Homo Senilis

mbabuAnda Lebaran dimana tahun ini? Saya di puncak Merbabu. Meski dalam perjalanan pulang sempat tersesat sendirian hingga harus babat alas tanpa parang, berkat bantuan seorang teman saya tetap bisa selamat sampai basecamp Thekelan.

Lebaran biasanya identik dengan silaturahmi dan maaf-maafan. Maka saya anggap saja Lebaran di Merbabu sebagai simbol pendamaian (kembali) antara manusia dengan alam. Klise?

Memang.

Ingatlah bagaimana bangsa yang “religius” ini masih terlampau giat dalam eksploitasi sumberdaya alam (demi kepentingan satu atau dua golongan), juga modernisasi yang sangat bersifat polutan. Ini terkesan menggeneralisir, memang. Tidak seratus persen tepat, meski juga tak melenceng sepenuhnya. Anda kira-kira sendirilah pasnya bagaimana.

Yang jelas, momen Lebaran adalah momen peringatan. Peringatan bahwa pada hakikatnya manusia tak pernah bisa lepas dari kesalahan (juga kebetulan), dan karenanya tak perlu “gengsi” untuk sekadar maaf-maafan. Peringatan bahwa dalam setiap kata maaf senantiasa terselip kesempatan untuk belajar, belajar dari kesalahan. Peringatan menjadi perlu karena kita sebagai manusia bijak (Homo sapiens) punya sisi lain sebagai manusia pikun (Homo senilis).

Momen Lebaran tidak kita perlukan setahun sekali, melainkan setiap hari — meski tanpa ketupat dan opornya. Minal ‘Aidin wal-Faizin.