri. Uneg-uneg ini muncul setelah saya melakukan pengamatan pada sebuah inkubator bisnis di kampus saya, yang sekaligus juga adalah tempat dimana saya bekerja dan belajar sekarang.

Mungkin, karena waktu itu saya menulis dengan sedikit emosional, pesan yang ingin saya sampaikan tidak dapat saya terjemahkan dengan baik dalam tulisan. Dan kini, saya ingin mencobanya lagi. Intinya, pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang gratis, kalau bisa malah memberikan penghasilan material yang nyata bagi peserta didiknya. Lho, kok bisa?

Apa gunanya sebuah kurikulum? Agar rencana pembelajaran dapat lebih tersistematis dan teratur? Setelah materi pertama, maka materi kedua, setelah itu ketiga, keempat, dan seterusnya. Dan kurikulum ini pasti dibuat dengan asumsi yang pada umumnya (semua orang adalah sama). Oh, biasanya orang-orang kalau mau belajar ini, pasti lewatnya sini, sini, dan sini dulu. Kalau mau menguasai bidang itu, jalurnya sana, sana, dan sana. Oh, metode belajar manusia pada umumnya adalah A, B, C, D, dan E. Dan inilah penyeragaman!

Mengapa harus ada penyeragaman dalam dunia pendidikan? Untuk memudahkan guru dalam mengelola peserta didik? Karena kalau setiap guru harus melayani kebutuhan masing-masing peserta didik yang unik satu sama lain, pastilah sangat merepotkan. Apalagi kalau jumlah peserta didik ada puluhan. Lagipula, untuk menciptakan pendidikan murah, kuantitas peserta didik tidak bisa hanya satu atau dua orang. Kalau peserta didik sedikit, lalu SPP-nya murah, guru mau makan apa? Lihat saja, les privat atau homeschooling yang mentorial, namun individualistik, pasti tarif gurunya mahal (sekali).

Kenapa bisa demikian? Karena logika pendidikan selama ini sudah salah kaprah! Teori lebih dominan daripada praktek! Konsep yang memberdayakan juga tidak ada!

Pernahkah ada guru/dosen yang berpikir seperti dosen ini? Semoga ada dan pernah. Di tangan dosen yang berlatar belakang pendidikan manajemen ini, pendidikan privat yang mentorial mampu disulap sebagai sesuatu yang gratis, berkualitas, dan bahkan profitable, baik bagi pengajar maupun peserta didik. Modalnya hanya secercah sinar kewirausahaan, sebuah konsep yang memberdayakan, dan sebuah rentangan jaringan. How come?

Dalam penuturannya di sebuah media, dosen ini mengawali semuanya dengan sebuah konsep. Ide! Paradigma universitas sebagai lembaga pendidikan terus bergeser mengikuti peralihan zaman. Dari persekutuan ilmiah, menjadi universitas berbasis riset, lalu kini menjadi universitas kewirausahaan. Dan pergeseran paradigma ini sesuai dengan konteks zaman yang semakin menuntut persaingan, apalagi kalau dikorelasikan dengan tingkat pengangguran di Indonesia yang relatif tinggi. Dengan demikian, para mahasiswa di universitas sudah seharusnya dididik untuk menjadi para wirausahawan yang visioner dan profesional.

Dan kewirausahaan itu bukanlah sesuatu yang given, melainkan dapat dipelajari. Oleh karena itulah, dosen ini akhirnya mendirikan inkubator bisnis yang tadi sudah saya sebutkan di atas (tempat saya bekerja dan belajar kini). Salah satu sasarannya: melahirkan wirausahawan baru di bidang telematika yang unggul dalam aspek teknikal maupun manajerial. Telematika adalah bidang yang dipilih karena inkubator bisnis ini berdiri sebagai sebuah subsistem dari sebuah fakultas di bidang teknologi informasi.

Untuk aspek teknikal, dosen ini lalu mengadakan perekrutan bagi para mahasiswa teknik informatika yang menggemari pemrograman. Jumlahnya tidak banyak, tidak sampai sepuluh orang. Setelah direkrut, mereka diberi pelatihan gratis, diberi fasilitas yang memadai untuk belajar, dibina secara personal (mentoring), dan akhirnya diberi tugas latihan berupa proyek yang diambilkan dari perusahaan-perusahaan. Sedangkan untuk aspek manajerial, dosen ini juga menyelenggarakan sebuah kompetisi perencanaan bisnis (business plan) di kampus untuk menjaring para mahasiswa konseptor yang ide-ide bisnisnya dinilai layak direalisasikan.

Ternyata, implikasi yang diakibatkan oleh aksi dosen ini besar sekali. Mahasiswa yang direkrut jadi lebih berkompeten di bidangnya. Ini terlihat dari kemampuan teman-teman saya yang hasil karyanya sudah dihargai secara komersial, bahkan sampai di aras internasional. Mahasiswa yang direkrut dapat mandiri secara finansial, tidak lagi berharap pada kucuran dana orangtua, sebagai akibat dari penghargaan karya mereka secara komersial. Para mahasiswa tersebut juga makin giat belajar dengan mandiri dan aktif. Karena bidang pekerjaannya memang sesuai dengan bakat dan minat mereka, maka mereka jadi rajin belajar tanpa harus disuruh dan dipaksa. Mereka, dengan kesadaran diri masing-masing, memperdalam ilmunya dengan ekstrim dan gembira. Hubungan antara guru (dosen) dan murid (mahasiswa) juga makin akrab akibat dari proses pembinaan yang personal. Kesetaraan posisi dan demokrasi menjadi budaya dalam hubungan ini.

Ternyata, seorang guru yang baik bukanlah orang yang pandai berteori, melainkan orang yang memiliki jiwa kewirausahaan dan menguasai teori maupun praktek secara berimbang. Dan di atas itu semua, seorang guru yang baik juga haruslah seorang fasilitator yang handal. Kalau anda kebetulan adalah seorang guru, apakah anda berkemauan untuk menjadi seorang guru yang baik? Jumlah guru yang baik di Indonesia masih sangat sedikit, ini terbukti dari kualitas pendidikan kita yang juga masih sangat rendah.

maksudnya ini guru buat nyari duit gitu ya?(enterpreneur?) kirain guru secara global. biar bangsa ini gak digoblokin teyuzzzz… .

magma’s latest post: PERBEDAAN SOEKARNO DAN SOEHARTO MENJELANG AJAL

@ magma: Lha emangnya ilmu itu buat apa kalo bukan cari duit (baca: melakukan pembangunan demi tercapainya kemakmuran)?

Ini juga sempat kemarin menjadi bahan diskusiku dengan anang dan dion waktu di Plaza itu.. hanya, yang menjadi kendala ketika jurusan tersebut memang benar-benar keilmuan murni yang tak layak jual dan sulit di-wirausahakan.. kudu butuh guru dan dosen yang brilian dan super jenius untuk mengubahnya menjadi ladang uang. Meski, tak semua ilmu kudu bermuara pada menghasilkan uang.. idealis banget nih ceritanya.. hehehehhe

So, jadi jangan terjebak semua untuk kemakmuran an sich, karena ilmu hanya sarana dan alat untuk mencapai “kondisi tertentu”, dan yang “tertentu” itu tak mesti kemakmuran lhooo… hehehehe…

Kembali ke topik, yang akan menjadi susah adalah keilmuan yang sepi proyek seperi filsafat dan seni, kaidahnya tak bisa diintervensi secara langsung oleh kaidah ekonomi.. menghasilkan seni dan sastra berkualitas tak bisa dipesan sesuai permintaan pasar.. karena itu namanya melacurkan diri.. hahahahahaha.. begitu kata pekerja seni idealis… Dan itu baru satu contoh mas, boleh jadi ada banyak contoh untuk jurusan-jurusan yang tak memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Berkaitan dengan cerita dan contoh yang sampean berikan, saya memiliki beberapa murid yang setelah lulus mampu membuka usaha sendiri berupa perakitan dan pengetikan komputer, kini mereka salah satunya menjadi teknisi kontrakan tempat saya bekerja dan menjadi partner saya untuk urusan komputer di sekolah.. dan hampir semuanya kuliah mengandalkan uang saku tambahan tersbut.. Mudah-mudahan mereka sukses.. Amin..

Gempur’s latest post: Dari Bloger Iseng

Logis dan konkrit, kalo kamu jadi menteri pendidikan apa yang kamu lakukan untuk merubah keadaan ini? Terutama solusi untuk ‘Apa gunanya sebuah kurikulum? Agar rencana pembelajaran dapat lebih tersistematis dan teratur?’ (no offence just tukar pikiran)

deniar’s latest post: My English Day

Kayaknya hanya bidang keilmuan/jurusan tertentu saja yang dapat di-wirausaha-kan.

Anas’s latest post: Selamat Jalan Jenderal Besar

numpang nampang doang :D

tomy’s latest post: BEST I EVER HAD

Praktek akan memperkaya teori
Teori… ah teori

Tindakan tanpa kebijaksanaan
Kebijaksanaan tanpa tindakan
kayaknya gitu deh bangsa kita ini *hubungane apa*

tomy’s latest post: BEST I EVER HAD

Bingung,
tapi kalo menurut saya kurikulum yang benar dengan penerapan yang baik pasti memajukan pendidikan bangsa.
gak asal naikin nilai unas doang

rizky’s latest post: * STATUS : CURHAT PUOLL *

@ Gempur: Saya pikir semua ilmu itu layak jual, apalagi sekarang internet bisa jadi sumber informasi untuk mencari pasar.

Kalo contoh yang sampeyan kasih adalah ilmu seperti filsafat dan seni, itu juga bisa diwirausahakan. Buat aja media yang bisa menampung dan menghargai pemikiran-pemikiran filsafat dan kesenian jaman sekarang, media yang bisa jadi ajang diskusi filsafat dan kesenian. Pake internet untuk efisiensi. Promosikan kepada komunitas-komunitas pecinta seni dan filsafat. Lalu komersilkan, supaya para pemikir yang menyumbangkan pemikirannya itu bisa terus makan. Pasti laku.

Lagipula, orientasi produksi di jaman modern ini bukan lagi bergantung pada pasar (market driven), tapi pada inovasi (innovation driven). Asal para penggelut ilmu filsafat dan kesenian itu bisa mengembangkan ilmunya dengan sedemikian hebat, pastilah keilmuan mereka bisa dijual.

@ deniar: Kalo saya jadi menteri pendidikan, sekolah-sekolah itu mau saya bubarkan. Pengangkatan guru akan saya sentralisir di tempat saya, supaya mereka yang jadi guru bukanlah orang-orang sembarangan. Setelah terpilih guru-guru itu, maka setiap dari mereka akan saya fasilitasi dengan uang dan infrastruktur untuk mendirikan inkubator bisnisnya masing-masing. Intinya, di inkubator bisnis itu harus ada aktivitas pengembangan keilmuan dan komersialisasi produk-produk hasil pengembangan keilmuan itu. Sekian.

@ Anas: Ah, sudah saya jawab sekalian sama jawaban untuk komentar Pak Gempur.

@ tomy: Ya, Pak. Memang praktek akan memperkaya teori, atau bisa juga mematahkan teori yang lama karena melahirkan teori yang baru. Masalahnya, kadang teori itu sendiri dilarang untuk diperkaya dengan praktek-praktek yang nyleneh dari kaidah-kaidah teori lama yang udah usang.

@ rizky: Ya, dan kurikulum yang benar adalah kurikulum yang bisa dikustomisasi untuk tiap-tiap individu alias anti penyeragaman.

ah STR…sebetulnya yang aku lakukan itu biasa2 aja…tapi karena dengan ketulusan hati, kerja keras dan tentu saja karena support dari kalian semua, maka hasilnya jadi “Luar Biasa” (untuk saat ini sih….). Entah setelah aku “terlempar” nantinya….hehehe… :)

Hmm….saya kok tidak sependapat bahwa sisi entrepreneur hanya milik bidang ilmu tertentu dan saya justru lebih sepakat kalau ada kolaborasi antar bidang ilmu untuk menghasilkan suatu invention dan inovasi… ya.. karena inovasi ini merupakan dasar bagi seorang entrepreneur sejati.!!!

Semua tergantung dari sudut pandang kita bersama, dan dunia telah membuktikan bahwa PEMBUAT PASAR akan lebih hebat dari sekedar PENGIKUT PASAR….!!!!

Inovasi atau sekedar mengikuti???? itu pilihan kita bersama…karena untuk ber-INOVASI…gak mungkin dilakukan tiba2 kayak wangsit turun dari atas…perlu RESEARCH dulu donk…dan tentu saja ini perlu pengorbanan..!!!

Universitas pun telah bergeser, dari sekedar tempat persekutuan ilmiah, menjadi basis riset dan saatnya riset ini yang harusnya menciptakan PASAR…

CREATE ur OWN MARKET…!!!!!!!!!

JT’s latest post: Ampun Deh??.Blog-ku Terbengkalai?!!!

wah, sudah tanpa tanda jasa, harus menggaji murid juga?

hehe, maaf kalimat di atas agak satire. tapi saya setuju sama pendapat sampeyan, mas.
bagaimanapun juga, guru harus mempersiapkan masa depan murid2nya yang akan menempuh zaman yang berbeda dengan zamannya sekarang. (susah kan jadi guru?) eh satire lagi :) salam kenal mas

budi’s latest post: Prediksi Bisnis Pasca Sanksi 3 Tahun buat Aremania

hingga saat ini saya masih terkesan dengan idiom klasik cina ttg shi fu (guru yang sekaligus orang tua). sejatinya, guru adalah hamba-hamba kebudayaan yang mengabdik andirinya utk kepentingan kemanusiaan. guru bukan lagi profesi, melainkan status. ketika prpfesi diutamakan, yang muncul kemudian adalah tuntutan ksesejahteraan, saya tidak munafik. guru juga butuh penghasilan yang cukup. namun, idealnya guru harus kembali ke “fitrah”-nya untuk memberikan inspirasi kepada siswanya agar menjadi gerenasi masa depan yng utuh dan mandiri.

sawali tuhusetya’s latest post: Pindah Rumah pada Awal Tahun

@STR: Memang serba susah.. hehehehehe.. mudah2an tak serba pesimistis.. Era sekarang yang konon katanya peradaban materi, terus-menerus menuntut siapa saja untuk menuangkan apa pun dalam bentuk fisik, yang pada muaranya berujung pada kuantitas pencapaian materi..

Namun, ada satu hal yang perlu saya ingatkan bahwa peradaban ruhani yang pernah dilewati dunia ini, pernah menancapkan kejayannya meski kemudian tereduksi oleh tangan-tangan manusia..

maksud saya, ada pencapaian yang tak selamanya berujung materi di mana di isi oleh kepuasan rohani seperti yang diungkap oleh pak sawali di atas. dan saya juga menegaskan sekali lagi, bukan berarti menafikan materi. Sekadar contoh, ilmu falak/perbintangan, di masa lalu merupakan salah satu cabang ilmu yang diidolakan, dan negara menjaminnya dari infratruktur hingga imbal jasa pada para penuntut ilmunya. Sehingga mreka benar-benar tak perlu memikirkan bagiamana keilmuannya dihargai dan menghasilkan uang bagi siswanya. mengingat hidupnya sudah dijamin. Silakan cek referensi abad pertengahan Islam dan Kristen dalam menghargai ilmu falak/perbintangan..

gempur’s latest post: Belajar Memikirkan Petani: Sekadar Membantu Ide

@ JT: Ya. Tren sekarang adalah membuat, bukan mengikuti!

@ budi: Nice satire, Pak! Salam kenal juga! :D

@ sawali: Iya, Pak. Saya setuju dengan idiom itu. Dan sosok dosen yang saya tulis di sini bukankah sudah mirip dengan shi fu itu? Dosen ini memberi kami ilmu, keterampilan, makan, dan penghargaan. Kurang apa? Bahkan tidak semua orangtua dapat bertindak kepada anaknya sendiri seperti yang telah dilakukan oleh dosen ini buat para mahasiswanya.

@ gempur: Hmm … Ya, saya sepakat. Tapi tentunya, baik materi dan rohani perlu didudukkan bersama dengan proporsional.

Maslow punya piramida kebutuhan dengan urutan yang terbawah adalah kebutuhan fisiologis (seperti makan dan minum) dan yang teratas adalah kebutuhan aktualisasi diri (yang memberi kepuasan dari sisi rohani dan psikologis). Dan kebutuhan ini harusnya dipenuhi mulai dari yang terbawah dulu, baru sampai pada tingkat atas. Kalau kebutuhan yang di bawah belum terpenuhi, maka pemenuhan kebutuhan di tingkat yang lebih atas akan terasa tidak berguna.

Orang bisa menjadi seorang filsuf besar yang pemikirannya dipuja-puja seluruh dunia, tapi kalau selama hidupnya dia selalu kelaparan, kesepian, dan sebagainya, sudah tentu popularitasnya tidak akan membuat dia begitu senang menjalani hidup.

Saat ini, yang kudunya dicukupi terlebih dahulu dari masyarakat kita adalah kebutuhan fisiologis. Dibantu dulu dari sisi materi, baru diberi sisi rohani. Kita tidak bisa melangkahkan dua kaki secara bersamaan kan?

[...] Giliran ketiga adalah giliran JT. Dia didaulat untuk menceritakan dan memprofilkan Bistek karena konsep BTC yang ada pada Bistek inilah yang akan dijadikan percontohan nasional oleh Ristek. Apa yang dia sampaikan tidak jauh-jauh dari apa yang pernah saya tuliskan di blog ini beberapa waktu yang lalu. [...]

Untuk materi-materi yang diajarkan di sekolah biasanya memang kebanyakan teori saja, karena kurikulum yang dijadikan acuan pembelajaran di sekolah selama ini adalah warisan peninggalan belanda dulu. Tak bisa dipungkiri, memang waktu itu bangsa kita tidak bisa membuat kurikulum sendiri.

Alhasil, dari pembelajaran yang penerapannya menggunakan kurikulum yang kebanyakan teori itu, lulusan yang dihasilkan bukanlah tenaga yang benar-benar siap pakai di dunia kerja. Sehingga mereka harus mengikuti kursus di luar sekolah guna menambahkan skill mereka agar menjadi tenaga yang siap pakai.

Namun sekarang sudah mulai nampak ada perubahan. Di beberapa sekolah terutama sekolah tempat saya mengajar sudah menerapkan adanya keseimbangan antara teori dan praktek dalam pembelajaran. Diharapkan para lulusan sekolah tersebut sudah mempunyai bekal, paling tidak punya bekal untuk memasuki dunia kerja.

Edi Psw’s latest post: Menyembunyikan Halaman PHP

@STR: saya jadi teringat Nietsche, manusia paling pongah sedunia, terlepas dari hiudpnya yang sepi dan menyakitkan, dia menikmati [mungkin juga terpaksa menikmati] hingga kematian menjemputnya.. ah, kenapa jadi mikir dia yah…

Gini mas! saya juga sepaka dengan sampean, ning ono sing ngganjel, maksud saya, harus ada perhatian dari pemerintah secara serius untuk beberapa jurusan yang sangat murni keilmuan dan vital bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan juga untuk pemerintah, di mana mereka harus menjamin kelangsungan hidup para penuntut ilmunya..

Sehingga, kebutuhan masyarakat akan ilmu itu tetap terjaga dan bagi yang memelajarinya tak khawatir akan kelanjutan hidup mereka di masa mendatang..

Satu hal yang pasti, saya sepakat untuk jurusan yang murni teknis, butuh praktik yang nyambung dengan kebutuhan dunia industri juga bidang ekonomi yang bagi saya untuk saat ini harus bertumpu pada menciptakan lapangan kerja dan bukan mencari kerja..

Sementara itu dulu, nanti disambung lagi..

gempur’s latest post: Political Will untuk Petani?

[...] STR tentang “Guru yang baik adalah guru yang menggaji muridnya : Kuantitas lawan Kualitas” di sini? Pernahkan membaca tulisan Siwi tentang “Sekolah gratis? Emang ada?” di sini?  Dan tentang [...]

@ Edi Psw: Waktunya perubahan!

@ gempur: Iya, Pak. Pemerintah juga selama ini kurang perhatian terhadap ilmu-ilmu dasar (seperti filsafat), yang notabene adalah akar dari ilmu-ilmu yang lain. Tapi, kalo nunggu pemerintah yang gerak, rasanya juga ndak akan pernah jalan itu. Ada ide?

Post a comment