INGGU, 13 Juli 2008, aku sama sekali tak keluar kos. Badanku panas, tenggorokanku serak, kepala pusing. Eyang Soedojo, ibu kosku yang berusia 82 tahun, memberi dua tablet Decolgen dan menyarankan aku istirahat.
“Kakehan lunga kowe. Ora tau mandeg,” katanya.
Sepanjang hari aku membaca Business and Economic Reporting, buku yang aku dapat dari Pantau ketika aku main ke kantornya minggu lalu. Buku ini tipis dan ringkas, hanya 81 halaman.
Membaca buku ini rasanya seperti sedang “briefing” untuk satu misi perekonomian, teknis sekali. Ada daftar pertanyaan yang harus dijawab seorang wartawan untuk menulis berita bisnis yang baik. Adakah data dan angka? Apakah angka itu wajar? Berapa banyak narasumber yang diwawancara? Sudahkah semuanya terwakili? Dan sebagainya. Buku ini juga punya kamus istilah perekonomian di bagian akhir. Ada pula daftar alamat situs internet yang menyediakan informasi bagus untuk riset.
Aku jadi berpikir, bagaimana kalau aku jadi wartawan ekonomi saja? Setidaknya sampai kuliahku di Fakultas Ekonomi UKSW selesai. Mungkin ini bisa jadi satu “jalan damai” antara kuliah dengan kegiatan jurnalisme di Scientiarum. Sudah setahun lebih aku tak kuliah. Aku merasa muak dengan kuliah. Aku merasa lebih bisa belajar dengan jurnalisme. Kuliah cuma mendudukkan aku di ruang tertutup, menjejalkan ilmu yang tak aku minati ke otak, dan memaksaku patuh pada dosen yang bisanya cuma berteori. Jurnalisme justru membebaskan aku untuk belajar apapun, kapanpun, dimanapun, dengan siapapun. Aku bisa jalan-jalan, bertemu orang, riset, menulis … macam-macamlah!
Sebetulnya aku bukan tak suka dengan jurusanku sekarang. Aku beruntung punya ibu yang memberiku saran mengambil jurusan manajemen ketika aku hendak kuliah.
“Manajemen itu luas, bisa dipakai dimana saja,” kata ibu.
Aku suka manajemen. Manajemen organisasi, manajemen sumber daya manusia, manajemen pengetahuan. Tapi aku tak suka akuntansi, matematika, dan matakuliah sejenis yang membosankan. Dan aku dipaksa untuk belajar itu semua karena mereka matakuliah wajib!
Keluar dari UKSW?
Akan lebih susah kalau begitu. Aku butuh afiliasi dengan universitas ini agar bisa gunakan aset-asetnya. Aku juga punya afinitas tersendiri dengan universitas ini. Tapi aku ragu, apakah aku bisa bertahan jika harus belajar lagi di ruang kuliah?



3 comments