Indonesia Mencari Bakat

Bakat apa? Yang bagaimana? Yang menghibur? Apa itu hiburan? Siapa yang berhak menentukan bahwa sesuatu itu menghibur atau tidak? Televisi? Bos media? Kita?

Siapa kita? Kenapa kita butuh hiburan? Belumkah tayangan hiburan televisi menghibur kita? Dan sudahkah para penghibur itu sendiri merasa terhibur dengan menghibur kita?

Dan kenapa mereka tidak harus menghibur kita? Karena kita bisa menghibur diri kita sendiri? Hiburan swalayan? Atau swalayan hiburan? Karena swalayan hiburan bisa ada setelah orang lupa bagaimana menghibur diri mereka sendiri. Orang lebih ingat cara mendapat uang untuk membeli hiburan, dan sekonyong-konyong mereka berpikir bahwa uang bisa membeli apa saja. Apa saja, termasuk bakat.

Sekali lagi, bakat apa? Dan bisakah bakat itu ditukar dengan uang yang terkonversi menjadi SMS? Dan kenapa tidak? Hari ini uang bisa ditukar—atau, lebih tepatnya, tertukar—dengan segalanya. Dan tukar menukar uang itu mestinya bisa dianggap sebagai bakat tersendiri, meski kadar hiburannya masih belum pasti diketahui—dan pasti belum perlu diketahui. Kenapa? Karena, jika sudah diketahui, tidak akan ada lagi yang namanya Indonesia Mencari Bakat.

Indonesia Mencari Bakat bisa ada karena orang ingin tahu apakah orang Papua yang kelihatannya funky itu bisa lebih menghibur dari seorang putri yang kelihatannya ayu. Dan semakin menghibur berarti semakin berbakat. Berbakat menggalang dukungan dalam bentuk SMS. SMS yang dibeli dengan uang. Jadi, semakin beruang berarti semakin berbakat. Selamat menonton Indonesia Mencari Uang!