Istimewa dan Semena-mena

Terus terang saya agak kesulitan jika diminta menjelaskan status manusia sebagai “makhluk ciptaan yang istimewa”. Pertama, saya tidak begitu yakin jika manusia adalah makhluk ciptaan. Kedua, saya juga tidak tahu persis dimana letak keistimewaan manusia.

Yang saya tahu hanyalah cerita-cerita bahwa saya berasal dari kedua orangtua saya, dan mereka berasal dari orangtua-orangtua mereka, dan orangtua-orangtua itu pun berasal dari orangtua sebelumnya. Begitu seterusnya, sampai kemudian kita akan sampai pada titik dimana kita menyimpulkan adanya “manusia pertama”.

Manusia pertama itu disebut Adam ciptaan Tuhan oleh kaum agamis Timur Tengah, sedangkan sarjana evolusionis berpendapat bahwa manusia adalah keturunan kera. Mana yang meyakinkan? Tidak keduanya, saya kira.

Keduanya sama-sama problematis sebagai teori asal-usul manusia. Teori evolusi jelas meragukan karena ada missing link dalam angsuran kera menjadi manusia, di samping proses rekonstruksi arkeologis yang sepenuhnya cuma mengira-ngira. Sedangkan teori para agamawan terganjal oleh Tuhan yang tak bisa dibuktikan keberadaannya.

Lagipula, saya tak paham apa arti dari sebuah asal-usul manusia. Kalau saya ini keturunan kera, memangnya kenapa? Apakah itu berarti saya harus menghormati kera sebagai nenek moyang saya? Dan jika saya ini keturunan Adam ciptaan Tuhan, haruskah saya tunduk pada dogma agama (Timur Tengah)? Apakah Adam pernah ada? Apakah Tuhan memang ada? Saya sedang tak ingin berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Tak ada gunanya, saya kira.

Saya juga tak tahu persis dimana letak keistimewaan manusia. Dosen matakuliah Ilmu Kealaman Dasar mengajarkan saya tatanama binomial Homo sapiens untuk merujuk pada manusia modern. Kita, saya dan Anda, sama-sama manusia, dan kita secara biologis digolongkan ke dalam kerajaan Animalia, hewan-hewanan. Namun dosen itu juga mengajarkan saya bahwa perbedaan mendasar antara manusia dan hewan terletak pada kemampuan berpikirnya. Manusia dikatakan mampu berpikir, sedangkan hewan tidak.

Pertanyaannya, jika memang manusia pada dasarnya sudah berbeda dari hewan, kenapa kita masih digolongkan dalam kerajaan hewan-hewanan? Bukankah taksonomi semacam itu salah kaprah? Mengapa ia tidak memperhitungkan perbedaan daya nalar antara hewan dan manusia? Saya pikir itu mungkin karena ia adalah taksonomi secara biologis, bukan psikologis. Namun apakah berpikir bukan sebuah proses biologis juga? Apakah hewan adalah makhluk tak bernalar? Entahlah. Mungkin ini terlalu rumit buat saya.

Saya tidak lagi peduli apakah manusia adalah “makhluk ciptaan yang istimewa” atau bukan. Tapi, kalau masih juga ditanya apakah manusia dapat mengeksploitasi lingkungan dan sesamanya secara semena-mena karena statusnya sebagai makhluk ciptaan istimewa, saya akan jawab dapat. Manusia tetap dapat mengeksploitasi segalanya dengan semena-mena, tapi saya tidak menganjurkan demikian.

Alasannya bukan terletak pada ada atau tidak adanya mandat untuk mengelola lingkungan dan sesama dengan kebajikan. Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan itu. Jika mandat itu ada, itu mandat darimana? Dari Tuhan? Bagi saya, dengan atau tanpa Tuhan, manusia tetap perlu mengelola lingkungan dan sesamanya dengan kebajikan. Alasannya semata-mata karena manusia ada dan hidup bersama dengan kedua entitas tersebut. Artinya, keberadaan dua entitas itu akan berpengaruh pada kehidupan manusia secara utuh, baik secara langsung maupun tak langsung.

Baik-buruknya pengaruh itu, saya kira, amat tergantung pada perlakuan manusia terhadap keduanya. Maka sangat logis jika manusia menuai bencana alam akibat perlakuannya yang buruk terhadap lingkungan. Di Indonesia kita bisa membaca hal itu lewat berbagai fenomena banjir, tanah longsor, kekeringan, dan seterusnya sebagai hasil dari keengganan manusia mengonservasi alam. Manusia juga harus berhadapan dengan bencana sosial seperti kriminalitas sebagai kenyataan yang timbul, salah satunya dari kesenjangan sosial yang meningkat akibat kesadaran bermasyarakat yang buruk.

Sudah sejak sekitar tiga abad yang lampau ahli fisika Newton mengajarkan kita sebuah dalil tentang aksi dan reaksi. Jika kita tabur aksi, maka kita akan tuai reaksi. Dan Kristus, lebih lampau sekitar 17 abad dari Newton, sudah merumuskan dalil fisika ini dalam sebuah ucapan: “Perbuatlah kepada orang lain apa yang kamu inginkan mereka perbuat kepadamu.”

Apakah Kristus seorang fisikawan? Saya tidak tahu, dan saya tidak peduli. Dengan atau tanpa Tuhan, saya pikir ajaran Newton dan ucapan Kristus masih tetap relevan. Mari amalkan.