Holland Dalam Bayangan

Andaikata aku punya kemampuan (juga kesempatan) untuk sekolah di Eropa dan diberi tiga pilihan antara Perancis, Belanda, dan Skotlandia, kemungkinan besar aku akan mencoba negeri yang kedua.

Neil Rupidara, dosenku di Fakultas Ekonomi, pernah menceritakan pengalamannya tatkala studi master di Universitas Groningen. Pada semester pertama, dia dan teman-temannya mengambil jumlah beban kredit standar, yakni empat matakuliah. Jumlah ini terbilang sedikit jika dibandingkan dengan beban standar di Indonesia, yang biasanya mencapai enam matakuliah per semester — dengan asumsi beban rata-rata tiap matakuliah adalah 3 SKS. Namun, dengan jumlah matakuliah yang lebih sedikit tersebut, ternyata Neil dan teman-temannya hampir tidak sanggup mengelola waktu belajar dengan baik, karena beban belajar yang tinggi. “Dosen selalu kasih tugas terstruktur. Walau waktu itu dua minggu satu kali, tapi untuk mengerjakannya, ya waktu selama dua minggu itu terpakai full,” tulis Neil dalam surat elektroniknya.

Ketika semester kedua tiba, tak ada mahasiswa yang berani ambil empat matakuliah, kata Neil. Dia sendiri hanya mengambil tiga. Hanya beberapa mahasiswa baru dari Perancis dan Skotlandia — semester satu mereka ditempuh di sana — yang mencoba mengambil beban “standar” tersebut. Ternyata, belum ada separuh semester, menurut Neil, para mahasiswa baru dari Perancis dan Skotlandia itu langsung drop satu matakuliah, karena tak tahan dengan beban belajar ala Belanda. “Di Perancis, modelnya gaya MBA lebih banyak diskusi di kelas dan kurang tugas-tugas paper seperti di Belanda. Di Skotlandia juga kira-kira begitu,” kata Neil.

Dalam memoar singkatnya yang ditulis untuk media mahasiswa Fakultas Ekonomi, Neil menerangkan bahwa sejak hari pertama kuliah, dosen-dosennya langsung “membanjiri” para mahasiswa dengan bahan-bahan kuliah dan tugas. Selebihnya, dosen hanya memberi fondasi materi kuliah semester itu dan pengenalan atas konsep-konsep kunci. “Dari hari pertama kuliah kami tahu bahwa dua dari empat matakuliah itu menuntut kami mendapat giliran presentasi berdasarkan penugasan masing-masing kelompok, berselang-seling dengan kuliah dosen.” Model spartan ini, menurut Neil, juga diterapkan pada mahasiswa strata satu, karena pada beberapa matakuliah, kelas master digabung dengan kelas sarjana. “Jadi, artinya setiap minggu = baca, baca, baca, tulis, tulis, tulis, diskusi, diskusi, diskusi.” Demikian tulis Neil pada memoar tersebut.

Cerita Neil mungkin benar mungkin salah. Aku tak tahu pasti. Di milis Centre for the Betterment of Education, seorang pakar pendidikan bernama Ahmad Rizali — alumni Universitas Strathclyde, Glasgow — melontarkan klaim bahwa kinerja riset dan publikasi jurnal universitas di negara-negara seperti Jepang, Perancis, dan bahkan Jerman kalah dari universitas di Britania Raya. Sedangkan pemeringkatan Times Higher Education tahun 2008 menunjukkan posisi universitas-universitas Skotlandia tak seberapa ketinggalan dari universitas Belanda. Universitas Amsterdam (top Belanda) duduk di peringkat 53 dunia, 20 tingkat lebih tinggi dari Universitas Glasgow (top Skotlandia). Sedangkan École Normale Supérieure (top Perancis) bertengger di peringkat 28. Jadi kalaupun aku percaya pada pemeringkatan ini, mungkin pilihanku untuk Belanda juga sudah tepat. Ia tidak terlalu “tinggi”, juga tidak terlalu “rendah”.

Dosenku yang lain, Marthen nDoen, mengatakan bahwa Institut Tinbergen di Amsterdam adalah salah satu pelopor di bidang penelitian ekonofisika. Tinbergen adalah sekolah pascasarjana yang didirikan secara bersama-sama oleh Universitas Erasmus, Universitas Amsterdam, dan Universitas Vrije pada tahun 1987. Namanya diambil dari Jan Tinbergen, seorang ekonom Belanda yang memenangkan Nobel Ekonomi pertama (berbagi dengan Ragnar Frisch) atas usahanya membangun dan menerapkan model ekonometrika dalam analisis proses ekonomi. Kini, saat metrik matematis tak lagi memadai untuk menjelaskan berbagai gejala ekonomi yang tak linier, orang-orang mencoba berpaling pada mekanika statistik fisika.

Aku memang menyimpan ketertarikan pada ekonofisika. Percikan pesonanya aku dapat ketika membaca salah satu buletin terbitan Bandung Fe Institute, yang khusus membahas soal bidang ini, akhir tahun lalu. Aku sadar, rumus-rumus dan model ekonomi Newtonian yang dikuliahkan para dosenku di depan kelas selama ini sudah ketinggalan jaman. Dan bertahan pada hal semacam ini cuma akan “membawa ilmu ekonomi pada kebuntuan”, seperti kata Fritjof Capra.

Namun aku ingin ke Belanda bukan hanya untuk ekonofisika. Hasrat terbesar sebenarnya ada pada ikatan sejarah Indonesia-Belanda, yang senantiasa dikisahkan dengan getir pada buku paket sekolah.

Belanda menjajah Nusantara selama tiga setengah abad, katanya. Dan aku ingin mengindera langsung seperti apa rupa dan nuansa negeri yang disebut “penjajah” itu. Lewat film dokumenternya, wartawan John Pilger menyebut penghisapan Belanda terhadap Indonesia saat itu sebagai “hutang yang hingga kini belum juga terbayar”. Dalam biografi Soekarno, orang-orang Belanda dikisahkan sebagai manusia setengah iblis yang “tegaan” terhadap kaum Bumiputera. Pada buku The History of Java, Thomas Raffles mencoba menampilkan kesan bahwa orang Inggris memiliki persepsi yang simpatik terhadap orang Jawa — bertolak belakang dengan persepsi Belanda terhadap Jawa.

Namun kebanyakan orangtua yang pernah aku ajak bicara mengakui jasa besar Belanda di bidang pendidikan, juga transportasi. Jalur-jalur kereta di Jawa saat ini sebagian besar warisan Belanda, kata mereka. Dan sayang kita tak dapat merawatnya, sesal yang lain. Nenekku, yang semasa mudanya bekerja sebagai perawat di rumah sakit Belanda, menyaksikan bahwa dirinya tak pernah mendapat perlakuan buruk dari orang-orang Belanda di sekitarnya. Dan terbukti, para sarjana lulusan jaman koloniallah yang berhasil memerdekakan Indonesia — sementara para sarjana lulusan rejim nasional saat ini, menurutku, lebih “memble”, dan mengkukkan Indonesia (terutama perekonomiannya) pada berbagai pengaruh asing!

Lalu mau apa aku ini sebenarnya? Aku sendiri tak yakin. Jika ekonofisika dapat membantu manusia memahami kompleksitas perekonomian dengan peran setiap agen di dalamnya (birokrat pemerintah, pengusaha, buruh — George Aditjondro pernah menulis buku tentang kembar siam politik-ekonomi, sementara politik sendiri merupakan produk pendidikan) mungkin para ekonofisikawan di Tinbergen bisa membantu menjelaskan kompleksitas perekonomian Indonesia abad ini. Atau aku hanya akan meresapi nuansa Belanda, lalu mereka-reka jawabannya dengan intuisi saja.