<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Identitas Manusia Satya Wacana</title>
	<atom:link href="http://satria.anandita.net/identitas-manusia-satya-wacana.str/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://satria.anandita.net/identitas-manusia-satya-wacana.str</link>
	<description>I&#039;m going nowhere!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 15:38:53 -0500</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Satria Anandita</title>
		<link>http://satria.anandita.net/identitas-manusia-satya-wacana.str#comment-2379</link>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 00:08:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=261#comment-2379</guid>
		<description>Kolom komentar posting ini saya tutup. Untuk berdiskusi, sekadar tanggapan ataupun pertanyaan, silakan sampaikan lewat kolom komentar posting sebelah yang berjudul &lt;i&gt;Menjawab Catatan Pinggir Nick Wiratmoko&lt;/i&gt; (&lt;a href=&quot;http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;klik di sini&lt;/a&gt;). Mohon baca rangkaian diskusi secara utuh sebelum komentar Anda lontarkan. Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kolom komentar posting ini saya tutup. Untuk berdiskusi, sekadar tanggapan ataupun pertanyaan, silakan sampaikan lewat kolom komentar posting sebelah yang berjudul <i>Menjawab Catatan Pinggir Nick Wiratmoko</i> (<a href="http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str" rel="nofollow">klik di sini</a>). Mohon baca rangkaian diskusi secara utuh sebelum komentar Anda lontarkan. Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Menjawab Catatan Pinggir Nick Wiratmoko</title>
		<link>http://satria.anandita.net/identitas-manusia-satya-wacana.str#comment-2368</link>
		<dc:creator>Menjawab Catatan Pinggir Nick Wiratmoko</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 21:58:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=261#comment-2368</guid>
		<description>[...] Satriaanandita. ad vitam aeternam   Skip to content HomeColophonArchiveContactLinks       &#171; Identitas Manusia Satya Wacana [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Satriaanandita. ad vitam aeternam   Skip to content HomeColophonArchiveContactLinks       &laquo; Identitas Manusia Satya Wacana [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nick Wiratmoko</title>
		<link>http://satria.anandita.net/identitas-manusia-satya-wacana.str#comment-2389</link>
		<dc:creator>Nick Wiratmoko</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 04:11:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=261#comment-2389</guid>
		<description>Saya senang dengan respons yang sudah melihatnya sebagai hal yang masih perlu dipelajari, perlu didiskusikan lagi, dan juga bagaimana &quot;ideologi Satya Wacana&quot; seharusnya disikusikan lebih proporsional, karena pertimbangan zaman yang selalu melahirkan anak zaman.

Oh ya, jika tidak keberatan, an mau diperluas, &quot;teks diskusi ini&quot; bisa saja diperluas untuk semacam brain storming dahulu sebelum akhirnya iupayak ada sebuah diskusi yang lebih sungguh -sungguh memberikan kontribusi pada perjalanan identitas &quot;satya Wacana&quot;. Saya tidak keberatan, siapapun dari teman-teman yang ingin meluaskan diskursus identitas Satya Wacana ini.

Jika memang diperlukan, misalnya, mengapa sesekali dengan merujuk brainstorming ini, kita bisa duduk bersama untuk merumuskan serial diskusi yang bermuara pada publikasi terbatas?

Selamat berwacana atas Identitas Manusia Satya Wacana.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya senang dengan respons yang sudah melihatnya sebagai hal yang masih perlu dipelajari, perlu didiskusikan lagi, dan juga bagaimana &#8220;ideologi Satya Wacana&#8221; seharusnya disikusikan lebih proporsional, karena pertimbangan zaman yang selalu melahirkan anak zaman.</p>
<p>Oh ya, jika tidak keberatan, an mau diperluas, &#8220;teks diskusi ini&#8221; bisa saja diperluas untuk semacam brain storming dahulu sebelum akhirnya iupayak ada sebuah diskusi yang lebih sungguh -sungguh memberikan kontribusi pada perjalanan identitas &#8220;satya Wacana&#8221;. Saya tidak keberatan, siapapun dari teman-teman yang ingin meluaskan diskursus identitas Satya Wacana ini.</p>
<p>Jika memang diperlukan, misalnya, mengapa sesekali dengan merujuk brainstorming ini, kita bisa duduk bersama untuk merumuskan serial diskusi yang bermuara pada publikasi terbatas?</p>
<p>Selamat berwacana atas Identitas Manusia Satya Wacana.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Theofransus Litaay</title>
		<link>http://satria.anandita.net/identitas-manusia-satya-wacana.str#comment-2381</link>
		<dc:creator>Theofransus Litaay</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 01:51:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=261#comment-2381</guid>
		<description>Untuk paper berikutnya pada topik yang sama sebaiknya didahului riset yang cukup termasuk membaca buku2 terkait, karena pemikiran pak Noto selama 17 tahun memimpin mulai dari PTPGKI sampai dengan UKSW tidaklah fair dan akan keliru secara metodologis jika &#039;diadili&#039; dengan kebijakan point-card dan seminar FE UKSW dll-nya itu tanpa ada kejelasan dalam paper STR tentang apa yang dimaksudkan STR sebagai idealisme Satya Wacana. Apalagi pembahasan tentang Kawruh Jiwa-nya cukup mendalam melebihi kedalaman pembahasan idealisme Satya Wacana-nya sendiri. Jadinya seperti membandingkan jeruk utuh dengan kulit apel. Namun paper semacam tulisan STR perlu kita pahami sebagai produk jaman, sebuah jaman dimana mahasiswa kritis-cerdas seperti STR-pun tidak mendapat ilmu tentang ideologi UKSW. Tidak mengherankan karena di incumbent ada yang berpikir untuk merubah visi-misi UKSW dengan rumusan yang &#039;dapat dipahami orang luar UKSW&#039; tapi lalu ternyata mau dirumuskan dengan sangat umum dan simpel hingga rohnya tidak tampak. Mungkin itu sebabnya sosialisasi dan diskusi kritis tentang idealisme Satya Wacana sudah sepi dalam 4 tahun terakhir. Juara bikin roket memang hebat, tapi bagaimana dimaknai dalam makna tugas dan panggilan Satya Wacana? hal-hal semacam ini yang penting digumuli. Saya memang bisanya bicara disini karena seiring dengan degradasi LK ada ketertutupan LK untuk interaksi kritis aras ideologis. Tugas kita untuk mengembalikan roh itu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk paper berikutnya pada topik yang sama sebaiknya didahului riset yang cukup termasuk membaca buku2 terkait, karena pemikiran pak Noto selama 17 tahun memimpin mulai dari PTPGKI sampai dengan UKSW tidaklah fair dan akan keliru secara metodologis jika &#8216;diadili&#8217; dengan kebijakan point-card dan seminar FE UKSW dll-nya itu tanpa ada kejelasan dalam paper STR tentang apa yang dimaksudkan STR sebagai idealisme Satya Wacana. Apalagi pembahasan tentang Kawruh Jiwa-nya cukup mendalam melebihi kedalaman pembahasan idealisme Satya Wacana-nya sendiri. Jadinya seperti membandingkan jeruk utuh dengan kulit apel. Namun paper semacam tulisan STR perlu kita pahami sebagai produk jaman, sebuah jaman dimana mahasiswa kritis-cerdas seperti STR-pun tidak mendapat ilmu tentang ideologi UKSW. Tidak mengherankan karena di incumbent ada yang berpikir untuk merubah visi-misi UKSW dengan rumusan yang &#8216;dapat dipahami orang luar UKSW&#8217; tapi lalu ternyata mau dirumuskan dengan sangat umum dan simpel hingga rohnya tidak tampak. Mungkin itu sebabnya sosialisasi dan diskusi kritis tentang idealisme Satya Wacana sudah sepi dalam 4 tahun terakhir. Juara bikin roket memang hebat, tapi bagaimana dimaknai dalam makna tugas dan panggilan Satya Wacana? hal-hal semacam ini yang penting digumuli. Saya memang bisanya bicara disini karena seiring dengan degradasi LK ada ketertutupan LK untuk interaksi kritis aras ideologis. Tugas kita untuk mengembalikan roh itu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nick Wiratmoko</title>
		<link>http://satria.anandita.net/identitas-manusia-satya-wacana.str#comment-2378</link>
		<dc:creator>Nick Wiratmoko</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 06:00:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=261#comment-2378</guid>
		<description>Kawans,

Berkaitan dengan undangan diskusi bulanan kawan-kawan tadi malam tentang tema “identitas Manusia Satya Wacana”, masih ada sedikitnya enam catatan yang mungkin bisa menjadi bahan diskusi dengan bingkai tema yang sama. Catatan yang dimaksud tentu saja berkaitan bukan hendak membidik Satria, tetapi mencoba mengajak peserta diskusi untuk melihat secara lebih “multi-disipliner”.

Oh ya, catatan ini bukan hanya merujuk pada bahan yang sudah dibuat Satria, tetapi juga mencoba meraup serpihan komentar dan pertanyaan rekan-rekan lain.

Beberapa catatan tsb adalah:

Pertama, kalau tak salah tangkap ketika berbicara soal identitas manusia Satya Wacana, tadi malam yang saya bayangkan bukan hanya sekadar refleksi teologis manusia individualistik, tetapi sebenarnya juga refleksi yang mencakup aspek: [a] apa sih sebenarnya titik pijak identitas manusia Satya Wacana yang mahasiswa secara umum, dosen, pegawai dan alumni? Di mana rujukan dari pikiran awal Notohamidjojo dan visi-misi UKSW? Bukankah ada dua manuskrip Notohamidjojo yang pantas untuk menjadi bahan diskusi sebelum kita membuat penafsiran yang ke mana-mana? Agak naif rasanya jika kita berbicara identitas, kemudian yang menjadi rujukan asli tidak disentuh dinilai, dievaluasi, tetapi justru memulai diskusi dengan refleksi personal yang mengadili “identitas Satya Wacana versi Notohamidjojo (yang lama) dengan luar biasa tajam tanpa merujuk pada premis-premis identitas Satya Wacana yang sdh tersedia; sayang kalau kemudian kita berdiskusi dan jatuh pada suudhon (prejudice) tanpa bangunan argumentasi yang memadai; [b] Kalau tadi malam sempat sekali disinggung frasa “crative minority”, saya tidak menemukan secara kontekstual dan tekstual, apa yang kemudian disebut dengan minoritas kreatif tersebut. Setahuku, mohon dicek, idiom minoritas kreatif ketika itu dimaknai sebagai keberanian untuk mengakui bahwa UKSW yang notabene mengklaim sebagai komunitas orang Kristen, yang minoritas di tengah bangsa yang mayoritas Islam, sangat sadar bahwa dalam posisi yang minoritas ada tekad untuk memberikan kontribusi yang signifikan dalam hidup berbangsa-bermasyarakat dan bernegara. Saya tidak tidak tahu kalau kemudian jatuh pemaknaannya lebih banyak ke ranah artikulasi creative minority di bidang teologi;

Kedua, berbicara soal identitas, sependek yang saya tahu tadi malam lebih banyak bicara pada indikator “point card” sebagai instrumentasi apresiasi atas aktivitas mahasiswa di luar kegiatan perkuliahan. Pertanyaan saya, jika kita setuju bahwa cakupan identitas berkaitan dengan 3 lemen penting, yakni: [a] aspek konsolidasi nilai-nilai dan verifikasi atas nilai-nilai yang dianut dalam sebuah lembaga (UKSW); [b] aspek nilai-nilai identitas (dalam UKSW) yang dikontestasikan/ ditandingkan dengan identitas lainnya di wilayah eksternal; [c] aspek dinamika teritori yang berkaitan dengan ranah kekuasaan yang dikaitkan dengan popularisme dan komodifikasi. Pertanyaan saya adalah, bagaimana ketiga elemen identitas tersebut kemudian hanya direduksi menjadi sekadar bias penjelasan di “point card” dan aspek “pergumulan teologi” personal? Lantas, di mana bangunan konsep yang mendorong munculnya “kesadaran bersama” (collective consciousness) dan “tindakan bersama”? Akan sangat menarik jika “pergulatan personal/pribadi” seorang Satria bisa didorong untuk menjelajahi ketiga elemen di atas.

Ketiga, kalau dalam uraian Satria sempat menyebutkan kutipan di dalam Amsal “Takut akan Tuhan ……..”, mengapa tidak dijelaskan secara memadai di mana ruang “kutipan teologis” tersebut dalam kaitan dengan “creative minority”? Apakah, misalnya, dengan merujuk kutipan “Takut akan Tuhan….”, kita akan otomatis menjadi cerdas? Apakah justru dengan Takut akan Tuhan justru menjadi pijakan untuk setiap civitas academica didorong untuk bekerja keras, memiliki collective consciousness yang critical terhadap artikulasi “pijakan teologis tersebut”? Bagaimana menjelaskan dinamika civitas academica memahami creative minority dari waktu ke waktu? jangan-jangan idiom creative minority sdh tidak ada maknaya lagi? Atau jangan-jangan creative minority dan takut akan Tuhan– dalam kehidupan mahasiswa — kini diterjemahkan dengan digulirkannya instrumen “point card”? Atau, jangan2 creative minority itu sendiri yang semula juga menegaskan pengakuan atas nilai-nilai pluralitas dan menegaskan sebuah universitas tidak tinggal dalam posisi sebagai menara gading, kini hanya meninggalkan sosok universitas yang apriori terhadap persoalan masyarakat-bangsa-negara? Dari diskusi tadi malam, saya belum sempat melihat diskursus tersebut.

Keempat, jika kita tadi malam sempat menyentuh persoalan terlalu banyaknya mata kuliah yang harus diambil di aras S1, pertanyaannya saya: mengapa tidak juga didiskusikan posisi MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) yang sempat diberikan di masing-masing fakultas? Padahal sebelumnya UKSW adalah pelopor kehadrian MKDU sebagai simbol dari transformasi nilai2 universal lintas-fakultas. Bahwa kemudian MKDU diberikan dalam ranah fakultas, tentu ini mengundang pertanyaan besar? Di mana kemudian perbauran nilai-nilai cross-cultural, multi-disipliner bisa berlangsung jika arena tersebut hanya dilakukan di aras fakultas? Dikti kini mengimperatifkan bahwa MKDU perlu diletakkan secara benar bukan di ranah fakultas tetapi lintas-fakultas. Dengan asumsi bahwa nilai-nilai dasar, termasuk tentunya penyisipan nilai-nilai creative minority, maka ketika memasuki perkuliahan di fakultas sang mahasiswa/wi akan memiliki dasar yang kuat dalam proses belajar-mengajar.

Kelima, jika diyakini bahwa sistem universitas juga dibangun di atas pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi (proses belajar-mengajar, penelitian dan pengabdian pada masyarakat), sebenarnya pengklusteran ini juga menjadi suatu instrumen untuk memastikan apakah visi-misi UKSW sudah berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi tadi malam, ketika kita bicara sistem dan subsistem, yang kita bicarakan hanya suatu subsistem di wilayah sistem perkuliahan semata. Jadi telah terjadi sebuah reduksionisme yang luar biasa. Jika hanya dengan wacana diskusi seperti itu, sulit rasanya untuk kita bisa melalukan evaluasi atas “identitas utuh” UKSW yang mengandalkan slogan “creative minority”.

Keenam, kalau tadi malam sebagian sempat menyentuh belum tumbuhnya kesadaran kritis (baca: maksudnya yang terjadi lebih menggejalanya fenomena false consciousness) kolektif hanya dari perspektif Karl Marx, selain rujukan ini disinggung terlalu ringkas dan tak memadai, mengapa tidak sekaligus kawan-kawan yang menjadi “host diskusi” memancing sejumlah narasumber yang bisa membantu menjelaskan dari sisi sosiologis/teologis/antropologis/politis dalam satu diskusi serial? kayaknya tanggung deh berbicara identitas manusia Satya Wacana hanya dlm waktu yang begitu pendek.

Kelima catatan ini tentu saja masih bisa dijadikan bahan perdebatan.

Baik juga sekali waktu diadakan panel diskusi yang merupakan representasi mahasiswa, rektor, yayasan, alumni, pegawai dalam memaknai identitas manusia Satya Wacana ini. Persoalannya adalah apakah mungkin kalau selama ini kita hanya berdiskusi dengan narasumber tinggal kemudian bergeser menjadi sebuah panel diskusi?

Walahu alam bisawab.

Oh ya, bagaimana pun juga saya tadi malam sementara belajar menjadi penonton aja sebagai bagian dari jemaah Fezbukiyah. Saya sangat mengapresiasi keberanian menyelenggarakan diskusi seperti ini dan juga berterima kasih karena dimungkinkan untuk mengambil bagian dalam “cangkrukan” (lesehan sambil diskusi) ini.

Salam,
Nick</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kawans,</p>
<p>Berkaitan dengan undangan diskusi bulanan kawan-kawan tadi malam tentang tema “identitas Manusia Satya Wacana”, masih ada sedikitnya enam catatan yang mungkin bisa menjadi bahan diskusi dengan bingkai tema yang sama. Catatan yang dimaksud tentu saja berkaitan bukan hendak membidik Satria, tetapi mencoba mengajak peserta diskusi untuk melihat secara lebih “multi-disipliner”.</p>
<p>Oh ya, catatan ini bukan hanya merujuk pada bahan yang sudah dibuat Satria, tetapi juga mencoba meraup serpihan komentar dan pertanyaan rekan-rekan lain.</p>
<p>Beberapa catatan tsb adalah:</p>
<p>Pertama, kalau tak salah tangkap ketika berbicara soal identitas manusia Satya Wacana, tadi malam yang saya bayangkan bukan hanya sekadar refleksi teologis manusia individualistik, tetapi sebenarnya juga refleksi yang mencakup aspek: [a] apa sih sebenarnya titik pijak identitas manusia Satya Wacana yang mahasiswa secara umum, dosen, pegawai dan alumni? Di mana rujukan dari pikiran awal Notohamidjojo dan visi-misi UKSW? Bukankah ada dua manuskrip Notohamidjojo yang pantas untuk menjadi bahan diskusi sebelum kita membuat penafsiran yang ke mana-mana? Agak naif rasanya jika kita berbicara identitas, kemudian yang menjadi rujukan asli tidak disentuh dinilai, dievaluasi, tetapi justru memulai diskusi dengan refleksi personal yang mengadili “identitas Satya Wacana versi Notohamidjojo (yang lama) dengan luar biasa tajam tanpa merujuk pada premis-premis identitas Satya Wacana yang sdh tersedia; sayang kalau kemudian kita berdiskusi dan jatuh pada suudhon (prejudice) tanpa bangunan argumentasi yang memadai; [b] Kalau tadi malam sempat sekali disinggung frasa “crative minority”, saya tidak menemukan secara kontekstual dan tekstual, apa yang kemudian disebut dengan minoritas kreatif tersebut. Setahuku, mohon dicek, idiom minoritas kreatif ketika itu dimaknai sebagai keberanian untuk mengakui bahwa UKSW yang notabene mengklaim sebagai komunitas orang Kristen, yang minoritas di tengah bangsa yang mayoritas Islam, sangat sadar bahwa dalam posisi yang minoritas ada tekad untuk memberikan kontribusi yang signifikan dalam hidup berbangsa-bermasyarakat dan bernegara. Saya tidak tidak tahu kalau kemudian jatuh pemaknaannya lebih banyak ke ranah artikulasi creative minority di bidang teologi;</p>
<p>Kedua, berbicara soal identitas, sependek yang saya tahu tadi malam lebih banyak bicara pada indikator “point card” sebagai instrumentasi apresiasi atas aktivitas mahasiswa di luar kegiatan perkuliahan. Pertanyaan saya, jika kita setuju bahwa cakupan identitas berkaitan dengan 3 lemen penting, yakni: [a] aspek konsolidasi nilai-nilai dan verifikasi atas nilai-nilai yang dianut dalam sebuah lembaga (UKSW); [b] aspek nilai-nilai identitas (dalam UKSW) yang dikontestasikan/ ditandingkan dengan identitas lainnya di wilayah eksternal; [c] aspek dinamika teritori yang berkaitan dengan ranah kekuasaan yang dikaitkan dengan popularisme dan komodifikasi. Pertanyaan saya adalah, bagaimana ketiga elemen identitas tersebut kemudian hanya direduksi menjadi sekadar bias penjelasan di “point card” dan aspek “pergumulan teologi” personal? Lantas, di mana bangunan konsep yang mendorong munculnya “kesadaran bersama” (collective consciousness) dan “tindakan bersama”? Akan sangat menarik jika “pergulatan personal/pribadi” seorang Satria bisa didorong untuk menjelajahi ketiga elemen di atas.</p>
<p>Ketiga, kalau dalam uraian Satria sempat menyebutkan kutipan di dalam Amsal “Takut akan Tuhan ……..”, mengapa tidak dijelaskan secara memadai di mana ruang “kutipan teologis” tersebut dalam kaitan dengan “creative minority”? Apakah, misalnya, dengan merujuk kutipan “Takut akan Tuhan….”, kita akan otomatis menjadi cerdas? Apakah justru dengan Takut akan Tuhan justru menjadi pijakan untuk setiap civitas academica didorong untuk bekerja keras, memiliki collective consciousness yang critical terhadap artikulasi “pijakan teologis tersebut”? Bagaimana menjelaskan dinamika civitas academica memahami creative minority dari waktu ke waktu? jangan-jangan idiom creative minority sdh tidak ada maknaya lagi? Atau jangan-jangan creative minority dan takut akan Tuhan– dalam kehidupan mahasiswa — kini diterjemahkan dengan digulirkannya instrumen “point card”? Atau, jangan2 creative minority itu sendiri yang semula juga menegaskan pengakuan atas nilai-nilai pluralitas dan menegaskan sebuah universitas tidak tinggal dalam posisi sebagai menara gading, kini hanya meninggalkan sosok universitas yang apriori terhadap persoalan masyarakat-bangsa-negara? Dari diskusi tadi malam, saya belum sempat melihat diskursus tersebut.</p>
<p>Keempat, jika kita tadi malam sempat menyentuh persoalan terlalu banyaknya mata kuliah yang harus diambil di aras S1, pertanyaannya saya: mengapa tidak juga didiskusikan posisi MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) yang sempat diberikan di masing-masing fakultas? Padahal sebelumnya UKSW adalah pelopor kehadrian MKDU sebagai simbol dari transformasi nilai2 universal lintas-fakultas. Bahwa kemudian MKDU diberikan dalam ranah fakultas, tentu ini mengundang pertanyaan besar? Di mana kemudian perbauran nilai-nilai cross-cultural, multi-disipliner bisa berlangsung jika arena tersebut hanya dilakukan di aras fakultas? Dikti kini mengimperatifkan bahwa MKDU perlu diletakkan secara benar bukan di ranah fakultas tetapi lintas-fakultas. Dengan asumsi bahwa nilai-nilai dasar, termasuk tentunya penyisipan nilai-nilai creative minority, maka ketika memasuki perkuliahan di fakultas sang mahasiswa/wi akan memiliki dasar yang kuat dalam proses belajar-mengajar.</p>
<p>Kelima, jika diyakini bahwa sistem universitas juga dibangun di atas pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi (proses belajar-mengajar, penelitian dan pengabdian pada masyarakat), sebenarnya pengklusteran ini juga menjadi suatu instrumen untuk memastikan apakah visi-misi UKSW sudah berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi tadi malam, ketika kita bicara sistem dan subsistem, yang kita bicarakan hanya suatu subsistem di wilayah sistem perkuliahan semata. Jadi telah terjadi sebuah reduksionisme yang luar biasa. Jika hanya dengan wacana diskusi seperti itu, sulit rasanya untuk kita bisa melalukan evaluasi atas “identitas utuh” UKSW yang mengandalkan slogan “creative minority”.</p>
<p>Keenam, kalau tadi malam sebagian sempat menyentuh belum tumbuhnya kesadaran kritis (baca: maksudnya yang terjadi lebih menggejalanya fenomena false consciousness) kolektif hanya dari perspektif Karl Marx, selain rujukan ini disinggung terlalu ringkas dan tak memadai, mengapa tidak sekaligus kawan-kawan yang menjadi “host diskusi” memancing sejumlah narasumber yang bisa membantu menjelaskan dari sisi sosiologis/teologis/antropologis/politis dalam satu diskusi serial? kayaknya tanggung deh berbicara identitas manusia Satya Wacana hanya dlm waktu yang begitu pendek.</p>
<p>Kelima catatan ini tentu saja masih bisa dijadikan bahan perdebatan.</p>
<p>Baik juga sekali waktu diadakan panel diskusi yang merupakan representasi mahasiswa, rektor, yayasan, alumni, pegawai dalam memaknai identitas manusia Satya Wacana ini. Persoalannya adalah apakah mungkin kalau selama ini kita hanya berdiskusi dengan narasumber tinggal kemudian bergeser menjadi sebuah panel diskusi?</p>
<p>Walahu alam bisawab.</p>
<p>Oh ya, bagaimana pun juga saya tadi malam sementara belajar menjadi penonton aja sebagai bagian dari jemaah Fezbukiyah. Saya sangat mengapresiasi keberanian menyelenggarakan diskusi seperti ini dan juga berterima kasih karena dimungkinkan untuk mengambil bagian dalam “cangkrukan” (lesehan sambil diskusi) ini.</p>
<p>Salam,<br />
Nick</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
