Identitas Manusia Satya Wacana

Alkisah hiduplah seorang mahasiswa bernama Yodie Hardiyan. Dia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana angkatan 2006, sama dengan saya. Sekitar sebulan yang lalu, Yodie membawakan makalah diskusi bulanan Kelompok Diskusi In(ter)disipliner. Dia bicara panjang lebar soal Kredit Keaktifan Mahasiswa — di FE itu disebut “point card” — hal yang sepertinya sudah jadi keprihatinannya sejak lama.

Apa yang saya simpulkan dari paparan Yodie waktu itu adalah kehadiran Kredit Keaktifan Mahasiswa ternyata semakin memperparah “budaya seolah-olah” di Satya Wacana. Di FE pernah ada satu kuliah umum diikuti oleh ratusan mahasiswa, sehingga Museum Rekor Indonesia pun merasa perlu memberi penghargaan kuliah itu sebagai “kuliah umum dengan peserta terbanyak”. Dan, tentu saja, ini mengundang liputan media massa. FE UKSW ditampilkan sebagai (seolah-olah) salah satu fakultas terdinamis di UKSW. Mahasiswanya haus kegiatan semua. Begitu haus ilmu, sampai-sampai satu kegiatan bisa diikuti ratusan orang, sampai-sampai dapat rekor MURI. Itulah citra yang tergambar di media massa. Indah memang.

Padahal saya tahu, itu semua bohong-bohongan saja. Saya tahu bahwa saat “kuliah umum” itu sudah dimulai, ada beberapa panitia masih pontang-panting lari keliling kampus buat menjaring peserta. Ternyata jumlah peserta yang sudah masuk masih belum memenuhi kuota pemecahan rekor. Bujuk rayu pun dilancarkan: ada konsumsi mewah, ada kredit poin, gratis pula. Akhirnya kuota terpenuhi dan rekor terpecahkan.

Ini sih bukan kuliah, tapi pecah-pecahan rekor, begitu pikir saya waktu itu.

Saya pikir akan lebih sulit buat panitia waktu itu untuk mencapai kuota jika tak ada kredit poin. Sekadar informasi, kredit poin (istilah populer Kredit Keaktifan Mahasiswa) adalah salah satu piranti sakti untuk memobilisasi massa di Satya Wacana. Bikin saja kegiatan dan jangan lupa cantumkan iming-iming poin pada media publikasi. Pasti banyak mahasiswa bersedia jadi peserta, sekalipun harus bayar. Makanya di FE sempat terjadi kasus “jual-beli poin”. Kegiatan yang sudah penuh dan ditutup pendaftarannya, masih terbuka untuk mahasiswa yang butuh poin, meski mereka harus membayar lebih mahal untuk kontribusi kegiatan. Tapi coba saja bikin kegiatan (gratis) tanpa iming-iming poin, pasti jumlah mahasiswa yang berminat jadi peserta tidak lebih banyak dari jari tangan. Saya sudah pernah coba.

Jadi siapa bilang mahasiswa butuh kegiatan? Siapa bilang mahasiswa butuh ilmu? Mahasiswa itu butuh poin!

Mahasiswa butuh kredit poin karena itu menjadi syarat kelulusan. Mahasiswa butuh kredit poin karena takut nanti tidak bisa ikut ujian. Kalau tidak bisa ujian, tidak bisa lulus. Kalau tidak bisa lulus, nanti tidak bisa cari kerja. Kalau tidak dapat kerja, hidup serasa di neraka. Begitu bukan logika mahasiswa Satya (kebanyakan)?

Hal yang sama dengan kredit poin (namun lebih terlembaga) adalah perkuliahan intrakurikuler kita. Mahasiswa harus melalui tahap belajar ini-itu, begini-begitu, dengan berbagai macam ukuran dan peraturan yang sudah diwahyukan oleh fakultasnya masing-masing, untuk bisa lulus dan mendapat secarik kertas sakti bernama Ijazah. Ijazah ini nanti akan berguna sekali untuk menaklukkan hati calon mertua, untuk mendapatkan Ijab Sah. Sehingga kalau mau mendapat Ijab Sah itu tadi, mematuhi wahyu fakultas menjadi salah satu sunnah bagi para mahasiswa.

Mahasiswa diminta untuk manut wae, pasrah bongkokan, dan tidak neko-neko. Sudah ada rel gaftar alir matakuliah yang dipasang oleh fakultas. Dan rel ini adalah kebenaran mutlak karena diturunkan sebagai wahyu, sementara fakultas adalah tuhannya. Anda tinggal ikuti rel itu saja dan niscaya tidak akan kesasar, tapi masuk jurang.

Saya tahu kok ada banyak lulusan Satya menganggur. Dan lebih banyak lagi yang stres cari kerja. Barusan juga saya baca di milis Ikatan Alumni Satya Wacana bahwa ada staf HRD sebuah perusahaan yang berkeluh tentang lulusan Satya ber-IPK nyaris sempurna, tapi minim ide di bidang studinya. Oh, mungkin itu karena si lulusan cuma ber-IPK nyaris sempurna, dan belum sempurna. Coba kalau sempurna, pasti tidak begitu. Andia, kalau Anda mau kaya ide di bidang studi Anda, Anda harus jadi tuhan, setidaknya tuhan dalam kriteria fakultas Anda, tuhan Anda. Anda harus ikuti rel itu tadi dengan sepenuh hati, agar bisa masuk jurang dengan sepenuh hati pula. Kalau masuk jurangnya sepenuh hati, bisa langsung mati tanpa harus kesakitan dulu. Jadi, ya selamat tinggal, tuhanku sayang …. :)

Kenapa sih seperti ini? Kenapa banyak lulusan Satya nganggur dan stres cari kerja (dan nggak dapat-dapat pula)? Kenapa ada lulusan ber-IPK nyaris sempurna, tapi miskin ide di bidangnya? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Saya menduga-duga dalam permenungan saya, jangan-jangan sistem perkuliahan intrakurikuler kita yang kelewat sophisticated itulah biang keroknya.

Sadari saja, mahasiswa Satya kuliah dengan beban ratusan SKS, matakuliah wajib aneh-aneh dari A sampai Z, gaftar alir serumit rangkaian PCB, apalagi? Nanti dalam setiap perkuliahan, setiap dosen juga punya aturan pribadi, mulai dari aturan berbusana sampai aturan penjatahan nilai. Ini belum ditambah kewajiban lain sebagai warganegara Satya Wacana yang baik dan benar, seperti ikut-ikut kegiatan-kegiatan untuk mengumpulkan poin kredit keaktifan.

Kuliah di Satya terlalu banyak aturan. Dan setiap aturan selalu ditegakkan di atas ukuran yang ujung-ujungnya cuma goresan nilai di atas kertas thok!

Makanya banyak mahasiswa Satya jadi manusia “pencari nilai”. Nilai A di transkrip, dan bukan nilai-nilai kemanusiaan, keilmuan, maupun kasih yang selalu digembar-gemborkan Kekristenan. Mereka pikir kadar kemanusiaan adalah abjad yang termaktub dalam transkrip untuk matakuliah Kewarganegaraan. Kadar keilmuan dari abjad matakuliah Filsafat dan Metodologi Penelitian, dan kadar kasih dari matakuliah Etika Kristen.

Karena memang itulah yang dikehendaki oleh tuhan kita, fakultas kita. Anda bisa saja punya kemampuan berfilsafat oke, tapi kalau Anda tidak ambil matakuliah Filsafat dan dapat nilai bagus, ya jangan harap bisa lulus. Sementara yang diajarkan pada matakuliah itu adalah sejarah tentang filsafat, dan bukan cara berfilsafat. Padahal sejarah tentang filsafat cuma hapalan, sementara berfilsafat adalah sebuah laku kehidupan. Ngelmu kuwi tinemune kanthi laku, kata orang Jawa. Jadi kalau Anda tidak melakukan kegiatan berfilsafat, Anda sebetulnya sedang tidak belajar filsafat. Tapi meski begitu, Anda masih bisa dapat nilai A. Caranya dengan menghapal setiap titah dosen (yang dalam hal ini adalah tuhan di kelas), lalu menyalinnya ulang di atas kertas ujian. Ikuti perintahnya dan jauhi larangannya, maka nilai A ada di tangan … eh, di transkrip — kecuali dosen Anda adalah tuhan yang tidak konsekuen.

Dan ini berlaku buat semua matakuliah. Makanya lulusan Satya bisa punya IPK nyaris sempurna, tapi ilmunya jeblok. Karena semasa kuliah dia memang tidak pernah melakoni ilmunya dengan sadar, tapi hanya atas dasar membebek dosen. Dosen Anda suka dibebek karena dia adalah bebek. Dan kalau Anda suka membebek pada bebek, ya simpulkan sendiri. Masih untung kalau cuma bebek dan bukan bebek angsa, sehingga tidak saya potong dan masak di kuali.

Haruskah pendidikan tinggi di Satya Wacana diselenggarakan dengan cara demikian? Terlalu banyak aturan, padahal profil lulusan yang didamba adalah creative minority. Ini kontradiktif, menurut saya.

Satya Wacana tidak bisa meluluskan seorang kreatif dengan terlalu banyak aturan. Kreativitas adalah sifat alamiah manusia yang melekat karena berpikir ketika menghadapi masalah atau tantangan. Masalah adanya saat ini dan tantangan adanya di masa depan, sedangkan aturan selalu ketinggalan jaman. Jadi buat apa membebani mahasiswa dengan aturan-aturan sebegitu banyak kalau yang kita tuju adalah minoritas kreatif, minoritas berdayacipta?

Aturan dibuat untuk mengatur, menciptakan harmoni dan keselarasan. Tapi kalau kebablasan, maka namanya adalah pemaksaan, bahkan penindasan.

Dalam sistem perkuliahan yang begitu sophisticated, tidak adakah penindasan? Saya rasa banyak. Sistem kita adalah sesuatu yang mekanis, padahal manusianya (baca: mahasiswa) adalah makhluk organis. Akan selalu ada ketidakcocokan, sehingga dibutuhkan kompromi. Dalam kompromi selalu ada pihak yang mengalah. Sing waras ngalah. Dan berhubung yang punya kewarasan adalah mahasiswa, maka ya mahasiswanya yang mengalah, menyesuaikan diri dengan sistem. Tapi karena terlalu banyak mengalah, akhirnya yang waras bisa jadi tidak waras. Mahasiswa jadi gila. Stres karena kuliah. Belajar tidak lagi menyenangkan.

Karena belajar sudah tidak menyenangkan, maka timbul kemalasan. Kemalasan ini, didukung oleh kegilaan tadi, menyebabkan mahasiswa sulit untuk berpikir logis. Mereka ingin jadi orang pintar, tapi malas belajar. Karena itu mereka berpura-pura saja jadi orang pintar. Caranya dengan mencari nilai, nilai di transkrip dan bukan nilai yang esensial. Dan caranya sudah saya sebutkan tadi, yaitu dengan membebek pada dosen. Memang, di luar cara ini, masih ada cara-cara alternatif seperti, misalnya, mencontek, plagiasi, dan jurus-jurus sakti mandraguna lainnya. Tapi karena agama Kristen bilang bahwa mencontek dan plagiasi itu dosa, maka banyak juga mahasiswa kembali ke jalur aman, yaitu jalur bebek, meskipun sekali-sekali mencontek juga. Kan sekali-sekali, jadi cuma dua kali dong …. Tinggal minta maaf sama Tuhan Yesus, pasti dikasih pengampunan dosa. Jadi tetep bisa masuk sorga, kan? :)

Satya Wacana memang bangsa yang religius. Dan religiusitas itulah yang menyelamatkan para mahasiswanya dari jalur dosa kembali ke jalur bebek yang aman-aman saja. Maka di kelas-kelas kuliah kita akan temukan bebek-bebek berwujud manusia. Mereka ini raganya saja manusia, tapi mentalnya bebek. Suka membebek. Dosen juga bebek karena suka sekali kalau dibebek, mendapat pengikut. Jadi lengkap sudah komplotan bebek ini. Mahasiswanya bebek. Dosennya juga bebek.

Dan bebek sama sekali tak punya kesadaran.

.

Sekarang mari kita berjika-jika. Jika mahasiswa Satya Wacana sama dengan mahasiswa bebek, apakah Satya Wacana sama dengan bebek?

Saya jadi ingat pergumulan saya tiga tahun yang lalu, ketika masih mahasiswa baru di Satya. Saya mendebatkan dalam pikiran saya sendiri tentang apa arti Satya Wacana. Saya adalah mahasiswa Satya Wacana. Satya Wacana adalah bagian dari identitas saya. Jika saya tak tahu apa itu Satya Wacana, maka itu artinya saya tak mengenali diri saya sendiri.

Jadi apa itu Satya Wacana?

Orang-orang bilang Satya Wacana adalah “setia kepada Firman Tuhan”. Kalau begitu, apa itu Firman Tuhan? Orang-orang Kristen bilang Firman Tuhan adalah apa yang tertulis di Alkitab. Alkitab adalah kumpulan Firman Tuhan, dan kita harus setia kepadanya. Begitu kata orang-orang. Jadi kalau Yesus memerintahkan Anda untuk berjalan sejauh dua mil bersama orang yang meminta Anda berjalan satu mil, ya Anda harus lakukan itu. Tidak kurang tidak lebih.

“Lho? Ya jangan saklek begitu. Firman Tuhan kan perlu kita interpretasikan juga sesuai kondisi kita sekarang. Makanya kita kenal hermeneutika,” kata Pak Tua dalam pikiran saya.

Kalau kata-kata Pak Tua itu benar, maka sebaiknya Satya Wacana ganti nama saja, menjadi Satya Tafsiran Wacana. Karena Firman Tuhan jelas sudah beda dari interpretasi tentang Firman Tuhan. Kalau perintah Alkitab kita tafsir dulu baru kita jalankan, mana yang sebenarnya kita ikuti? Perintah Alkitab atau tafsiran kita tentang perintah Alkitab?

Ah, mungkin Alkitab bukan kumpulan Firman Tuhan, tapi cuma kumpulan catatan tentang Firman Tuhan. Tapi apa bedanya Firman Tuhan dengan catatan tentang Firman Tuhan?

Para praktisi jurnalisme mungkin bisa menjawab pertanyaan ini.

Andaikan saja bahwa saya adalah wartawan yang sedang berhadapan dengan seorang narasumber. Saya akan melakukan wawancara lisan untuk topik yang sedang saya liput. Sebagai alat bantu, telah saya siapkan satu buah buku, satu buah pena, dan satu buah perekam.

Alat perekam saya hidupkan. Klik. Saya mulai mengajukan pertanyaan, dan si narasumber menjawab. Saya mulai mencatat kata-katanya di buku. Pita kaset perekam saya biarkan jalan terus. Wawancara selesai.

Mana sebenarnya yang merupakan kata-kata si narasumber?

Yang dia ucapkan sendiri, yang tercatat di buku, atau yang terekam di pita kaset? Jawabannya sudah pasti adalah yang dia ucapkan sendiri pada waktu itu juga. Itulah kata-katanya. Yang tercatat di buku hanyalah catatan kata-katanya. Dan yang terekam di pita kaset hanyalah rekaman kata-katanya. Jadi ada tiga entitas berbeda di sini, yakni kata-kata, catatan kata-kata, dan rekaman kata-kata. Dan karena ketiganya merupakan entitas yang berbeda, maka wajar jika nantinya timbul perbedaan isi. Saya mungkin bisa salah tulis. Perekam saya bisa saja menangkap suara lain, hingga suara narasumber tidak terekam jelas. Yang jelas, perbedaan terbesar dari ketiga entitas tersebut adalah keberadaannya. Kata-kata si narasumber hanya ada ketika dia mengucapkannya pada waktu itu juga. Setelah itu lewat, ya sudah, tidak ada lagi, hilang bersama waktu. Tapi catatan dan rekaman kata-katanya masih ada dan bisa diakses orang lain, di waktu yang lain.

Apakah Alkitab bisa kita pandang seperti itu? Sebagai catatan Firman Tuhan saja? Dan bukan Firman Tuhan itu sendiri? Karena di Alkitab tertulis bahwa Yesus berkata begini dan begitu. Firman adalah kata-kata. Apakah Alkitab sekadar kumpulan catatan kata-kata Yesus?

Saya kira tidak juga.

Pandangan seperti itu bahkan terlalu “tinggi” buat Alkitab. Karena ternyata Alkitab tidak hanya terdiri dari Injil, dan Injil tidak melulu Yesus berkata ini dan itu. Bagian yang menceritakan bahwa Yesus berkata ini dan itu mungkin bisa dianggap sebagai catatan kata-kata Yesus, Tuhan orang Kristen. Tapi yang bukan?

Baca saja kata-kata Paulus di 1 Korintus 7:12. “Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan ….”

Bahkan Paulus sendiri mengakui bahwa kata-katanya bukan kata-kata dari Tuhan. Tapi kenapa orang Kristen selalu menyebut surat-surat Paulus sebagai Firman Tuhan? Mari, bapak ibu sekalian, kita baca Firman Tuhan yang terambil dari Galatia pasal sekian dari ayatnya yang kesekian sampai selesai. Kita baca bersama-sama. Satu, dua, tiga. Bla bla bla bla bla. Itulah yang sering saya dengar di gereja.

Apakah Paulus adalah Tuhan?

Kalau Paulus bukan Tuhan, maka saya tentu tidak berani mengklaim bahwa Alkitab adalah kumpulan catatan Firman Tuhan. Lalu apa dong?

Bagi saya, Alkitab tak lebih dari sekadar buku sejarah. Dan yang namanya buku sejarah sudah pasti tidak dapat dibuktikan kebenaran maupun kesalahannya. Orang hanya bisa percaya. Karena fakta-fakta yang tertulis sudah lewat dan tak bisa diulang. Bisanya hanya direka ulang dan berdasarkan pada katanya. Katanya Alkitab begini, katanya orang begitu. Meski saat ini ada saksi mata yang memberatkan kesaksian Alkitab soal penyaliban Yesus, misalnya, kita pun hanya bisa memilih untuk percaya. Percaya si saksi mata, atau tetap percaya Alkitab? Semua sekadar kepercayaan. Karena kita tidak mengalami sendiri peristiwa penyaliban itu. Dan keberadaan peristiwa itu tak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Semua memang tidak perlu dan tidak harus dibuktikan secara ilmiah. Oleh karena itu, apologis Josh McDowell menggunakan metode historis-legal untuk “membuktikan” kesaksian Alkitab. Membuktikan dalam tanda kutip, karena sebenarnya yang dilakukan McDowell hanyalah menunjukkan seberapa wibawakah kesaksian Alkitab sehingga layak untuk dipercaya. Sekali lagi, percaya.

Dan kepercayaan adalah melulu sebuah pilihan. Kita bisa bebas memilih untuk mempercayai sesuatu atau tidak. Tidak ada yang salah dalam hal mempercayai. Tapi juga tidak ada yang benar. Yang ada hanyalah ketidaktahuan.

Kalau benar dan salah sesuatu itu dinilai dari fakta, maka kita perlu mengalami fakta itu sendiri, sebelum akhirnya menjatuhkan penilaian. Dalam ketidaktahuan, penilaian benar dan salah mengandung risiko besar untuk menyimpang dari yang sebenarnya. Berani ambil risiko?

Saya berani. Karena itulah saya memilih untuk mempercayai kesaksian Alkitab soal Yesus, bahwa dua ribu tahun yang lalu ada seorang yang bernama Yesus Kristus, yang mati disalib, dikuburkan, bangkit lagi, lalu naik ke sorga di hadapan publik.

Tapi pertanyaan saya soal Firman Tuhan belum juga terjawab.

Kalau Alkitab cuma buku sejarah, lalu Firman Tuhan itu yang mana? Kalau Tuhan adalah Yesus dan Firman adalah kata-kata Yesus, apakah itu berarti Firman Tuhan hanya ada saat Yesus berada di bumi? Jika demikian, berarti Firman Tuhan itu telah lewat dan tak ada lagi. Yang ada hanyalah beberapa penggal catatannya yang termaktub dalam buku sejarah bernama Alkitab. Lalu apa yang hendak disetiai oleh Satya Wacana? Setia pada catatan Firman Tuhan?

Saya tak dapat menjawab pertanyaan ini. Saya menyerah untuk membongkar makna Satya Wacana. Dan saya tetap tinggal pada ketidaktahuan. Ketidaktahuan akan identitas diri saya sendiri.

Inilah yang saya anggap sebagai krisis identitas. Dan orang yang punya krisis identitas adalah orang yang bingung sekaligus linglung. Dia tak tahu darimana dia berasal dan kemana dia akan pergi. Dia tak punya dan tak tahu arah. Akhirnya ya membebek, seperti bebek-bebek itu tadi. Mudah dimobilisasi oleh piranti sakti semacam kredit poin. Takut berbeda pendapat dengan dosen karena nanti nilainya jelek di transkrip. Dan setia pada rel gaftar alir matakuliah yang menuju ke jurang.

Barangsiapa tidak ingin jadi bebek, perlu sadar tentang identitasnya sendiri. Berhubung saya tidak mampu mengetahui identitas saya sebagai mahasiswa Satya Wacana, saya lepaskan saja identitas itu dan memutuskan untuk jadi manusia saja. Tanpa embel-embel Satya Wacana lagi.

Lalu apa itu manusia?

Oleh kesepakatan bahasa nenek moyang kita, mahkluk-mahkluk ganteng dan cantik seperti kita disebut manusia. Para biolog menggolongkan spesies kita ke dalam taksonomi mereka dengan tatanama binomial Homo sapiens, yang oleh kaum Darwinis dianggap sebagai keturunan kera. Kowe iku anake kethek. Itu pelajaran bahasa Jawa. Apakah Darwin bersekongkol dengan orang Jawa? Saya tidak tahu.

Dan saya juga tidak tahu apakah Darwin mengalami sendiri peristiwa evolusi kera-manusia itu sehingga bisa berkata bahwa kita adalah keturunan kera. Saya tidak tahu, dan saya hanya bisa percaya. Tapi saya memilih untuk tidak percaya.

Saya berpaling pada buku. Ada buku agama yang berpendapat bahwa manusia adalah ciptaan yang segambar dan serupa dengan Tuhan. Lha Tuhan itu apa? Kalau saya tahu Tuhan itu apa, mungkin saya bisa tahu bagaimana mendapat Firman Tuhan di sini dan sekarang. Tapi saya tetap tidak tahu Tuhan itu apa, maka saya lanjut membaca.

Kelanjutannya, saya bertemu Sigmund Freud yang bicara soal id, ego, dan superego. Lalu juga Carl Jung yang bilang bahwa manusia punya kesadaran dan ketaksadaran, Eric Berne yang mencetuskan analisis transaksional, sampai Buddhisme yang punya konsep tentang pencerahan yang sukar saya cerna.

Jauh lebih gampang mengalami pencerahan, ketimbang mencerna konsep tentang pencerahan.

Bersama Petrus Wijayanto, seorang dosen FE UKSW, saya berkenalan dengan Kawruh Jiwa. Kawruh artinya “pengetahuan”.

Pengetahuan timbul dari tahu. Tahu terjadinya di sini, sekarang, dan begini. Kalau tahu tapi nanti, berarti masih rancangan. Tahu tapi tadi, artinya sudah menjadi ingatan. Orang memang suka merancang masa depan, dan mengingat-ingat masa lalu. Biar saja. Suka-suka orangnya.

Tahu berarti ada yang mengetahui dan ada yang diketahui. Juga ada proses mengetahui. Saya tahu ada laptop di hadapan saya dengan melihat. Saya adalah yang mengetahui. Laptop adalah yang diketahui. Melihat adalah proses mengetahui. Dan saya dan laptop adalah dua entitas berbeda. Saya bukan laptop dan laptop bukan saya. Yang mengetahui tidak sama dengan yang diketahui.

Sebagai manusia, saya tahu bahwa saya punya pikiran, ingatan, perasaan, dan sensor indrawi. Bisa terasa jelas perbedaannya. Ketika saya sedang berpikir, rasanya beda dari mengingat, beda juga ketika saya sedang kecewa. Rasanya melihat sudah pasti beda dari menyentuh, atau mendengar. Tapi semua rasa itu satu adanya dalam diri manusia. Mereka tidak pisah, tapi pilah. Kebenarannya silakan Anda cek sendiri sekarang. Apakah betul Anda punya pikiran, ingatan, perasaan, dan sensor indrawi?

Kalau dilanjutkan, Anda akan merasakan juga bahwa ada keinginan. Anda ingin makan. Anda ingin tidur. Anda ingin lulus kuliah. Anda ingin membolos. Anda sedang naksir dosen Anda dan ingin tidur bareng dengan dia. Anda tahu bahwa Anda punya keinginan. Dan kadang keinginan itu saling bertentangan. Anda ingin lulus kuliah, tapi tidak ingin masuk kelas. Inginnya main saja setiap hari. Tidak usah belajar, tapi bisa jadi sarjana. Itu contoh. Apakah Anda tahu bahwa Anda punya keinginan?

Kalau iya, kembalilah ke rumus pengetahuan tadi, bahwa yang mengetahui tidak sama dengan yang diketahui. Ketika Anda tahu bahwa Anda punya keinginan, apakah Anda yang tahu sama dengan Anda yang punya keinginan? Tentu saja tidak. Ada dua Anda di sana.

Aku tahu aku sedang marah, misalnya.

Aku yang tahu bahwa aku sedang marah bukanlah aku yang sedang marah. Ada dua aku di sana. Aku yang tahu dan aku yang sedang marah. Dalam konsep Kawruh Jiwa, aku yang tahu itu disebut Aku Tukang Nyawang (nyawang artinya “melihat”), sedangkan aku yang sedang marah disebut Aku Kramadangsa. Si Kramadangsa ini bisa marah, senang, sedih, pusing, lapar, lelah, dan sebagainya. Sedangkan si Tukang Nyawang hanya “melihat”, mengetahui tindak tanduk si Kramadangsa.

Kramadangsa adalah zat, raga badaniah. Pikiran, ingatan, perasaan, dan sensor indrawi tercakup di dalamnya, sehingga entitas-entitas itu pada dasarnya bisa diteliti secara biologis seperti kata para psikolog biologis. Pikiran bukanlah sesuatu yang independen dari tubuh kita.

Kramadangsa selalu digerakkan keinginan (dalam bahasa Jawa disebut “karep”). Karep ini disebut oleh pelajar Kawruh Jiwa sebagai energi, dan sifatnya melekat (inheren) dalam zat Kramadangsa. Hal ini sesuai dengan pernyataan fisikawan Fritjof Capra dalam buku The Tao of Physics, bahwa gerak adalah unsur intrinsik materi. Manusia hidup, kramadangsanya selalu bergerak, karena hidup memang adalah gerak. Jika ada manusia tidak bergerak, maka sebutannya bukan manusia lagi, tapi mayat alias sudah mati. Orang mati sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi. Mau dikubur silakan, dikremasi juga tidak bakal protes.

Jadi, yang namanya manusia itu pasti makhluk hidup. Tersusun dari zat (Kramadangsa). Memiliki pikiran, ingatan, perasaan, dan sensor indrawi. Digerakkan keinginan, dan memiliki Aku Tukang Nyawang. Inilah identitas manusia menurut konsep Kawruh Jiwa.

Para pelajar Kawruh Jiwa sangat menekankan pentingnya menyadari keberadaan si Tukang Nyawang untuk mengetahui segenap tindak-tanduk Kramadangsa. Ketika Anda sedang marah, ketahuilah bahwa Anda sedang marah. Dan setelah tahu bahwa Anda sedang marah, tanyalah pada diri sendiri kenapa Anda marah. Gunakan pikiran. Apakah marah itu perlu? Apakah marah menyelesaikan masalah? Atau malah akan menambah masalah? Jika hubungan sebab-akibat antara kemarahan dan penyebab marah telah jelas, maka yang muncul hanyalah pilihan, mau terus marah atau berhenti marah? Di sinilah pikiran kembali mengambil peran. Kalau mau berhenti marah, ya penyebab marah itu ditinggalkan. Dan Anda tidak lagi marah. Itu contoh dalam rangka pengendalian diri.

Kasus-kasus lain bisa jadi lebih rumit, sehingga kadang kita bisa temui situasi dimana kita tak tahu lagi apa keinginan kita sendiri. Saya tidak tahu apa mau saya. Begitu misalnya. Hal ini bukan berarti si Tukang Nyawang tidak sedang aktif atau “merem” terhadap keinginan itu, melainkan hanya karena keterbatasan pikiran dalam menangkap “informasi” dari si Tukang Nyawang. Dan keterbatasan ini semata-mata perkara kebiasaan saja. Orang yang pikirannya makin sering tertuju pada si Tukang Nyawang, akan semakin mudah mengetahui. Caranya ya dengan sadar. Saya sadar saya sedang marah. Dan kenapa saya marah? Jawabannya didapat ketika kita menyadari keberadaan Tukang Nyawang dan memperhatikan “informasi-informasi” darinya.

Jadi siapa sebenarnya tokoh bernama Tukang Nyawang ini?

Ki Wagiman Danu Rusanto, seorang tokoh pelajar Kawruh Jiwa, menyebut Tukang Nyawang sebagai “Yang Ada”. Pengertian ini mirip dengan konsep Tuhan menurut orang Israel, yakni Yahweh. Yahweh berarti “Dia Yang Ada”. Nama ini bermula dari pertanyaan Musa ketika bertanya pada Tuhan tentang siapa jati diri-Nya, dan Tuhan menjawab, “Ehyeh asyer ehyeh.” Aku ada yang aku ada. Namun dalam Alkitab versi Terjemahan Baru yang diterbitkan Lembaga Alkitab Indonesia, frasa tersebut diganti dengan “aku adalah aku”. Dan nama Yahweh diganti dengan “TUHAN” (huruf besar semua).

Sekarang mari kita berspekulasi, bermain othak-athik gathuk. Perhatikan salah satu amsal yang dikutip Satya Wacana sebagai motto: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan.” Karena “TUHAN” sama dengan “Yahweh”, dan “Yahweh” sama dengan “Dia Yang Ada”, maka kita bisa mengganti bunyi Amsal itu menjadi: “Takut akan Dia Yang Ada adalah permulaan pengetahuan.”

Saya juga pernah membaca bahwa kata “takut” pada amsal bukanlah scared, melainkan reverence. Penyeganan. Jadi mari ubah lagi amsal itu hingga menjadi: “Penyeganan akan Dia Yang Ada adalah permulaan pengetahuan.”

Apakah ini cocok dengan pengertian pelajar Kawruh Jiwa?

Para pelajar Kawruh Jiwa akan mengatakan bahwa menyadari keberadaan si Tukang Nyawang itu, Yang Ada itu, adalah permulaan pengetahuan. Karena memang si Tukang Nyawang adalah si Maha Tahu. Dia tahu Anda sedang marah. Dia tahu Anda sedang lapar. Namun si Tukang Nyawang tidak marah dan tidak lapar. Dia hanya tahu saja.

Tapi itu baru permulaan. Dan permulaan pengetahuan bukan pengetahuan. Sehingga jika kita ingin mendapat pengetahuan, maka kita perlu mengarahkan pikiran pada si Tukang Nyawang dan menyadap “informasi-informasi” darinya, serta melakukannya. Maka menyadari keberadaan Yahweh dalam diri kita pun tidak cukup untuk menghasilkan pengetahuan. Jika ingin berpengetahuan, ikutlah Yahweh, sadap firman-Nya dan laksanakan dengan setia. Satya Wacana. Caranya ya dengan menjaga diri tetap sadar. Tidak terbutakan keinginan. Berpikir rasional dalam menghadapi fenomena. Memahami hubungan sebab-akibat. Dan tidak menghakimi dengan dasar ayat-ayat Alkitab. Kasih kok menghakimi? Bukankah ada perintah bahwa setiap hal harus kita uji dengan roh, dan bukan dengan uji literatur? Alkitab kan cuma literatur, sedangkan Yahweh adalah roh, sebagaimana Tukang Nyawang juga dimengerti sebagai roh.

Tapi lantas dimana posisi Yesus jika kita menyembah Yahweh?

Saya tidak tahu. Dan saya hanya bisa percaya pada dokumen-dokumen yang menyatakan bahwa nama Ibrani Yesus adalah Yeshua yang berasal dari frasa Yahweh Shua (artinya “Yahweh adalah keselamatan”). Atas dasar inilah kemudian saya menafsir bahwa Yesus sebenarnya adalah Yahweh sendiri yang menjelma ke dalam rupa manusia. Yesus adalah Bapa dan Tuhan yang dikenal Israel pada masa Perjanjian Lama, namun ditolak pada Perjanjian Baru.

Kalau tafsiran saya benar, maka jelas sudah bahwa Yesus ada dalam diri setiap orang. Tuhan selalu ada beserta kita dan firman-Nya selalu tersedia bagi orang-orang yang mau menyadari keberadaannya. Lebih bagus lagi kalau dilaksanakan dengan setia. Satya Wacana.

SATRIA ANANDITA
Mahasiswa (calon drop-out) FE UKSW

5 Comments

  1. Catatan Pinggir tentang Identitas Manusia Satya Wacana

    Kawans,

    Berkaitan dengan undangan diskusi bulanan kawan-kawan tadi malam tentang tema “identitas Manusia Satya Wacana”, masih ada sedikitnya enam catatan yang mungkin bisa menjadi bahan diskusi dengan bingkai tema yang sama. Catatan yang dimaksud tentu saja berkaitan bukan hendak membidik Satria, tetapi mencoba mengajak peserta diskusi untuk melihat secara lebih “multi-disipliner”.

    Oh ya, catatan ini bukan hanya merujuk pada bahan yang sudah dibuat Satria, tetapi juga mencoba meraup serpihan komentar dan pertanyaan rekan-rekan lain.

    Beberapa catatan tsb adalah:

    Pertama, kalau tak salah tangkap ketika berbicara soal identitas manusia Satya Wacana, tadi malam yang saya bayangkan bukan hanya sekadar refleksi teologis manusia individualistik, tetapi sebenarnya juga refleksi yang mencakup aspek: [a] apa sih sebenarnya titik pijak identitas manusia Satya Wacana yang mahasiswa secara umum, dosen, pegawai dan alumni? Di mana rujukan dari pikiran awal Notohamidjojo dan visi-misi UKSW? Bukankah ada dua manuskrip Notohamidjojo yang pantas untuk menjadi bahan diskusi sebelum kita membuat penafsiran yang ke mana-mana? Agak naif rasanya jika kita berbicara identitas, kemudian yang menjadi rujukan asli tidak disentuh dinilai, dievaluasi, tetapi justru memulai diskusi dengan refleksi personal yang mengadili “identitas Satya Wacana versi Notohamidjojo (yang lama) dengan luar biasa tajam tanpa merujuk pada premis-premis identitas Satya Wacana yang sdh tersedia; sayang kalau kemudian kita berdiskusi dan jatuh pada suudhon (prejudice) tanpa bangunan argumentasi yang memadai; [b] Kalau tadi malam sempat sekali disinggung frasa “crative minority”, saya tidak menemukan secara kontekstual dan tekstual, apa yang kemudian disebut dengan minoritas kreatif tersebut. Setahuku, mohon dicek, idiom minoritas kreatif ketika itu dimaknai sebagai keberanian untuk mengakui bahwa UKSW yang notabene mengklaim sebagai komunitas orang Kristen, yang minoritas di tengah bangsa yang mayoritas Islam, sangat sadar bahwa dalam posisi yang minoritas ada tekad untuk memberikan kontribusi yang signifikan dalam hidup berbangsa-bermasyarakat dan bernegara. Saya tidak tidak tahu kalau kemudian jatuh pemaknaannya lebih banyak ke ranah artikulasi creative minority di bidang teologi;

    Kedua, berbicara soal identitas, sependek yang saya tahu tadi malam lebih banyak bicara pada indikator “point card” sebagai instrumentasi apresiasi atas aktivitas mahasiswa di luar kegiatan perkuliahan. Pertanyaan saya, jika kita setuju bahwa cakupan identitas berkaitan dengan 3 lemen penting, yakni: [a] aspek konsolidasi nilai-nilai dan verifikasi atas nilai-nilai yang dianut dalam sebuah lembaga (UKSW); [b] aspek nilai-nilai identitas (dalam UKSW) yang dikontestasikan/ ditandingkan dengan identitas lainnya di wilayah eksternal; [c] aspek dinamika teritori yang berkaitan dengan ranah kekuasaan yang dikaitkan dengan popularisme dan komodifikasi. Pertanyaan saya adalah, bagaimana ketiga elemen identitas tersebut kemudian hanya direduksi menjadi sekadar bias penjelasan di “point card” dan aspek “pergumulan teologi” personal? Lantas, di mana bangunan konsep yang mendorong munculnya “kesadaran bersama” (collective consciousness) dan “tindakan bersama”? Akan sangat menarik jika “pergulatan personal/pribadi” seorang Satria bisa didorong untuk menjelajahi ketiga elemen di atas.

    Ketiga, kalau dalam uraian Satria sempat menyebutkan kutipan di dalam Amsal “Takut akan Tuhan ……..”, mengapa tidak dijelaskan secara memadai di mana ruang “kutipan teologis” tersebut dalam kaitan dengan “creative minority”? Apakah, misalnya, dengan merujuk kutipan “Takut akan Tuhan….”, kita akan otomatis menjadi cerdas? Apakah justru dengan Takut akan Tuhan justru menjadi pijakan untuk setiap civitas academica didorong untuk bekerja keras, memiliki collective consciousness yang critical terhadap artikulasi “pijakan teologis tersebut”? Bagaimana menjelaskan dinamika civitas academica memahami creative minority dari waktu ke waktu? jangan-jangan idiom creative minority sdh tidak ada maknaya lagi? Atau jangan-jangan creative minority dan takut akan Tuhan– dalam kehidupan mahasiswa — kini diterjemahkan dengan digulirkannya instrumen “point card”? Atau, jangan2 creative minority itu sendiri yang semula juga menegaskan pengakuan atas nilai-nilai pluralitas dan menegaskan sebuah universitas tidak tinggal dalam posisi sebagai menara gading, kini hanya meninggalkan sosok universitas yang apriori terhadap persoalan masyarakat-bangsa-negara? Dari diskusi tadi malam, saya belum sempat melihat diskursus tersebut.

    Keempat, jika kita tadi malam sempat menyentuh persoalan terlalu banyaknya mata kuliah yang harus diambil di aras S1, pertanyaannya saya: mengapa tidak juga didiskusikan posisi MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) yang sempat diberikan di masing-masing fakultas? Padahal sebelumnya UKSW adalah pelopor kehadrian MKDU sebagai simbol dari transformasi nilai2 universal lintas-fakultas. Bahwa kemudian MKDU diberikan dalam ranah fakultas, tentu ini mengundang pertanyaan besar? Di mana kemudian perbauran nilai-nilai cross-cultural, multi-disipliner bisa berlangsung jika arena tersebut hanya dilakukan di aras fakultas? Dikti kini mengimperatifkan bahwa MKDU perlu diletakkan secara benar bukan di ranah fakultas tetapi lintas-fakultas. Dengan asumsi bahwa nilai-nilai dasar, termasuk tentunya penyisipan nilai-nilai creative minority, maka ketika memasuki perkuliahan di fakultas sang mahasiswa/wi akan memiliki dasar yang kuat dalam proses belajar-mengajar.

    Kelima, jika diyakini bahwa sistem universitas juga dibangun di atas pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi (proses belajar-mengajar, penelitian dan pengabdian pada masyarakat), sebenarnya pengklusteran ini juga menjadi suatu instrumen untuk memastikan apakah visi-misi UKSW sudah berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi tadi malam, ketika kita bicara sistem dan subsistem, yang kita bicarakan hanya suatu subsistem di wilayah sistem perkuliahan semata. Jadi telah terjadi sebuah reduksionisme yang luar biasa. Jika hanya dengan wacana diskusi seperti itu, sulit rasanya untuk kita bisa melalukan evaluasi atas “identitas utuh” UKSW yang mengandalkan slogan “creative minority”.

    Keenam, kalau tadi malam sebagian sempat menyentuh belum tumbuhnya kesadaran kritis (baca: maksudnya yang terjadi lebih menggejalanya fenomena false consciousness) kolektif hanya dari perspektif Karl Marx, selain rujukan ini disinggung terlalu ringkas dan tak memadai, mengapa tidak sekaligus kawan-kawan yang menjadi “host diskusi” memancing sejumlah narasumber yang bisa membantu menjelaskan dari sisi sosiologis/teologis/antropologis/politis dalam satu diskusi serial? kayaknya tanggung deh berbicara identitas manusia Satya Wacana hanya dlm waktu yang begitu pendek.

    Kelima catatan ini tentu saja masih bisa dijadikan bahan perdebatan.

    Baik juga sekali waktu diadakan panel diskusi yang merupakan representasi mahasiswa, rektor, yayasan, alumni, pegawai dalam memaknai identitas manusia Satya Wacana ini. Persoalannya adalah apakah mungkin kalau selama ini kita hanya berdiskusi dengan narasumber tinggal kemudian bergeser menjadi sebuah panel diskusi?

    Walahu alam bisawab.

    Oh ya, bagaimana pun juga saya tadi malam sementara belajar menjadi penonton aja sebagai bagian dari jemaah Fezbukiyah. Saya sangat mengapresiasi keberanian menyelenggarakan diskusi seperti ini dan juga berterima kasih karena dimungkinkan untuk mengambil bagian dalam “cangkrukan” (lesehan sambil diskusi) ini.

    Salam,
    Nick

  2. Theofransus Litaay

    Untuk paper berikutnya pada topik yang sama sebaiknya didahului riset yang cukup termasuk membaca buku2 terkait, karena pemikiran pak Noto selama 17 tahun memimpin mulai dari PTPGKI sampai dengan UKSW tidaklah fair dan akan keliru secara metodologis jika ‘diadili’ dengan kebijakan point-card dan seminar FE UKSW dll-nya itu tanpa ada kejelasan dalam paper STR tentang apa yang dimaksudkan STR sebagai idealisme Satya Wacana. Apalagi pembahasan tentang Kawruh Jiwa-nya cukup mendalam melebihi kedalaman pembahasan idealisme Satya Wacana-nya sendiri. Jadinya seperti membandingkan jeruk utuh dengan kulit apel. Namun paper semacam tulisan STR perlu kita pahami sebagai produk jaman, sebuah jaman dimana mahasiswa kritis-cerdas seperti STR-pun tidak mendapat ilmu tentang ideologi UKSW. Tidak mengherankan karena di incumbent ada yang berpikir untuk merubah visi-misi UKSW dengan rumusan yang ‘dapat dipahami orang luar UKSW’ tapi lalu ternyata mau dirumuskan dengan sangat umum dan simpel hingga rohnya tidak tampak. Mungkin itu sebabnya sosialisasi dan diskusi kritis tentang idealisme Satya Wacana sudah sepi dalam 4 tahun terakhir. Juara bikin roket memang hebat, tapi bagaimana dimaknai dalam makna tugas dan panggilan Satya Wacana? hal-hal semacam ini yang penting digumuli. Saya memang bisanya bicara disini karena seiring dengan degradasi LK ada ketertutupan LK untuk interaksi kritis aras ideologis. Tugas kita untuk mengembalikan roh itu.

  3. Nick Wiratmoko

    Saya senang dengan respons yang sudah melihatnya sebagai hal yang masih perlu dipelajari, perlu didiskusikan lagi, dan juga bagaimana “ideologi Satya Wacana” seharusnya disikusikan lebih proporsional, karena pertimbangan zaman yang selalu melahirkan anak zaman.

    Oh ya, jika tidak keberatan, an mau diperluas, “teks diskusi ini” bisa saja diperluas untuk semacam brain storming dahulu sebelum akhirnya iupayak ada sebuah diskusi yang lebih sungguh -sungguh memberikan kontribusi pada perjalanan identitas “satya Wacana”. Saya tidak keberatan, siapapun dari teman-teman yang ingin meluaskan diskursus identitas Satya Wacana ini.

    Jika memang diperlukan, misalnya, mengapa sesekali dengan merujuk brainstorming ini, kita bisa duduk bersama untuk merumuskan serial diskusi yang bermuara pada publikasi terbatas?

    Selamat berwacana atas Identitas Manusia Satya Wacana.

  4. Satria Anandita

    Kolom komentar posting ini saya tutup. Untuk berdiskusi, sekadar tanggapan ataupun pertanyaan, silakan sampaikan lewat kolom komentar posting sebelah yang berjudul Menjawab Catatan Pinggir Nick Wiratmoko (klik di sini). Mohon baca rangkaian diskusi secara utuh sebelum komentar Anda lontarkan. Terima kasih.

Trackbacks

  1. [...] Satriaanandita. ad vitam aeternam Skip to content HomeColophonArchiveContactLinks « Identitas Manusia Satya Wacana [...]

  • Recently Written

    • Mendidik Manusia - Tentu berbeda dari mendidik kambing. Kambing bukan manusia dan manusia bukan kambing, dan sebangsanya.
    • Kreativitas Bertanggungjawab - Kalau manusia destruktif terhadap alam, itu artinya manusia sudah destruktif terhadap dirinya sendiri.
    • Kurikulum Berbasis Ketakutan - Apa gunanya punya gelar sarjana kalau dapatnya cuma gara-gara takut nggak bisa kerja? Apa gunanya...